Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Kebugaran: Kemeriahan Senam Pagi Bersama di Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI

November 6, 2026

Dilmil IV-16 Balikpapan Jalin Sinergi dengan SMKN 1 Balikpapan, Buka Peluang PKL dan Edukasi Hukum Bagi Generasi Muda

November 6, 2026

Hakim Anak Dibekali Pemahaman Hak Anak, Pekerja Sosial Kemensos: “Orang Tua Jangan Hanya Sibuk Cari Uang”

November 6, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » AI dan Masa Depan Peradilan: Teknologi Membantu, Hakim Tetap Mengadili

AI dan Masa Depan Peradilan: Teknologi Membantu, Hakim Tetap Mengadili

Eddy Daulatta SembiringMohammad Khairul MuqorobinBy Eddy Daulatta Sembiring and Mohammad Khairul MuqorobinSeptember 21, 2026 · 12:12 WIB7 Mins Read2 Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia peradilan. Jika sebelumnya transformasi teknologi di pengadilan lebih banyak berbicara tentang digitalisasi administrasi, persidangan elektronik, atau penyimpanan dokumen secara digital, kehadiran AI membawa persoalan yang lebih jauh. Teknologi tidak lagi sekadar membantu menyimpan dan mengirim informasi, tetapi mulai mampu membaca dokumen, merangkum perkara, mencari pola, mengolah data, menelusuri putusan, bahkan menyusun alternatif analisis terhadap suatu persoalan hukum.

Karena itu, pertanyaan yang perlu dijawab oleh dunia peradilan bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan untuk apa AI digunakan, sampai sejauh mana penggunaannya dapat dibenarkan, dan di mana batas yang tidak boleh diserahkan kepada mesin. Judul AI dan Masa Depan Peradilan: Teknologi Membantu, Hakim Tetap Mengadili menegaskan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu, sedangkan keputusan mengadili tetap berada di tangan hakim.

Secara normatif, Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Pasal 5 ayat (1) undang-undang tersebut juga mewajibkan hakim untuk menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Sementara itu, Pasal 53 ayat (1) menegaskan bahwa dalam memeriksa dan memutus perkara, hakim bertanggung jawab atas penetapan dan putusan yang dibuatnya. Lanjut dalam ayat (2) nya menegaskan bahwa Penetapan dan putusan tersebut harus memuat pertimbangan hukum hakim yang didasarkan pada alasan dan dasar hukum yang tepat dan benar.. Dari ketentuan-ketentuan tersebut, dapatlah ditarik benang merah bahwa penggunaan AI tidak boleh menghilangkan tanggung jawab hakim untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan penalaran serta hati nuraninya.

Pembahasan

AI sebagai Judicial Assistant

Dalam lingkungan peradilan, AI pada dasarnya memiliki potensi besar untuk ditempatkan sebagai judicial assistant. Hakim setiap hari berhadapan dengan berkas perkara, alat bukti, peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, doktrin, serta berbagai informasi hukum yang jumlahnya semakin besar. Pada titik inilah AI dapat membantu. Dalam konteks ini, AI dapat digunakan untuk membantu pencarian hukum dan yurisprudensi, membuat ringkasan dokumen perkara, mengelompokkan informasi, menyusun kronologi, menemukan keterkaitan antara fakta dan dokumen, serta membantu hakim menemukan putusan terdahulu yang relevan. Dalam perkara yang kompleks dan memiliki ribuan halaman dokumen, kemampuan tersebut dapat menghemat waktu sekaligus membantu hakim bekerja lebih efektif.

Ke depan, dapat dibayangkan sebuah sistem peradilan di mana hakim mempunyai semacam asisten yudisial digital. Ketika menangani suatu perkara, hakim dapat meminta sistem menampilkan peraturan yang berkaitan, putusan Mahkamah Agung yang relevan, perkembangan doktrin, atau perbandingan putusan terhadap persoalan hukum yang serupa. Namun, membantu hakim berpikir berbeda dengan menggantikan hakim dalam mengambil keputusan.

