#Segmen 10 – Menjaga Amanah Waktu
Waktu tidak pernah meminta izin. Ia datang, berjalan, lalu pergi, meninggalkan jejak yang hanya bisa dibaca oleh hati yang mau jujur. Di gedung peradilan ini, waktu hadir dalam berbagai rupa jam sidang, antrean pelayanan, tenggat laporan, dan jeda-jeda sunyi yang sering terabaikan.
Aku belajar, amanah terbesar aparatur bukan hanya jabatan, bukan pula kewenangan, melainkan waktu yang dipercayakan untuk mengabdi.
Setiap hari, waktu dipinjamkan kepadaku dalam jumlah yang sama. Namun nilainya berbeda, tergantung bagaimana ia dijaga. Ada waktu yang habis untuk rutinitas tanpa makna. Ada pula waktu yang sederhana, tetapi penuh keberkahan karena dijalani dengan niat yang lurus.
Di awal pengabdian, aku mengira menjaga waktu berarti datang tepat waktu dan pulang sesuai aturan. Kini aku memahami, menjaga amanah waktu jauh lebih dalam. Ia adalah kesediaan hadir sepenuh hati ketika melayani. Kesanggupan menahan diri dari menunda yang seharusnya disegerakan. Kejujuran untuk tidak mengabaikan yang kecil hanya karena tidak terlihat.
Allah mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan itu sering kali dimulai dari cara kita memperlakukan waktu. Apakah ia dihabiskan, atau dimaknai.
Aku teringat ruang tunggu yang penuh harap. Meja pelayanan yang menuntut kesabaran. Sidang yang terdiam demi kehati-hatian. Lorong sunyi tempat pilihan moral diuji. Semua itu adalah potongan waktu yang pernah singgah, lalu pergi. Tidak satu pun kembali.
Rasulullah SAW bersabda:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Hadis itu terasa semakin relevan seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Betapa sering waktu luang diisi dengan kelalaian, dan betapa sering kesibukan dijadikan alasan untuk mengabaikan empati.
Menjaga amanah waktu berarti menyadari bahwa setiap detik adalah kesempatan berbuat adil. Bahkan ketika tidak ada perkara. Bahkan ketika tidak ada yang melihat. Bahkan ketika lelah meminta berhenti.
Aku menyadari, pengabdian tidak selalu diukur dari puncak-puncak besar. Ia justru ditentukan oleh ketekunan menjaga hal-hal kecil, berulang, dan tampak sepele tepat waktu, tepat sikap, tepat niat.
Ketika senja datang dan bayangan gedung memanjang, aku sering berhenti sejenak. Menarik napas. Menghitung hari bukan dengan kalender, tetapi dengan kesadaran: sudahkah waktu hari ini kujaga dengan baik?
Aku tidak selalu berhasil. Ada hari-hari di mana aku tergesa. Ada saat-saat ketika aku memilih nyaman daripada benar. Namun setiap kegagalan mengajarkanku satu hal penting: amanah waktu tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kejujuran untuk terus memperbaiki.
Di penghujung buku ini, aku tidak ingin menawarkan nasihat yang tinggi. Aku hanya ingin menyampaikan pengakuan sederhana: bahwa menjadi aparatur negara adalah perjalanan menjaga waktu agar tetap bernilai ibadah.
Sebab pada akhirnya, yang akan ditanya bukan berapa lama kita bekerja, tetapi bagaimana kita menggunakan waktu yang diberikan.
Dan ketika kelak seluruh waktu itu dikembalikan kepada Pemiliknya, aku berharap dapat menjawab dengan tenang:
bahwa aku telah berusaha menjaga amanah waktu sebaik yang aku mampu, setulus yang aku bisa.
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS. At-Takāthur: 8)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


