Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan

10 February 2026 • 23:08 WIB

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Orkes Damai: Sebuah Kisah Setengah Wajar
Roman

Orkes Damai: Sebuah Kisah Setengah Wajar

Nugraha Wisnu WijayaNugraha Wisnu Wijaya25 November 2025 • 09:37 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Sesungguhnya, sebelum terlanjur sampai mana-mana, penulis tidak meminta izin maupun persetujuan dari pembaca, namun hanya ungkapan apologia semata. Kalau-kalau tulisan ini memanglah terdapat kesamaan nama, peristiwa, locus dan tempus, mohon kiranya untuk dimaklumi sahaja, syukur-syukur dimaafkan.

Ini kisah dapat dinilai oleh masing-masing pembaca. Boleh empat per empat wajar, delapan per sembilan wajar, atau malah tidak wajar sama sekali. Namun, menurut hemat penulis, selama sesuatu masih bisa manusia bayangkan, selama peristiwanya masih membumi, maka entah di belahan dunia manapun pasti hal serupa boleh jadi memang eksis atau akan eksis.

Dahulu siapa yang menyangka jika saat ini komputer dapat berbicara dengan manusia menggunakan bahasa alami dan membantu tugas sehari-hari, seperti halnya dalam film 2001: A Space Odyssey? Maka, agar tetap terlihat waras, penulis memposisikan kisah ini setengah wajar saja.

Kisah ini berpusat pada seseorang yang bernama Wastib Bunduk, tapi sering ditafsirkan secara ekstensif olehnya sebagai Pengawas dan Penertib, Buru dan Ciduk. Bukan tanpa sebab disebut demikian, kegiatan sehari-harinya memang mengawasi, menertibkan, memburu, dan menciduk warga di wilayahnya yang kedapatan atau sangat-amat-memungkinkan-dicurigai melakukan kejahatan. Supaya mempermudah pembaca memahami tupoksi Wastib, penulis menyandingkannya serupa dengan hansip, namun dengan wewenang ekstra.

Wastib bukanlah sembarangan orang. Riwayat hidupnya tidak bisa disebut main-main. Pernah ia menjalani pendidikan Calon Hansip selama 1,5 tahun—meskipun akhirnya mengundurkan diri. Saat ini ia juga membuka bimbingan belajar bagi anak-anak muda yang berkeinginan menjadi Calon Hansip—meskipun harus membayar mahal untuk mengikuti bimbingan belajar tersebut.

“Profesi hansip adalah profesi yang serius, bahkan duarius. Meski tidak secara penuh diakomodir oleh undang-undang, profesi hansip sejatinya merupakan summum bonum, kebajikan tertinggi. Voluntair dalam pengabdian. Menyentuh dan bersinggungan langsung dengan realitas kehidupan dan alam yang begitu luas dan rumit,” kira-kira seperti itu yang dituturkan olehnya saat Zoom.

Meski banyak yang mencibir dan menghardiknya, lebih banyak pula yang memujinya. Bahkan ada yang menyebut Wastib sebagai lambang peradaban.

Salah satu mantan peserta bimbelnya yang kini telah menjadi Kepala Siskampling di suatu kota besar secara jujur dan di bawah sumpah mengatakan, “Bapak Wastib adalah pejuang kemanusiaan-keadilan. Sokoguru penegakan hukum.”

Pujian dari Kepala Siskampling seperti di atas bukanlah omong kosong. Untuk urusan yang ini, penulis coba meyakinkan pembaca bahwa Wastib adalah sosok yang paripurna pengetahuan dan wawasannya. Selain mengeyam pendidikan formal sebagai mantan Calon Hansip, ia juga gemar membaca dan mengulik pikiran serta karya orang-orang hebat, mulai dari Spinoza hingga Slavoj Zizek, dari van Apeldoorn sampai Satjipto Rahardjo, bahkan seluruh buku Enny Arrow telah ia baca tuntas.

Cukup kiranya penggambaran Wastib Bunduk, seorang sederhana dengan kualitas wahid, yang tinggal serapat-rapatnya dengan masyarakat dusun. Dusun yang ia cintai tulus tanpa pamrih.

Wastib tinggal sebatang kara di rumahnya yang sederhana. Dindingnya belum dilapisi semen, tanpa plafon, tanpa furnitur mewah, juga ada foto lamanya saat masih menjadi Calon Hansip. Konsep rumah ini Wastib sebut sebagai rustic-brutal-industrial. Termasuk daun pintunya berasal dari bekas rumah tetangganya yang pernah dieksekusi oleh pihak berwenang.

