Pesan utama tersebut terucap dari sang Jenderal, orang nomor satu di Direktorat Jenderal Badan Peradilan Militer dan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung.
Sang Jenderal dimaksud adalah Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H., ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Badan Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara.
Selaku Dirjen Badilmilitun, Sang Jenderal turut berpatisipasi dalam acara perhelatan Pembinaan Sekretaris Pengadilan Seluruh Indonesia, jumat (12/12) di Mahkamah Agung. Betapa tidak, dari segi teknis administratif, Dirjen Badilmilitun menaungi dua badan peradilan sekaligus yaitu Peradilan TUN dan Peradilan Militer.
Beliau mengatakan peran sekretaris pengadilan sangat strategis, dengan merincikan indikator tersebut satu-persatu, yaitu: sebagai motor penggerak administrasi pengadilan (top manager), pengelola manajemen dan sumber daya, penopang fungsi teknis yudisial, penjaga integritas dan kepatuhan administrasi, penghubung internal dan eksternal dan pembina staf administrasi.
Paralel dengan tema kegiatan dan subjek yang hadir dalam acara tersebut, Sang Jenderal mengetangahkan materi yang menarik yaitu :
“Menjadi Sekretaris Yang Profesional”.
Dalam paparannya, ia menekankan kepada tiga hal, yaitu bagaimana menjadi profesional, bagaimana menyikapi perbedaan dan bersyukur sebagai kunci.
Dengan nada tegas layaknya seorang jenderal, diselingi nuansa lembut dan ramah layaknya seorang pemimpin, ia mampu mengelaborasi harapan dan realita yang dikemas menjadi bahan yang layak untuk didiskusikan. Sudut ruangan hening menyimak seakan terpesona mendengar getaran suara yang dikombinasikan dengan bahasa tubuh sehingga menyatu menjadi pesan dan saran.
Intinya terdapat tiga bahasan pokok yang tersampaikan yaitu:
Pertama, bagaimana menjadi profesional? ia menguraikan empat variabel yang paling menentukan, diantaranya; membangun integritas yang kuat, menguasai regulasi dan tugas jabatan, memperkuat kemampuan manajerial dan membangun komunikasi yang efektif.
Kedua, bagaimana menyikapi perbedaan? dengan bahasa tersusun ia menerangkan bahwa kita harus mampu memahami hakikat perbedaan, diantaranya tugas, risiko, dan beban moral yang berbeda, kemudian, kita harus mampu memahami bahwa sekretaris memiliki jalur karier dan hak finansial sendiri, tetap fokus pada profesionalitas bukan perbandingan.
Ketiga, syukur sebagai kunci, faktor syukur ini dapat menumbuhkan keikhlasan dalam bekerja, menghilangkan rasa iri dan kecemburuan jabatan, membuat hati tenang dan tidak tergoda melanggar aturan, menguatkan tanggung jawab moral dan menjadikan aparatur tidak gampang mengeluh.

Saat dikonfirmasi kepada salah satu peserta, Taufik Rahman, S.Sos., M.M., selaku Sekretaris pada PTUN Serang, ia mengatakan sambil tersenyum bahwa materi yang disampaikan oleh Dirjen Badilmiltun sangat bagus dan mudah dipahami. Dirjen Badilmiltun memberi pemahaman agar para peserta mengetahui fungsi dan kedudukan Sekretaris Pengadilan, dan memahami hak dan kewajiban Sekretaris Pengadilan. Kemudian, pesan yang sangat bijak adalah, kita harus tetap bersyukur dengan posisi jabatan yang ada.
Acara pembinaan semacam ini baru pertama kali diadakan, dimana seluruh Sekretaris Pengadilan baik tingkat banding sampai tingkat pertama dari 4 (empat) lingkungan peradilan dikumpulkan dalam satu forum pembinaan.
Taufik mengatakan sangat senang dengan acara pembinaan seperti ini, karena baru pertama kalinya kami berkesempatan masuk Balairung MA. Lebih lanjut dikatan bahwa kegiatan ini tidak hanya pembinaan semata melainkan juga sebagai ajang silaturahim para sekretaris dengan pimpinan MA. Kegiatan ini mencerminkan bentuk kepedulian dan perhatian pimpinan MA kepada Sekretaris Pengadilan.
Bahkan, Taufik berharap kegiatan seperti ini perlu diagendakan secara rutin, supaya memperoleh pemahaman secara utuh tentang peran Sekretaris Pengadilan, dan mendapatkan suntikan moril dari pimpinan MA secara langsung.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


