Malik mengenal bukit itu sebelum ia mengenal kitab kuning dan istilah-istilah besar tentang maslahat. Sejak kecil, bukit di belakang desanya adalah tempat ia belajar banyak hal tanpa sadar. Di sanalah ia berlari tanpa alas kaki, memanjat pohon jambu, dan berbaring memandang awan sambil menebak-nebak bentuknya. Bukit itu hijau, teduh, dan seperti penjaga desa yang diam namun setia. Kini, setiap kali Malik memandang ke arah yang sama, yang ia lihat hanyalah tanah merah dan bekas roda kendaraan berat.
Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, Malik pergi menuju Lembaga Cahaya Umat dengan mengendarai sepeda ontel warisan bapaknya. Ia datang sebagai santri dan relawan, membantu apa saja yang dibutuhkan. Bangunan lembaga itu megah, lantainya dingin, dindingnya dipenuhi kaligrafi ayat tentang amanah dan keadilan. Dari pengeras suara, doa mengalun rapi, teratur, dan terdengar penuh arti. Malik sering bertanya dalam hati, apakah Tuhan benar-benar perlu diyakinkan setiap hari dengan rekaman yang diputar rutin tanpa tahu makna yang terkandung di dalam bacaannya?
Di halaman depan, mobil-mobil berpelat putih terparkir berjajar. Malik tahu, sebagian pemiliknya adalah orang-orang yang kerap berbicara tentang kesederhanaan. Mereka ramah, suka menepuk pundak, dan pandai memilih kata. Jika ada yang bertanya, jawaban mereka selalu lembut, penuh senyum, dan sulit disanggah. Di ruang pertemuan, Malik duduk di barisan belakang. Ia mendengarkan ceramah tentang manusia sebagai khalifah di bumi, tentang keseimbangan alam, tentang dosa merusak ciptaan Tuhan. Kata-kata itu indah, mengalir seperti air bersih. Namun setiap kali ia memejamkan mata, yang terbayang justru truk-truk tambang yang lewat di depan desanya, membawa tanah dari bukit yang dulu hijau.
Di belakang kantor lembaga itu, bukit yang sama berdiri tanpa suara. Dulu, para pembicara sering menunjuknya sebagai contoh kebesaran Tuhan. Kini, bukit itu jarang disebut. Jika disebut pun, dengan istilah baru yang terdengar canggih dan aman.
“Pengelolaan sumber daya,” kata mereka. “Pemberdayaan ekonomi umat,” tambah yang lainnya.
Malik mencoba memahami. Ia membaca, berdiskusi, dan berdoa. Ia ingin percaya bahwa semua ini benar. Namun setiap kali pulang ke desa, ibunya mengeluh air sumur berubah rasa. Ayahnya berhenti menanam karena tanah tak lagi ramah. Sungai kecil tempat Malik dulu mandi kini keruh dan sunyi.
Suatu sore, Malik memberanikan diri bertanya dalam sebuah forum kecil. Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh kipas angin dan batuk-batuk ringan.
“Kiai, kalau bumi ini amanah, mengapa ia dilukai atas nama doa?”, kata malik pelan.
Ruangan hening. Malik bisa merasakan beberapa pasang mata menoleh. Seorang kiai tersenyum, lalu menepuk pundaknya dengan gerakan yang terasa seperti penutup percakapan.
“Kamu masih muda,” katanya lembut. “Nanti juga paham. Agama itu luwes. Yang penting niat kita baik.” Pungkas sang kiai.
Malik mengangguk, meski di dadanya ada sesuatu yang tak ikut mengangguk.
Sejak hari itu, Malik mulai memperhatikan lebih saksama. Ia melihat rapat-rapat tertutup yang selalu dimulai dengan doa dan diakhiri dengan tanda tangan. Ia melihat proposal dengan sampul religius dan isi yang penuh angka. Ia mendengar kata-kata seperti maslahat dan keberkahan digunakan berulang-ulang, hingga maknanya terasa aus. Ia juga melihat ceramah tentang zuhud disampaikan dari podium mahal, dengan lampu terang dan pendingin ruangan. Di luar gedung, truk-truk tambang melintas tanpa henti. Debunya menempel di daun-daun yang tersisa, juga di pakaian warga desa.
Setiap kali ada kritik, jawabannya selalu sama. Ayat dibacakan. Nasihat disampaikan. Mereka yang bertanya terlalu keras disebut kurang adab. Mereka yang menolak disebut belum matang memahami realitas. Malik belajar bahwa dalam ruang tertentu, pertanyaan bisa dianggap gangguan. Di desa, perubahan terjadi pelan-pelan. Sumur menjadi asin sedikit demi sedikit. Daun menguning sebelum waktunya. Burung-burung jarang kembali. Namun di kota, gedung Lembaga Cahaya Umat bertambah satu lantai. Dana umat disebut meningkat. Program baru diumumkan dengan nama-nama indah, penuh kata cahaya, berkah, dan kesejahteraan. Foto-foto kegiatan dipajang rapi. Senyum tertata. Doa-doa diangkat tinggi.
Suatu malam, Malik berjalan sendiri ke bukit yang kini tinggal tanah merah. Ia duduk di sana, di tempat yang dulu penuh rumput. Angin membawa bau logam dan debu. Tak ada pengeras suara. Tak ada protokol. Malik hanya berdoa dengan kata-kata yang sederhana, seperti dulu ketika ia masih kecil.
“Ya Tuhan,” bisiknya, “jika nama-Mu dipakai untuk melukai ciptaan-Mu, apakah Engkau masih dipanggil, atau hanya disebut?”
Ia menunggu, bukan jawaban, melainkan ketenangan. Akan tetapi, yang datang justru suara mesin dari kejauhan, bekerja tanpa henti, seperti doa yang tak pernah selesai.
Keesokan harinya, lembaga mengadakan doa bersama untuk keselamatan tambang. Spanduk besar terbentang. Kata-kata suci ditulis dengan tinta emas. Kamera merekam dari berbagai sudut. Para tokoh berdiri rapi, tangan terangkat, suara amin bergema panjang.
Malik berdiri di pinggir, memperhatikan. Ia tak marah. Ia hanya merasa asing.
Di bawah doa-doa itu, bumi terus digali. Tanpa upacara. Tanpa ayat.
Malik mulai memahami sesuatu yang tak pernah diajarkan secara resmi. Bahwa kesalehan bisa tampil sangat rapi. Bahwa doa bisa menjadi tameng. Bahwa ayat bisa menjadi perisai. Dan bahwa agama, dalam keadaan tertentu, bisa dipinjam untuk urusan dunia, lalu dikembalikan ketika sudah selesai.
Hanya bumi yang tak pernah diajak bicara.
Ia tidak menolak.
Ia tidak menyela.
Ia hanya diam, rusak, dan menyimpan ingatan tentang siapa saja yang pernah menyebut nama Tuhan sambil melukainya. Malik menunduk. Ia tahu, suatu hari nanti, pertanyaan itu harus dijawab. Bukan di forum. Bukan di podium. Melainkan di hadapan Tuhan yang tak pernah membutuhkan pengeras suara.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


