Sains dan puisi pada suatu hari yang sunyi, berjanji untuk bertemu di altar yang sama. Keduanya sepakat bahwa kosmos ini tidak dirajut oleh kebetulan yang acak, melainkan oleh jemari causa prima yang menuliskan algoritma alam dalam helai-helai waktu yang melengkung.
Fisika kuantum telah lama berbisik tentang relativitas, bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati, ia hanya sedang bersembunyi di balik lipatan dimensi. Ketika riuh dunia mereda dan gelombang kesadaran manusia melambat pasrah menuju frekuensi theta, antara empat hingga tujuh hertz tirani ruang yang kaku seketika luruh.
Otak manusia berhenti menjadi sekadar gumpalan daging egois, ia melunak menjadi simulator kuantum yang menembus labirin ingatan yang direkam abadi oleh urat bumi.
Bagi mereka yang mendengar detak jantung tanah, mukjizat bukanlah pelanggaran terhadap hukum fisis. Ia hanyalah matematika tingkat tinggi yang rumusnya belum selesai dieja oleh peradaban manusia yang masih merangkak.
Alam semesta adalah Mother Nature, Ibu Pertiwi yang menyusui kita dengan semilir angin dan deru hujan. Semesta Alam adalah “saudara tua” yang sudah berdiri tegak melintasi miliaran tahun sebelum manusia pertama dilahirkan untuk menulis hukum di atas kertas. Dan di ranjang transendental itulah, sebuah neksus, jalinan rahasia yang menghubungkan seluruh mahluk, mulai menganyam garis takdir Samara.
RUMAH DIBALIK KABUT MATU
Agustus, 1995. Angin malam bertiup membawa aroma asin dari bibir Samudra Hindia, berpadu dengan keharuman getah damar matakucing (Shorea javanica) yang luruh di sepanjang jalur Liwa–Krui Lampung Barat. Di dalam bus antarkota yang bergoyang pelan menanjak tebing Bukit Barisan Selatan, Samara menatap jendela yang berembun. Ia adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung yang membawa ransel berisi buku, majalah dan catatan harian menuju Pesisir Barat untuk kembali ke Posko Kuliah Kerja Nyata.
Di bawah temaram lampu kabin bus, ingatan masa kecilnya mendadak berputar bagai proyektor tua. Ia teringat ayahnya, seorang guru sekolah dasar yang bersahaja, selalu menggandeng jemari kecilnya menyusuri hamparan pasir pantai Krui. Di sana, ia sering berdiri berjam-jam menyaksikan para nelayan bahu-membahu mendorong jukung, perahu cadik tradisional dengan lambung tangguh, menembus ombak yang menggulung. Samara kecil selalu terpukau melihat ramainya orang bergotong-royong, menarik jala ikan yang berat di pinggir pantai dengan sorak-sorai yang hangat.
“ Tidurlah, Samara. Jalur ini masih panjang,” seolah ada suara gaib yang berbisik di telinganya. Mata Samara memberat. Ia tertidur.
Ia tidak menyadari ketika malam itu, sebuah dentuman keras merobek kesunyian rimba. Bus yang ditumpanginya kehilangan kendali, terlempar dari bibir tebing, dan jatuh terhempas ke dalam jurang sedalam 20 meter. Di dalam kegelapan yang pekat, besi beradu batu, jeritan tersedak malam, dan 16 nyawa penumpang di dalam bus itu seketika terenggut dari raganya.
Namun, ketika Samara membuka mata, tidak ada bau darah atau pecahan kaca. Ia terbangun di atas dipan bambu di dalam sebuah kabin kayu yang hangat di tengah hutan. Di sekelilingnya, sebuah keluarga menatapnya dengan tatapan teduh yang menenangkan. “Aku… di mana?” bisik Samara, suaranya parau. Seorang lelaki bertubuh tegap dengan sorot mata sedalam samudra melangkah mendekat. “Kau aman, Anak Muda. Nama saya Burnawan,” ujarnya lembut, lalu memperkenalkan istri dan kedua anaknya yang tersenyum ramah.
