Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » 2026: Momentum Menulis Ulang Sejarah Lembaga Peradilan di Indonesia
Artikel Features

2026: Momentum Menulis Ulang Sejarah Lembaga Peradilan di Indonesia

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin Hasibuan9 January 2026 • 09:03 WIB9 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Tahun 2026, bukan sekadar penanda pergantian kalender bagi lembaga peradilan di Indonesia. Ia hadir sebagai simpul sejarah, sebuah titik temu antara harapan lama dan tuntutan baru, antara beban masa lalu dan tanggung jawab masa depan. Di tengah perubahan sosial yang kian cepat, teknologi yang melesat, serta ekspektasi publik yang semakin kritis, peradilan Indonesia memasuki fase yang menentukan. Momentum ini menuntut keberanian untuk menata ulang fondasi kelembagaan, sekaligus kebijaksanaan untuk memastikan bahwa setiap perubahan, tetap berpijak pada nilai keadilan.

Di jantung momentum itu, berdiri Mahkamah Agung Republik Indonesia sebagai pengawal terakhir keadilan. Visinya untuk mewujudkan badan peradilan yang agung, dan misinya yang mencakup menjaga kemandirian badan peradilan, memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan, meningkatkan kualitas kepemimpinan peradilan, serta meningkatkan kredibilitas dan transparansi peradilan, yang semuanya bertujuan mewujudkan peradilan yang independen, efektif, dan berkeadilan, didukung teknologi, serta berorientasi pada pelayanan publik prima, kini diuji oleh serangkaian agenda besar, mulai dari penerapan KUHP Nasional yang berkeadilan per 2 Januari 2026, realisasi kesejahteraan hakim, pengesahan RUU Jabatan Hakim, penguatan kemandirian keuangan, perlindungan keamanan hakim dan pengadilan, penyediaan rumah dinas yang layak, hingga lompatan strategis dalam sistem informasi dan teknologi peradilan. Seluruhnya bukan agenda parsial, melainkan satu rangkaian yang saling terkait dan harus bergerak seirama.

KUHP Nasional: Ujian Substansi dan Kepekaan Keadilan

Sejak masa kolonial, sistem hukum pidana Indonesia masih bertumpu pada warisan Belanda, yaitu Wetboek van Strafrecht (WvS). Setelah lebih dari satu abad, Indonesia akhirnya menulis ulang sejarah hukumnya, melalui KUHP Nasional yang mulai berlaku pada 2 Januari 2026. Momen ini, bukan hanya soal perubahan teks hukum, tetapi refleksi atas kematangan bangsa, dalam membentuk hukum yang berkeadilan sosial, berakar pada nilai-nilai Pancasila, serta menghormati hak asasi manusia.

Mulai 2 Januari 2026, Indonesia memasuki era penerapan KUHP Nasional secara penuh. Ini bukan sekadar pergantian kitab hukum pidana, melainkan pergeseran paradigma. KUHP Nasional diharapkan meneguhkan jati diri hukum nasional, yang berakar pada nilai Pancasila, menghormati hak asasi manusia, dan sensitif terhadap rasa keadilan masyarakat.

Namun, tantangan terbesar justru terletak pada tahap implementasinya. Hakim berada di garis depan untuk menerjemahkan norma tertulis menjadi keadilan konkret. Di sinilah kebijaksanaan yudisial diuji. KUHP Nasional memuat konsep-konsep baru, seperti pemidanaan yang lebih proporsional, perluasan pidana alternatif, dan penekanan pada pemulihan, yang menuntut pemahaman mendalam serta kepekaan sosial. Tanpa itu, hukum berisiko menjadi kaku dan jauh dari rasa keadilan.

Penerapan KUHP Nasional yang berkeadilan menuntut kesiapan sistemik, seperti pelatihan berkelanjutan bagi hakim dan aparatur peradilan dan penyusunan pedoman teknis yang jelas. Lebih dari itu, diperlukan keberanian moral untuk menempatkan keadilan substantif di atas formalitas semata. Tahun 2026 akan mencatat apakah peradilan Indonesia mampu menjadikan KUHP Nasional sebagai instrumen keadilan, bukan sekadar teks hukum baru.

