Tidak kutahu-menahu tentang lelaki itu. Tetapi Ibu memperkenalkan padaku sebagai ayah. Ayah yang tak pernah kudapati pelukannya. Tanpa kuperoleh hangat ciumannya. Atau setidak-tidaknya kukenali gema amarahnya ketika aku nakal dan berulah sewaktu dulu. Ayah yang terasa ganjil bagiku untuk memanggilnya “ayah” karena mencari bahasa kasih sayang darinya laksana menyibak-nyibak setumpuk jerami demi sebatang jarum. Sementara di sudut-sudut kumuh tempat tinggalku ini, betapa sering kutemui para induk kucing mengasihi anak-anaknya sekalipun dengan ludah serta gigitan taring mereka.
“Abang membenciku?” Air muka perempuan belia ini mengingatkanku pada anak kucing malu-malu.
Kucing, oh kucing.
Sejujurnya aku tidak mencemburui kucing-kucing karena kami tidaklah sama. Anak kucing sama sekali tak punya asa terhadap kucing jantan sebagai ayah mereka, sedangkan aku tidak demikian. Malah tersebab harapan itulah barangkali yang membuatku sanggup hidup dua puluh enam tahun lamanya, sampai waktu yang mengantar perjumpaanku dengan perempuan yang berusia sewindu lebih muda dariku. Dia Yusi, yang kelak mengenalkanku lebih jauh pada laki-laki yang ia akui sebagai ayahnya, Mazdhar Zakaria.
Ya, ayah kami, satu orang yang sama.
Aku dan Yusi berbagi pandang, beradu dalam delik akrab dipaksa-paksakan, seperti ingus bocah meragu turun sarang. Hidup Yusi terbilang makmur sentosa. Ayahnya adalah pejabat di kantor provinsi. Sekarang mereka hanya hidup berdua sebab Yusi tak bersaudara, sedangkan ibunya sudah meninggal lantaran badai virus lima tahun silam.
“Abang membenciku, ya?” Aku mendengus ketika Yusi bertanya lagi.
Tempurung kepalaku kini serasa ditumbuhi akar-akar sungsang yang lekas menjalar ke setiap lubang. Sejatinya aku ingin mengiyakan rasa penasaran saudara seayahku ini, namun apa daya, akar-akar telanjur subur di lubang bibirku. Air ludahku menyusur pelan melintas di tenggorokan dan sedikit demi sedikit mengurai akar-akar itu.
“Tidak masalah,” ucap Yusi lagi. “Apa kau mau bertemu, Bang? Ayah sedang sakit. Aku yakin ada yang ingin ditebus olehnya.”
“Kau sudah bicara?” Aku menatap mata Yusi, saksama.
Kata Yusi, tak ada manusia benar-benar suci. Semua orang hanya berbeda soal cara apa yang ditempuh menuju dosa. Kita tak perlu mengutuk Adam yang dilempar ke bumi karena mengganggu pohon pengetahuan. Tidak terlalu penting juga mengolok-olok anggota dewan sebab bila dihadapkan pada posisi serupa, siapa yang menjamin manusia tidak akan berlaku bebal.
Dalam kesempatan ceramah singkatnya itu, sempat terbesit niatku ingin menyumpal mulutnya. Aku merasa dunia begitu cepat dijungkirbalikkan. Yang muda menasihati yang tua. Benar-benar tindak-tanduk yang kurang ajar.
“Dia bilang menyesal?” tanyaku usai Yusi bilang Mazdhar ingin bertemu aku dan Ibu.
“Bang, penyesalan seringkali tidak diungkapkan. Ia akan datang tanpa permisi saat waktunya tiba. Asal kau tahu, Ayah bahkan pernah bercerita tentang ibumu ketika kematian ibuku belum genap tujuh hari. Tidakkah cukup meyakinkanmu bahwa penyesalannya telah tiba?”
“Hanya Ibuku?” Yusi mengangguk pelan.
Kami berpisah setelah pertemuan itu. Aku tidak pernah menghubungi Yusi meski ia meninggalkan jejak nomor teleponnya. Tak ada pula panggilan masuk dari saudara seayahku itu tentang keinginan Mazdhar tempo hari. Kini aku malah sependapat dengan ceramah bocah ingusan itu bahwa manusia hanya berbeda jalan dosa. Omong kosong belaka Mazdhar menyesal. Bukankah sesal tanpa tindakan serupa iman tak diamalkan?
Sekarang sisalah aku dan Ibu menuguri hidup dari hari ke hari sebagai sepasang manusia papa. Menjelang usia Ibu yang setengah abad ini, aku acap berpikir kalau jiwa Ibu sungguh telah lama mati, hanya saja raganya tinggal menanti jatah untuk dikebumikan.
Memang harta si kaya dan si miskin tak akan dibawa ke akhirat. Namun aku berada pada mazhab bahwa miskin bisa membuatmu mati lebih cepat. Sulit bagiku merelakan kalau nasib ini harus membelenggu hidup kami terus-menerus. Apalagi penyakit Ibu lambat laun juga kian menjarahi tubuhnya, seakan menagih banyak urusan yang tak akan sanggup kami bayar.
