Author: Syamsul Arief

Avatar photo

Hakim Agung Kamar Pidana & Plt. Kepala BSDK MA

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”— Søren Kierkegaard Ada keheningan yang megah ketika saya memandang langit malam dari puncak Gunung Rinjani. Di balik kerlip bintang, miliaran galaksi bergerak dalam bentangan kosmos yang nyaris tak terbayangkan. Bumi berputar mengelilingi Matahari, tata surya mengitari pusat Bima Sakti, sementara alam semesta terus mengembang. Semuanya bergerak dalam keteraturan yang tidak pernah meminta persetujuan manusia. Ketika kita memilih duduk mematung di sudut kamar, meratapi kehilangan, menyesali masa lalu atau menolak melakukan apa pun, sesungguhnya kita tetap menjadi bagian dari perjalanan kosmis yang luar biasa. Bahkan di dalam tubuh manusia…

Read More

Seandainya suatu hari seseorang atau sekelompok warga datang ke pengadilan Indonesia mengajukan gugatan karena hutan dibabat telaga ditimbun laut dipagar sementara ia tidak mempunyai tanah, rumah, atau kebun di sekitar hutan dan alam itu, apakah hakim akan menyatakan ia tidak memiliki kepentingan hukum? Bagaimana jika ia menggugat bukan karena kehilangan penghasilan, melainkan karena kerimbunan pepohonan yang tumbang telah menghancurkan sarang burung, rumah serangga, senda gurau katak, kehidupan jasad renik, dan seluruh hubungan ekologis yang selama ratusan tahun terbentuk di sana? Barangkali pengadilan akan bertanya kepada penggugat tentang kerugian pribadinya. Pembuktian standar perkara perdata pada umumnya. Tetapi di situlah paradoksnya. Hutan…

Read More

Tulisan pendek ini bermula dari sebuah pertanyaan dalam sesi Pembinaan Daerah oleh Hakim Agung di Pengadilan Tinggi Manado, 5–7 Oktober 2026. Ketua Pengadilan Negeri Tahuna, Sigit Triatmojo, SH.MH, mengajukan persoalan yang dalam praktik ternyata tidak sesederhana bunyi pasalnya: “apakah seseorang harus diperiksa terlebih dahulu sebagai saksi atau calon tersangka sebelum ditetapkan sebagai tersangka?” Saya menjawabnya ketika itu. Tetapi pertanyaan sederhana tersebut terus mengendap dalam pikiran saya. Sebab di balik perdebatan tentang sah atau tidaknya penetapan tersangka, sesungguhnya terdapat persoalan yang lebih mendasar: seberapa jauh negara boleh memasuki kemerdekaan seseorang? Negara mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki orang biasa. Dengan beberapa kata…

Read More

MANOKWARI — Tiga isu aktual mengemuka dalam pembinaan Mahkamah Agung di Manokwari, Papua Barat, 28–30 September 2026: finalitas putusan bebas, perlindungan hak anak pascaperceraian, serta pembaruan hukum acara dan praktik peradilan perdata. Isu tersebut dibedah oleh Dr. H. Syamsul Arief, S.H., M.H., Hakim Agung Kamar Pidana sekaligus Plt. Kepala BSDK MA; Dr. H. Heru Pramono, S.H., M.H., Hakim Agung Kamar Perdata; serta Dr. H. Imron Rosyadi, S.H., M.H. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ketua Mahkamah Agung Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H. untuk memperkuat pembinaan badan peradilan di daerah. Pembinaan dilaksanakan berdasarkan Keputusan Ketua MA RI Nomor 48/KMA/SK.PW1/II/2026 tanggal…

Read More

Tulisan ini semacam sekuel dari tulisan saya sebelumnya, “Finalitas Putusan Bebas” di dandapala.com. Seperti film, rupanya ada bagian cerita yang tidak cukup dijelaskan dalam satu episode. Tulisan pertama berhenti pada pertanyaan kapan putusan bebas harus menjadi final. Tulisan ini hendak berjalan sedikit ke belakang: mencari gagasan yang bersembunyi di balik finalitas itu. Hukum sering memperlihatkan dirinya melalui pasal, padahal pasal hanyalah permukaan. Di bawah pasal ada doktrin. Di bawah doktrin ada asas. Dan jauh di bawah asas terdapat filsafat: pandangan tentang manusia, kekuasaan, kebebasan, ketertiban, dan keadilan. Hakim yang mengetahui pasal mungkin tahu apa yang harus dilakukan. Hakim yang memahami…

