Perjalanan dari Bhopal menuju Jabalpur memakan waktu sekitar tujuh jam. Kami, rombongan hakim Indonesia yang sedang mengikuti short course di India, menempuh perjalanan darat menuju High Court of Madhya Pradesh. Namun, bukan panjangnya perjalanan yang paling membekas. Bukan pula soal jarak, medan, atau kelelahan. Yang justru tertinggal dalam ingatan adalah satu bunyi yang terus berulang, bertalu-talu sepanjang jalan: klakson.
Di jalan raya, sesungguhnya kita dapat membaca wajah sebuah masyarakat. Cara orang berkendara, memberi jalan, menyalip, berhenti, menunggu, dan membunyikan klakson adalah bahasa sosial yang jujur. Jalan raya adalah ruang publik yang paling telanjang. Di sana, watak individual, kesabaran kolektif, kepatuhan pada aturan, dan kemampuan menghormati orang lain diuji secara spontan. Karena itu, tidak berlebihan bila peradaban sebuah kota kadang dapat dilihat dari cara warganya memperlakukan jalan raya.
Klakson, dalam lalu lintas, pada mulanya adalah alat komunikasi. Ia hadir sebagai tanda, peringatan, atau pemberitahuan. Ia diperlukan ketika ada bahaya, ketika ada kendaraan yang tidak melihat, ketika ada situasi yang membutuhkan kewaspadaan. Tetapi, ketika klakson dibunyikan tanpa konteks, tanpa jeda, tanpa keperluan yang jelas, ia berubah dari alat komunikasi menjadi sumber gangguan. Dari tanda keselamatan menjadi kebisingan. Dari peringatan menjadi ekspresi kegelisahan sosial.
Di dalam bus menuju Jabalpur itu, seorang rekan saya, Ganjar Prima Anggara, Hakim Yustisial pada Biro Humas dan Hukum Mahkamah Agung, tiba-tiba berbisik sambil tersenyum getir: “Pak Irvan, saya sudah hitung melalui riset kecil, Setiap lima detik, pasti klakson.” Mula-mula saya menganggapnya sekadar gurauan perjalanan. Tetapi setelah diperhatikan, benar juga. Klakson itu seakan menjadi irama tetap. Bukan karena ada kendaraan yang menghalangi. Bukan karena ada situasi darurat. Bukan pula karena ada bahaya yang harus dihindari. Ia dibunyikan begitu saja, seolah-olah jalan raya memang harus selalu diisi oleh bunyi.
Dari sanalah refleksi itu muncul. Apakah kita memang perlu terus-menerus memperingatkan orang lain dengan suara keras? Apakah setiap gerak di jalan raya harus disertai tekanan bunyi? Apakah ruang publik harus selalu dikuasai oleh siapa yang paling nyaring? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini membawa kita pada satu hal yang lebih dalam: bahwa kebisingan bukan semata soal suara, tetapi soal cara manusia memperlakukan manusia lain.
Klakson yang dibunyikan sembarangan menunjukkan hilangnya jeda. Padahal, peradaban selalu membutuhkan jeda. Jeda untuk menahan diri. Jeda untuk membaca situasi. Jeda untuk memastikan bahwa kehadiran kita tidak mengganggu orang lain. Di jalan raya, jeda itu tampak dalam kesediaan memberi ruang, tidak menyerobot, tidak memaksa, tidak membuat orang terkejut. Sebaliknya, klakson yang bertalu-talu sering kali memperlihatkan kegagalan kita mengelola kesabaran.
Saya teringat pada beberapa kota yang pernah memberi kesan berbeda. Bandung pernah viral karena dianggap sebagai kota yang “jarang terdengar klakson”. Orang dari kota besar yang datang ke sana merasa heran: mengapa jalanan bisa begitu tenang? Yogyakarta, kota tempat saya tumbuh dan besar, juga memberi pengalaman serupa. Setidaknya dalam pengalaman saya, pengendara relatif tidak mudah membunyikan klakson, terutama pengendara mobil pribadi. Kebiasaan itu bahkan membentuk cara saya berkendara. Saya sering bergurau kepada teman-teman, mungkin klakson mobil saya belum sampai dua puluh kali saya bunyikan.
Karena itu, Ketika hari ke-2 saya berada di Bhopal dan sempat jalan-jalan di tengah padatnya kota, tiba-tiba diklakson oleh seorang pengendara motor, meski saya hanya sedang berada di pinggir jalan, refleks kultural saya langsung bekerja. Ada rasa kaget. Bahkan sedikit tersinggung. Bukan karena saya merasa paling benar, tetapi karena dalam kebiasaan saya, klakson adalah sesuatu yang serius. Ia bukan hiasan bunyi. Ia bukan pengganti sapaan. Ia bukan tanda bahwa kita sedang lewat. Klakson adalah peringatan, dan peringatan seharusnya hanya diberikan ketika memang ada sesuatu yang patut diperingatkan.