Burnawan kemudian berdiri, melangkah keluar pintu kabin. Melalui celah pintu yang terbuka, Samara melihat pemandangan aneh: sebuah perkampungan kecil di tengah hutan belantara yang gelap, diterangi oleh obor-obor minyak yang apinya menari ditiup angin purba.
Samara bangkit dengan tubuh yang entah mengapa terasa sangat ringan, tanpa luka gores sedikit pun. Ia mendekati Burnawan yang sedang berdiri di bawah bayang-bayang pohon raksasa. “Pak Burnawan, kampung apa ini? Bagaimana saya bisa sampai di sini?” “Ini Kampung Matu, tersembunyi di jantung hutan Bukit Barisan Selatan,” jawab Burnawan tenang. “Semalam, aku melihat sesuatu jatuh di jurang. Aku membawamu dari sana. Istirahatlah, tubuhmu sedang melintasi batas.”
Tiga hari rasanya Samara tinggal bersama keluarga Burnawan. Di kampung itu, waktu seolah berhenti. Tidak ada jam dinding, tidak ada deru mesin. Manusia-manusia di Kampung Matu berbicara dengan bahasa Lampung kuno yang sangat halus, tapi entah mengapa dimengerti oleh Samara.
Pada hari ketiga, Samara berpamitan untuk melanjutkan tujuannya semula: Posko KKN, Desa Biha, Krui. Burnawan bersama dua pemuda kampung mengantarnya berjalan menembus lebatnya kanopi hutan. Ketika riak debur suara ombak laut mulai terdengar dari kejauhan, mereka tiba di tepi jalan raya beraspal yang sepi. “Melangkahlah terus ke depan, Samara. Tugasmu menanti,” ucap Burnawan hangat. Samara mengangguk, melangkah tiga langkah ke atas aspal. Namun, saat ia menengok ke belakang untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi, jantungnya berdesir hebat. Burnawan dan kedua pemuda itu telah lenyap. Tidak ada semak yang bergerak, tidak ada suara langkah kaki. Hanya ada hamparan hutan belantara sepi yang tegak berdiri di bawah terik matahari.
GORESAN KULIT KAYU DAN SIMFONI JUKUNG
Samara tiba di Desa Biha dengan jiwa yang tertinggal di balik kabut. Di sana, tiga sahabat karibnya, Habib yang logis, Ridho yang jenius membaca rasa, dan Subari yang tangguh, memeluknya dengan haru yang pecah.
“Kamu dari mana saja, Samara? Kami cari ke mana-mana tidak ketemu!” tanya Habib dengan suara bergetar. “Bus yang harusnya kamu tumpangi itu jatuh ke jurang. Semua penumpangnya meninggal, Samara!“
Samara tertegun, namun memilih berbohong demi ketenangan bersama. “Kemarin ada urusan birokrasi keuangan yang mendadak di kampus Bandar Lampung, jadi saya terpaksa naik bus gelombang berikutnya. Maaf membuat kalian cemas.” Ia mengubur nama Burnawan dalam-dalam, menyimpannya bagai rahasia metafisika yang paling sunyi.
Hingga pada suatu sore yang basah, di sudut gudang tua rumah Kepala Desa pak Mawardi yang berdebu, seberkas cahaya menuntun jemari Samara pada sebuah kotak kayu merbau tua. Di dalamnya terbaring sehelai Kropak, kitab kuno dari kulit kayu alim (Aquilaria malaccensis) yang melipat bagai akordeon, dipenuhi guratan aksara Had Lampung yang bersudut tajam.
Saat ujung jarinya menyentuh serat kayu purba itu, sebatang arus bioelektrik menyengat sarafnya. Kesadarannya runtuh melambat ke frekuensi theta yang ekstrem. Ruang tiga dimensi terlipat, dan jiwanya terlempar mundur ke abad ke-17.
Dalam penglihatan transendental itu, ia melihat Burnawan duduk di geladak kapal purba, menggoreskan hukum tata ruang komunal di atas kulit kayu: larangan menebang pohon di hulu sungai, perlindungan bagi satwa, serta filosofi Piil Pesenggiri, bahwa kehormatan manusia hanya akan tegak jika ia menjaga martabat alam sekelilingnya. Hukum di dalam naskah itu bukan lahir dari ketakutan manusia pada denda, melainkan sebuah perjanjian sakral antardimensi.