AI Bukan Judicial Decision Maker

Di sinilah batas penting harus diletakkan. AI dapat menjadi judicial assistant, tetapi tidak seharusnya berubah menjadi judicial decision maker. Putusan pengadilan bukan sekadar hasil pengolahan data. Di dalamnya terdapat proses menilai fakta, menguji alat bukti, mendengar argumentasi para pihak, menafsirkan hukum, mempertimbangkan keadaan konkret, serta menemukan keadilan dalam perkara yang sedang diperiksa.

Baca Juga  Living Law dalam KUHP Nasional: Ruang Keadilan atau Ancaman bagi Kepastian Hukum?

Mesin dapat membaca ribuan putusan dalam waktu singkat. Mesin juga dapat menemukan pola yang mungkin sulit ditemukan manusia. Tetapi kemampuan menemukan pola tidak identik dengan kemampuan mengadili. Hakim tidak hanya dituntut menghasilkan putusan yang secara logika benar. Hakim juga harus mampu menjelaskan mengapa suatu fakta dipercaya, mengapa suatu argumentasi diterima atau ditolak, dan mengapa hukum diterapkan dengan cara tertentu. Pada akhirnya, setiap putusan harus dapat dipertanggungjawabkan oleh hakim yang menjatuhkannya. Dalam konteks itulah prinsip yang perlu ditegaskan bahwa wisdom (kebijaksanaan) ada pada diri hakim, bukan pada AI. Kebijaksanaan untuk menimbang rasa keadilan, mempertimbangkan konteks sosial, mendengarkan suara hati, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab secara moral merupakan kualitas yang melekat pada hakim sebagai manusia. AI hanya dapat menyajikan data, pola, dan alternatif, tetapi tidak dapat memiliki kebijaksanaan untuk memilih di antara alternatif itu berdasarkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Oleh karena itu, sekalipun AI semakin canggih, kebijaksanaan hakim tidak boleh digantikan oleh algoritma apa pun.

Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Yudisial, H. Suharto, S.H., M.Hum.,  menegaskan bahwa penggunaan AI oleh Hakim dalam menyusun putusan sama sekali bukan untuk mengajarkan hakim untuk menjadi engineer.  Hakim wajib memahami algoritma AI sebagai alat dalam mengumpulkan data. Namun, hakim tetap wajib melakukan verifikasi terhadap data dari sumber-sumber yang relevan. AI hanya berfungsi sebagai alat bantu administratif dan penunjang persidangan, dimana keputusan hukum dan kebijakan tetap berada di tangan hakim. AI tidak punya nurani, sedangkan hakim yang penting adalah nuraninya.

Sementara itu, Hakim Agung Kamar Pidana sekaligus Plt. Kepala BSDK MA RI, Syamsul Arief juga menegaskan bahwa pemanfaatan AI bagi Hakim dalam rangka untuk membantu tugas hakim dalam mengonstruksi norma dan memverifikasi fakta. Kegiatan hakim adalah menerapkan peristiwa konkret berkaitan dengan norma, dan cara berpikir itu adalah cara berpikir silogisme.

Risiko yang Harus Diantisipasi

Pemanfaatan AI di pengadilan juga membawa sejumlah risiko. Sistem AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, menciptakan referensi yang sebenarnya tidak ada, atau menghasilkan analisis yang terlihat meyakinkan tetapi tidak tepat. AI juga dapat membawa bias dari data yang digunakan untuk melatih atau mengoperasikan sistem tersebut.

Dalam lingkungan peradilan terdapat persoalan lain yang tidak kalah pentingnya. Apabila AI digunakan dalam proses penyusunan putusan, hakim tidak boleh sekadar menerima hasil yang diberikan mesin. Setiap informasi, referensi hukum, maupun alternatif analisis yang dihasilkan AI harus diperiksa kembali kebenaran dan relevansinya. Prinsip sederhananya adalah AI boleh membantu hakim menemukan jawaban, tetapi AI tidak boleh mengambil alih tanggung jawab hakim atas jawaban tersebut.

