Author: Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan

Semua marah pada semua. Itu suasana republik hari ini. Kemarahan memang tidak perlu diorkestrasi. Semua ingin didengar, semua berlomba sahut-sahutan. Hasilnya adalah cacophony, sekadar hiruk-pikuk. Marah ke segala arah artinya marah tanpa arah. Kita tonton kedunguan ini setiap hari: di talkshow, di podcast, di demo. Tayangannya beragam, dari ngomel sampai ngamuk. Tapi kualitasnya sama: tanpa argumen. Defisit dalam logika, surplus dalam retorika. Argumen tumpul, sentimen tajam. Pro kekuasaan tanpa dasar, anti kekuasaan tanpa ide. Dua pihak berhadap-hadapan seolah-olah sedang bertempur “demi sesuatu yang belum”. Dan memang belum ada. Seminggu lalu saya masih ngopi (sambil diskusi tentang arah sosialisme Indonesia) dengan…

Read More