Senin pagi yang bagi banyak orang hanyalah repetisi waktu, menjadi babak paling berat bagi AI. Ia melangkah ke ruang sidang dengan tubuh lemah dan hati yang koyak. Bukan hanya karena statusnya sebagai terdakwa, tetapi karena di sudut ruang rumah sakit, anaknya yang masih PAUD sedang berjuang antara kuat dan rapuh, membutuhkan darah golongan A, golongan darah yang langka, dan lebih langka lagi ketika bantuan tertahan oleh prasangka. Berkali-kali ia mencari, namun pintu kebaikan seolah menutup diri. Sesaat sebelum membuka persidangan, Ketua Majelis Hakim Ruth Marina Damayanti Siregar menangkap keganjilan itu. Ada sesuatu dalam sorot mata AI yang tak bisa diabaikan:…
Read More