Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ayah Dipidana 20 Tahun, Anak 8 Tahun: PN Wangi Wangi Adili Pembunuhan Berencana yang Dilakukan Bersama

October 16, 2026

Menggagas Rumah Aman bagi Hakim di Tengah Tuntutan Profesionalisme dan Beban Psikologis Peradilan

October 16, 2026 · 08:30 WIB

Sudah Final Kok Masih Bisa DiPertanyakan?

October 16, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Menggagas Rumah Aman bagi Hakim di Tengah Tuntutan Profesionalisme dan Beban Psikologis Peradilan

Menggagas Rumah Aman bagi Hakim di Tengah Tuntutan Profesionalisme dan Beban Psikologis Peradilan

Itsnaatul LathifahBy Itsnaatul LathifahOctober 16, 2026 · 08:30 WIB8 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Seorang hakim setiap hari mendengarkan manusia yang sedang berada pada titik paling sulit dalam hidupnya. Ia berhadapan dengan wajah-wajah penuh harap akan keadilan, di saat yang sama berhadapan dengan wajah-wajah rakus, arogan dan manipulatif dalam setiap kepentingan. Ia mendengar pasangan yang tidak lagi mampu mempertahankan rumah tangga, orang tua yang berebut hak asuh anak, korban yang mencari keadilan, keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, hingga pihak-pihak yang merasa hidupnya berubah karena sebuah putusan. Hari-hari bergulat dengan fakta dan emosi rumit yang muncul dalam setiap lembar berkas dan persidangan panjang yang melelahkan. Ia dituntut tetap tenang, objektif, dan mampu mengambil keputusan di tengah berbagai tekanan.

Namun bagaimana jika kondisinya tidak seideal yang kita harapkan? ketika hakim sendiri sedang tidak baik-baik saja, kepada siapa ia harus bercerita?

Pertanyaan itu terasa semakin relevan setelah Komisi Yudisial pada Kamis, 17 September 2026, menyelenggarakan webinar dan kick-off kajian Kertas Kebijakan Judicial Wellbeing mengenai dukungan layanan psikologis bagi hakim. Langkah ini layak diapresiasi karena kesehatan mental hakim mulai ditempatkan sebagai bagian penting dari ekosistem peradilan, bukan semata-mata sebagai persoalan pribadi seorang hakim.

Dalam kegiatan tersebut, KY memaparkan hasil survei internal tahun 2025 terhadap 567 hakim. Sebanyak 88,4 persen responden menilai konseling penting, 70 persen pernah mengalami stres kerja, dan 34,7 persen sedang mengalami stres aktif. Angka-angka tersebut tentu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada manusia, ada keluarga, ada perjalanan hidup, dan ada hakim-hakim yang setiap hari tetap menjalankan persidangan meskipun mungkin sedang berjuang dengan dirinya sendiri.

Hakim juga manusia

Profesi hakim sering ditempatkan dalam ruang yang seolah menuntut ketahanan tanpa batas, dan kesempurnaan tanpa cela. Hakim harus independen. Harus berintegritas. Harus profesional. Harus mampu mengendalikan emosi. Harus tahan terhadap tekanan. Harus menjaga martabat. Harus berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Namun, hakim tetap manusia.

Di balik toga besarnya ada seseorang yang dapat merasa takut, putus asa, cemas, kecewa, kehilangan, kesepian, lelah, bahkan mengalami tekanan psikologis yang tidak mudah dijelaskan kepada orang lain. Persoalannya, dalam kultur profesi yang sangat menekankan keteguhan dan ketahanan, jujur dan mengakui bahwa diri sendiri sedang membutuhkan bantuan terkadang justru menjadi sesuatu yang sulit.

Ada hakim yang mungkin merasa tidak nyaman bercerita kepada pasangan dan keluarga karena tidak ingin membuatnya ikut cemas.

Bercerita kepada teman sesama hakim pun tidak selalu mudah. Bagaimana mungkin seseorang meminta temannya menjadi tempat bersandar ketika ia tahu temannya sendiri mungkin sedang memikul beban yang tidak jauh berbeda?