Hakim Teknohumanis

Drs. Andang Subaharianto, M.Hum., Ketua Senat Universitas Jember, juga turut membahas cara membangun budaya belajar dan tradisi akademik, meningkatkan kualitas putusan, serta memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan tanpa kehilangan independensi dan integritas yang disitilahkan sebagai aparatur peradilan cendikia. Teori semiotika antropologi menyatakan bahwa bahwa sebuah teks tidak dapat dipahami tanpa dikaitkan dengan teks lain. Teks harus dibaca dalam konteks. Seorang hakim atau aparatur peradilan seyogyanya tidak hanya membaca teks, tetapi juga harus dapat menemukan dan membaca konteks secara tepat. Hakim bukan sekadar corong undang-undang. Ia harus dapat menggali dan mencapai keadilan substantif. Dalam kerangka Weber, hakim yang hanya membaca teks tanpa memahami konteks bekerja atas dasar rasionalitas formal. Hakim yang cendikia diharapkan dapat bekerja sekaligus dengan rasionalitas substantif sehingga keadilan substantif bukan sesuatu yang mustahil.

Baca Juga  Etika sebagai Pemandu Hakim dalam Penjatuhan Putusan Pemaafan Hakim

Teknologi informasi dan AI kedepannya akan terus berkembang secara pesat. Banyak pekerjaan di level peradilan, terutama pekerjaan administratif dan kepaniteraan, mungkin akan dibantu atau bahkan digantikan oleh AI. Namun, keadilan substantif tidak dapat dipasrahkan kepada teknologi. Dapat dibayangkan dengan adanya sosok ideal sebagai hakim teknohumanis, yaitu hakim yang mampu mengoptimalkan teknologi, tetapi tetap humanis dan bekerja dalam rangka nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi dalam konteks ini hanya digunakan sebagai alat untuk menghasilkan putusan yang berkeadilan substantif.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dipahami bahwa AI memiliki posisi penting sebagai alat bantu dalam dunia peradilan, terutama sebagai judicial assistant. AI dapat membantu hakim mencari hukum, merangkum perkara, menelusuri yurisprudensi, dan menyusun kronologi. Namun, AI tidak dapat menggantikan hakim sebagai judicial decision maker. Keputusan hukum, penilaian fakta, penafsiran norma, dan keadilan substantif tetap harus berada di tangan hakim.

Peminat pelatihan Kecerdasan Artifisial: Kejahatan, Batas Etika dan Pemanfaatan di Pengadilan Gelombang I yang diselenggarakan oleh Badan Strategi Kebijakan dan Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI (BSDK MA RI) melalui Pusdiklat Teknis Peradilan ini sangat tinggi. Banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan kepada narasumber menunjukkan bahwa kebutuhan untuk memahami AI tidak lagi berhenti pada tataran wacana. Antusiasme itu adalah penanda bahwa para aparatur peradilan sendiri merasakan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami, menguasai, dan sekaligus mengatur pemanfaatan AI. Dengan demikian, ke depan pengaturan AI telah menjadi urgensi, bahkan prioritas, bagi lembaga peradilan kita.

Oleh karena itu, langkah Mahkamah Agung melalui BSDK untuk menyusun panduan bagi hakim, melakukan penelitian, dan menyiapkan studi kebijakan mengenai penerapan AI di Mahkamah Agung serta badan peradilan di bawahnya menjadi semakin niscaya. Pengaturan AI bukan lagi pilihan opsional, melainkan keharusan agar teknologi benar-benar memperkuat tugas peradilan, bukan melemahkan independensi dan integritas hakim. Pada akhirnya, AI membantu, hakim tetap mengadili; teknologi boleh semakin canggih, tetapi keadilan substantif tetap harus lahir dari akal, hati, dan nurani hakim.

