Author: Irwan Rosady

Avatar photo

Wakil Ketua Pengadilan Negeri Pandegelang

Dalam percakapannya dengan Raja Hui dari Liang, Mengzi berkata: “Jika jaring yang rapat tidak ditebar di kolam dan rawa, maka ikan dan kura-kura akan berlimpah melebihi kebutuhan. Jika kapak dan parang hanya diizinkan masuk hutan pada musim yang tepat, maka kayu akan berlimpah melebihi kebutuhan” Percakapan Mengzi di atas mengajarkan, tentang “pengambilan pada waktunya” (Shi). Manusia boleh memanfaatkan alam, tetapi harus ada batasan (limitasi) dan timing yang tepat agar alam punya waktu untuk regenerasi. Di tengah krisis keanekaragaman hayati global, keberhasilan konservasi sering kali membawa dilema baru. Ketika populasi satwa liar pulih, gesekan dengan pemukiman manusia menjadi tak terelakkan. Lalu…

Read More

Ratusan Hakim dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul dalam ruang Zoom untuk mengikuti kegiatan yang bukan sekadar forum diskusi, melainkan sebuah perjalanan batin dan intelektual. Bertajuk “Kehidupan, Kebenaran dan Keadilan: Pemikiran Lintas Peradaban”, sesi ini menghadirkan Dr. der. Phil. Reza A.A Wattimena, filsuf kontemporer yang dikenal karena keberaniannya menembus batas-batas tradisi dan menggugah kesadaran kolektif. Dipandu oleh moderator Wakil Ketua Pengadilan Negeri Pandeglang, Irwan Rosady. Hakim yang tengah menempuh studi doktoral di Tiongkok dan kini larut dalam kebijaksanaan filsafat Timur memandu diskusi ini menjadi ruang kontemplatif yang menggetarkan. Dengan semangat yang mengalir dari kedalaman batin dan pengalaman lintas budaya, membuka sesi…

Read More

Aku selalu percaya bahwa hidup bukan sekadar tentang menjadi pintar. Di dunia yang semakin kompleks ini, dimana informasi berlimpah dan teknologi berkembang begitu cepat, kecerdasan saja tidak cukup. Kita butuh sesuatu yang lebih dalam, lebih kokoh, sebuah fondasi moral yang tak tergoyahkan. Dan dalam pencarianku akan makna itu, aku menemukan cahaya dalam kebijaksanaan kuno Tiongkok. Filsafat Tiongkok, terutama ajaran Konfusius dan Laozi, bukan hanya kumpulan pepatah bijak. Ia adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya, dan kompas yang menuntun kita menjadi manusia seutuhnya. Disanalah aku belajar bahwa menjadi cerdas dan berintegritas bukanlah dua jalan yang berbeda, melainkan satu jalan yang…

Read More

Dalam sistem peradilan, seorang hakim memegang peran yang sangat krusial. Ia bukan sekadar penafsir hukum, tetapi juga penjaga nilai-nilai keadilan yang menjadi fondasi masyarakat yang beradab. Selama ini, dua kualitas utama yang sering dijunjung tinggi dalam diri seorang hakim adalah kejujuran dan integritas. Keduanya memang tak tergantikan. Namun, di balik sorotan terhadap dua nilai tersebut, ada satu sikap yang tak kalah penting namun sering kali terabaikan: kerendahan hati. Kerendahan hati bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan batin yang membentuk karakter luhur seorang hakim. Ia adalah penyeimbang antara kekuasaan dan kebijaksanaan, antara otoritas dan empati. Hakim yang rendah hati tidak melihat dirinya sebagai…

Read More

Sejarah umat manusia selalu ditandai oleh relasi antara manusia dan alam. Peradaban besar lahir dari sungai, lembah subur, hutan, dan lautan yang melimpah. Namun, dalam dua abad terakhir, perkembangan teknologi dan keserakahan ekonomi telah melahirkan sebuah paradoks: di satu sisi, manusia berhasil menciptakan kemajuan material yang luar biasa, namun di sisi lain, kita tengah menggali kubur bagi kelangsungan hidup kita sendiri. Hari ini, dunia menghadapi ancaman yang tidak kalah serius dari perang atau terorisme: kejahatan ekologis. Ia hadir dalam berbagai wajah, pembakaran hutan tropis yang menghasilkan kabut asap lintas negara, pencemaran laut akibat tumpahan minyak atau limbah plastik, perusakan terumbu…

Read More