Hampir setiap putusan hakim dibuka dengan kata yang sama, “menimbang”. Kata ini hadir begitu konsisten hingga kerap diperlakukan sebagai formula baku yang tidak lagi dipertanyakan. Banyak pembaca langsung melompat ke amar putusan, seolah bagian pertimbangan hanyalah pengantar administratif menuju hasil akhir. Padahal, justru pada kata menimbang itulah kerja kehakiman menemukan identitasnya yang paling khas.
Bahasa hukum tidak pernah netral. Pilihan kata membentuk cara berpikir dan menandai batas peran. Ketika hakim memilih kata menimbang, pilihan tersebut bukan kebiasaan kosong. Kata itu merekam suatu jenis kerja yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh profesi hukum lain, meskipun berada dalam ekosistem yang sama.
Menimbang dan Posisi Unik kata “Menimbang”
Keistimewaan kata menimbang semakin terlihat ketika dibandingkan dengan produk kerja profesi hukum lain. Jaksa, pengacara, akademisi, peneliti, bahkan panitera, sama-sama bekerja dengan hukum, argumentasi, dan rasionalitas. Namun, menarik untuk dicermati bahwa dalam produk formal yang dihasilkan profesi-profesi tersebut, kata menimbang hampir tidak pernah digunakan. Kalaupun muncul, maknanya berbeda secara mendasar.
Surat dakwaan dan tuntutan jaksa dibangun dengan struktur menyatakan, menguraikan, dan membuktikan. Fokus utamanya adalah menegaskan bahwa unsur delik telah terpenuhi dan layak dimintakan pertanggungjawaban pidana. Di sana terdapat analisis dan penilaian, tetapi tidak ada menimbang dalam pengertian kehakiman. Jaksa tidak diminta menyeimbangkan kepentingan yang berlawanan secara final, melainkan memperjuangkan satu posisi yang diyakini benar menurut hukum.
Hal yang serupa berlaku pada pengacara. Pleidoi, replik, dan duplik adalah produk argumentatif yang sah untuk berpihak. Bahasa yang digunakan adalah membantah, mempertahankan, dan meyakinkan. Ketika seorang pengacara menggunakan kata menimbang, maknanya bersifat retoris dan persuasif, bukan institusional. Kata tersebut digunakan untuk mengajak, bukan untuk memutus.
Dalam dunia akademik dan penelitian hukum, perbedaan ini semakin jelas. Artikel ilmiah, disertasi, dan laporan penelitian dibangun dengan menganalisis, mengkritisi, dan menyimpulkan. Bahkan ketika membahas konflik nilai atau ketegangan norma, akademisi tidak berkewajiban menutup perdebatan. Ketidakpastian justru sering dipertahankan sebagai kekuatan analisis. Oleh karena itu, kata menimbang hampir tidak memiliki tempat sebagai penanda kerja. Produk akademik sah berhenti pada pertanyaan terbuka.
Panitera, sebagai tulang punggung administratif peradilan, bekerja dengan ketelitian prosedural. Produk kerja panitera adalah berita acara, penetapan administratif, dan pengelolaan berkas. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang muncul dari proses mencatat, menerangkan, dan memastikan kelengkapan formal. Ketika kata menimbang muncul dalam konteks administratif, maknanya bersifat teknis dan terbatas, bukan reflektif dan normatif.
Perbandingan ini menunjukkan satu hal penting. Kata menimbang hanya menemukan makna penuhnya dalam putusan hakim. Di sanalah kata tersebut berfungsi bukan sekadar sebagai kata kerja, melainkan sebagai penanda tanggung jawab final. Menimbang dalam putusan bukan ajakan, bukan analisis terbuka, dan bukan keberpihakan. Menimbang adalah pernyataan bahwa seluruh argumentasi telah dipertemukan dan satu pilihan harus diambil.
Benjamin N. Cardozo menegaskan bahwa hakim berada pada posisi yang tidak dimiliki aktor hukum lain, karena harus memilih di tengah berbagai kemungkinan yang sama-sama rasional dan sah secara hukum (Cardozo, The Nature of the Judicial Process, 1921). Kata menimbang menjadi simbol linguistik dari posisi tersebut. Melalui kata itu, hakim mengakui bahwa keputusan diambil bukan karena kebenaran tunggal yang absolut, melainkan karena pertimbangan yang bertanggung jawab.
Dengan demikian, perbedaan utama antara hakim dan profesi hukum lain bukan terletak pada kecanggihan argumen, melainkan pada kewajiban untuk mengakhiri perdebatan secara sah. Kata menimbang menandai titik di mana hukum berhenti berdiskusi dan mulai memerintah.
