Oligarki, Eksploitasi Alam, dan Pembungkaman Suara Rakyat
Bagi generasi yang lahir dan tumbuh di akhir tahun 1990-an, game dengan judul Final Fantasy VII yang dikembangkan oleh Square Co., Ltd. (kini Square Enix) ini menyimpan memori nostalgia yang mendalam. Mahakarya ini diakui secara global berkat soundtrack-nya yang menghanyutkan, desain karakter yang ikonis, serta sistem pertarungan yang revolusioner, hingga akhirnya mendapatkan versi remake dan rebirth-nya pada tahun 2020 dan 2024. Namun, di balik balutan epik dari game bergenre RPG (Role Playing Game) tersebut, tersimpan sebuah cerita dan tema utama yang sangat relevan dengan realita yang terjadi saat ini. Final Fantasy VII adalah salah satu bentuk kritik tajam terhadap hegemoni kapitalisme yang rakus, korporasi oligarkis, dan dampak mematikan dari eksploitasi alam yang tak terkendali, sebuah kisah yang semakin relevan di tengah krisis ekologis yang melanda dunia nyata. Untuk memahami bagaimana kritik tersebut dibangun, kita perlu menyelami terlebih dahulu alur utama cerita yang menjadi fondasi narasi besarnya.
Sebuah Pengantar
Secara umum, game ini mengisahkan perjuangan protagonis utama bernama Cloud Strife, seorang tentara bayaran yang disewa oleh kelompok pejuang lingkungan yang bernama Avalanche, dipimpin oleh Barret Wallace, untuk melawan Shinra Electric Power Company. Shinra adalah perusahaan yang menyedot Lifestream (aliran kehidupan planet) dan mengubahnya menjadi energi Mako untuk menjadi bahan bakar utama Kota Midgar. Meski awalnya Cloud hanya bertarung demi uang dan janji masa kecilnya kepada Tifa Lockhart, ia pada akhirnya menemukan alasan yang lebih besar, yaitu menyelamatkan planet dari kehancuran akibat keserakahan korporasi dan ancaman musuh bebuyutannya yang bernama Sephiroth. Dari premis sederhana tentang perlawanan terhadap korporasi inilah, cerita kemudian berkembang menjadi eksplorasi yang jauh lebih dalam tentang relasi kuasa antara manusia, alam, dan sistem ekonomi yang menopangnya.
Ironi Ekologis dalam Realita
Dalam narasi utama game ini, Planet Gaia adalah entitas hidup yang memiliki kesadaran, dialiri oleh energi kehidupan bernama Lifestream, aliran energi yang menjaga planet tetap hidup dan mengandung pengetahuan dari setiap makhluk yang pernah ada. Ironisnya, alih-alih dihormati, planet ini justru dihisap habis-habisan oleh Shinra melalui reaktor-reaktor Mako di metropolis beton, Kota Midgar.Ironi inilah yang menjadi pintu masuk untuk membaca Final Fantasy VII tidak sekadar sebagai fiksi, melaink an sebagai cermin dari praktik eksploitasi sumber daya alam yang terjadi di dunia nyata. Eksploitasi tak bermoral ini merefleksikan realitas kelam dunia kita. Apa yang dilakukan Shinra dalam menguasai sumber daya alam tanpa batas adalah contoh sempurna dari fenomena state capture corruption (korupsi penangkapan negara) yang dicetuskan oleh Daniel Kaufmann (2024). Kaufmann mendefinisikan state capture sebagai kondisi ketika kelompok elit ekonomi atau aktor bisnis besar mampu memengaruhi pembentukan hukum, kebijakan, dan regulasi negara demi kepentingan mereka sendiri. Korupsi pada level ini bukan sekadar suap administratif, melainkan kemampuan elite ekonomi untuk mendikte aturan main. Dalam kondisi demikian, negara tidak lagi bekerja untuk kepentingan publik, melainkan dikendalikan oleh segelintir elit.
Relevansi konsep state capture ini terlihat sangat gamblang dalam cara Shinra beroperasi. Dalam semesta Final Fantasy VII, Shinra Electric Power Company bukanlah sekadar perusahaan swasta biasa, melainkan korporasi yang menjelma menjadi negara, merangkap sebagai pemerintah, militer, perusahaan listrik, dan pusat penelitian sekaligus. Mereka telah menjadi penguasa terhadap seluruh aspek kehidupan warga Kota Midgar. Di bawah kepemimpinan Shinra, tidak ada ruang untuk demokrasi, transparansi, ataupun partisipasi publik. Yang ada hanyalah propaganda, intimidasi, dan kekerasan. Seiring berjalannya cerita, Shinra bertransformasi dari entitas bisnis menjadi penguasa absolut yang mengontrol militer, kepolisian, dan narasi media.