Baca Juga  Antara Buku, Pena, dan Penghapus

Di balik konsep huniannya yang ekonomis, Wastib memiliki sebuah ruangan khusus di bawah tanah. Tempat ia menahan, mendidik, dan membina warga dusunnya yang melakukan kejahatan. Tempat itu dia namakan Alcatrox, terinspirasi dari Alcatraz.

“Atas nama kepercayaan dan konsensus warga-warga terdahulu yang telah mengangkat saya sebagai pengawas dan penertib, maka saya telah buru dan ciduk terhadap anda-anda yang bernama Ujur dan Sibab! Oleh karena diduga dan sangat patut dicurigai telah mengkritisi kebijakan Ketua RT mengenai iuran bulanan rukun tetangga. Pro Justitia!” Lantang ia ucapkan kata-kata tersebut saat melakukan Operasi Burcid terhadap Ujur dan Sibab.

Ujur dan Sibab adalah tahanan sekaligus binaan ke-4 dan ke-5 Wastib bulan ini. Jadi totalnya 5 orang, padahal Alcatrox sebetulnya dapat menampung hingga 7 orang. Namun, atas dasar kemanusiaan, Wastib membatasi kuota “pendaftaran murid baru”-nya.

“Hasil buru ciduk sore atau malam?” tanya Suput kepada Ujur dan Sibab. Suput adalah senior dari mereka berdua. Bisa dibilang kakak pertama. Ia awal bulan “daftar” di Alcatrox.

Ujur menjawab, “Tadi pagi, masih anget ini.”

“Gila! Mana ada penahanan tanpa peristiwa pidana!” kata Sibab saat Wastib mendudukkannya bersama para senior.

“Metodologinya ante factum. Tahan dulu baru cari peristiwanya. Ini aturan paling baru. Paling mutakhir,” jawab Wastib sambil memborgol Ujur dan Sibab secara berantai dengan para senior.

“Kalau tidak ada peristiwanya?” tanya Sibab.

“Ya, bagus,” jawab Wastib.

“Bagus darimananya!” jawab lagi Sibab.

“Bagus karena selama di sini kau tidak perlu bayar iuran rukun tetangga, kan? Ya, setidaknya kalian tidak kabur atau menghilangkan bukti, sih,” jawab lagi Wastib.

“Mana ada kami kabur,” sahut Ujur.

“Mana mungkin kalian kabur,” potong Wastib.

“Kami mau disediakan pembela!” jawab Sibab lagi.

“Di dusun tidak ada pembela. Kalian juga tahu. Justru kau yang aneh, Bab. Kau meminta hal yang tidak ada. Mengada-ada!” jawab Wastib lagi.

“Wastib, dengan segala hormat, kami tidak bersalah,” jawab Ujur sambil memelas.

“Subversif! Penentang semesta!” tunjuk Wastib menggunakan jari kelingking, karena pantang bagi pria terhormat menunjuk-nunjuk menggunakan jari telunjuk, apalagi jari tengah. Maka, demi memelihara adat yang bersih, Wastib konsisten menggunakan jari kelingkingnya.

Wastib mendongak ke atas, merentangkan tangannya sambil berkata, “Tuhan, Engkau tahu tangan-tangan ini kotor karena ulah kejahatan. Bukan kejahatan yang saya bikin-bikin, tapi kejahatan yang orang lain buat. Sungguh Tuhan, saya mohon ampun atas perbuatan saya yang nirdosa. Kalau-kalau memang ada dosa, kiranya dianggap lunas saja.”

“Kedua orang ini telah menjadi penentang. Ampuni mereka di akhirat kelak. Sedangkan di dunia, berikan mereka berkah saja. Boleh lewat saya, boleh langsung ke orangnya,” mata Wastib hampir penuh dengan air mata.

“Berkah macam apa!” potong Sibab.

“Engkau dapat lihat sendiri, Tuhan. Mereka potong doa hamba. Sedikit tambahan saja, mohon kiranya Engkau beri mereka berkah bukan dalam bentuk pangan, tapi angan-angan,” tambah Wastib.

Baca Juga  Kemana Perginya?

Alcatrox tidak hanya sebuah tempat. Lebih dari itu, ia adalah sistem penahanan, penyelidikan-penyidikan, penuntutan, penjatuhan hukuman, sekaligus pemenjaraan secara terintegrasi dan tersentralisasi pada Wastib sebagai One-Man Show. Para “murid” diborgol secara berantai. Kaki orang pertama terantai dan terhubung dengan tangan orang kedua, kaki orang kedua terantai dan terhubung dengan tangan orang ketiga, dan begitu seterusnya. Wastib terilhami setelah menonton film Human Centipede. Baginya, model pengekangan seperti ini menimbulkan rasa senasib dan sepenanggungan.

