Author: I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra

Avatar photo

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Peradilan BSDK

Di Batam, sejarah selalu bergerak bersama ombak. Dahulu pulau ini hanyalah wilayah persinggahan kecil di jalur perdagangan Selat Malaka. Dalam catatan Kesultanan Melayu dan perjalanan maritim Asia Tenggara, Batam dikenal sebagai kawasan strategis yang menjadi lintasan pedagang, pelaut, dan kekuatan ekonomi dari berbagai bangsa. Namun wajah Batam berubah besar ketika pemerintah Indonesia pada era 1970-an menjadikannya kawasan industri, perdagangan, dan investasi nasional yang berbatasan langsung dengan Singapore. Sejak masa kepemimpinan B. J. Habibie di Otorita Batam, pulau ini berkembang menjadi simbol modernitas ekonomi Indonesia: galangan kapal, kawasan industri, lalu lintas perdagangan internasional, hingga pusat pertumbuhan sektor jasa keuangan dan ekonomi…

Read More

Minggu ini, denyut Pusdiklat Teknis terasa berbeda, lebih cepat, lebih padat, sekaligus lebih reflektif. Rendra mencatatnya dengan rapi, sementara Ananta memilih menyerapnya dalam diam. Pelatihan filsafat hukum digelar secara daring, menjangkau peserta tanpa batas ruang. Di saat yang sama, pelatihan singkat sengketa pengadaan tanah bagi kepentingan umum untuk hakim peradilan tata usaha negara berlangsung di Palembang, sementara pelatihan tentang peradilan yang adil bagi penyandang disabilitas yang berhadapan dengan hukum bagi hakim tingkat pertama peradilan umum diselenggarakan di Yogyakarta. Tiga agenda, tiga ruang, satu tarikan napas besar: membentuk hakim yang tidak hanya cakap, tetapi juga peka. Di sela itu, pengalaman belajar…

Read More

Pagi itu cerah di Bhopal. Shankar dan Kumar membuka pintu kamar lebar-lebar. Udara pagi masuk perlahan—hangat, sedikit pengap, namun cukup untuk menyadarkan mereka: ini hari terakhir. Perjalanan panjang sudah menunggu—menuju Delhi, lalu transit ke Singapura, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Di meja kecil, bukan sarapan yang tersaji, melainkan bekal yang mereka bawa dari tanah air. Pop Mie x Indomie Mi Goreng dibuka pelan. Di sampingnya, kopi hitam Kopi Liong masih setia mengepul, mengisi ruang kamar dengan aroma rumah yang jauh. Namun pagi itu tidak sepenuhnya santai. Di tengah suasana hari terakhir, Shankar membuka laptopnya. Sebuah agenda penting menunggu—rapat melalui Zoom,…

Read More

Perjalanan dari High Court of Madhya Pradesh di Jabalpur belum benar-benar berakhir. Justru, dari sanalah jeda kecil sebelum perjalanan panjang itu dimulai. Rombongan bersiap kembali menuju National Judicial Academy di Bhopal—perjalanan tujuh jam sudah menanti. Namun sebelum benar-benar meninggalkan Jabalpur, bus berbelok sejenak. “Teman-teman, kita tidak jadi mampir membeli oleh-oleh karena tidak cukup waktu, tapi sudah dikondisikan oleh teman-teman NJA untuk menuju air terjun,” kata salah satu peserta rombongan—berwajah tampan, klimis, dan bertugas sebagai hakim yustisial yang merangkap sebagai LO. Beberapa peserta tampak keberatan. “Apa tidak lebih baik langsung ke Bhopal saja?” terdengar usulan dari belakang. Suasana sempat terbelah. Waktu…

Read More

Pagi masih muda di Jabalpur. Udara sudah terasa panas dan sedikit pengap, meski matahari baru naik. Halaman Madhya Pradesh State Judicial Academy mulai ramai, staf berlalu-lalang menyiapkan agenda hari itu di lingkungan High Court of Madhya Pradesh. Di kamar masing-masing, pagi berjalan seperti biasa—hingga berubah dalam satu momen kecil. Shankar setelah membuka jendela dan masih menatap deretan kursi yang masih terpajang dihalaman belum dirapikan setelah menjadi sarana yang megah dalam penyambutan kedatangan rombongan malam tadi, menatap tas ranselnya sejenak.Tidak ada baju putih. Di waktu yang hampir bersamaan, di kamar lain, Kumar juga menyadari hal yang sama dalam diam—ia tidak membawa…

Read More

Bus itu melaju dari Bhopal menuju Jabalpur, dikawal polisi di depan dan belakang. Sirene sesekali meraung, tapi yang paling terasa justru guncangan di kursi paling belakang—tempat dua hakim Indonesia itu duduk, terpental setiap kali roda menghantam lubang dan melindas speed bump. “Kalau ini bukan bus, ya roller coaster,” kata Shankar sambil mencengkeram sandaran kursi. Kumar tertawa keras. “Roller coaster rasa India… plus bonus sapi.” Belum selesai tawanya, bus menghantam lubang, lalu langsung naik di speed bump. Tubuh mereka terangkat, lalu jatuh lagi ke kursi. “Ini bukan lagi perjalanan,” kata Kumar sambil mengusap punggungnya, “ini pengingat bahwa hidup memang tidak selalu…

Read More

Transit tiga jam di Indira Gandhi International Airport, lalu terbang lanjut ke Raja Bhoj Airport. Waktu singkat, tapi cukup untuk menangkap satu hal: saree masih hidup. Di tengah bandara modern, di antara koper dan layar digital, perempuan-perempuan India tetap melilitkan kain panjang itu dengan tenang, tidak ramai, tidak demonstratif, tapi kuat. Kesan itu tidak berhenti di bandara. Saat masuk ruang perpustakaan National Judicial Academy, suasananya berbeda—lebih formal, lebih akademik. Tapi saree tetap ada. Ms Shruti Jane Eusebius, Research Fellow di sana, memakainya dari hari pertama sampai hari ketiga ini. Konsisten dan sederhana, tapi justru di situ letak pesannya: tradisi tidak…

Read More

Kenangan lama itu tiba-tiba hidup kembali. Pagi di asrama diklat, di National Judicial Academy, Bhopal, menyapa dengan cara yang sederhana: selembar kertas berwarna abu tua yang terselip di bawah pintu. Di atasnya tertulis The Times of India. Ya, sebuah koran—barang yang kini terasa semakin langka di Indonesia. Dulu, koran adalah teman setia. Ia hadir di sela kopi pagi, menemani perjalanan, dan menjadi jendela dunia bagi banyak orang. Ia bukan sekadar kertas, melainkan ruang berpikir. Bahkan secara etimologis, kata “koran” diyakini berasal dari bahasa Belanda courant atau krant, yang berarti lembar berita yang terbit secara berkala—menandakan sejak awal fungsinya sebagai pembawa…

Read More