Transformasi Shinra dari korporasi menjadi penguasa absolut ini bukanlah imajinasi liar tanpa dasar teoretis. Kedigdayaan Shinra ini sejalan dengan konsep oligarki dari Richard Robison dan Vedi R. Hadiz (2004), yang menitikberatkan pada sistem relasi kekuasaan yang memungkinkan terkonsentrasinya kekayaan dan otoritas, serta adanya perlindungan kolektif terhadap keduanya. Singkatnya, oligarki didefinisikan oleh Robison dan Hadiz sebagai sistem pemerintahan tempat hampir semua kekuasaan politik berpusat pada segelintir orang kaya yang membentuk kebijakan publik hanya untuk keuntungan finansial mereka sendiri, tanpa memedulikan kepentingan rakyat banyak. Melalui figur-figur seperti Presiden Shinra dan ilmuwan ambisius seperti Profesor Hojo, kita menyaksikan bagaimana kekuasaan korporasi dapat menormalisasi kekejaman, mulai dari eksperimen terhadap manusia, manipulasi politik, hingga pengorbanan ribuan warga sipil demi mempertahankan dominasinya. Kehancuran Sektor 7 (salah satu daerah di kota Midgar) adalah peristiwa tragis yang direncanakan dengan dingin, mengingatkan kita pada bencana industri di dunia nyata, di mana nyawa manusia sering kali hanyalah angka dalam kalkulasi laba-rugi. Namun, di tengah dominasi total tersebut, selalu ada pihak yang berani melawan. Di sinilah konflik antara kekuasaan oligarkis dan perlawanan rakyat mengambil panggung utamanya.
Hegemoni Oligarki dan Perlawanan Pejuang Lingkungan
Avalanche, dalam cerita ini, adalah organisasi lingkungan yang memperjuangkan keadilan ekologis. Mereka dalam melawan Shinra memang menggunakan kekerasan, tetapi motivasi mereka adalah perlindungan terhadap planet. Dalam narasi yang dibangun Shinra, mereka dicap sebagai “teroris”. Namun, dalam narasi lingkungan, mereka adalah pahlawan. Mereka adalah bentuk ekstrem dari partisipasi publik ketika jalur legal telah tertutup oleh kekuasaan oligarkis.
Fenomena perlawanan terhadap kelompok lingkungan seperti yang dialami Avalanche ini memiliki landasan teoretis yang cukup relevan. Hal ini sejalan dengan teori Good Environmental Governance yang dikembangkan oleh ahli hukum lingkungan seperti Edith Brown Weiss. Teori ini menegaskan bahwa partisipasi masyarakat merupakan unsur paling mendasar dalam tata kelola lingkungan hidup, karena rakyat harus aktif terlibat dalam proses pengambilan kebijakan publik. Dalam dunia di mana suara rakyat tidak pernah didengar bahkan dibungkam, tindakan radikal akan muncul sebagai upaya terakhir ketika jalur resmi tidak pernah diberikan dan dibuka. Dalam game ini, Avalanche dijadikan musuh yang harus dilawan, diserang melalui propaganda negatif, dan tidak sedikit anggotanya yang dibunuh oleh pasukan Shinra. Dan dalam perspektif hukum lingkungan, aktivitas pejuang lingkungan hidup ini telah diakui dan dilindungi. Dalam game ini, pembungkaman terhadap suara rakyat ini tidak hanya menimpa kelompok aktivis, tetapi juga menjangkau kelompok yang paling rentan sekalipun, yaitu masyarakat adat yang direpresentasikan melalui sosok Aerith.
Tragedi Masyarakat Adat dan Akar Kuasa Oligarki
Dampak paling tragis dari keserakahan oligarki ekstraktif ini menimpa masyarakat adat, yang direpresentasikan oleh karakter bernama Aerith. Sebagai keturunan terakhir ras Cetra yang memiliki ikatan spiritual dengan planet, Aerith diposisikan oleh Shinra semata-mata sebagai “aset” untuk dieksploitasi. Mereka ingin menangkap, meneliti, dan memanfaatkannya untuk menemukan Promised Land, sumber Lifestream yang akan memberi mereka kekuasaan tak terbatas. Penindasan terhadap Aerith adalah potret akurat dari perampasan hak masyarakat adat di dunia nyata, di mana penggusuran fisik, perampasan ruang hidup, hingga penghancuran identitas budaya dilakukan secara masif dan membabi buta. Dalam cerita ini, Aerith kehilangan ibunya, kebebasannya, dan pada akhirnya nyawanya hilang di tangan Sephiroth, yang mana semuanya berakar dari kemampuannya berkomunikasi dengan planet.