Meminta bantuan profesional juga belum tentu sederhana. Tidak semua daerah memiliki psikolog atau konselor yang mudah diakses. Di daerah tertentu, pilihan tenaga profesional sangat terbatas. Biaya konseling juga tidak selalu ringan. Belum lagi munculnya kekhawatiran lain: Bagaimana jika orang tahu bahwa saya seorang hakim yang sedang menjalani konseling?

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang mempertahankan dirinya, pertanyaan itu dapat menjadi alasan untuk memilih diam.

Hakim dan Luka yang tidak terlihat

Saya teringat sebuah kisah yang pernah disampaikan oleh seorang hakim tinggi pengawas dalam sebuah pembinaan daerah. Beliau memiliki pengalaman sebagai mantan Hakim Tinggi Badan Pengawasan. Dalam pembinaannya, diceritakan mengenai Hakim terlapor yang telah menjalani proses pemeriksaan. Setelah proses tersebut selesai, yang bersangkutan dinyatakan tidak bersalah dan namanya dipulihkan. Namun tidak lama, Hakim tersebut dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri.

Baca Juga  7 Pesan Ketua MA Untuk Juru Bicara Pengadilan

Kisah tersebut menyisakan sebuah renungan yang tidak mudah dilupakan: mungkin sebuah aduan, apapun itu beban dan risiko pekerjaan seorang hakim bisa diselesaikan di atas kertas, namun dampak psikologisnya tidak mudah untuk diselesaikan.

Kita sering memiliki mekanisme untuk memeriksa. Kita memiliki mekanisme untuk mengawasi. Kita memiliki mekanisme untuk menjatuhkan atau memulihkan reputasi. Tetapi apakah kita juga memiliki mekanisme yang cukup untuk membantu seseorang memulihkan dirinya setelah melewati tekanan psikologis yang berat?

Pertanyaan tidak dimaksudkan untuk menyalahkan mekanisme yang sudah ada. Justru sebaliknya, mungkin sudah waktunya sistem kita berkembang lebih jauh dan memperbaiki sisi lemah yang ada. Karena dalam banyak hal, yang tidak terlihat justru menyisakan persoalan dan terasa amat dalam.

Stigma dan Pilihan untuk Diam

Kesehatan mental memiliki persoalan yang berbeda dengan penyakit fisik. Ketika mengalami demam, kita mencari obat. Ketika mengalami sakit gigi, kita datang ke dokter gigi. Tetapi ketika pikiran terasa penuh, tidur terganggu, kecemasannya tidak kunjung reda, atau merasa tidak mampu lagi menanggung tekanan hidup, kadang kala yang pilihan tertuju pada makanan yang tidak sehat sebagai pelampiasan, penambahan kafein dan rokok berlebihan, aktivitas fisik di waktu tidak lumrah, atau rebahan tak berarti sembari scroll konten tak berisi. Tidak mudah bagi banyak orang menyadari kondisi mentalnya sendiri dan mengatakan: Saya membutuhkan bantuan.

Apalagi bagi seorang hakim.

Ada stigma yang mungkin muncul dari lingkungan. Ada kekhawatiran bahwa konseling akan dianggap sebagai tanda kelemahan. Ada kecemasan bahwa kondisi psikologis akan dikaitkan dengan kemampuan menjalankan tugas. Bahkan mungkin ada kekhawatiran cerita yang disampaikan dalam ruang konseling akan keluar dari ruang tersebut dan berubah menjadi persoalan kedinasan, hukuman disiplin misalnya.

Karena itu, layanan kesehatan mental bagi hakim membutuhkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar fasilitas: yakni sebuah kepercayaan.

Semua orang harus percaya bahwa ketika seorang hakim datang untuk meminta pertolongan, ia datang sebagai seorang manusia yang sedang membutuhkan bantuan, bukan sebagai seorang pejabat yang sedang diperiksa apalagi dihakimi. Di titik inilah menggagas rumah aman bagi hakim adalah sebuah keniscayaan.

