Prolog
Saat ini Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan (BSDK) MA RI tengah menyelenggarakan Diklat Sertifikasi Hakim Ekonomi Syariah. Diklat ini berlangsung dari tanggal 1 sampai 14 Februari 2026, diikuti 41 hakim Peradilan Agama seluruh Indonesia. Kepala BSDK, Dr. H. Syamsul Arif, S.H. M.H dalam sambutannya saat membuka diklat tersebut antara lain menyampaikan bahwa Diklat Sertifikasi Hakim Ekonomi Syariah ini merupakan bentuk komitmen Mahkamah Agung dalam meningkatkan kompetensi hakim Peradilan Agama menangani perkara ekonomi syariah di Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’iyah sebagai bagian dari upaya penegakan hukum ekonomi syariah yang memenuhi rasa keadilan.
Sejalan dengan pernyataan Kepala BSDK tersebut, dalam praktik peradilan termasuk dalam hal penyelesaian perkara ekonomi syariah, hakim ekonomi syariah dihadapkan sejumlah tantangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Revolusi teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang merambah hampir seluruh sektor kehidupan hingga ke praktik peradilan, termasuk praktik kegiatan usaha ekonomi syariah seperti penggunaan platform digital, financial technology syariah, serta transaksi elektronik berbasis akad syariah.
Dinamika tersebut selain memperluas akses masyarakat terhadap layanan ekonomi syariah, sekaligus juga melahirkan bentuk-bentuk transaksi baru yang lebih kompleks yang telah, sedang dan akan berpotensi melahirkan sengketa hukum. Keadaan tersebut menuntut adanya sistem peradilan (termasuk hakim ekonomi syariah di dalamnya) yang responsif, adaptif, mampu memberikan kepastian hukum dan keadilan dengan tetap berlandaskan prinsip syariah dan hukum positif yang berlaku.
Sehubungan hal tersebut dalam konteks penyelenggaraan diklat sertifikasi hakim ekonomi syariah, tema yang juga relevan dikedepankan adalah mengenai tantangan hakim ekonomi syariah di era digital. Dalam konteks tema tersebut, fokus pembahasan dalam tulisan ini terutama mengenai aspek-aspek apa saja yang sesungguhnya menjadi tantangan dan bagaimana langkah konkrit yang mendesak dilakukan dalam rangka mendorong penguatan kapasitas dan kompetensi hakim ekonomi syariah agar tetap adaptif, adil, dan responsif terhadap kondisi kontemporer.
Aspek Regulasi dan Kepastian Hukum
Perkembangan pesat ekonomi digital berbasis syariah menimbulkan tantangan serius bagi hakim ekonomi syariah, khususnya terkait kepastian hukum. Inovasi seperti fintech syariah, peer-to-peer lending, crowdfunding, dan penggunaan smart contract saat ini berkembang lebih cepat dibandingkan regulasi yang mengaturnya. Sementara norma hukum positif yang ada secara eksplisit belum cukup mengakomodir karakteristik transaksi digital syariah. Hal tersebut menyebabkan kekosongan hukum (legal vacuum).
Dalam konteks tersebut, hakim ekonomi syariah memegang peran strategis dalam menyelesaikan sengketa ekonomi syariah di era digital. Di tengah semakin canggihnya teknologi yang kurang diimbangi kesiapan regulasi dan kompetensi aparat penegak hukum. Keterbatasan pengaturan hukum, kompleksitas transaksi digital, serta pembuktian berbasis elektronik menjadi tantangan serius yang mau tak mau dihadapi hakim ekonomi syariah.
Di sini letak tantangan hakim ekonomi syariah, ia dituntut melakukan penemuan hukum (rechtvinding) dengan menggali nilai-nilai hukum Islam serta prinsip keadilan, sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan, tanpa mengabaikan hukum positif yang berlaku. Meskipun konsekuensi dari hal ini akan terganggunya aspek kepastian hukum.
Aspek Kompetensi dan Literasi Digital
Tantangan hakim ekonomi syariah pada aspek ini, bahwa ia tidak hanya dituntut memahami fikih muamalah dan hukum ekonomi syariah, tetapi juga harus memiliki literasi digital yang memadai. Transaksi berbasis teknologi informasi memiliki mekanisme yang kompleks, seperti algoritma sistem, platform digital, dan penggunaan teknologi blockchain, yang memerlukan pemahaman teknis dasar. Keterbatasan pemahaman terhadap teknologi ini dapat memengaruhi kemampuan hakim ekonomi syariah dalam menilai duduk perkara secara komprehensif. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi hakim ekonomi syariah merupakan kebutuhan krusial agar putusan yang dihasilkan tetap mencerminkan keadilan substantif dan sesuai dengan prinsip syariah.
