Subscribe to Updates
Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.
Author: Indarka PP
Tidak kutahu-menahu tentang lelaki itu. Tetapi Ibu memperkenalkan padaku sebagai ayah. Ayah yang tak pernah kudapati pelukannya. Tanpa kuperoleh hangat ciumannya. Atau setidak-tidaknya kukenali gema amarahnya ketika aku nakal dan berulah sewaktu dulu. Ayah yang terasa ganjil bagiku untuk memanggilnya “ayah” karena mencari bahasa kasih sayang darinya laksana menyibak-nyibak setumpuk jerami demi sebatang jarum. Sementara di sudut-sudut kumuh tempat tinggalku ini, betapa sering kutemui para induk kucing mengasihi anak-anaknya sekalipun dengan ludah serta gigitan taring mereka. “Abang membenciku?” Air muka perempuan belia ini mengingatkanku pada anak kucing malu-malu. Kucing, oh kucing. Sejujurnya aku tidak mencemburui kucing-kucing karena kami tidaklah sama.…
Bahwa selanjutnya Pemohon menyatakan tidak lagi mengajukan bukti-bukti lain, kemudian Majelis Hakim memberikan kesempatan kepada Termohon untuk mengajukan bukti-buktinya, namun atas kesempatan tersebut Termohon menyatakan tidak akan mengajukan alat bukti apapun; Bahwa Pemohon telah menyampaikan kesimpulan akhir secara lisan yang pada pokoknya tetap pada dalil permohonan serta repliknya, sedangkan Termohon demikian pula telah menyampaikan kesimpulan akhir secara lisan yang pada pokoknya tetap pada dalil jawabannya; Bahwa Paragraf di atas disalin dari sebuah putusan. Pada bagian mana persis berada, Pembaca Budiman yang akrab dengan pengadilan, mestinya mengingat dengan baik. Tetapi jika pun Pembaca Budiman lain tak memperoleh gambaran, tentu bukan masalah…
Kuda-kuda, ratusan jumlahnya, seperti berlarian di dasar dada saya. Kepanikan membuat jantung saya terpompa kelewat buru-buru. Dan semua perlahan mulai lindap. Sisa napas seolah sia-sia belaka. Syukur, ketidakberdayaan masih bernasib mujur. Tangan kanan saya berhasil meraih ban karet yang entah datangnya. Sekonyong-konyong tarikan Ibu menyeret tubuh kecil saya ke darat, lalu ditelentangkan di atas pasir di bibir pantai. Sebuah pengalaman pahit, lagi menakutkan. Andai tidak ada ban karet, bisa jadi tamasya saya kebablasan hingga ke alam baka. Pada masa itu, saya berusia tujuh tahun. Sebagai ingusan kampung yang sedang tamasya ke Jakarta, betapa senang ketika Paman membawa kami sekeluarga jalan-jalan…