Ketika tersentak bangun, mata Samara telah berubah. Ia kini mampu menangkap medan elektromagnetik di udara. Ia bisa membaca beratnya tekanan udara, meramalkan riak arus laut, dan mendengar keluh kesah pohon-pohon yang sedang mengolah cahaya.
Kekuatan itu mewujud ketika empat sekawan itu menyewa sebuah jukung untuk menyeberang ke Pulau Pisang. Di tengah selat yang berbatasan dengan keganasan palung Samudra Hindia, badai muson barat mengamuk tanpa peringatan. Gelombang raksasa setinggi tiga meter menggulung, menghantam cadik bambu hingga berderit pasrah.
“Arus dan ombaknya terlalu besar! Putar balik sekarang atau kita terbalik!” teriak Habib panik di antara gemuruh air.
“Jangan putar balik sekarang, Bib! Kalau lambung perahu memotong ombak dari samping, kita malah langsung karam!” balas Ridho tak kalah lantang.
Samara melangkah dengan kaki telanjang menuju haluan jukung yang terombang- ambing. Ia memejamkan mata, meletakkan telapak tangan telanjangnya pada kayu haluan perahu, bertindak sebagai jangkar kuantum yang menyatukan kesadaran manusia dengan kesadaran samudra.
“Subari, pegang kemudi yang kuat! Jangan dilawan arusnya, ikuti saja riak air yang berwarna hijau tua di sebelah kanan kita!” perintah Samara tegas.
Ajaib, setiap kali dinding air raksasa hendak melumat mereka, haluan jukung seolah bergeser lincah dipandu oleh tangan gaib, berselancar manis di sela-sela gulungan ombak yang mematikan. Kearifan lokal bentuk perahu kuno dan jejaring batin Samara berhasil membawa mereka mendarat selamat di hamparan pasir putih Pulau Pisang.
RAHASIA DIBAWAH JANTUNG POKOK DAMAR
Sore itu di Pulau Pisang, matahari luruh seperti emas cair yang tumpah di cakrawala. Di bawah naungan pondok bambu, mereka duduk melingkar bersama Pakbalak Malaka, seorang nelayan tua dengan kulit sewarna tembaga yang matang digarami ombak. Suaranya mengalir tenang menceritakan mitologi tentang bangsa Siluman Matu.
“Mereka itu sebenarnya penjaga hutan di daerah sini, Anak-anak Muda,” kata Pakbalak sambil menyulut rokok daunnya. “Mereka mahluk halus, tapi kadang menjelma jadi manusia biasa supaya bisa memantau kelakuan kita.”
“Memangnya ada bedanya dengan kita, Pak? Bagaimana cara mengetahuinya?” tanya Ridho penasaran.
Nelayan tua itu tersenyum kecil. “Orang-orang tua dulu bilang, lihat saja di bawah hidungnya. Mereka tidak punya filtrum, cekungan atau parit kecil di atas bibir atas seperti kita. Kulit di bawah hidung mereka rata saja, polos. Semesta sengaja membuat mereka berbeda, biar jadi pengingat buat manusia kalau bumi ini bukan cuma milik kita sendiri. Ada yang bilang mereka ada di Gua tua. Tapi menurut saya mereka bisa memilih tinggal dimana saja termasuk didalam hutan lebat,” Pakbalak meyakini dengan tatapan mawas.
Habib yang penasaran kembali bertanya, “Tapi kenapa warga di sini tidak pernah ribut atau merasa terganggu dengan keberadaan mereka, Pak?“
“Sebab nenek moyang kita orang laut, Nak. Lautan sudah melatih kita untuk menerima siapa saja yang singgah ke pantai ini. Mau beda bahasa, beda warna kulit, atau bahkan beda alam, semuanya ditumpangi dengan baik. Kita semua kan sama-sama menumpang hidup di bumi milik Tuhan ini,” jawab Pakbalak bijak.
