Senja di Pantai Losari Makassar sore itu menjadi penutup sederhana setelah rangkaian Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pasca Pelatihan Teknis Yudisial bagi Hakim dan Panitera/Panitera Pengganti di Pengadilan Militer Tinggi V Makassar selesai dilaksanakan. Di sela menyelesaikan laporan hasil kegiatan yang harus segera dirampungkan, kami memilih mengambil jeda sejenak di tepi pantai. Matahari perlahan turun di ufuk barat, meninggalkan semburat cahaya di permukaan laut. Angin pantai berembus cukup sejuk, membawa suasana berbeda setelah seharian berada dalam forum yang serius. Di hadapan kami tersaji pisang epe dan segelas saraba hangat. Tidak jauh dari tempat duduk, seorang pemusik jalanan mulai memainkan gitar dan menyanyikan beberapa lagu. Suasananya sederhana, tetapi justru terasa pas untuk menutup rangkaian pekerjaan hari itu.
Pisang epe yang masih hangat dengan rasa manis gula aren berpadu dengan saraba yang hangat dan beraroma jahe. Sesekali perhatian kembali tertuju pada layar laptop yang masih terbuka. Laporan Monev belum sepenuhnya selesai dan sejumlah catatan masih harus ditata agar dapat menjadi satu kesatuan laporan yang utuh. Di antara pekerjaan tersebut, alunan musik dari pemusik jalanan terdengar silih berganti bersama suara ombak dan keramaian pengunjung Losari. Jeda sederhana itu seolah memberikan ruang untuk menarik napas sekaligus melihat kembali perjalanan kegiatan yang telah dilaksanakan. Tidak ada suasana resmi, tidak ada ruang rapat, tetapi justru dalam keadaan seperti itulah berbagai catatan dapat direnungkan dengan lebih tenang.
Monev pasca pelatihan pada hakikatnya bukan sekadar kegiatan untuk memastikan bahwa sebuah pelatihan telah dilaksanakan. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh proses tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan pengembangan kompetensi aparatur peradilan setelah kembali menjalankan tugasnya. Karena itu, laporan Monev yang sedang disusun tidak diarahkan untuk mengulang seluruh hasil temuan yang telah dicatat secara khusus, melainkan untuk merangkai catatan tersebut menjadi bahan yang dapat dipertanggungjawabkan dan ditindaklanjuti. Setiap masukan dari satuan kerja mempunyai arti ketika ditempatkan dalam kerangka perbaikan program pelatihan. Dengan demikian, Monev menjadi bagian dari proses pembelajaran kelembagaan, bukan sekadar tahapan administratif setelah kegiatan berakhir.
Dari sudut pandang penyelenggara pelatihan, laporan tersebut akan menjadi bahan penting untuk disampaikan kepada Kepala Badan Strategi Kebijakan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI (Kabadan Strajak Diklat Kumdil). Laporan itu diharapkan dapat memberikan gambaran yang objektif mengenai kebutuhan pelatihan yang perlu mendapatkan perhatian pada masa mendatang. Apa yang ditemukan di lapangan perlu diterjemahkan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan materi, kedalaman pembahasan, sasaran peserta, metode pembelajaran, maupun bentuk pendalaman yang diperlukan. Dengan demikian, pelatihan yang akan datang tidak hanya disusun berdasarkan pola yang telah berjalan, tetapi benar-benar berangkat dari kebutuhan nyata para hakim, panitera, dan panitera pengganti dalam melaksanakan tugasnya.
Di sinilah catatan Monev memiliki nilai strategis. Pelatihan tidak seharusnya berhenti ketika peserta meninggalkan ruang pembelajaran. Pengetahuan yang diperoleh harus diuji dalam pekerjaan, sedangkan pengalaman ketika melaksanakan pekerjaan harus kembali menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelatihan berikutnya. Siklus semacam inilah yang perlu terus dibangun agar pengembangan kompetensi aparatur peradilan tidak berjalan secara rutin tanpa arah, tetapi bergerak mengikuti kebutuhan dan perkembangan tugas peradilan. Oleh karena itu, laporan yang sedang diselesaikan di tepi Losari malam itu bukan hanya catatan tentang apa yang telah dilakukan, melainkan juga bahan untuk memikirkan apa yang harus dilakukan setelahnya.
Saraba perlahan tinggal separuh gelas, sementara pisang epe di piring mulai tersisa. Lampu-lampu di sepanjang Pantai Losari mulai menyala dan suasana sore berganti menjadi malam. Laptop masih terbuka, beberapa catatan masih diperiksa dan disusun kembali. Di tengah suasana yang jauh dari ruang kerja formal itu, terasa bahwa pekerjaan Monev sesungguhnya mempunyai tujuan yang lebih besar daripada sekadar menyelesaikan sebuah laporan. Ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa suara dan kebutuhan dari satuan kerja tidak berhenti sebagai catatan, tetapi sampai kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pertimbangan dalam merancang pelatihan yang lebih tepat dan relevan. Dari sinilah laporan tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan antara pengalaman pelatihan yang telah berlangsung dengan kebutuhan peningkatan kompetensi pada masa yang akan datang. Malam semakin larut ketika laporan mulai menemukan bentuk akhirnya. Alunan musik jalanan masih terdengar, angin laut terus berembus, sementara suasana Losari perlahan menjadi lebih tenang. Pisang epe dan saraba yang sederhana ternyata menjadi teman yang cukup untuk menemani pekerjaan sekaligus memberi ruang untuk berpikir. Dari senja di Losari itu, satu hal terasa semakin jelas: kualitas pelatihan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh bagaimana kegiatan dilaksanakan, tetapi juga oleh seberapa serius lembaga mendengarkan apa yang terjadi setelah pelatihan selesai. Karena itu, Monev harus ditempatkan sebagai bagian penting dari proses perbaikan berkelanjutan. Catatan yang disusun malam itu akan menjadi bahan laporan kepada Kabadan Strajak Diklat Kumdil, dengan harapan dapat ditindaklanjuti menjadi dasar penyusunan pelatihan berikutnya yang lebih tajam, lebih relevan, dan benar-benar menjawab kebutuhan peradilan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp:
SUARABSDKMARI

