Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tantangan Hakim Ekonomi Syariah di Era Digital

4 February 2026 • 08:20 WIB

Memprediksi Risiko di Masa Depan

4 February 2026 • 08:03 WIB

BPK Mulai Pemeriksaan Terinci Laporan Keuangan MA Tahun Anggaran 2025 di BSDK Kumdil

3 February 2026 • 22:06 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Equilibrium Doctrine: Mencari Titik Tengah Keadilan dalam KUHP 2023 dan KUHAP 2025
Artikel Features

Equilibrium Doctrine: Mencari Titik Tengah Keadilan dalam KUHP 2023 dan KUHAP 2025

Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.3 February 2026 • 12:10 WIB6 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Ketika Hukum Terlalu Keras atau Terlalu Lunak

Dalam praktik peradilan pidana, persoalan paling serius sering kali bukan ketiadaan hukum, melainkan ketiadaan keseimbangan.

Hukum yang terlalu keras berpotensi berubah menjadi alat penindasan, sementara hukum yang terlalu lunak berisiko kehilangan wibawa serta kepercayaan publik.

Pada titik inilah pembaruan hukum pidana nasional melalui Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tahun 2023 (KUHP 2023) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Tahun 2025 (KUHAP 2025) menjadi relevan untuk dibaca, tidak semata sebagai perubahan norma, melainkan sebagai pergeseran cara berpikir.

Keduanya membawa pesan yang sama: keadilan pidana tidak boleh lagi dijalankan secara ekstrem, baik ekstrem represif maupun ekstrem permisif.

Istilah equilibrium doctrine atau doktrin keseimbangan memang tidak tertulis secara eksplisit dalam batang tubuh kedua  undang-undang tersebut. Namun semangatnya terasa kuat. Ia hadir sebagai benang merah yang menyatukan hukum pidana materiil dan hukum pidana formil dalam satu arah yang sama, yakni mencari titik tengah keadilan hukum.

Dari Kepastian Hukum ke Keadilan Hukum

Selama bertahun-tahun, hukum pidana Indonesia sangat menekankan kepastian hukum. Selama unsur terpenuhi dan prosedur dijalankan, keadilan dianggap tercapai.

Akan tetapi, pengalaman praktik menunjukkan bahwa kepastian hukum tidak selalu identik dengan keadilan hukum.

KUHP lama cenderung memposisikan pidana sebagai respons utama terhadap setiap pelanggaran. Pelaku menjadi pusat perhatian, sementara korban dan konteks sosial sering berada di pinggir. Di sisi lain, KUHAP lama memberikan kewenangan besar kepada aparat penegak hukum dengan mekanisme pengawasan yang relatif terbatas.

Pembaruan hukum pidana berangkat dari refleksi kritis atas realitas tersebut. Hukum pidana yang baik bukan hanya pasti, tetapi juga adil secara substantif. Di sinilah doktrin keseimbangan menemukan maknanya: sebagai upaya sadar untuk menimbang secara proporsional kepentingan negara, masyarakat, korban, dan pelaku dalam kerangka keadilan hukum.

KUHP 2023: Pidana sebagai alat bukan sebagai tujuan

KUHP 2023 menandai perubahan penting dalam cara negara memandang pidana. Pidana tidak lagi ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen kebijakan hukum.

Tujuan pemidanaan tidak lagi tunggal. Di samping pembalasan atas kesalahan, pidana juga diarahkan pada pencegahan, perbaikan pelaku, pemulihan korban, serta perlindungan masyarakat.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa KUHP 2023 tidak berpihak secara ekstrem, melainkan berusaha menjaga keseimbangan kepentingan dalam bingkai keadilan hukum.

Konsep kesalahan pun mengalami pendalaman. Penilaian terhadap perbuatan pidana tidak berhenti pada terpenuhinya unsur formal, tetapi juga memperhatikan kondisi batin pelaku dan situasi konkret peristiwa.

Baca Juga  Kebebasan Berekspresi Sebagai Hak Konstitusional

Pendekatan ini bukan pelemahan hukum, melainkan penguatan keadilan hukum yang hidup dalam kenyataan sosial.

Korban juga memperoleh posisi yang lebih bermakna. Ia tidak lagi sekadar pelengkap proses, tetapi subjek yang kepentingannya patut dipertimbangkan dalam penyelesaian perkara. Relasi antara negara, pelaku, dan korban pun menjadi lebih seimbang dan manusiawi.