Pandangan Pakbalak Malaka mendadak bergeser, mengunci wajah Samara. Sorot matanya begitu tajam, seakan mampu melihat sisa-sisa energi kuantum Kampung Matu yang bergetar di dalam sel tubuh anak muda itu.
“Kamu, Anak Muda. Kamu baru saja pulang dari tempat yang tidak ada di peta, kan?” bisik Pakbalak pelan agar tidak didengar yang lain.
Ia mengajak Samara berjalan jauh ke dalam rimbunnya vegetasi pulau, hingga mereka berdiri di bawah kaki sebatang pohon damar raksasa yang agung. Lingkar batangnya bahkan membutuhkan rentang tangan 6 orang dewasa, diselimuti lelehan getah bening matakucing yang berkilauan menangkap cahaya bintang, memantul bagai ribuan mata kucing yang mengawasi kegelapan.
“Buka bajumu, Samara. Buang dulu semua sifat sombongmu lalu peluk pohon ini erat-erat. Rasakan saudaramu yang paling tua,” perintah Pakbalak.
Ketika kulit dadanya menyentuh kulit kasar pohon damar itu, kesadaran Samara seketika runtuh ke dalam trance yang teramat dalam. Jiwanya tersedot masuk ke dalam pembuluh-pembuluh xilem dan floem raksasa tersebut. Pikiran Samara menjalar turun menembus lapisan litosfer pulau, menyelam ke bawah dasar laut, dan tersimpul dalam sebuah jejaring raksasa akar purba yang menghubungkan seluruh pohon di sepanjang Pesisir Barat hingga Hutan Bukit Barisan Selatan.
Melalui jejaring serat optik organik ini, Samara menyaksikan “Ingatan Bumi.” Ia melihat masa lalu ketika perahu manusia Austronesia pertama kali membelah selat dengan nyanyian laut yang megah. Ia menyaksikan malam mencekam tahun 1883 ketika letusan dahsyat Gunung Krakatau merobek langit menjadi merah darah. Tsunami raksasa menghantam pantai, namun di bawah tanah, pohon-pohon tua saling berpegangan erat, mengorbankan akar mereka demi menahan runtuhnya tebing bumi agar manusia di atasnya tidak ikut terhanyut.
Ia melihat wajah Burnawan ratusan tahun lalu, hidup dalam dilatasi waktu untuk menjaga jejaring ini agar tidak putus. Samara tersadar dari tidurnya: kesadaran sejati tidak boleh berhenti pada apa yang alam berikan kepada manusia, melainkan apa yang manusia kembalikan kepada alam. Jika manusia memberi perlindungan pada pohon, batu, dan sungai, maka semilir angin dan deru hujan akan berbalik menjadi perisai pelindung bagi manusia.
NYANYIAN GAJAH DAN AIR MATA REPONG
Sekembali dari Pulau Pisang, keindahan itu terenggut. Sebuah perusahaan kelapa sawit swasta telah menancapkan kukunya di Pesisir Barat melalui konsesi lahan yang cacat hukum moral. Mereka mulai merobohkan ribuan pohon damar matakucing yang telah ratusan tahun menjadi urat nadi kehidupan rakyat.
Di tahun 1995 itu, hutan damar rakyat (Repong Damar) di Lampung Barat adalah sistem agroforestri tradisional terpadat kedua di dunia setelah Brasil. Ia adalah paru-paru raksasa Sumatra. Namun, atas nama modernisasi yang serakah, para petani ditekan untuk menebang warisan leluhur mereka, menggantinya dengan monokultur sawit yang merusak struktur hara tanah dan mencekik siklus air. Akibat ekosida ini, kawanan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang kehilangan jalur migrasi purbanya mulai merangsek masuk ke pemukiman warga karena kelaparan.
