Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Siaga Karhutla, PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi dan Praktik Pemadaman Api

October 22, 2026

Tanam Pohon Santigi di Papandayan, Syamsul Arief: Alam Juga Punya Hak untuk Hidup

October 22, 2026

PTUN Banda Aceh Selaraskan Peran SPI Kawal Tindak Lanjut Pengawasan

October 22, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Resensi Game: Final Fantasy VII

Resensi Game: Final Fantasy VII

Mohammad Khairul MuqorobinBy Mohammad Khairul MuqorobinSeptember 7, 2026 · 12:22 WIB9 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Oligarki, Eksploitasi Alam, dan Pembungkaman Suara Rakyat

Bagi generasi yang lahir dan tumbuh di akhir tahun 1990-an, game dengan judul Final Fantasy VII  yang dikembangkan oleh Square Co., Ltd. (kini Square Enix) ini menyimpan memori nostalgia yang mendalam. Mahakarya ini diakui secara global berkat soundtrack-nya yang menghanyutkan, desain karakter yang ikonis, serta sistem pertarungan yang revolusioner, hingga akhirnya mendapatkan versi remake dan rebirth-nya pada tahun 2020 dan 2024. Namun, di balik balutan epik dari game bergenre RPG (Role Playing Game) tersebut, tersimpan sebuah cerita dan tema utama yang sangat relevan dengan realita yang terjadi saat ini. Final Fantasy VII adalah salah satu bentuk kritik tajam terhadap hegemoni kapitalisme yang rakus, korporasi oligarkis, dan dampak mematikan dari eksploitasi alam yang tak terkendali, sebuah kisah yang semakin relevan di tengah krisis ekologis yang melanda dunia nyata. Untuk memahami bagaimana kritik tersebut dibangun, kita perlu menyelami terlebih dahulu alur utama cerita yang menjadi fondasi narasi besarnya.

Sebuah Pengantar

Secara umum, game ini mengisahkan perjuangan protagonis utama bernama Cloud Strife, seorang tentara bayaran yang disewa oleh kelompok pejuang lingkungan yang bernama Avalanche, dipimpin oleh Barret Wallace, untuk melawan Shinra Electric Power Company. Shinra adalah perusahaan yang menyedot Lifestream (aliran kehidupan planet) dan mengubahnya menjadi energi Mako untuk menjadi bahan bakar utama Kota Midgar. Meski awalnya Cloud hanya bertarung demi uang dan janji masa kecilnya kepada Tifa Lockhart, ia pada akhirnya menemukan alasan yang lebih besar, yaitu menyelamatkan planet dari kehancuran akibat keserakahan korporasi dan ancaman musuh bebuyutannya yang bernama Sephiroth. Dari premis sederhana tentang perlawanan terhadap korporasi inilah, cerita kemudian berkembang menjadi eksplorasi yang jauh lebih dalam tentang relasi kuasa antara manusia, alam, dan sistem ekonomi yang menopangnya.

Ironi Ekologis dalam Realita

Dalam narasi utama game ini, Planet Gaia adalah entitas hidup yang memiliki kesadaran, dialiri oleh energi kehidupan bernama Lifestream, aliran energi yang menjaga planet tetap hidup dan mengandung pengetahuan dari setiap makhluk yang pernah ada. Ironisnya, alih-alih dihormati, planet ini justru dihisap habis-habisan oleh Shinra melalui reaktor-reaktor Mako di metropolis beton, Kota Midgar.Ironi inilah yang menjadi pintu masuk untuk membaca Final Fantasy VII tidak sekadar sebagai fiksi, melaink an sebagai cermin dari praktik eksploitasi sumber daya alam yang terjadi di dunia nyata. Eksploitasi tak bermoral ini merefleksikan realitas kelam dunia kita. Apa yang dilakukan Shinra dalam menguasai sumber daya alam tanpa batas adalah contoh sempurna dari fenomena state capture corruption (korupsi penangkapan negara) yang dicetuskan oleh Daniel Kaufmann (2024). Kaufmann mendefinisikan state capture sebagai kondisi ketika kelompok elit ekonomi atau aktor bisnis besar mampu memengaruhi pembentukan hukum, kebijakan, dan regulasi negara demi kepentingan mereka sendiri. Korupsi pada level ini bukan sekadar suap administratif, melainkan kemampuan elite ekonomi untuk mendikte aturan main. Dalam kondisi demikian, negara tidak lagi bekerja untuk kepentingan publik, melainkan dikendalikan oleh segelintir elit.