KUHAP 2025: Menyeimbangkan Kekuasaan dan Hak

Jika KUHP 2023 menjawab pertanyaan apa yang adil, maka KUHAP 2025 menjawab pertanyaan bagaimana keadilan hukum itu dijalankan. Di sinilah doktrin keseimbangan diuji secara konkret dalam praktik peradilan.

KUHAP 1981 kerap dikritik karena belum sepenuhnya menjamin peradilan yang adil. Penahanan yang terlalu mudah, keterlambatan akses bantuan hukum, serta praktik pembuktian yang mengabaikan cara memperoleh alat bukti menjadi sorotan serius.

KUHAP 2025 hadir dengan pendekatan yang lebih berimbang. Kewenangan aparat penegak hukum tetap diakui, tetapi diimbangi dengan penguatan hak-hak prosedural tersangka dan terdakwa. Prinsip due process of law tidak lagi sekadar jargon, melainkan fondasi utama keadilan hukum dalam proses peradilan pidana.

Tersangka diposisikan sebagai subjek hukum sejak awal proses. Korban mulai diakui kepentingannya dalam mekanisme acara pidana.

Hakim pun didorong untuk tidak sekadar menjadi penjaga formalitas prosedural, melainkan pengawal keadilan hukum yang hidup dan rasional.

Pengakuan Bersalah dan Plea Bargain: Napas Kebaruan

Salah satu napas kebaruan paling terasa dalam pembaruan hukum pidana nasional adalah masuknya konsep pengakuan bersalah dan mekanisme yang mendekati plea bargain.

Isu ini kerap disalahpahami seolah-olah hukum pidana Indonesia sekadar meniru sistem Anglo-Saxon. Padahal, pendekatan yang dibangun KUHP 2023 dan KUHAP 2025 justru memiliki karakter khas Indonesia.

Dalam sistem lama, pengakuan bersalah sering diposisikan secara ambivalen. Di satu sisi ia dianggap sebagai alat bukti, di sisi lain dicurigai sebagai jalan pintas yang rawan tekanan. Tidak jarang pengakuan justru kehilangan nilai keadilannya.

KUHP 2023 dan KUHAP 2025 mencoba keluar dari jebakan tersebut. Pengakuan bersalah tidak lagi dilihat semata sebagai alat bukti, melainkan sebagai peristiwa hukum yang memiliki konsekuensi prosedural dan etik. Di sinilah doktrin keseimbangan bekerja secara nyata.

Dari Pengakuan ke Pertanggungjawaban Yang Disadari

Pendekatan baru ini menempatkan pengakuan bersalah sebagai bentuk pertanggungjawaban yang disadari, bukan sekadar pernyataan verbal. Pengakuan harus lahir secara sukarela, dengan pemahaman atas konsekuensinya, serta berada dalam pengawasan proses yang adil.

Sikap kooperatif dan pengakuan bersalah dapat dipertimbangkan dalam kerangka pemidanaan. Hal ini mencerminkan keseimbangan antara kepentingan negara untuk menegakkan hukum, kepentingan korban untuk memperoleh kepastian dan pemulihan, serta kepentingan pelaku untuk diperlakukan secara manusiawi.

Baca Juga  Pesan Burung

Pengakuan bersalah tidak lagi dipandang sebagai kelemahan terdakwa, melainkan sebagai titik awal rekonstruksi keadilan hukum.

KUHAP 2025 dan Plea Bargain Versi Indonesia

KUHAP 2025 memberikan kerangka prosedural bagi pengakuan bersalah. Walaupun tidak menggunakan istilah plea bargain secara eksplisit, semangatnya terlihat jelas: penyederhanaan proses dengan tetap menjaga keadilan hukum.

Berbeda dengan plea bargain yang bersifat transaksional, pendekatan Indonesia menempatkan hakim sebagai penjaga keseimbangan.

Pengakuan atau kesepakatan tidak boleh menjadi hasil tawar-menawar tertutup yang mengabaikan kebenaran materiil, kepentingan korban, dan rasa keadilan masyarakat.

Yang dibangun bukan “jual beli perkara”, melainkan mekanisme pengakuan bersalah yang dikontrol secara yudisial. Efisiensi boleh dicari, tetapi keadilan hukum tidak boleh dikorbankan.