“Kita tidak boleh membiarkan hutan damar kita ditebang habis!” seru Kepala Desa Biha, Pak Mawardi, di hadapan warga yang berkumpul di balai desa. “Pohon-pohon ini warisan dari nenek moyang, saudara tua kita yang menjaga kampung. Kita harus bersatu pakai hukum adat untuk melawan mereka!“
Samara dan tiga sahabatnya menyingsingkan lengan baju. Selama sisa masa KKN, mereka membantu menyusun draf Advokasi Litigasi Adat. Habib merangkai analisis ekonomi-sosial, Subari menjaga garis depan dari intimidasi preman perusahaan, dan Ridho menguatkan mental warga dengan banyolan yang menenangkan.
Namun, duka alam harus diselesaikan dengan bahasa alam. Pada suatu malam yang buta ketika gerhana bulan parsial menggantung di langit, kawanan gajah kembali bergerak mendekati batas desa. Samara berjalan seorang diri menembus kabut hutan yang sunyi.
Menggunakan frekuensi gelombang Theta yang kini mengalir dalam darahnya, Samara berlutut di hadapan belantara. Ia menempelkan kedua telapak tangan telanjangnya ke atas permukaan tanah yang dingin. Ia menanggalkan keangkuhannya sebagai manusia, memosisikan diri sebagai anak bungsu yang memohon maaf atas ketamakan spesiesnya kepada sang saudara tua.
Melalui jejaring bawah tanah, Samara memancarkan gelombang kedamaian dan visualisasi peta navigasi langsung ke dalam kesadaran gajah pemimpin. Ia menunjukkan jalur migrasi alternatif kuno yang telah lama tertutup semak, namun aman dari kepungan pemukiman.
Gajah pemimpin itu berhenti. Belalainya terangkat ke udara malam, mengeluarkan suara lenguhan rendah yang menggetarkan dada Samara.
Raksasa rimba itu mengangguk, lalu memutar arah kawanannya kembali masuk ke dalam pelukan hutan terdalam Bukit Barisan. Satwa telah mendengarkan, karena manusia kali ini tidak datang membawa senapan untuk mengusir, melainkan membawa solusi ruang hidup yang adil.
MELENYAPNYA PARIT DIBAWAH HIDUNG
Masa bakti tiga bulan itu akhirnya usai. Benteng solidaritas berhasil dibangun, menyelamatkan sebagian besar Repong Damar di Desa Biha. Namun, realitas selalu menyisakan satir yang perih. Di penghujung hari kepulangan mereka, beberapa petani di batas luar desa akhirnya tetap menyerah, menandatangani pelepasan lahan karena silau oleh janji materi kelapa sawit.
Di dalam bus yang membawa mereka pulang kembali menuju Kota Bandar Lampung, Habib menyodorkan buku catatan berisi data kalkulasi ekonomi makro terbaru.
“Lihat ini, Sam. Ini data harga komoditas terbaru,” kata Habib sambil menunjuk angka-angka di kertas. “Harga sawit per kilogram di pasar sekarang malah jatuh sepuluh kali lipat lebih murah dibanding getah damar matakucing kita yang laku keras di luar negeri buat bahan kosmetik. Aneh sekali mereka, menukar sesuatu yang berharga demi janji instan yang malah merusak tanah sendiri.”
Samara menatap keluar jendela bus, memandang tajuk-tajuk pohon damar raksasa Bukit Barisan Selatan yang bergerak mundur dengan anggun dalam lambaian senja.
Di kaca jendela yang temaram, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Jantungnya berdesir lembut. Cekungan parit kecil yang berada di antara sekat hidung dan bibir atasnya kini telah sepenuhnya memudar. Kulit di bawah hidungnya kini tampak rata, polos, dan halus. Wajahnya tanpa filtrum. Ia telah kehilangan tanda fisik manusia modern, dan mendapatkan tanda kedewasaan spiritual sebagai bagian dari bangsa pelindung rimba yang pernah ditemuinya di Kampung Matu.
Samara tersenyum pada semilir angin yang menyelinap masuk lewat ventilasi bus. Ia tahu, ia tidak akan pernah berjalan sendirian lagi di atas bumi ini. Semesta alam, sang saudara tua dan Ibu Pertiwi, akan selalu mendekap langkahnya, selama ia terus mengalirkan manfaat dan menjaga mereka dalam setiap detak jantung hukum yang adil.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


