Di Pulau Ubin, laut bukan sekadar hamparan biru yang menelan cakrawala—ia adalah ibu, napas, dan nadi kehidupan. Di situlah Dorman dilahirkan, di antara desir angin asin dan nyanyian ombak yang tak pernah tidur. Leluhurnya berasal dari Buton, para pelaut tangguh yang tersesat dalam badai berabad-abad silam, lalu menemukan pulau kecil itu, memeluknya, dan menyebutnya rumah. Sejak saat itu, darah laut mengalir dalam setiap anak keturunannya.
Dorman tumbuh bersama laut. Ia piawai membaca arah angin dari riak air, tahu kapan ikan akan datang dari aroma garam yang berubah di udara. Ia meyakini laut memiliki jiwa, “Ibu Bahari” begitu leluhurnya menyebutnya roh yang memberi dan menuntut keseimbangan. Maka setiap tahun, Dorman yang kini menjadi kepala desa, memimpin upacara Sedekah Laut: buah-buahan, bunga, dan kepala kambing disusun rapi di atas miniatur perahu. Doa dilantunkan, lalu perahu dilarung ke samudra sebagai tanda terima kasih dan permohonan ampun.
“Laut bukan untuk ditaklukkan,” kata Dorman pada anak-anak muda di desanya. “Ia memberi jika kita menghormatinya.” Kalimat itu menjadi semacam mantra yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun segalanya berubah pada suatu siang sepuluh tahun silam. Tiga orang datang dari kota. berpakaian rapi, beraroma mahal yang menusuk hidung asin nelayan. Mereka menyalami Dorman dengan senyum lebar dan menjanjikan hal yang belum pernah ia bayangkan: uang, banyak sekali uang. Mereka bicara tentang proyek besar: pengerukan pasir laut sejauh satu kilometer dari Pulau Ubin untuk membangun pulau reklamasi di kota. Kata “reklamasi” asing di telinga Dorman, tapi ketika ia mendengar jumlah bayaran yang akan diterimanya, hatinya bergetar.
“Kerjamu mudah, Pak Dorman, cukup pantau proyek sesekali, tanda tangan dokumen. Selebihnya, biar kami yang urus.” kata salah satu dari mereka sambil menepuk bahunya.
Dorman diam. Dalam benaknya, ia melihat rumah-rumah reyot yang bisa diperbaiki, sekolah bocor yang bisa direnovasi, perahu-perahu tua yang bisa diganti baru. Ia berpikir, barangkali inilah rezeki yang dititipkan laut padanya. Bukankah laut juga ingin anak-anak Pulau Ubin hidup sejahtera?
Ia menerima tawaran itu. Maka berubah lah wajah Pulau Ubin. Dermaga yang dulu lapuk disulap menjadi megah dengan beton mengilap. Jalan-jalan beraspal hitam berkilat seperti punggung ikan pari di bawah matahari. Rumah ibadah dibangun tinggi, puskesmas berdiri gagah, sekolah dicat warna-warni. Dorman dihormati, disanjung, disebut “Bapak Pembangunan.”
Namun di balik semua itu, hutan bakau di sisi timur pulau ditebang habis untuk memperluas dermaga. Pantai yang dulu berpasir putih mulai menghitam oleh lumpur. Satu demi satu warga melupakan Sedekah Laut.
“Tak perlu lagi,” kata mereka. “Kini yang memberi makan kita bukan laut, tapi proyek.”
Laut diam. Tapi diamnya bukan berarti lupa. Tahun-tahun berlalu. Proyek rampung. Kapal-kapal pengeruk pergi, meninggalkan laut yang berwarna cokelat kehitaman, seperti tubuh yang memar. Awalnya, Dorman tidak curiga. Tapi perlahan, bencana datang, seperti utang yang menagih dengan wajah tak dikenal.
Suatu pagi, nelayan kembali dari laut dengan perahu kosong. “Ikan menjauh,” katanya. “Jaringku kering.” Hari-hari berikutnya, hal itu terulang. Ikan-ikan lenyap. Udang dan sotong pun tak lagi muncul di dasar karang. Air sumur yang dulu jernih kini berbau anyir seperti darah. Kulit anak-anak gatal, batuk melanda warga.
Dorman duduk di tepi dermaga yang dulu dibangunnya dengan bangga. Air laut beriak malas di bawahnya, membawa sampah plastik dan serpihan kayu. Ia menatap jauh ke cakrawala, tempat laut dan langit dulu berpadu dalam biru yang suci. Kini yang tampak hanya kabut kelabu dan kilatan cahaya dari kapal besar di kejauhan. kapal-kapal kota yang mengambil pasirnya dan pergi tanpa menoleh.
“Ibu Bahari marah,” bisik seorang tetua tua dengan suara serak. “Ia tersinggung.”
Dorman menutup wajahnya. Ia teringat malam-malam di masa lalu ketika ombak seolah bernyanyi memanggil namanya, ketika perahu mini yang dilarung perlahan hilang di balik buih, seolah diterima dan ditelan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Kini laut diam, tapi diam yang menakutkan. Diam seperti seorang ibu yang kecewa pada anaknya.
Ia mengumpulkan warga. Di tengah senja yang merah darah, mereka berdiri di bibir pantai, menatap laut yang kian menjauh dari mereka. “Kita durhaka pada Ibu kita. Ibu Bahari,” suara Dorman bergetar. Dorman dan warga Pulau Ubin menjadi sadar bahwa siapa saja yang mengkhianati laut, sesungguhnya sedang menenggelamkan dirinya sendiri.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