Keseimbangan sebagai Etika Kekuasaan Negara

Doktrin keseimbangan pada hakikatnya adalah etika penggunaan kekuasaan pidana. Negara memang memegang monopoli pemidanaan, tetapi monopoli itu tidak boleh dijalankan secara sewenang-wenang.

Dalam negara hukum, hukum acara pidana sering disebut sebagai “konstitusi kecil” bagi warga negara yang berhadapan dengan kekuasaan. Tanpa keseimbangan, hukum acara mudah tergelincir menjadi instrumen represi. Sebaliknya, tanpa ketegasan, hukum kehilangan daya ikat.

KUHAP 2025 berusaha berdiri di tengah dua kutub tersebut demi terjaganya keadilan hukum yang beradab.

Hakim sebagai Penjaga Titik Tengah

Dalam keseluruhan desain ini, peran hakim menjadi sangat menentukan. Keseimbangan tidak pernah sepenuhnya bisa dirumuskan dalam pasal. Ia hidup dalam pertimbangan, nalar, dan nurani hakim.

KUHP 2023 dan KUHAP 2025 menyediakan kerangka dan ruang. Namun ruang itu hanya bermakna jika diisi dengan kecakapan epistemik, integritas, dan keberanian intelektual. Hakimlah yang pada akhirnya menentukan apakah hukum bekerja sebagai keadilan hukum, atau berhenti sebagai prosedur yang dingin.

Penutup: Keadilan Hukum sebagai Proses yang Berimbang

Pada akhirnya, equilibrium doctrine mengingatkan kita pada satu hal mendasar: keadilan hukum bukan soal siapa yang menang, melainkan bagaimana hukum dijalankan.

KUHP 2023 dan KUHAP 2025 mengajak sistem peradilan pidana Indonesia bergerak dari hukum yang kaku menuju hukum yang berkeadilan, dari kepastian semata menuju keadilan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mencari titik tengah memang tidak mudah. Namun justru di situlah martabat hukum dan peradilan diuji.

Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Kontributor
Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Koordinator Hakim Yustisial Lingkungan Peradilan Umum Pada BSDK Mahkamah Agung

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel Equilibrium Doctrine kuhap 2025 kuhp 2023 titik tengah
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Tantangan Hakim Ekonomi Syariah di Era Digital

4 February 2026 • 08:20 WIB

Memprediksi Risiko di Masa Depan

4 February 2026 • 08:03 WIB

BPK Mulai Pemeriksaan Terinci Laporan Keuangan MA Tahun Anggaran 2025 di BSDK Kumdil

3 February 2026 • 22:06 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Tantangan Hakim Ekonomi Syariah di Era Digital

4 February 2026 • 08:20 WIB

BPK Mulai Pemeriksaan Terinci Laporan Keuangan MA Tahun Anggaran 2025 di BSDK Kumdil

3 February 2026 • 22:06 WIB

Rendah Hati, Hati-Hati, dan Sepenuh Hati

3 February 2026 • 18:23 WIB

Ketua MA Lantik 18 KPT; Menegaskan Posisi PT sebagai Voor Post Mahkamah Agung

3 February 2026 • 13:12 WIB
Don't Miss

Tantangan Hakim Ekonomi Syariah di Era Digital

By Cik Basir4 February 2026 • 08:20 WIB0

Prolog Saat ini Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan (BSDK) MA…

Memprediksi Risiko di Masa Depan

4 February 2026 • 08:03 WIB

BPK Mulai Pemeriksaan Terinci Laporan Keuangan MA Tahun Anggaran 2025 di BSDK Kumdil

3 February 2026 • 22:06 WIB

Rendah Hati, Hati-Hati, dan Sepenuh Hati

3 February 2026 • 18:23 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Tantangan Hakim Ekonomi Syariah di Era Digital
  • Memprediksi Risiko di Masa Depan
  • BPK Mulai Pemeriksaan Terinci Laporan Keuangan MA Tahun Anggaran 2025 di BSDK Kumdil
  • Rendah Hati, Hati-Hati, dan Sepenuh Hati
  • Ketua MA Lantik 18 KPT; Menegaskan Posisi PT sebagai Voor Post Mahkamah Agung

Recent Comments

No comments to show.
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com :  redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.