Tragedi yang menimpa Aerith ini mengundang pertanyaan yang lebih fundamental: mengapa penindasan semacam ini terus terjadi? Mengapa hal ini terus terjadi? Jawabannya terletak pada definisi oligarki menurut Jeffrey A. Winters (2011). Winters mendefinisikan oligark sebagai pelaku yang menguasai dan mengendalikan konsentrasi besar sumber daya material yang dapat digunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi sosial eksklusifnya. Winters menekankan bahwa kunci memahami oligarki adalah wealth defense (strategi pertahanan kekayaan), yang terdiri dari property defense (pertahanan harta) dan income defense (pertahanan pendapatan). Dalam cerita ini, Shinra telah melakukan segala cara untuk mempertahankan kekayaan sekaligus kekuasaannya, meskipun cara-cara itu tidaklah lazim. Namun, ambisi yang tidak mengenal batas ini pada akhirnya tidak hanya menghancurkan korban-korbannya, tetapi juga berbalik menjadi bumerang bagi sang oligarki itu sendiri.
Kutukan Sumber Daya (Resource Curse)
Ambisi tanpa batas oligarki pada akhirnya menjadi senjata makan tuan. Eksperimen gila Shinra dalam melahirkan Sephiroth, sebuah senjata biologis yang berbalik memberontak dan memicu bencana Meteor untuk menghancurkan penciptanya. Sephiroth adalah produk dari Jenova Project, proses kawin silang antara sel alien Jenova dengan manusia. Namun, Sephiroth tidak mengetahui asal usulnya. Ia tumbuh sebagai pahlawan, idola bagi anak-anak seperti Cloud. Ketika akhirnya mengetahui kebenaran bahwa ia adalah hasil eksperimen dan bahwa manusia adalah “pengkhianat” yang menghancurkan ras Cetra, ia menjadi gila dan memutuskan untuk menghancurkan dunia.
Kisah Sephiroth ini bukan sekadar drama pengkhianatan biasa, melainkan sebuah cerminan yang memiliki akar teoretis dalam kajian ekonomi politik sumber daya alam. Tragedi ini adalah alegori murni dari Resource Curse (kutukan sumber daya), sebuah konsep yang dikembangkan oleh para ekonom seperti Richard Auty (1993), Jeffrey Sachs dan Andrew Warner (1997), serta Michael L. Ross (2001). Teori ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada sumber daya alam tidak selalu meningkatkan kesejahteraan. Dalam banyak kasus, justru menurunkan kualitas demokrasi dan stabilitas ekonomi. Kekayaan yang dihasilkan tidak terdistribusi secara adil, melainkan menimbulkan efek negatif baik bagi oligarki itu sendiri maupun masyarakat secara umum. Dalam game ini, Sephiroth adalah “kutukan” yang lahir dari eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam, itu sendiri sebuah eksperimen Shinra untuk menciptakan senjata super yang justru menghasilkan ancaman lebih besar bagi Shinra sendiri.
Refleksi
Pada akhirnya, Final Fantasy VII berdiri jauh melampaui batas-batas fiksi interaktif. Mahakarya ini merupakan cermin reflektif yang memantulkan krisis ekologis dan keruntuhan supremasi hukum di dunia nyata. Kisah perlawanan terhadap hegemoni Shinra menjadi peringatan tajam tentang bahaya nyata dari state capture corruption, sebuah kondisi fatal ketika instrumen regulasi dan institusi publik sepenuhnya dirampas untuk melayani hasrat akumulasi modal segelintir elite oligarki. Ketika korporasi bertransformasi menjadi penguasa yang kebal terhadap akuntabilitas, eksploitasi energi yang seharusnya ditujukan untuk kemaslahatan publik justru berubah menjadi mesin perusak ekosistem yang bekerja secara masif dan terstruktur. Sebagai konklusi, epik dari serial ini meninggalkan sebuah panggilan moral sekaligus gugatan etis yang mendesak untuk segera direspons. Perlawanan terhadap ekstraktivisme rakus menuntut lebih dari sekadar kesadaran kultural semata. Mensyaratkan hadirnya instrumen keadilan yang kuat, keberanian untuk meruntuhkan monopoli sumber daya, dan ketegasan nyata dalam memutus rantai impunitas korporasi. Memastikan tegaknya keadilan ekologis bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan sebuah perjuangan mutlak yang harus direbut sebelum bumi yang kita pijak benar-benar kehilangan kemampuannya untuk menopang kehidupan.
Referensi
Auty, R. M. (1993). Sustaining Development in Mineral Economies: The Resource Curse Thesis.Routledge
Kaufmann, D. (2024). State capture matters: Considerations and empirics toward a worldwide measure. In Public Sector Performance, Corruption and State Capture in a Globalized World (pp. 207–237). Routledge.
Robison, R., & Hadiz, V. R. (2004). Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets. Routledge.
Safa’at, R. (2026). Oligarki, Lingkungan, dan Korupsi: Urgensi Undang-Undang Anti-Oligarki dalam Tata Kelola Sumber Daya Alam Berkelanjutan. Malang: Inteligensia Media.
Weiss, E. B. (n.d.). Environmental Governance. MIT Press.
Winters, J. A. (2011). Oligarchy. Cambridge University Press.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