Dari Klinik Utama Mahkamah Agung Menuju Rumah Aman

Mahkamah Agung telah melakukan langkah penting dengan menghadirkan Klinik Utama Mahkamah Agung. Kehadiran fasilitas tersebut menunjukkan bahwa kesehatan warga peradilan merupakan sesuatu yang layak mendapatkan perhatian kelembagaan. Di masa yang akan datang, dapat dipikirkan pengembangan layanan kesehatan mental sebagai bagian dari satu kesatuan dari layanan Klinik Utama Mahkamah Agung yang dapat diakses oleh Hakim dan apartur peradilan di mana pun berada.

Layanan kesehatan mental bukan hanya sebuah ruang yang secara formal diberi nama poli jiwa, melainkan sebuah rumah aman. Sebuah sistem layanan yang memungkinkan seorang hakim dan aparatur peradilan mendapatkan konseling secara mudah, aman, profesional, dan rahasia, baik secara langsung maupun melalui digital platform. Terlebih kondisi saat ini layanan konseling kesehatan mental tidak masuk dalam klaim Mandiri Inhealth, asuransi kesehatan yang diterima oleh Hakim.

Hakim dan aparatur peradilan yang bertugas di daerah terpencil tidak harus selalu datang ke pusat layanan. Dengan dukungan teknologi, konsultasi psikologis dapat dilakukan secara daring. Layanan dapat dirancang agar user memiliki akses kepada tenaga profesional yang memahami karakteristik pekerjaan dan lingkungan peradilan, tanpa harus berjibaku menghadapi rumitnya birokrasi layanan kesehatan di daerah-daerah.

Bahkan, penguatan kompetensi tenaga profesional dengan pengetahuan mengenai psikologi forensik dan judicial wellbeing dapat menjadi salah satu pilihan. Sebab, memahami profesi hakim bukan sekadar memahami pekerjaannya. Ada karakteristik tekanan yang khas dalam profesi tersebut.

Baca Juga  Membedah "Wakil Tuhan": Kekuasaan Tanpa Intervensi Dan Tanggung Jawab Moral Sang Hakim

Hakim berhadapan dengan perkara-perkara manusia setiap hari, bekerja dalam ruang yang sarat dengan konflik, harus mengambil keputusan yang berdampak terhadap kehidupan orang lain, sekaligus dituntut menjaga jarak profesional dari berbagai pihak yang berperkara.

Semua itu membutuhkan dukungan psikologis yang tidak kalah serius dibandingkan dukungan kesehatan fisik. Layanan konseling tidak akan efektif apabila hakim masih merasa khawatir bahwa apa yang ia sampaikan dapat menjadi bahan penilaian terhadap dirinya. Karena itu, desain kelembagaan layanan ini perlu benar-benar memperhatikan prinsip kerahasiaan, profesionalitas, independensi, dan batas yang jelas antara layanan kesehatan dengan proses pemeriksaan etik atau kedinasan. Tentu, seperti layanan kesehatan mental pada umumnya, terdapat batas-batas profesional dan hukum yang harus dihormati, khususnya dalam situasi ketika keselamatan seseorang berada dalam risiko serius.

Menjaga Hakim, Menjaga Peradilan

Kita sering berbicara tentang independensi hakim dalam perspektif yang berkaitan dengan intervensi, tekanan, atau pengaruh dari luar. Tetapi independensi juga memiliki dimensi manusiawi. Seorang hakim membutuhkan ruang untuk menjaga kesehatan fisik dan mentalnya agar dapat menjalankan fungsi kehakiman secara optimal. Karena itu, judicial wellbeing tidak semestinya dipandang sebagai fasilitas tambahan atau bentuk privilese bagi hakim, ini adalah investasi terhadap lembaga peradilan.

Hakim yang mendapatkan dukungan ketika mengalami tekanan bukan berarti hakim yang dimanjakan. Sebaliknya, dukungan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa hakim tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan sehat. Langkah KY untuk memulai kajian mengenai judicial wellbeing membuka ruang yang sangat baik untuk membicarakan hal ini secara lebih terbuka. Harapannya, kajian tersebut tidak berhenti sebagai dokumen kebijakan, tetapi dapat berkembang menjadi sistem dukungan yang benar-benar dapat dirasakan hakim di seluruh Indonesia.