Read More

“The life of the law has not been logic: it has been experience.” — Oliver Wendell Holmes Jr. Ketika masih mahasiswa semester dua, seorang dosen saya yang telah tiada pernah menuliskan sepotong kutipan Oliver Wendell Holmes Jr tersebut diatas. Waktu itu saya menghafalnya sebagai teori. Bertahun kemudian saya mulai memahaminya sebagai peringatan: hukum bukanlah logika, melainkan pengalaman. Hukum tidak hidup hanya karena ia ditulis, hukum hidup karena ia dialami. Semakin lama saya berada dilingkungan hukum dan peradilan semakin saya memahami mengapa Oliver Wendell Holmes Jr sebagai Hakim Agung Amerika Serikat yang mengabdi selama 30 tahun (1902-1932) membela Legal Realism. Itu…

Read More

Sains dan puisi pada suatu hari yang sunyi, berjanji untuk bertemu di altar yang sama. Keduanya sepakat bahwa kosmos ini tidak dirajut oleh kebetulan yang acak, melainkan oleh jemari causa prima yang menuliskan algoritma alam dalam helai-helai waktu yang melengkung. Fisika kuantum telah lama berbisik tentang relativitas, bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati, ia hanya sedang bersembunyi di balik lipatan dimensi. Ketika riuh dunia mereda dan gelombang kesadaran manusia melambat pasrah menuju frekuensi theta, antara empat hingga tujuh hertz tirani ruang yang kaku seketika luruh. Otak manusia berhenti menjadi sekadar gumpalan daging egois, ia melunak menjadi simulator kuantum yang…

Read More

PENDAHULUAN A. Dari Alat Elektronik Menuju Kehidupan yang Diatur Data Perkembangan teknologi berlangsung melalui lompatan yang semakin cepat. Pada mulanya, teknologi hadir sebagai alat elektronik yang membantu pekerjaan fisik dan administratif: mesin ketik digantikan komputer, surat berpindah menjadi surat elektronik, dan arsip kertas berubah menjadi basis data. Tahap berikutnya melahirkan teknologi informasi dan komunikasi yang menghubungkan orang, lembaga, pasar, dan negara secara waktu nyata. Kini, masyarakat memasuki tahap yang lebih kompleks melalui kecerdasan buatan generatif, yaitu sistem yang dapat menghasilkan teks, suara, gambar, video, kode, serta rekomendasi berdasarkan data dan instruksi pengguna. Transformasi tersebut bukan lagi persoalan perangkat, tetapi telah…

Read More

Ada pengalaman yang kadang baru menemukan maknanya setelah perjalanan cukup panjang. Siang tadi, 30 Juli 2026, saya mendapat kesempatan berbicara di Forum Diskusi Wahana Lingkungan Hudup (WALHI) dalam peringatan satu tahun Advisory Opinion (AO) Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) tentang kewajiban negara dalam menghadapi perubahan iklim di Hotel Odyssey, Jakarta. Di tengah forum itu, saya justru teringat pada catatan-catatan yang sudah lama saya simpan. Catatan yang saya tulis jauh sebelum dunia menyambut AO ICJ sebagai tonggak baru keadilan iklim. Saya senang, sebab apa yang ditegaskan oleh Mahkamah Internasional itu sesungguhnya telah lama saya lihat tumbuh di ruang-ruang sidang Indonesia.…

Read More

Badan Strajak Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung. Di balik sunyi lahan yang dulu terlupa, kini tumbuh kehidupan.Bukan sekadar tanah… tapi harapan yang ditanam dengan kesungguhan. Di sini, tangan-tangan sederhana bekerja tanpa riuh,menjadikan kosong menjadi makna,menjadikan diam… sebagai gerak perubahan. Padi menguning, kolam berdenyut,tanaman tumbuh berdampingan—seolah mengajarkan,bahwa kemandirian tak perlu menunggu besar,cukup dimulai… dari yang dekat, dari yang ada. Ini bukan proyek.Ini adalah janji yang dirawat setiap hari—tentang manusia yang kembali bersahabat dengan alamnya. Karena pada akhirnya,yang kita tanam hari ini…adalah kehidupan untuk esok yang lebih seimbang.

Read More