Kesejahteraan Hakim: Antara Harapan dan Tanggung Jawab

Kemandirian dan kehormatan para hakim, sebagian besar ditentukan oleh kesejahteraan mereka. Tahun 2026 diharapkan menjadi babak baru bagi peningkatan tunjangan hakim, hingga maksimal 280 persen, sebagaimana dijanjikan sebelumnya. Ini bukan sekadar angka, tetapi simbol pengakuan negara atas beban moral, tanggung jawab, dan risiko yang melekat pada profesi hakim. Bagi sebagian kalangan, isu ini kerap dipersepsikan secara simplistis. Namun bagi peradilan, kesejahteraan bukan soal kemewahan, melainkan prasyarat integritas.

Peningkatan tunjangan ini, akan berdampak luas terhadap kualitas putusan dan integritas peradilan. Dengan kesejahteraan yang layak, hakim dapat lebih leluasa menjaga kemandirian tanpa tekanan ekonomi atau godaan eksternal. Di sisi lain, reformasi tunjangan juga harus diimbangi dengan sistem pengawasan yang kuat agar kesejahteraan ini berbanding lurus dengan peningkatan integritas dan penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH).

Hakim memikul beban moral dan profesional yang berat. Setiap putusan bukan hanya berdampak pada para pihak, tetapi juga pada kepercayaan publik terhadap hukum. Kesejahteraan yang layak adalah benteng awal untuk menjaga integritas, independensi dan mencegah godaan yang dapat merusak marwah peradilan. Dengan kesejahteraan yang memadai, hakim diharapkan dapat bekerja dengan tenang, fokus, dan berani menegakkan keadilan tanpa rasa takut atau ketergantungan. Tahun 2026 menjadi momentum untuk menegaskan kontrak moral baru: negara memenuhi kewajibannya menyejahterakan hakim, dan hakim membalasnya dengan dedikasi, integritas, serta profesionalisme yang lebih tinggi.

Baca Juga  2026: Tahun Penuh Harap Bagi Para Hakim dan Momentum Menulis Ulang Sejarah Kehormatan Lembaga Peradilan

RUU Jabatan Hakim: Fondasi Kelembagaan yang Mendesak

Salah satu agenda penting, yang semestinya menjadi fokus tahun ini adalah, pengesahan Rancangan Undang-undang tentang Jabatan Hakim. RUU ini merupakan langkah strategis yang bertujuan memperjelas posisi hakim sebagai pejabat negara yang independen, sekaligus memperkuat sistem karier, rekrutmen, promosi, serta pembinaan hakim.

Selama ini, keberadaan hakim sering kali berada dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi mereka merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman yang merdeka, tetapi di sisi lain, status kelembagaan mereka masih terikat pada berbagai ketentuan administratif, yang mempersulit kemandirian. Selama ini, pengaturan mengenai jabatan hakim tersebar dalam berbagai regulasi yang belum sepenuhnya memberikan kepastian dan perlindungan komprehensif. RUU Jabatan Hakim diharapkan menjadi fondasi tunggal yang menata rekrutmen, karier, promosi, disiplin, hingga perlindungan hakim secara sistematis.

Undang-undang ini bukan hanya soal administrasi kepegawaian, tetapi soal martabat profesi. Dengan payung hukum yang kuat, hakim memiliki kepastian karier dan perlindungan institusional, sekaligus mekanisme pengawasan yang adil dan transparan.

Tahun 2026 idealnya menjadi tonggak pengesahan RUU Jabatan Hakim. Tanpa itu, agenda besar reformasi peradilan akan selalu bertumpu pada fondasi yang rapuh. Dengan itu, peradilan Indonesia memiliki kerangka kelembagaan yang lebih kokoh untuk melangkah jauh ke depan.

Kemandirian Keuangan: Nafas Independensi Peradilan

Salah satu faktor yang sangat menentukan independensi lembaga peradilan adalah kemandirian keuangan. Karena, tidak ada independensi tanpa kemandirian, dan tidak ada kemandirian tanpa dukungan keuangan yang memadai.

Selama bertahun-tahun, Mahkamah Agung bergantung pada alokasi anggaran dari lembaga eksekutif, yang sering kali memunculkan persoalan dalam pelaksanaan kebijakan strategis. Karena itu, yang harus terus diperjuangkan adalah kemandirian keuangan Mahkamah Agung. Saat ini, judicial review terkait kemandirian keuangan sedang berlangsung di Mahkamah Konstitusi. Harapan dengan dikabulkannya, judicial review tersebut, tentunya akan menjadi lompatan besar dalam sejarah peradilan Indonesia.

