Mahkamah Agung RI melalui Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan senantiasa menerbitkan karya-karya tulis secara konsisten, baik berupa buku cetakan hingga buku elektronik, yang salah satunya bisa diakses di https://ebook.bsdk.mahkamahagung.go.id/ Adapun buku yang telah diterbitkan tak hanya seputar teknis peradilan dan kebijakan serta kajian-kajian hukum tetapi ada pula seputar manajemen dan kepemimpinan peradilan, sebut saja buku dengan judul The Judiciary Kepemimpinan Pengadilan (Benchbook on Managament and Leadership edisi pertama) yang lahir dari kerjasama MA RI dengan Sekolah Tinggi Manajemen PPM di tahun 2021. Penulis merasa pembahasan tentang kepemimpinan di dunia peradilan sangat relevan diangkat dalam kerangka mewujudkan visi MA RI yakni Terwujudnya Badan Peradilan Yang Agung, salah satu misinya adalah Meningkatkan Kualitas Kepemimpinan Badan Peradilan.
Buku tersebut dalam Bab 1 Kepemimpinan, tepatnya halaman 16 membahas tentang Gaya Kepemimpinan Sebagai Sumber Konflik. Penulis mencatat setidaknya ada 5 aspek dalam gaya kepemimpinan yang buruk menjadi penyebab paling umum dari permusuhan atau rendahnya semangat kerja di kantor. Kelima gaya kepemimpinan yang sering membuat pegawai frustasi, yaitu kurangnya komunikasi, arahan, otoritas, kepercayaan dan kehadiran. Berikut penjelasan ringkas atas masing-masing gaya tersebut. Pertama, Kurangnya komunikasi. Komunikasi sangat penting dalam hal kepemimpinan yang efektif. Tidak hanya arahan dan ekspektasi yang harus jelas, tetapi kita juga perlu menghargai masukan dari semua pegawai. Menurut survei, 91% pegawai mengatakan pemimpin mereka kurang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Pemimpin yang buruk seringkali menempatkan prioritas rendah pada perhatian dan umpan balik. Ketika pegawai tidak merasa didengarkan, mereka akan mengurangi upaya pencapaian sasaran kinerja mereka. Yang mereka butuhkan adalah arahan yang jelas dan tegas. Kedua, Kurangnya arahan. Seorang pemimpin yang tidak memiliki tujuan membuat takut semua orang yang terlibat. Atasan yang baik adalah yang tahu saat ini berada dimana, ingin kemana dan caranya seperti apa untuk sampai di tempat yang diinginkan. Sebagai pemimpin, kita harus menyampaikan tujuan organisasi secara jelas kepada semua pegawai. Tanpa arahan yang baik, para pegawai tidak tahu apa yang harus dilakukan dan akhirnya frustasi. Ketiga, Kurangnya otoritas. Seorang pemimpin yang baik membutuhkan informasi, masukan atau nasihat dari pegawainya. Namun, seorang pemimpin juga perlu mengendalikan situasi sebelum menajdi tidak terkendali. Pemimpin memang harus kritis, mengawasi jalannya proses dalam organisasinya. Namun seorang pemimpin yang tidak memiliki wewenang, tidak kuat, yang tidak melakukan apa-apa dan berpegang teguh pada status quo bisa sama meruskanya. Keempat, Kurangnya kepercayaan. Pegawai sering kali merasa kehilangan semangat oleh pemimpin yang tidak memberinya kepercayaan, tipe orang yang gampang mengkritik dan melakukan micromanage. Oleh karena itu, penting sekali untuk mempercayai pengetahuan dan keahlian pegawai kita. Terakhir, kurangnya kehadiran. Seorang pemimpin yang baik harus hadir. Bahkan ketika pegawai bekerja dari rumah, seorang pemimpin harus mendelegasikan tugas, melacak waktu, menanggapi pertanyaan mereka dan banyak lagi.
Lantas pertanyaannya bagaimana menjadi pemimpin yang lebih baik berdasarkan konteks diatas? Maka jawabnya tidak dapat dilepaskan bukan saja pengetahuan penulis tetapi juga pengalaman penulis memimpin dan dipimpin di satuan kerja. Yang pertama dan utama, pemimpin harus adil. Mendengarkan para pihak (rekan/pegawai) yang berkonflik dan jangan masuk justru jadi pihak. Pemimpin harus obyektif, tidak bisa berlandaskan atas rasa suka dan tidak suka atas seseorang, itu pemikiran dangkal dan bukanlah sosok pemimpin yang layak diteladani. Kedua, menyelesaikan konflik. Menyambung pertama tadi, pemimpin jangan justru masuk kedalam pusaran konflik apalagi memihak, ia seyogyanya menyelesaikan konflik dengan ragam pendekatan mengikuti kultur masyarakat setempat. Ketiga, mampu terima umpan balik. Pemimpin harus siap terima saran juga kritik. Jangan defensif dan selalu merasa benar, itulah kesalahan pemimpin. Terkadang bukankah sesungguhnya orang yang mengkritik adalah orang yang tulus dan peduli, sebaliknya orang yang memuji bisa jadi malah menjerumuskan. Keempat, jadi motivator bukan provokator. Pemimpin yang baik adalah yang berhasil kaderisasi rekan dan bawahannya jadi lebih baik bahkan lebih berhasil dari dirinya sendiri. Pemimpin bukan malah memprovokasi pihak luar untuk menjerumuskan rekan atau bawahannya, melainkan senantiasa memberi jalan dan motivasi agar keberhasilan bisa diraih oleh setiap pegawai sehingga kinerja dan kontribusinya bisa berdampak nyata bagi satuan kerja dan Masyarakat.
Terkadang kita bahkan tidak bisa membedakan mana yang berkarakter pemimpin mana yang berkarakter bos. Singkatnya, pemimpin adalah mereka yang berani mengapresiasi rekan/pegawai atas kinerja, capaian dan prestasi yang diperoleh satuan kerja kepada pihak lain dan memikul tanggung jawab apabila terjadi kesalahan yang dibuat oleh satuan kerja. Sebaliknya sikap bos adalah mereka yang mengklaim sepihak capaian bersama suatu satuan kerja dan menimpakan kesalahan satuan kerja kepada orang lain. Pemimpin adalah sosok role model yang akan senang melihat keberhasilan rekan kerja karena berdampak positif terhadap satuan kerjanya sedangkan bos adalah sosok yang tidak akan senang rekan atau pihak lain lebih berhasil atau maju daripada dirinya sendiri. Lantas, apakah kita sudah jadi pemimpin untuk diri kita sendiri? Sudahkan kita jadi pemimpin terbaik versi kita untuk satuan kerja?
Suara BSDK से जुड़ी ताज़ा ख़बरें पाने के लिए WhatsApp चैनल SUARABSDKMARI को फ़ॉलो करें।