Sementara nun di jantung kota, aku terbayang Mazdhar bersama putri tunggalnya terlelap dalam mimpi indah di malam yang berselimut sejahtera, bangun pagi sarapan roti selai, lalu menenggak hangatnya susu kedelai, tanpa menyisakan serak-serak iba pada sepasang nyawa yang telah lama ia dustakan.
***
“Kita ahli warisnya, Bu.”
Aku berbicara pada Ibu, suatu sore usai selumbari memperoleh kabar dari Yusi bahwa ayahnya wafat karena penyakit kronis stadium akhir saluran kencing. Aku sempat mengutuk Yusi yang telat memberi kabar sehingga tak satu pun di antara aku atau Ibu datang sekadar menyaksikan lelaki itu disemayamkan, atau sekurang-kurangnya bertemu sekalipun tak lagi bernyawa.
Kali ini Ibu tampak lebih letih dari biasanya. Aku cukup memahami, meski otakku bergemuruh hal lain dan aku berharap Ibu merasakan energi serupa. Lagi-lagi, ini tentang nasib hidup kami ke depan.
Perlahan ia menuang air dari sebuah kendi hitam legam, lalu mengangsurkan segelas untukku. Suara paraunya mulai terdengar sayup di telinga. “Tidak ada yang salah dari rasa rindu seorang anak pada ayah. Tapi Ibu harap sebatas itu saja. Jangan pernah memikirkan warisan.”
“Tidak, tidak,” timpalku, “kita berhak atas itu.” Aku menegakkan badan di atas kursi yang kududuki.
Pandangan Ibu kini malah jadi meruncing ke arah mataku. Roman yang nyaris tak pernah kudapati bertahun-tahun hidup susah dengannya. Ia meraih ujung kendi itu. Memadukan bibir kendi dengan bibirnya. Aku sempat membatin, sekilas tak ada yang kontras antara warna kendi dan bibir ibu yang kering dan layu.
Dua teguk telah tunai melintas di tenggorokannya. Ia mengembalikan kendi ke tempat asal, kemudian berkata lagi kepadaku. “Ibu membesarkanmu bukan untuk jadi laki-laki pengemis iba orang lain, biarpun orang lain itu mungkin ayahmu sendiri. Sekarang dia telah mati. Dan sebaiknya kita mendoakannya, bukan malah mengungkit-ungkit warisan.”
Parau suara Ibu disambut desis-desis angin yang turut mengangkut aroma-aroma di sekitar gubuk kami memasuki celah kayu hingga terhidu demikian busuknya. Bagiku itu sudah biasa. Justru sekarang yang tidak biasa adalah aku dan Ibu. Mendengar perkataannya barusan membikin gendang telingaku tersumpal besi disepuh. Jahanam mana yang melakukannya? Aku tak tahu. Tetapi tentu saja logam panas itu membuatku berang setengah gila.
Kusahuti perempuan tua yang sedang kubela itu dengan tegas. Bahwa aku tidak bersiasat mencuri. Tidak sedang mengajaknya menjarah. Aku tidak ingin macam-macam kecuali mengajaknya sadar diri tentang apa yang semestinya berhak kami berdua terima.
Racauanku terhenti begitu kusadari Ibu sudah berbilas air mata. Sementara tubuhku tetap menegang, rahang masih membaja. Perempuan tua itu mulai bicara lagi bernada serak dan bibir bergetar. “Kata ayahmu, demi hidup yang cukup, ia pamit meninggalkan kita. Katanya demi hidup sejahtera. Demi dan demi! Dia pamit pergi, untuk seterusnya, dan bahkan kini selamanya,” suaranya terjeda sekian detik, “tapi hari ini, Nak. Ibu seperti terlempar lagi puluhan tahun ke belakang. Mengapa kau dan almarhum tak jauh berbeda?”
Kebodohan macam apa ini. Sempat-sempatnya Ibu mempertanyakan sesuatu yang lazim yang jamak yang umum terjadi antara anak dan ayah. Aku pikir Ibu memang sudah terserang sesat pikir kronis. Ia seperti hidup hanya karena tak kunjung mati. Tidak, tidak. Rupanya ia tidak sedang kehilangan gairah untuk terbebas dari belenggu nestapa, melainkan memang tidak memilikinnya sama sekali. Artinya, selama ini perempuan tua di hadapanku andil besar atas kehidupan yang melarat sejak aku bayi hingga sekarang.
Kepalaku kembali nyeri, serasa dihantam dengan setandan kelapa segar. Karena tak tertahankan lagi, angin yang datang mendorong tanganku meraih kendi hitam itu, mengayunkan dengan tenaga yang berlipat-lipat datangnya. Melenting sudah suara-suara sumbang: pecahan tanah liat, teriak serta jeritan Ibu. Ia menangkupkan tangan ke telinga dan memejam rapat-rapat sekalipun tak sungguh berhasil menghalau banjir tangis dari matanya.