Mahkamah Agung menjadi bagian penting dari langkah berikutnya. Lahirnya Klinik Utama Mahkamah Agung menjadi langkah awal yang dapat dikembangkan oleh Mahkamah Agung sebagai bentuk dukungan, keberpihakan, penguatan sistem dan sumber daya peradilan, sebelum satu nyawa tanpa sengaja dikorbankan karena ketiadaan perhatian dalam isu ini.  Bukan karena Mahkamah Agung telah melakukan sesuatu yang kurang, tetapi karena setiap institusi selalu memiliki ruang untuk tumbuh dan menyempurnakan sistem yang sudah ada.

Sadar Sebelum Terlambat

Tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tahun ini, WHO mengangkat tema “Lived experiences heard: real voices, real change” sebuah ajakan agar pengalaman nyata orang-orang yang mengalami persoalan kesehatan mental benar-benar didengar dan ikut membentuk kebijakan serta layanan yang menyangkut kehidupan mereka. Momentum ini semestinya tidak hanya mengajak kita berbicara mengenai kesehatan mental masyarakat secara umum. Ia juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat orang-orang yang selama ini berada di balik sistem pelayanan publik dan penegakan hukum.

Membangun peradilan yang kuat bukan hanya tentang menuntut hakim agar selalu tangguh, berintegritas, dan independen, tetapi juga memastikan mereka memiliki tempat yang aman ketika sedang rapuh. Rumah aman bagi hakim bukanlah tempat untuk menghindari tanggung jawab, melainkan ruang untuk memulihkan diri agar tetap mampu menegakkan keadilan. Karena itu, mari kita bangun kesadaran, wujudkan sistem dukungan yang nyata, profesional, dan menjaga kerahasiaan. Sebab, hakim yang setiap hari menjaga keadilan bagi orang lain juga berhak mendapatkan ruang untuk dijaga sebelum semua terlambat.

Itsnaatul Lathifah
Kontributor
Itsnaatul Lathifah
Hakim Pengadilan Agama Rembang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

hakim judicial welbeing psikologis hakim
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Rekonstruksi Pembagian Harta Bersama atas Aset Digital di Era Ekonomi Digital

October 15, 2026

7 Pesan Ketua MA Untuk Juru Bicara Pengadilan

October 14, 2026

Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia

October 14, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Belajar Keadilan Iklim dari Secangkir Kopi: Setiap Daerah Punya Cerita, Alam Punya Keunikan

October 15, 2026

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,616 Views
Don't Miss

Ayah Dipidana 20 Tahun, Anak 8 Tahun: PN Wangi Wangi Adili Pembunuhan Berencana yang Dilakukan Bersama

By Bintoro Wisnu PrasojoOctober 16, 20260

Wakatobi – Sebuah perkelahian dalam acara kabuenga pada dini hari berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang…

Menggagas Rumah Aman bagi Hakim di Tengah Tuntutan Profesionalisme dan Beban Psikologis Peradilan

October 16, 2026 · 08:30 WIB

Sudah Final Kok Masih Bisa DiPertanyakan?

October 16, 2026

Yang Paling Sulit Diubah Pengadilan Bukan Putusan Melainkan Nama

October 16, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Ayah Dipidana 20 Tahun, Anak 8 Tahun: PN Wangi Wangi Adili Pembunuhan Berencana yang Dilakukan Bersama
  • Menggagas Rumah Aman bagi Hakim di Tengah Tuntutan Profesionalisme dan Beban Psikologis Peradilan
  • Sudah Final Kok Masih Bisa DiPertanyakan?
  • Yang Paling Sulit Diubah Pengadilan Bukan Putusan Melainkan Nama
  • Hakim Wajib Menjaga Keadilan, Negara Wajib Apa?

Recent Comments

  1. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  2. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
  3. Abdul Mustopa on Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia
  4. H. Moh. Nasri on Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Sebagai Pembelajaran Diklat Pertama di Hari Pertama
  5. H. Moh. Nasri on Bedah Kasus di Akhir Kursus: Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Telah Sampai pada Intinya
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Imaniar, S.H., M.H.
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reza Kresna Adipraya
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Robiatul Adawiyah, S.H., M.H.
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.