“Tidak perlu risau, kawan. Alcatrox tidak seburuk itu. Lihat betapa dinginnya AC yang Wastib sediakan untuk kita. Dengar-dengar, ia juga akan pasang home theater di sini,” ramah suara Fri Ta’im, adik tingkat dari Suput. Bisa disebut kakak kedua.

“Betul,” sahut Yesmen, boleh disebut kakak ketiga.

“Perlu kalian ketahui, di sini lebih enak dibanding di luar sana,” tambah Fri Ta’im.

“Mana mungkin enak, di mana letak enaknya?” tanya Ujur.

“Saya terangkan pelan-pelan, di sini kalian tidak perlu mencari makan dan minum, bahkan tidak perlu bayar pajak rukun tetangga, kegiatan gotong royong, membantu yang kesusahan. Kalian dibebaskan dari tanggung jawab. Manusia terpilih!” jawab Fri Ta’im.

“Benar,” sahut Yesmen.

“Ini sih barter tidak sebangun dan sebanding namanya. Boncos dong,” jawab Ujur.

Sebelum Fri Ta’im menjawab, Suput memotong, “Biarkan mereka merasakannya. Biarkan mereka nilai sendiri, Fri.”

“Setuju,” imbuh Yesmen.

Murid-murid Alcatrox yang kaki dan tangannya saling terantai dan terhubung, kecuali orang pertama dan orang terakhir, akhirnya saling membisu. Diam mereka diiringi Symphony No. 9 in D Minor, Op. 125 karya Ludwig van Beethoven yang diputarkan oleh Wastib pada pagi, siang, dan sore.

Pemutaran musik klasik adalah salah satu program yang disusun secara teliti dan terukur oleh Wastib. Selain itu, program unggulan lainnya adalah membacakan buku bagi para “murid”. Minggu ini jatah untuk novel karya Leo Tolstoy berjudul War and Peace. Bagi Wastib, membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan dan mengasah imajinasi, namun juga memperhalus jiwa.

Dan benar saja, Alcatrox tidak dikelilingi oleh tembok tinggi atau tebing berbatu, namun dikelilingi oleh tumpukan buku koleksi Wastib, yang tentunya belum ia baca seluruhnya. Sebagian besar asalnya karena impulsive buying, dan sisanya dari sumbangan. Wastib kerap bertanya kepada para “murid” Alcatrox, “Apakah kalian terbebas atau terkekang?”

Ketika mereka tidak mampu menjawab atau tidak paham pertanyaannya, Wastib sigap menambahkan, “Biarkan pengadilan sejarah yang membuktikan. Biarkan mahkamah histori yang putuskan.”

Bagi penulis, kisah ini bukanlah akhir. Ia adalah mukadimah bagi banyak babak selanjutnya. Untuk menutup babak pertama, izinkan penulis mengemukakan pertanyaan: Apakah penahanan terhadap Ujur dan Sibab telah sesuai dengan akal sehat?

Nugraha Wisnu Wijaya
Kontributor
Nugraha Wisnu Wijaya
Hakim Pengadilan Negeri Oelamasi

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

roman
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

ANOMALI – Bagian Ketiga

5 January 2026 • 10:33 WIB

Ahli Waris

22 December 2025 • 09:17 WIB

Ketika Hidup Ditentukan di Ruang Sempit: Telaah Hukum Di Balik Film 12 Angry Men (1957)

17 December 2025 • 07:44 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB

Sistem Pengawasan “No Mercy” Untuk Melayakkan Kesejahteraan Finansial Hakim

10 February 2026 • 21:03 WIB

Alarm Integritas Menyala, Ketua Mahkamah Agung Minta Hakim Bercermin Dan Berbenah

10 February 2026 • 20:53 WIB
Don't Miss

Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan

By Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.10 February 2026 • 23:08 WIB0

Penguatan integritas aparatur peradilan merupakan fondasi utama bagi terwujudnya lembaga peradilan yang dipercaya publik. Integritas…

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB

Sistem Pengawasan “No Mercy” Untuk Melayakkan Kesejahteraan Finansial Hakim

10 February 2026 • 21:03 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan
  • Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance
  • Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat
  • Sistem Pengawasan “No Mercy” Untuk Melayakkan Kesejahteraan Finansial Hakim
  • Alarm Integritas Menyala, Ketua Mahkamah Agung Minta Hakim Bercermin Dan Berbenah

Recent Comments

No comments to show.
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com :  redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.