Eddy Daulatta Sembiring
Kontributor
Eddy Daulatta Sembiring
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil
Mohammad Khairul Muqorobin
Kontributor
Mohammad Khairul Muqorobin
Hakim Pengadilan Negeri Pulang Pisau

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

AI Peradilan etika AI Hakim Teknohumanis Judicial Assistant Keadilan Substantif
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia

November 5, 2026

Cepat dan Cermat: Cara Mahkamah Agung Menyelesaikan Perkara

November 4, 2026

2 Comments

  1. aievangelist on September 21, 2026 1:41 pm

    Pertanyaan yang cukup menarik adalah Apa sebenarnya yang kita maksud dengan wisdom, dan bagaimana kita mengetahui bahwa seorang hakim sedang menggunakan wisdom daripada bias yang dibungkus pengalaman?

    Karena wisdom tidak mempunyai sensor.
    tidak ada paramater.

    muncul lagi pertanyaan, Apakah kita membutuhkan hakim yang merasakan kebijaksanaan, atau hakim yang secara konsisten bertindak bijaksana?

    dan lebih menyeramkan adalah Jika suatu hari sistem yang tidak pernah merasakan penderitaan ternyata secara konsisten lebih memahami kapan harus menunjukkan belas kasih dibanding manusia yang pernah menderita, siapa yang sebenarnya lebih bijaksana?




    Reply
  2. Nikmah Aeni on September 21, 2026 4:56 pm

    pembahasan yang sangat menarik , yang pasti menjadi pertanyaan diberbagai kalangan , terutama dikalangan masyarakat apakah AI ini sebagai solusi atau menjadi suatu tentang kedepannya, Bagaimana penerapan dan relevansinya apakah tidak bertentangan dengan Asas Kehati hatian? apalagi hakim dalam memutu suatu putusan pastinya berkaitan dengan hak asasi manusia dan apabila terjadi kesalahan atau bias dari hasil AI tersebut siapa yang bertanggung jawab ?




    Reply
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Notoir Feiten dan Relevansinya Dalam Personalisasi Pengetahuan Era Kini

November 6, 2026

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026
Don't Miss

Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Kebugaran: Kemeriahan Senam Pagi Bersama di Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI

By JohanesNovember 6, 20260

Jakarta, 6 November 2026 – Sejumlah pejabat dan pegawai di lingkungan Gedung Sekretariat Mahkamah Agung…

Dilmil IV-16 Balikpapan Jalin Sinergi dengan SMKN 1 Balikpapan, Buka Peluang PKL dan Edukasi Hukum Bagi Generasi Muda

November 6, 2026

Hakim Anak Dibekali Pemahaman Hak Anak, Pekerja Sosial Kemensos: “Orang Tua Jangan Hanya Sibuk Cari Uang”

November 6, 2026

Notoir Feiten dan Relevansinya Dalam Personalisasi Pengetahuan Era Kini

November 6, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Kebugaran: Kemeriahan Senam Pagi Bersama di Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI
  • Dilmil IV-16 Balikpapan Jalin Sinergi dengan SMKN 1 Balikpapan, Buka Peluang PKL dan Edukasi Hukum Bagi Generasi Muda
  • Hakim Anak Dibekali Pemahaman Hak Anak, Pekerja Sosial Kemensos: “Orang Tua Jangan Hanya Sibuk Cari Uang”
  • Notoir Feiten dan Relevansinya Dalam Personalisasi Pengetahuan Era Kini
  • Ini Empat Lembaga Penting bagi Anak Berhadapan dengan Hukum

Recent Comments

  1. Aman on Kejahatan Siber: Hakim Harus Cermat Menguji Bukti
  2. Dr. Sakwanah on Ketua MS Aceh Apresiasi Pelatihan BSDK, Harapkan Diklat Khusus Hukum Acara Jinayat
  3. Herman on Di Balik Mangrove, Ada Keadilan yang Harus Diperjuangkan
  4. Abdul Mustopa on MOVE!
  5. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Arie Guntoro
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Dismas Lukito Ornasto
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Humas Pengadilan Negeri Sidoarjo
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ainun Najib
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.