Aspek Pembuktian dalam Sengketa Ekonomi Syariah
Tantangan hakim ekonomi syariah pada aspek ini, sengketa ekonomi syariah di era digital banyak melibatkan bukti elektronik, seperti data transaksi digital, rekam jejak sistem, dan dokumen elektronik. Meskipun hukum positif telah mengakui alat bukti elektronik sebagai alat bukti yang sah, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, tantangan tetap muncul dalam praktik pembuktian di pengadilan. Hakim harus memastikan keabsahan, keotentikan, dan integritas bukti elektronik tersebut, sekaligus menilainya dalam perspektif hukum acara Peradilan Agama dan prinsip pembuktian dalam hukum Islam. Kompleksitas ini semakin meningkat ketika transaksi dilakukan lintas wilayah atau lintas negara, yang melibatkan yurisdiksi dan sistem hukum yang berbeda.
Aspek Harmonisasi Hukum Syariah dan Hukum Positif
Tantangan lain yang dihadapi hakim ekonomi syariah adalah harmonisasi antara prinsip syariah dan hukum positif dalam menyelesaikan sengketa ekonomi digital. Fatwa Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) berperan penting sebagai rujukan normatif dalam ekonomi syariah, namun fatwa tersebut tidak selalu langsung terintegrasi ke dalam peraturan perundang-undangan. Dalam konteks ekonomi digital yang terus berkembang, sering kali muncul praktik baru yang belum memiliki fatwa atau pengaturan yang jelas. Hakim dituntut melakukan penafsiran hukum secara progresif dengan tetap berpegang pada prinsip maqashid al-shariah serta asas-asas hukum nasional agar putusan yang dihasilkan tetap relevan, adil, dan dapat diterima para pihak pencari keadilan.
Diklat Sertifikasi Hakim Ekonomi Syariah sebagai Langkah Konkrit
Terhadap berbagai perkembangan mutakhir bidang informasi teknologi terutama terkait dengan penyelenggaraan peradilan, MA sebenarnya telah dan akan terus merespon secara cepat misalnya dari segi aplikasi dengan penerapan e-Court, e-Litigation, Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) dan direktori putusan yang telah memberikan dampak transparansi, efektif dan efisien dalam praktik peradilan selama ini. Meskipun dalam berbagai aspek tetap harus terus dilakukan pengembangan dan inovasi.
Namun dari segi kesiapan SDM diperlukan strategi komprehensif dalam memperkuat peran hakim ekonomi syariah. Untuk itu langkah konkret yang mendesak dilakukan dalam membangun kompetensi hakim ekonomi syariah di era digital adalah memperkuat kapasitas mereka melalui pelatihan berkelanjutan yang mengintegrasikan fikih muamalah, regulasi ekonomi syariah, serta literasi teknologi dan keuangan digital. Disinilah relevansinya dengan penyelenggaraan Diklat Sertifikasi hakim ekonomi syariah ini. Melalui diklat ini hakim akan dibekali pemahaman praktis tentang fintech syariah, aset digital, kontrak elektronik, dan pembuktian berbasis teknologi agar mampu merespons dinamika perkara secara tepat dan adil. Di luar itu dalam upaya membangun kompetensi hakim, sinergi antara lembaga peradilan, akademisi, dan otoritas keuangan syariah harus diperkuat untuk memastikan putusan hakim tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga relevan, adaptif, dan berkeadilan di tengah pesatnya transformasi digital.
Penutup
Perkembangan ekonomi syariah di era digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi hakim ekonomi syariah dalam menjalankan fungsi peradilan. Tantangan regulasi, kompetensi, pembuktian, dan harmonisasi hukum menuntut adanya respons yang sistematis dan berorientasi ke masa depan. Oleh karena itu, penguatan kapasitas hakim ekonomi syariah, pembaruan regulasi, serta pemanfaatan teknologi dalam proses peradilan merupakan langkah strategis yang tidak dapat dihindari. Dengan pendekatan tersebut, peradilan ekonomi syariah (hakim ekonomi syariah di dalamnya) diharapkan mampu beradaptasi secara optimal terhadap perkembangan digital serta tetap menjunjung tinggi prinsip keadilan, kepastian hukum, dan kemaslahatan umat.
Wa Allahu a’lam bishawab.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


