Subscribe to Updates
Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.
Author: Syamsul Arief
Tulisan ini semacam sekuel dari tulisan saya sebelumnya, “Finalitas Putusan Bebas” di dandapala.com. Seperti film, rupanya ada bagian cerita yang tidak cukup dijelaskan dalam satu episode. Tulisan pertama berhenti pada pertanyaan kapan putusan bebas harus menjadi final. Tulisan ini hendak berjalan sedikit ke belakang: mencari gagasan yang bersembunyi di balik finalitas itu. Hukum sering memperlihatkan dirinya melalui pasal, padahal pasal hanyalah permukaan. Di bawah pasal ada doktrin. Di bawah doktrin ada asas. Dan jauh di bawah asas terdapat filsafat: pandangan tentang manusia, kekuasaan, kebebasan, ketertiban, dan keadilan. Hakim yang mengetahui pasal mungkin tahu apa yang harus dilakukan. Hakim yang memahami…
Ketika masih mahasiswa semester dua, seorang dosen saya yang telah tiada pernah menuliskan sepotong kutipan Oliver Wendell Holmes Jr tersebut diatas. Waktu itu saya menghafalnya sebagai teori. Bertahun kemudian saya mulai memahaminya sebagai peringatan: hukum bukanlah logika, melainkan pengalaman. Hukum tidak hidup hanya karena ia ditulis, hukum hidup karena ia dialami. Semakin lama saya berada dilingkungan hukum dan peradilan semakin saya memahami mengapa Oliver Wendell Holmes Jr sebagai Hakim Agung Amerika Serikat yang mengabdi selama 30 tahun (1902-1932) membela Legal Realism. Itu sebabnya saya percaya bahwa hakim memang semestinya seorang realis. Bukan realis yang menyerah kepada keadaan, melainkan yang cukup…
Sains dan puisi pada suatu hari yang sunyi, berjanji untuk bertemu di altar yang sama. Keduanya sepakat bahwa kosmos ini tidak dirajut oleh kebetulan yang acak, melainkan oleh jemari causa prima yang menuliskan algoritma alam dalam helai-helai waktu yang melengkung. Fisika kuantum telah lama berbisik tentang relativitas, bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati, ia hanya sedang bersembunyi di balik lipatan dimensi. Ketika riuh dunia mereda dan gelombang kesadaran manusia melambat pasrah menuju frekuensi theta, antara empat hingga tujuh hertz tirani ruang yang kaku seketika luruh. Otak manusia berhenti menjadi sekadar gumpalan daging egois, ia melunak menjadi simulator kuantum yang…
PENDAHULUAN A. Dari Alat Elektronik Menuju Kehidupan yang Diatur Data Perkembangan teknologi berlangsung melalui lompatan yang semakin cepat. Pada mulanya, teknologi hadir sebagai alat elektronik yang membantu pekerjaan fisik dan administratif: mesin ketik digantikan komputer, surat berpindah menjadi surat elektronik, dan arsip kertas berubah menjadi basis data. Tahap berikutnya melahirkan teknologi informasi dan komunikasi yang menghubungkan orang, lembaga, pasar, dan negara secara waktu nyata. Kini, masyarakat memasuki tahap yang lebih kompleks melalui kecerdasan buatan generatif, yaitu sistem yang dapat menghasilkan teks, suara, gambar, video, kode, serta rekomendasi berdasarkan data dan instruksi pengguna. Transformasi tersebut bukan lagi persoalan perangkat, tetapi telah…
Ada pengalaman yang kadang baru menemukan maknanya setelah perjalanan cukup panjang. Siang tadi, 30 Juli 2026, saya mendapat kesempatan berbicara di Forum Diskusi Wahana Lingkungan Hudup (WALHI) dalam peringatan satu tahun Advisory Opinion (AO) Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) tentang kewajiban negara dalam menghadapi perubahan iklim di Hotel Odyssey, Jakarta. Di tengah forum itu, saya justru teringat pada catatan-catatan yang sudah lama saya simpan. Catatan yang saya tulis jauh sebelum dunia menyambut AO ICJ sebagai tonggak baru keadilan iklim. Saya senang, sebab apa yang ditegaskan oleh Mahkamah Internasional itu sesungguhnya telah lama saya lihat tumbuh di ruang-ruang sidang Indonesia.…
Badan Strajak Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung. Di balik sunyi lahan yang dulu terlupa, kini tumbuh kehidupan.Bukan sekadar tanah… tapi harapan yang ditanam dengan kesungguhan. Di sini, tangan-tangan sederhana bekerja tanpa riuh,menjadikan kosong menjadi makna,menjadikan diam… sebagai gerak perubahan. Padi menguning, kolam berdenyut,tanaman tumbuh berdampingan—seolah mengajarkan,bahwa kemandirian tak perlu menunggu besar,cukup dimulai… dari yang dekat, dari yang ada. Ini bukan proyek.Ini adalah janji yang dirawat setiap hari—tentang manusia yang kembali bersahabat dengan alamnya. Karena pada akhirnya,yang kita tanam hari ini…adalah kehidupan untuk esok yang lebih seimbang.
