Konflik tidak selalu dipicu oleh perbedaan kepentingan, tetapi juga oleh cara suatu pesan disampaikan. Kata-kata yang lahir di tengah konflik acap kali tidak hanya memuat fakta, tetapi juga membawa muatan emosi berupa kemarahan, kekecewaan, atau prasangka. Dalam kondisi demikian, setiap ungkapan berpotensi dipahami sebagai serangan sehingga ketegangan semakin meningkat. Oleh karena itu, dalam proses mediasi, seorang mediator tidak cukup hanya menjadi pendengar yang baik, tetapi juga perlu memiliki kemampuan mengelola bahasa melalui teknik reframing. Teknik ini memungkinkan pesan para pihak disampaikan kembali dalam bentuk yang lebih netral tanpa mengubah substansi yang terkandung di dalamnya. Salah satu gagasan yang menarik dalam…
Read More