Selama ini, ketergantungan pada mekanisme anggaran eksekutif kerap menimbulkan hambatan struktural. Kemandirian keuangan bukan berarti lepas dari akuntabilitas, melainkan penguatan tata kelola yang memungkinkan Mahkamah Agung mengelola anggarannya secara profesional, transparan, dan sesuai kebutuhan riil peradilan.

Dengan kemandirian keuangan, perencanaan jangka panjang menjadi lebih mungkin, seperti peningkatan sarana prasarana, pengembangan SDM, modernisasi teknologi, hingga peningkatan kesejahteraan aparatur peradilan. Semua ini bermuara pada satu visi: Terwujudnya Badan Peradilan Indonesia yang Agung.

Keamanan Hakim dan Pengadilan: Prasyarat Rasa Aman Menegakkan Keadilan

Dalam beberapa tahun terakhir, ancaman terhadap hakim dan lembaga peradilan menjadi perhatian serius. Dari tekanan pihak yang berperkara, ancaman fisik, hingga serangan digital, semuanya menjadi tantangan nyata bagi lembaga peradilan. Oleh karena itu, amanat pembentukan unit pengamanan hakim dan pengadilan merupakan langkah krusial dan mendesak.

Unit ini diharapkan menjadi institusi permanen, yang memiliki kewenangan dan kompetensi khusus dalam melindungi hakim, aparat pengadilan, dan keamanan lingkungan pengadilan. Keamanan merupakan prasyarat utama bagi tegaknya keadilan. Hakim yang terancam, tidak akan mampu bersikap objektif dan berani dalam memutus perkara. Dengan adanya unit pengamanan, negara menegaskan kembali bahwa setiap aparatur peradilan wajib dijaga martabat dan keselamatannya.

Kebijakan ini juga sejalan dengan semangat hukum internasional tentang perlindungan lembaga peradilan. Banyak negara maju memiliki unit keamanan pengadilan khusus, yang berdiri di bawah otoritas lembaga peradilan, bukan lembaga eksekutif. Indonesia selayaknya menempuh arah serupa, agar menjamin independensi dan keselamatan aparat peradilan secara utuh.

Pengamanan yang dimaksud harus dirancang secara profesional, terintegrasi dengan aparat keamanan negara, namun tetap menghormati independensi peradilan. Tahun 2026 menjadi waktu yang tepat untuk merealisasikan amanat ini secara konkret dan berkelanjutan.

Rumah Dinas Hakim: Martabat dan Kepastian Hidup

Isu rumah dinas hakim, termasuk konsep flat rumah dinas sebagaimana tercantum dalam SEMA Nomor 1 Tahun 2025, sering luput dari perhatian publik. Padahal, ia berkaitan langsung dengan kualitas hidup dan stabilitas psikologis hakim, terutama yang bertugas jauh dari daerah asal.

Baca Juga  DARI SIMULACRA KE RASIONALITAS KOMUNIKATIF: MENJEMBATANI KESENJANGAN ANTARA FAKTA YURIDIS DAN FAKTA SOSIAL

Hunian yang layak bukan sekadar fasilitas, tetapi bentuk penghormatan negara terhadap profesi hakim. Dengan kepastian tempat tinggal, hakim dapat lebih fokus menjalankan tugasnya tanpa dibebani persoalan dasar kehidupan. Implementasi kebijakan ini secara konsisten akan memperkuat daya tahan dan dedikasi aparatur peradilan di seluruh penjuru negeri.

Dengan adanya kebijakan flat rumah dinas, setiap hakim akan memperoleh tempat tinggal representatif yang dekat dengan pengadilan. Kebijakan ini, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di antara para hakim, meningkatkan disiplin, serta mengoptimalkan koordinasi kerja. Lebih dari itu, keberadaan flat dinas, juga mendukung citra hakim sebagai sosok yang sederhana, berintegritas, dan selalu siap melayani masyarakat di mana pun mereka ditugaskan.

Ini juga menjadi langkah strategis untuk menghindari kesenjangan antara pusat dan daerah, dalam hal fasilitas aparatur peradilan. Mahkamah Agung perlu memastikan agar pembangunan flat dinas, tidak hanya dilakukan di kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah-wilayah peradilan yang terpencil.

