Ketua Mahkamah Agung, Sunarto, menjamu para delegasi hakim dan pimpinan lembaga peradilan dari 11 negara dalamwelcome dinner yang digelar di Grand Hyatt Jakarta, Senin malam (9/2/2026). Jamuan ini menjadi bagian penting dari rangkaian Seremoni Laporan Tahunan Mahkamah Agung Tahun 2025, sekaligus ruang diplomasi yudisial yang mempertemukan peradilan Indonesia dengan komunitas peradilan global.
Delegasi yang hadir berasal dari Arab Saudi, Australia, China, Iran, Korea, Kuwait, Lao PDR, Malaysia, Qatar, Singapura, dan Timor Leste. Para tamu internasional tersebut dijadwalkan turut menghadiri Sidang Istimewa Laporan Tahunan Mahkamah Agung di Gedung Mahkamah Agung pada keesokan harinya.
Acara diawali dengan jamuan makan malam dalam suasana hangat dan bersahabat. Di sela jamuan, Ketua MA menyampaikan sambutan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kehadiran para delegasi kehakiman dari berbagai yurisdiksi. Dalam sambutannya, Ketua MA menegaskan bahwa pertemuan ini tidak sekadar seremoni, melainkan bagian dari komitmen Mahkamah Agung RI untuk terus membuka diri dalam percakapan global tentang peradilan.

Ketua MA menjelaskan bahwa Laporan Tahunan Mahkamah Agung merupakan tradisi kelembagaan yang dijalankan secara konsisten sejak 2004 sebagai wujud akuntabilitas publik. Melalui forum ini, Mahkamah Agung menyampaikan capaian, tantangan, dan arah pembaruan peradilan Indonesia kepada publik dan para pemangku kepentingan, termasuk komunitas peradilan internasional.
Dalam konteks global, kehadiran para delegasi negara sahabat dipandang sebagai bagian dari judicial diplomacy—sebuah ruang dialog yang memungkinkan pertukaran pengalaman, pembelajaran bersama, dan saling pengertian antar sistem hukum yang berbeda. Ketua MA menekankan bahwa perbedaan tradisi dan yurisdiksi justru menjadi kekayaan dalam membangun peradilan yang berkeadilan dan berintegritas.

Ketua MA juga berbagi pengalaman Indonesia saat menghadiri Opening of the Legal Year di berbagai negara, seperti Singapura dan Malaysia. Dari forum-forum tersebut, Indonesia belajar bagaimana lembaga peradilan membangun komunikasi publik, memperkuat legitimasi institusional, serta menjaga independensi dan kepercayaan masyarakat.
Yang ingin dihadirkan Indonesia melalui jamuan ini, ujar Ketua MA, adalah suasana keterbukaan dan kebersamaan—ketika para hakim dan pimpinan peradilan dapat berdiskusi secara informal, setara, dan saling belajar dari praktik terbaik masing-masing negara.
Menutup sambutannya, Ketua MA menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat hal-hal yang belum sepenuhnya berkenan bagi para tamu. Sikap ini ditegaskan sebagai bagian dari kerendahan hati institusi peradilan Indonesia yang terus berupaya belajar dan berbenah di tengah dinamika global.
Acara kemudian ditutup dengan pertukaran cendera mata antara Ketua MA dan para delegasi, sebagai simbol persahabatan dan komitmen untuk memperkuat jejaring kerja sama antarperadilan lintas negara.

Malam itu, di Jakarta, peradilan Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah. Ia hadir sebagai mitra dialog—menautkan pengalaman nasional ke dalam percakapan global tentang keadilan, integritas, dan masa depan peradilan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


