Author: I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra

Perjalanan dari High Court of Madhya Pradesh di Jabalpur belum benar-benar berakhir. Justru, dari sanalah jeda kecil sebelum perjalanan panjang itu dimulai. Rombongan bersiap kembali menuju National Judicial Academy di Bhopal—perjalanan tujuh jam sudah menanti. Namun sebelum benar-benar meninggalkan Jabalpur, bus berbelok sejenak. “Teman-teman, kita tidak jadi mampir membeli oleh-oleh karena tidak cukup waktu, tapi sudah dikondisikan oleh teman-teman NJA untuk menuju air terjun,” kata salah satu peserta rombongan—berwajah tampan, klimis, dan bertugas sebagai hakim yustisial yang merangkap sebagai LO. Beberapa peserta tampak keberatan. “Apa tidak lebih baik langsung ke Bhopal saja?” terdengar usulan dari belakang. Suasana sempat terbelah. Waktu…

और पढ़ें

Pagi masih muda di Jabalpur. Udara sudah terasa panas dan sedikit pengap, meski matahari baru naik. Halaman Madhya Pradesh State Judicial Academy mulai ramai, staf berlalu-lalang menyiapkan agenda hari itu di lingkungan High Court of Madhya Pradesh. Di kamar masing-masing, pagi berjalan seperti biasa—hingga berubah dalam satu momen kecil. Shankar setelah membuka jendela dan masih menatap deretan kursi yang masih terpajang dihalaman belum dirapikan setelah menjadi sarana yang megah dalam penyambutan kedatangan rombongan malam tadi, menatap tas ranselnya sejenak.Tidak ada baju putih. Di waktu yang hampir bersamaan, di kamar lain, Kumar juga menyadari hal yang sama dalam diam—ia tidak membawa…

और पढ़ें

Bus itu melaju dari Bhopal menuju Jabalpur, dikawal polisi di depan dan belakang. Sirene sesekali meraung, tapi yang paling terasa justru guncangan di kursi paling belakang—tempat dua hakim Indonesia itu duduk, terpental setiap kali roda menghantam lubang dan melindas speed bump. “Kalau ini bukan bus, ya roller coaster,” kata Shankar sambil mencengkeram sandaran kursi. Kumar tertawa keras. “Roller coaster rasa India… plus bonus sapi.” Belum selesai tawanya, bus menghantam lubang, lalu langsung naik di speed bump. Tubuh mereka terangkat, lalu jatuh lagi ke kursi. “Ini bukan lagi perjalanan,” kata Kumar sambil mengusap punggungnya, “ini pengingat bahwa hidup memang tidak selalu…

और पढ़ें

Transit tiga jam di Indira Gandhi International Airport, lalu terbang lanjut ke Raja Bhoj Airport. Waktu singkat, tapi cukup untuk menangkap satu hal: saree masih hidup. Di tengah bandara modern, di antara koper dan layar digital, perempuan-perempuan India tetap melilitkan kain panjang itu dengan tenang, tidak ramai, tidak demonstratif, tapi kuat. Kesan itu tidak berhenti di bandara. Saat masuk ruang perpustakaan National Judicial Academy, suasananya berbeda—lebih formal, lebih akademik. Tapi saree tetap ada. Ms Shruti Jane Eusebius, Research Fellow di sana, memakainya dari hari pertama sampai hari ketiga ini. Konsisten dan sederhana, tapi justru di situ letak pesannya: tradisi tidak…

और पढ़ें

Kenangan lama itu tiba-tiba hidup kembali. Pagi di asrama diklat, di National Judicial Academy, Bhopal, menyapa dengan cara yang sederhana: selembar kertas berwarna abu tua yang terselip di bawah pintu. Di atasnya tertulis The Times of India. Ya, sebuah koran—barang yang kini terasa semakin langka di Indonesia. Dulu, koran adalah teman setia. Ia hadir di sela kopi pagi, menemani perjalanan, dan menjadi jendela dunia bagi banyak orang. Ia bukan sekadar kertas, melainkan ruang berpikir. Bahkan secara etimologis, kata “koran” diyakini berasal dari bahasa Belanda courant atau krant, yang berarti lembar berita yang terbit secara berkala—menandakan sejak awal fungsinya sebagai pembawa…

और पढ़ें