***
Tak kuingat berapa hari setelah kemelut sore jahanam itu, sepotong pesan datang dari Yusi. Ringkas. Tidak terlalu panjang. Tetapi setelah kubaca rupanya meninggalkan gaung teramat lama. Yusi mengabarkan padaku kalau almarhum Mazdhar Zakaria bukan ayah kandungnya. Dia diadopsi dari panti sosial sejak usia balita.
Berengsek betul, kubilang.
Mengapa sejak awal Yusi tidak jujur soal itu. “Apa mau menggelapkan warisan?”. Aku menepuk-nepuk jidat, menghitung-hitung sebuah kesimpulan. Tanpa ragu tanpa bimbang bahkan tanpa berlama-lama, aku gegas beranjak menemui Ibu. Tak ada manusia yang paling berhak atas warisan ayah selain Ibu dan aku sendiri.
Di jalanan, gang-gang, tikungan satu ke tikungan lain, tak habis-habis aku mengucap syukur pada Tuhan lantaran hikmah-Nya ini datang tiada kenal zaman. Sepatutnyalah nasibku dan Ibuku ditebus dengan cara-Nya yang amat bijaksana.
Dan, rencana-rencana ke depan kini mulai memborondongi isi otakku. Kami akan meninggalkan gubuk kumuh dan lekas-lekas pindah ke kota. Aku akan membawa Ibu ke dokter untuk membantu penyembuhannya. Dan aku akan tetap menganggap Yusi sebagai saudara, serta berjanji membiarkannya untuk tinggal seatap bahkan makan semeja bersama aku dan Ibuku.
Dari jarak seperlemparan batu dari tempatku berdiri, kulihat punggung Ibu yang duduk melamun di depan rumah jelek itu. Aku menghela napas sebentar, syahdan memangkas jarak untuk menghampirinya. Ibu cukup terkejut melihatku pulang. Ia menghujam tubuhku dengan pelukan sambil berkali-kali mengucap maaf. Kubilang, sudah, Bu, aku pulang membawa kabar baik.
Kami masuk ke rumah dan duduk di bangku masing-masing. Segera aku meraih ponsel dari dalam saku. Kucari nama Yusi di sana.
“Ada apa?” Ibu penasaran.
“Biarkan Yusi yang menjelaskan.”
Suara saudaraku itu terdengar nyaring dari kota. Aku memintanya untuk pelan-pelan menerangkan hubungannya dengan almarhum ayah.
“Jadi begini,” ucap Yusi.
Mata Ibu masih mengernyit heran, tetapi bibirku tak bisa lagi menyembunyikan perasaan yang, teramat lega.
“Aku bersaksi Ayah dan Ibuku orang baik. Walaupun aku anak adopsi, tetapi aku tak pernah mendapatkan satu pun perlakuan kasar apalagi tak bertanggung jawab dari mereka. Aku tidak pernah dianggap sebagai orang lain. Mereka mengasihiku selayaknya darah daging mereka sendiri, yang mungkin malah tidak dialami oleh anak-anak lain dari orang tua kandung mereka.”
Ekor mataku melirik ke arah Ibu. Tak sabar selekas mungkin mau menuntaskan semuanya. “Eee… Yusi. Jadi almarhum bukan ayah kandungmu, ya?”
“Memang.” Senyumku terbit mendengarnya.
“Penyakit Ayah membuat dirinya tak pernah punya anak.” Senyumku padam seketika. Aku tercekat.
“Maaf, Yusi. Apa katamu?” timpalku buru-buru.
“Sejujurnya almarhum tidak punya anak kandung.”
Napasku mendadak tak keruan. Sekonyong-konyong situasi berubah demikian semrawut.
“Yusi, aku tidak paham…”
Di tengah perasaan bancuh itu, di mana tak lagi terkendali ritme jantungku, tiba-tiba Ibu meraih ponselku. Meletakannya begitu kasar di meja.
Suara Yusi tak terdengar lagi.
Aku hanya diam. Ibu ikut terdiam. Waktu seolah juga terpaksa berdiam.
Tampak di pandanganku, mata Ibu berubah merah dan berselaput basah. Bibir hitamnya terlihat ingin memuntahkan sejumlah kata. Namun hingga kepalaku kembali terhantam setandan kelapa segar, tak ada yang keluar dari mulutnya sekalipun air ludah.
Meski napasku tersengal-sengal, sekuat upaya kucoba bertanya, apakah Ibu tahu soal kalimat terakhir Yusi? Tak ada jawaban. Ibu menunduk serta menangkupkan telapak tangan ke lubang-lubang telinganya.
Tidak lama, lirih suara Ibu kembali terdengar mengucap kata maaf. Sadar bahwa keadaan mulai terkendali, kutanggapi permohonan maafnya. Kubilang tidak apa-apa. Tapi Ibu malah mengucap maaf lagi. Maaf berkali-kali. Maaf yang berulang-ulang kali.
Diiringi kesiur angin yang mengangkut aroma di sekitar gubuk kami lewat celah kayu hingga terhidu demikian busuknya, perasaanku mendesir getir mengingat almarhum Mazdhar Zakaria.
Sepertinya ada banyak hal yang perlu kubereskan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