Relevansi konsep state capture ini terlihat sangat gamblang dalam cara Shinra beroperasi. Dalam semesta Final Fantasy VII, Shinra Electric Power Company bukanlah sekadar perusahaan swasta biasa, melainkan korporasi yang menjelma menjadi negara, merangkap sebagai pemerintah, militer, perusahaan listrik, dan pusat penelitian sekaligus. Mereka telah menjadi penguasa terhadap seluruh aspek kehidupan warga Kota Midgar. Di bawah kepemimpinan Shinra, tidak ada ruang untuk demokrasi, transparansi, ataupun partisipasi publik. Yang ada hanyalah propaganda, intimidasi, dan kekerasan. Seiring berjalannya cerita, Shinra bertransformasi dari entitas bisnis menjadi penguasa absolut yang mengontrol militer, kepolisian, dan narasi media.

Transformasi Shinra dari korporasi menjadi penguasa absolut ini bukanlah imajinasi liar tanpa dasar teoretis. Kedigdayaan Shinra ini sejalan dengan konsep oligarki dari Richard Robison dan Vedi R. Hadiz (2004), yang menitikberatkan pada sistem relasi kekuasaan yang memungkinkan terkonsentrasinya kekayaan dan otoritas, serta adanya perlindungan kolektif terhadap keduanya. Singkatnya, oligarki didefinisikan oleh Robison dan Hadiz sebagai sistem pemerintahan tempat hampir semua kekuasaan politik berpusat pada segelintir orang kaya yang membentuk kebijakan publik hanya untuk keuntungan finansial mereka sendiri, tanpa memedulikan kepentingan rakyat banyak. Melalui figur-figur seperti Presiden Shinra dan ilmuwan ambisius seperti Profesor Hojo, kita menyaksikan bagaimana kekuasaan korporasi dapat menormalisasi kekejaman, mulai dari eksperimen terhadap manusia, manipulasi politik, hingga pengorbanan ribuan warga sipil demi mempertahankan dominasinya. Kehancuran Sektor 7 (salah satu daerah di kota Midgar) adalah peristiwa tragis yang direncanakan dengan dingin, mengingatkan kita pada bencana industri di dunia nyata, di mana nyawa manusia sering kali hanyalah angka dalam kalkulasi laba-rugi. Namun, di tengah dominasi total tersebut, selalu ada pihak yang berani melawan. Di sinilah konflik antara kekuasaan oligarkis dan perlawanan rakyat mengambil panggung utamanya.

Hegemoni Oligarki dan Perlawanan Pejuang Lingkungan

Avalanche, dalam cerita ini, adalah organisasi lingkungan yang memperjuangkan keadilan ekologis. Mereka dalam melawan Shinra memang menggunakan kekerasan, tetapi motivasi mereka adalah perlindungan terhadap planet. Dalam narasi yang dibangun Shinra, mereka dicap sebagai “teroris”. Namun, dalam narasi lingkungan, mereka adalah pahlawan. Mereka adalah bentuk ekstrem dari partisipasi publik ketika jalur legal telah tertutup oleh kekuasaan oligarkis.

Fenomena perlawanan terhadap kelompok lingkungan seperti yang dialami Avalanche ini memiliki landasan teoretis yang cukup relevan. Hal ini sejalan dengan teori Good Environmental Governance yang dikembangkan oleh ahli hukum lingkungan seperti Edith Brown Weiss. Teori ini menegaskan bahwa partisipasi masyarakat merupakan unsur paling mendasar dalam tata kelola lingkungan hidup, karena rakyat harus aktif terlibat dalam proses pengambilan kebijakan publik. Dalam dunia di mana suara rakyat tidak pernah didengar bahkan dibungkam, tindakan radikal akan muncul sebagai upaya terakhir ketika jalur resmi tidak pernah diberikan dan dibuka. Dalam game ini, Avalanche dijadikan musuh yang harus dilawan, diserang melalui propaganda negatif, dan tidak sedikit anggotanya yang dibunuh oleh pasukan Shinra. Dan dalam perspektif hukum lingkungan, aktivitas pejuang lingkungan hidup ini telah diakui dan dilindungi. Dalam game ini, pembungkaman terhadap suara rakyat ini tidak hanya menimpa kelompok aktivis, tetapi juga menjangkau kelompok yang paling rentan sekalipun, yaitu masyarakat adat yang direpresentasikan melalui sosok Aerith.