Roadmap Sistem Informasi dan Teknologi: Menyongsong Peradilan Modern

Di era digital, wajah peradilan tidak lagi hanya ditentukan oleh gedung megah atau putusan yang tebal, tetapi oleh kemampuannya memanfaatkan teknologi secara cerdas. Pengembangan roadmap sistem informasi pengadilan dan teknologi informasi di Mahkamah Agung menjadi agenda strategis yang tidak bisa ditawar.

Digitalisasi peradilan harus melampaui sekadar administrasi elektronik. Ia harus menjadi ekosistem yang mendukung transparansi, akuntabilitas, dan akses keadilan. Integrasi data antar lembaga, pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis, serta keamanan siber yang kuat adalah bagian dari tantangan ke depan.

Roadmap yang matang akan memastikan bahwa teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan sumber masalah baru. Dengan perencanaan yang visioner, peradilan Indonesia dapat melompat dari sekadar “mengikuti zaman” menjadi pelopor inovasi keadilan.

Selama beberapa tahun terakhir, Mahkamah Agung telah mengembangkan berbagai inovasi digital, seperti e-Court, e-Litigation, e-Berpadu, dan yang lainnya. Namun, perkembangan ini perlu dilanjutkan ke tahap yang lebih strategis, seperti integrasi total antar-sistem, pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk analisis putusan, serta keamanan data berbasis enkripsi nasional.

Roadmap TI Mahkamah Agung, idealnya dapat berfokus pada empat pilar:

  1. Integrasi data perkara nasional, yang menghubungkan seluruh pengadilan negeri, agama, militer, dan tata usaha negara dalam satu platform tunggal.
  2. Transparansi publik, yang memungkinkan masyarakat mengakses proses persidangan dan status perkara tanpa harus datang ke pengadilan;.
  3. Efisiensi administrasi, dengan meminimalkan penggunaan kertas dan mempercepat sirkulasi berkas digital antar unit.
  4. Keamanan digital peradilan, yang melindungi data hakim, pihak berperkara, dan dokumen rahasia, dari potensi kebocoran atau manipulasi.

Dengan roadmap yang jelas, teknologi informasi Mahkamah Agung dapat menjadi tulang punggung reformasi birokrasi dan pelayanan publik di bidang peradilan.

Menuju Visi dan Misi Mahkamah Agung yang Nyata

Seluruh agenda besar tahun 2026, mulai dari KUHP Nasional hingga teknologi informasi Mahkamah Agung, pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, yaitu mewujudkan visi dan misi Mahkamah Agung secara nyata, bukan sekadar slogan. Visi terwujudnya badan peradilan Indonesia yang agung, hanya akan terwujud jika setiap elemen bergerak selaras dengan regulasi yang kuat, kesejahteraan yang adil, kemandirian yang nyata, perlindungan yang memadai, dan inovasi yang berkelanjutan.

Momentum 2026 adalah kesempatan langka untuk menulis ulang sejarah lembaga peradilan Indonesia. Sejarah yang tidak hanya mencatat perubahan struktural, tetapi juga transformasi nilai. Sejarah tentang keberanian menegakkan keadilan di tengah tekanan, tentang integritas yang dijaga dengan kesejahteraan dan perlindungan, serta tentang institusi yang berani beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Jika momentum ini dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, maka kelak 2026 akan dikenang sebagai tahun ketika peradilan Indonesia melangkah lebih dewasa, lebih mandiri, dan lebih dipercaya. Sebuah langkah besar menuju keadilan yang tidak hanya ditegakkan, tetapi juga dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Khoiruddin Hasibuan
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel visi dan misi
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB
Demo
Top Posts

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB
Don't Miss

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

By Muhammad Adiguna Bimasakti15 January 2026 • 08:06 WIB

Sistem peradilan di Indonesia pada awalnya dirancang sederhana, dengan seluruh jenis perkara ditangani oleh Pengadilan-Pengadilan…

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire SuaraBSDK Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Abdul Ghani
  • Abiandri Fikri Akbar
  • Agus Digdo Nugroho
  • Ahmad Junaedi
  • Anderson Peruzzi Simanjuntak
Lihat semua →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.