Jakarta — Di tengah hiruk pikuk penutupan Pameran Kampung Hukum, satu booth tampak paling ramai dan hidup: Pengurus Pusat Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI). Bukan semata karena letaknya, melainkan karena gagasan yang ditawarkan—bahwa profesi hakim tidak hanya tentang palu sidang dan berkas perkara, tetapi juga tentang manusia, kreativitas, dan kebersamaan.
Booth IKAHI tampil berbeda dengan menghadirkan beragam karya dan aktivitas yang merepresentasikan sisi lain kehidupan hakim. Buku-buku karya para hakim dipajang berdampingan dengan lukisan, video hobi, dan ruang interaksi yang terbuka. Di ruang inilah, publik internal peradilan diajak melihat hakim sebagai subjek utuh—berpikir, berkarya, dan berkreasi.
Menurut Pengurus Komisi I PP IKAHI, Firris Barlian, booth IKAHI secara sadar dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang menyeluruh. Tidak hanya menampilkan karya intelektual, tetapi juga membangun suasana yang hangat dan inklusif.
“IKAHI menampilkan buku karya para hakim, lukisan dan video hobi, barista dengan kopi kekinian, toko merchandise, hingga toga hakim dari empat lingkungan peradilan,” ujar Firris.
Kehadiran barista dan kopi kekinian menjadi magnet tersendiri. Di sela agenda formal Laporan Tahunan dan rangkaian kegiatan Kampung Hukum, booth IKAHI menjadi ruang rehat—tempat bertukar cerita, menyapa kolega lintas daerah, sekaligus mempererat jejaring profesi.
Tak hanya itu, IKAHI juga menghadirkan layanan yang menyentuh kebutuhan praktis warga peradilan. Meja pemeriksaan kesehatan dari Prodia, konsultasi asuransi Mandiri Inhealth, serta layanan perbankan dari BTN dan BSI memperlihatkan perhatian IKAHI terhadap aspek kesejahteraan dan perlindungan hakim.
Permainan interaktif berhadiah turut menyemarakkan suasana. Aktivitas ini bukan sekadar hiburan, melainkan cara cerdas membangun kedekatan emosional antaranggota IKAHI dan pengunjung pameran. Di booth ini, suasana cair tanpa kehilangan martabat profesi.
Firris mencatat, pengunjung booth IKAHI terpantau paling ramai dibandingkan booth lainnya. Hakim dari berbagai daerah datang silih berganti—bukan hanya untuk membeli merchandise sebagai buah tangan, tetapi juga memanfaatkan momen berfoto bersama jajaran Pengurus Pusat IKAHI yang hadir.
Keramaian tersebut menjadi penanda bahwa IKAHI memiliki daya tarik simbolik yang kuat. Ia bukan sekadar organisasi profesi, melainkan rumah bersama bagi para hakim—tempat nilai, identitas, dan solidaritas dirawat.
Meski demikian, evaluasi tetap menjadi bagian penting. Firris menyampaikan bahwa secara umum penataan booth sudah baik dan pameran berlangsung seru, namun masih terdapat catatan teknis yang perlu diperbaiki.
“Pendingin ruangan dan kipas masih kurang maksimal. Ke depan, kualitas pendingin perlu ditingkatkan agar pengunjung lebih nyaman,” ujarnya.
Ia juga menyarankan agar penyediaan booth penjual minuman ditambah, sehingga pengunjung tidak merasa kehausan. Selain itu, petugas teknis pendukung diharapkan mengenakan seragam yang mudah dikenali, guna memudahkan koordinasi di lapangan.
Catatan-catatan ini menunjukkan bahwa IKAHI tidak hanya hadir untuk meramaikan, tetapi juga serius dalam membangun pengalaman pameran yang berkualitas. Kritik disampaikan bukan untuk mengurangi apresiasi, melainkan sebagai bagian dari perbaikan berkelanjutan.
Di penghujung pameran, Booth IKAHI meninggalkan kesan kuat: profesi hakim yang berwibawa namun tetap membumi. Di ruang kecil Kampung Hukum, IKAHI berhasil menghadirkan wajah peradilan yang hangat, kreatif, dan dekat dengan warganya sendiri.
Di booth ini, profesi hakim tidak hanya dipamerkan—ia dirayakan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