Tragedi Masyarakat Adat dan Akar Kuasa Oligarki

Dampak paling tragis dari keserakahan oligarki ekstraktif ini menimpa masyarakat adat, yang direpresentasikan oleh karakter bernama Aerith. Sebagai keturunan terakhir ras Cetra yang memiliki ikatan spiritual dengan planet, Aerith diposisikan oleh Shinra semata-mata sebagai “aset” untuk dieksploitasi. Mereka ingin menangkap, meneliti, dan memanfaatkannya untuk menemukan Promised Land, sumber Lifestream yang akan memberi mereka kekuasaan tak terbatas. Penindasan terhadap Aerith adalah potret akurat dari perampasan hak masyarakat adat di dunia nyata, di mana penggusuran fisik, perampasan ruang hidup, hingga penghancuran identitas budaya dilakukan secara masif dan membabi buta. Dalam cerita ini, Aerith kehilangan ibunya, kebebasannya, dan pada akhirnya nyawanya hilang di tangan Sephiroth, yang mana semuanya berakar dari kemampuannya berkomunikasi dengan planet.

Tragedi yang menimpa Aerith ini mengundang pertanyaan yang lebih fundamental: mengapa penindasan semacam ini terus terjadi? Mengapa hal ini terus terjadi? Jawabannya terletak pada definisi oligarki menurut Jeffrey A. Winters (2011). Winters mendefinisikan oligark sebagai pelaku yang menguasai dan mengendalikan konsentrasi besar sumber daya material yang dapat digunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi sosial eksklusifnya. Winters menekankan bahwa kunci memahami oligarki adalah wealth defense (strategi pertahanan kekayaan), yang terdiri dari property defense (pertahanan harta) dan income defense (pertahanan pendapatan). Dalam cerita ini, Shinra telah melakukan segala cara untuk mempertahankan kekayaan sekaligus kekuasaannya, meskipun cara-cara itu tidaklah lazim. Namun, ambisi yang tidak mengenal batas ini pada akhirnya tidak hanya menghancurkan korban-korbannya, tetapi juga berbalik menjadi bumerang bagi sang oligarki itu sendiri.

Kutukan Sumber Daya (Resource Curse)

Ambisi tanpa batas oligarki pada akhirnya menjadi senjata makan tuan. Eksperimen gila Shinra dalam melahirkan Sephiroth, sebuah senjata biologis yang berbalik memberontak dan memicu bencana Meteor untuk menghancurkan penciptanya. Sephiroth adalah produk dari Jenova Project, proses kawin silang antara sel alien Jenova dengan manusia. Namun, Sephiroth tidak mengetahui asal usulnya. Ia tumbuh sebagai pahlawan, idola bagi anak-anak seperti Cloud. Ketika akhirnya mengetahui kebenaran bahwa ia adalah hasil eksperimen dan bahwa manusia adalah “pengkhianat” yang menghancurkan ras Cetra, ia menjadi gila dan memutuskan untuk menghancurkan dunia.

Kisah Sephiroth ini bukan sekadar drama pengkhianatan biasa, melainkan sebuah cerminan yang memiliki akar teoretis dalam kajian ekonomi politik sumber daya alam. Tragedi ini adalah alegori murni dari Resource Curse (kutukan sumber daya), sebuah konsep yang dikembangkan oleh para ekonom seperti Richard Auty (1993), Jeffrey Sachs dan Andrew Warner (1997), serta Michael L. Ross (2001). Teori ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada sumber daya alam tidak selalu meningkatkan kesejahteraan. Dalam banyak kasus, justru menurunkan kualitas demokrasi dan stabilitas ekonomi. Kekayaan yang dihasilkan tidak terdistribusi secara adil, melainkan menimbulkan efek negatif baik bagi oligarki itu sendiri maupun masyarakat secara umum. Dalam game ini, Sephiroth adalah “kutukan” yang lahir dari eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam, itu sendiri sebuah eksperimen Shinra untuk menciptakan senjata super yang justru menghasilkan ancaman lebih besar bagi Shinra sendiri.