Menimbang sebagai Verba Proses dalam Semantik dan Tata Bahasa
Dalam kajian semantik dan gramatika, verba dapat dibedakan antara verba hasil dan verba proses. Menimbang termasuk verba proses karena menunjuk pada tindakan yang berlangsung dalam waktu dan belum mengandung finalitas (Vendler, “Verbs and Times”, 1957). Berbeda dengan verba seperti memutus atau menetapkan yang bersifat terminatif, menimbang secara linguistik menandai keadaan belum selesai. Hal ini menjelaskan mengapa kata tersebut secara alamiah diletakkan sebelum amar putusan dan tidak pernah sesudahnya.
Secara semantik relasional, menimbang mengandaikan lebih dari satu objek yang diperbandingkan. Kata ini tidak pernah berdiri tunggal. Dalam teori makna relasional, verba semacam ini mengandung perbandingan implisit meskipun objek pembandingnya tidak selalu dinyatakan secara eksplisit (Cruse, Lexical Semantics, 1986).
Dalam analisis leksikal, kata menilai berfokus pada pemberian kualitas atau skor, sementara menganalisis menunjuk pada pemecahan masalah ke dalam bagian-bagian konseptual. Menimbang berbeda karena menggabungkan aspek komparatif, prosesual, dan orientasi pada keputusan (Leech, Semantics, 1981).
Perbedaan makna ini menjelaskan mengapa menimbang memiliki daya ilokusi yang lebih kuat dibandingkan kata-kata lain yang tampak sinonim. Ketika kata atau simbol dipertahankan hanya sebagai formalitas, makna substantifnya berisiko menguap. Jean Baudrillard mengingatkan bahwa simbol yang kehilangan relasinya dengan proses nyata akan berubah menjadi simulasi, bukan representasi makna (Baudrillard, Simulacra and Simulation, 1981).
Dalam konteks kehakiman, menimbang yang tidak lagi mencerminkan proses berpikir berisiko menjadi tanda kosong, serupa dengan timbangan yang tampak lurus tetapi tidak pernah benar-benar digunakan.
Menimbang sebagai Sumber Legitimasi
Kekuasaan kehakiman tidak bertumpu pada kekuatan fisik atau politik. Putusan hakim ditaati karena dianggap sah dan pantas. Legitimasi ini tidak lahir dari jabatan semata, tetapi dari keyakinan bahwa proses menimbang dilakukan secara jujur dan rasional.
Cardozo menegaskan bahwa kepercayaan publik terhadap pengadilan bergantung pada kemampuan hakim menunjukkan bahwa keputusan lahir dari pertimbangan yang dapat dipahami dan dipertanggungjawabkan, bukan dari kehendak personal (Cardozo, 1921). Menimbang menjadi jembatan antara kewenangan dan kepercayaan tersebut.
Dalam konteks ini, kata menimbang berfungsi sebagai pernyataan etis sekaligus institusional. Kata tersebut menyampaikan kesadaran bahwa kewenangan besar selalu disertai risiko besar, dan bahwa risiko tersebut harus dihadapi melalui pertimbangan yang terbuka.
Timbangan yang Miring sebagai Metafora Kerja Hakim
Simbol timbangan dalam dunia peradilan sering digambarkan tidak sepenuhnya lurus. Gambaran ini kerap dibaca sebagai ketidakseimbangan. Padahal, kemiringan tersebut justru mencerminkan proses menimbang yang sedang berlangsung. Keadilan jarang hadir dalam bentuk simetri yang sempurna. Sengketa hukum hampir selalu mengandung ketegangan antara fakta dan norma, antara kepastian dan rasa keadilan. Selama proses berpikir berlangsung, timbangan berada dalam keadaan bergerak.
Jean Baudrillard mengingatkan bahwa dalam masyarakat modern, simbol dapat kehilangan makna ketika hanya dipertahankan sebagai tanda formal tanpa proses substantif di baliknya (Baudrillard, Simulacra and Simulation, 1981). Dalam konteks kehakiman, timbangan yang hanya tampil lurus dan sempurna berisiko menjadi simulasi keadilan. Timbangan yang miring justru lebih jujur, karena menandakan bahwa keadilan tidak diambil secara instan, melainkan melalui proses pertimbangan yang nyata.
Dengan demikian, kemiringan timbangan bukan cacat simbolik, melainkan pengakuan bahwa keadilan adalah proses pencarian yang selalu berisiko.
Penutup
Kata menimbang bukan sekadar pembuka putusan. Kata tersebut adalah penanda identitas profesi hakim. Melalui menimbang, hakim dibedakan dari jaksa yang menuntut, pengacara yang membela, panitera yang mengelola administrasi, dan akademisi yang menganalisis hukum dari kejauhan.
Menimbang adalah kerja yang memikul beban, menerima risiko, dan menuntut legitimasi. Di dalam kata itu terkandung kesadaran bahwa hukum tidak pernah sederhana dan bahwa setiap keputusan selalu memiliki harga. Selama proses menimbang dijaga sebagai kerja berpikir yang jujur dan bertanggung jawab, negara hukum memiliki alasan yang kuat untuk tetap dipercaya.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


