Subscribe to Updates
Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.
Author: Nugraha Wisnu Wijaya
Sesungguhnya, sebelum terlanjur sampai mana-mana, penulis tidak meminta izin maupun persetujuan dari pembaca, namun hanya ungkapan apologia semata. Kalau-kalau tulisan ini memanglah terdapat kesamaan nama, peristiwa, locus dan tempus, mohon kiranya untuk dimaklumi sahaja, syukur-syukur dimaafkan. Ini kisah dapat dinilai oleh masing-masing pembaca. Boleh empat per empat wajar, delapan per sembilan wajar, atau malah tidak wajar sama sekali. Namun, menurut hemat penulis, selama sesuatu masih bisa manusia bayangkan, selama peristiwanya masih membumi, maka entah di belahan dunia manapun pasti hal serupa boleh jadi memang eksis atau akan eksis. Dahulu siapa yang menyangka jika saat ini komputer dapat berbicara dengan manusia…
Sebagai aparatur sipil negara yang pernah ditempatkan di daerah kepulauan, sudah barang tentu penulis berpergian dengan moda transportasi laut, entah untuk pulang kampung atau perjalanan dinas. Dan kebetulan saat itu, setidak-tidaknya hingga tahun 2024, belum berdiri bandara disana. Tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan ketika berlayar selama kurang lebih 8 jam di tengah laut, paling-paling hanya tidur atau melamun. Tetapi, kadang kala lamunan itu mendorong timbulnya pertanyaan seperti, “Apakah kehidupan dunia laut sama seperti halnya kehidupan dunia darat?”, atau “Apa kegelisahan yang masyarakat dunia laut hadapi saat ini?”. Fakta yang tidak terelakkan bahwa luas daratan tidak sampai setengahnya luas lautan!…