Refleksi

Pada akhirnya, Final Fantasy VII berdiri jauh melampaui batas-batas fiksi interaktif. Mahakarya ini merupakan cermin reflektif yang memantulkan krisis ekologis dan keruntuhan supremasi hukum di dunia nyata. Kisah perlawanan terhadap hegemoni Shinra menjadi peringatan tajam tentang bahaya nyata dari state capture corruption, sebuah kondisi fatal ketika instrumen regulasi dan institusi publik sepenuhnya dirampas untuk melayani hasrat akumulasi modal segelintir elite oligarki. Ketika korporasi bertransformasi menjadi penguasa yang kebal terhadap akuntabilitas, eksploitasi energi yang seharusnya ditujukan untuk kemaslahatan publik justru berubah menjadi mesin perusak ekosistem yang bekerja secara masif dan terstruktur. Sebagai konklusi, epik dari serial ini meninggalkan sebuah panggilan moral sekaligus gugatan etis yang mendesak untuk segera direspons. Perlawanan terhadap ekstraktivisme rakus menuntut lebih dari sekadar kesadaran kultural semata. Mensyaratkan hadirnya instrumen keadilan yang kuat, keberanian untuk meruntuhkan monopoli sumber daya, dan ketegasan nyata dalam memutus rantai impunitas korporasi. Memastikan tegaknya keadilan ekologis bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan sebuah perjuangan mutlak yang harus direbut sebelum bumi yang kita pijak benar-benar kehilangan kemampuannya untuk menopang kehidupan.

Referensi

Auty, R. M. (1993). Sustaining Development in Mineral Economies: The Resource Curse Thesis.Routledge

Kaufmann, D. (2024). State capture matters: Considerations and empirics toward a worldwide measure. In Public Sector Performance, Corruption and State Capture in a Globalized World (pp. 207–237). Routledge.

Robison, R., & Hadiz, V. R. (2004). Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets. Routledge.

Safa’at, R. (2026). Oligarki, Lingkungan, dan Korupsi: Urgensi Undang-Undang Anti-Oligarki dalam Tata Kelola Sumber Daya Alam Berkelanjutan. Malang: Inteligensia Media.

Weiss, E. B. (n.d.). Environmental Governance. MIT Press.

Winters, J. A. (2011). Oligarchy. Cambridge University Press.

Mohammad Khairul Muqorobin
Kontributor
Mohammad Khairul Muqorobin
Hakim Pengadilan Negeri Pulang Pisau

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

final fantasy VII resensi game Role playing game
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026

Belajar Keadilan Iklim dari Secangkir Kopi: Setiap Daerah Punya Cerita, Alam Punya Keunikan

October 15, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026

Belajar Keadilan Iklim dari Secangkir Kopi: Setiap Daerah Punya Cerita, Alam Punya Keunikan

October 15, 2026

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026
Don't Miss

Siaga Karhutla, PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi dan Praktik Pemadaman Api

By Yudhistira Ary PrabowoOctober 22, 20260

Seram Bagian Barat – Pengadilan Negeri Dataran Hunipopu menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Materi Penanganan Kebakaran bersama…

Tanam Pohon Santigi di Papandayan, Syamsul Arief: Alam Juga Punya Hak untuk Hidup

October 22, 2026

PTUN Banda Aceh Selaraskan Peran SPI Kawal Tindak Lanjut Pengawasan

October 22, 2026

The Quiet Sustainability of Chōtei: A Voluntary Legacy of Court-Based Mediation

October 22, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Siaga Karhutla, PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi dan Praktik Pemadaman Api
  • Tanam Pohon Santigi di Papandayan, Syamsul Arief: Alam Juga Punya Hak untuk Hidup
  • PTUN Banda Aceh Selaraskan Peran SPI Kawal Tindak Lanjut Pengawasan
  • The Quiet Sustainability of Chōtei: A Voluntary Legacy of Court-Based Mediation
  • Mahasiswa UNISKI “Geruduk” PN Kayuagung, Ada Apa?

Recent Comments

  1. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  2. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  3. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
  4. Abdul Mustopa on Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia
  5. H. Moh. Nasri on Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Sebagai Pembelajaran Diklat Pertama di Hari Pertama
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
  • Avatar photo Reza Kresna Adipraya
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Robiatul Adawiyah, S.H., M.H.
  • Avatar photo Rocky Gerung
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.