Namun fenomena “lantunan” klakson di Bhopal-Jabalpur juga tidak sulit ditemukan di beberapa kota di Tanah Air Indonesia tercinta. Masih ingat fenomena Telolet para bus antar kota yang saat ini masih terus dirindukan oleh anak-anak di pinggir jalan?. Secukup itukah taraf peradaban kita?
Di sinilah klakson menjadi cermin kecil peradaban. Kota yang semakin beradab bukan kota yang sepenuhnya tanpa suara, tetapi kota yang warganya tahu kapan harus bersuara dan kapan harus diam. Bukan kota yang meniadakan klakson, tetapi kota yang menggunakan klakson secara proporsional. Sebab kualitas hidup di ruang publik tidak hanya ditentukan oleh gedung yang tinggi, jalan yang lebar, atau kendaraan yang modern. Ia juga ditentukan oleh kemampuan warganya menjaga harmoni, ritme, dan ketenangan bersama.
Klakson yang berisik dan tidak beraturan itu pada akhirnya tidak berhenti sebagai fenomena jalan raya. Ia seperti menemukan wajah barunya dalam kehidupan media sosial kita hari ini. Dunia digital kerap dipenuhi suara yang nyaring, cepat, dan bertalu-talu, tetapi tidak selalu disertai akurasi, konteks, validitas, dan rujukan yang memadai. Banyak orang merasa harus segera bersuara, segera menanggapi, segera menghakimi, bahkan ketika informasi belum utuh dan duduk persoalan belum terang. Seperti klakson yang dibunyikan tanpa alasan, suara di media sosial sering kali hadir bukan untuk memberi arah, melainkan untuk menambah bising.
Dalam arti itu, klakson yang tidak tertib menjadi metafora atas ketidakberdayaan kita memandu kehidupan bersama yang semakin ramai dan semakin tidak terkendali. Kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat, tetapi justru sering kehilangan kesabaran. Kita memiliki banyak kanal untuk berbicara, tetapi tidak selalu memiliki ketelitian untuk memeriksa. Kita mudah bereaksi, tetapi tidak selalu siap mengklarifikasi. Padahal, keadaban justru sering dimulai dari kemampuan menahan diri: tidak semua hal harus segera dikomentari, tidak semua keadaan harus dibalas dengan suara keras, dan tidak semua kegaduhan membutuhkan tambahan kebisingan.
Saya jadi teringat perjalanan lain yang lebih dekat: dari Jakarta menuju Megamendung, ke kampus BSDK Mahkamah Agung. Ada suasana yang terasa berubah ketika kendaraan mulai meninggalkan kepadatan kota dan mendekati kawasan pembelajaran di Megamendung. Ruang perlahan menyepi. Udara terasa lebih tertata. Ritme perjalanan ikut melambat. Barangkali memang demikian watak dunia keilmuan: ia membutuhkan ruang yang lebih hening, suasana yang lebih jernih, dan jarak dari kebisingan. Dalam sunyi itulah pikiran dapat bekerja lebih tertib, nurani dapat mendengar lebih halus, dan manusia belajar untuk tidak selalu membunyikan klakson dalam hidupnya
Peradaban, pada akhirnya, tidak selalu hadir dalam wacana besar. Ia kadang hadir dalam perkara kecil: cara antre, cara menyeberang, cara memberi jalan, cara menahan emosi, dan cara membunyikan klakson. Dari Bhopal ke Jabalpur, saya belajar bahwa perjalanan tujuh jam tidak hanya membawa kami menuju gedung pengadilan tinggi. Ia juga membawa satu pelajaran sunyi: bahwa menghormati orang lain di jalan raya dapat dimulai dari keberanian sederhana untuk tidak selalu membunyikan klakson.
Di depan Academy High Court Madhya Pradesh di Jabalpur, saya sempat berhenti sejenak di depan gambar Mahatma Gandhi dengan kutipan yang sangat terkenal: “Be the change you wish to see in the world.” Jadilah perubahan yang ingin engkau lihat di dunia. Dalam konteks perjalanan ini, kalimat itu terasa menemukan maknanya yang sederhana tetapi dalam. Bila kita ingin melihat jalan raya yang lebih tertib, ruang digital yang lebih beradab, percakapan publik yang lebih jernih, dan wajah dunia yang lebih utuh, perubahan itu tidak selalu harus dimulai dari seruan besar. Ia bisa dimulai dari keberanian kecil untuk menahan diri: tidak membunyikan klakson tanpa perlu, tidak bersuara tanpa data, tidak bereaksi tanpa klarifikasi, dan tidak menambah bising pada dunia yang sudah terlalu ramai. Peradaban, rupanya, sering dimulai dari kesediaan manusia untuk lebih dulu mengubah cara ia hadir di tengah kehidupan bersama.

Suara BSDK से जुड़ी ताज़ा ख़बरें पाने के लिए WhatsApp चैनल SUARABSDKMARI को फ़ॉलो करें।