Merenungkan Makna al-Ghunmu bil Ghurmi Dalam pidato sambutannya pada Rapat Koordinasi dan Sosialisasi SMAP Dirjen Badilag, Ketua Mahkamah Agung menyitir kaidah fikih klasik, al-ghunmu bil ghurmi (الغُنْمُ بِالغُرْمِ). Kaidah ini secara harfiah bermakna “keuntungan sepadan dengan risiko” atau “tidak ada keuntungan tanpa tanggung jawab”. Dalam konteks hukum ekonomi Islam, kaidah ini lazim digunakan untuk menjelaskan bahwa hak untuk memperoleh laba (al-ghunmu) selalu terikat dengan kewajiban menanggung kerugian atau risiko (al-ghurmi). Ketua MA menggunakan kaidah ini sebagai metafora etis: kenaikan penghasilan hakim harus berbanding lurus dengan peningkatan kualitas kinerja dan tanggung jawab. Secara konseptual, analogi ini terlihat elegan dan relevan. Di…
Jamuan makan malam itu dimulai dengan suasana yang hangat dan bersahaja. Para hakim dan pimpinan peradilan dari berbagai negara duduk dalam satu ruang, tanpa sekat protokol yang kaku. Di meja-meja itulah, peradilan Indonesia berjumpa dengan dunia—tidak dalam forum resmi, melainkan dalam percakapan yang lebih manusiawi. Ketika Ketua Mahkamah Agung menyerahkan keris Jawa sebagai cendera mata, suasana sejenak hening. Keris itu menarik perhatian, bukan semata karena bentuknya, tetapi karena maknanya. Ia menjadi pintu masuk—sebuah isyarat bahwa Indonesia memilih berbicara dengan dunia melalui simbol nilai, bukan sekadar bahasa formal. Namun malam itu tidak berhenti pada simbol. Keris justru membuka ruang dialog yang…
Ada pesan mendalam di balik prosesi pelantikan 18 Ketua Pengadilan Tingkat Banding tadi pagi 03-02-2026: Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Yang Mulia Prof. Dr. Sunarto, S.H., M.H., sesungguhnya sedang menitipkan pesan yang jauh melampaui seremoni. Pesan itu sederhana dalam redaksi, namun berat dalam makna: rendah hati, hati-hati, dan sepenuh hati. Sebagai orang yang hadir langsung di ruang pelantikan, saya menyaksikan bukan hanya pengambilan sumpah dan pergantian jabatan, tetapi juga penegasan arah kepemimpinan peradilan yang disampaikan secara tenang, namun sangat mengunci, oleh Ketua Mahkamah Agung. Ada satu bagian sambutan yang membuat saya cukup terhenyak—bukan karena keras, tetapi justru karena kesederhanaannya. Tiga…
Rabu malam, (28/1), Mahan Agung, rumah Jabatan Gubernur Lampung itu bercahaya lebih hangat dari biasanya. Bangunan yang oleh masyarakat Lampung dimaknai sebagai Rumah Agung itu bukan sekadar rumah dinas, melainkan ruang simbolik tempat kehormatan, adat, dan arah masa depan kerap dipertemukan. Di sanalah saya kembali bertemu Rahmat Mirza Djausal, S.T., M.M., Gubernur Lampung ke-11 usia tergolong muda, namun gesturnya kian matang. Ia menyambut dengan pelukan hangat dan senyum lebar. “Uncu apa kabar? Pride Lampung,” sapanya, kalimat pendek yang kerap diucapkannya setiap kali bertemu saya dan bagi saya ucapannya terdengar seperti doa. Di Lampung, Mirza akrab disapa Kiyay atau Iyay, sebuah…

