Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Dari Penempatan ke Pengabdian: Jalan Sunyi Seorang Hakim

Dari Penempatan ke Pengabdian: Jalan Sunyi Seorang Hakim

Raden Heru Wibowo SukatenBy Raden Heru Wibowo SukatenJanuary 27, 2026 · 11:04 WIB9 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pengantar

Tulisan ini lahir sebagai bentuk keprihatinan sekaligus refleksi bersama atas fenomena yang belakangan semakin sering muncul di ruang publik, yakni sikap sebagian hakim yang secara terbuka menyampaikan keluhan dan tuntutan, baik melalui media massa, media sosial, maupun forum-forum diskusi publik, terkait kesejahteraan, fasilitas, dan kondisi penugasan. Fenomena ini terasa semakin problematik ketika keluhan tersebut disuarakan justru di tengah perhatian besar pemerintah yang telah menaikkan tunjangan hakim secara signifikan sebagai bentuk pengakuan atas peran strategis kekuasaan kehakiman.

Menjadi hakim bukanlah kebetulan. Ia adalah pilihan hidup, pilihan sadar, rasional, dan penuh konsekuensi. Sejak awal kita tahu, bahwa profesi ini bukan jalan untuk mencari kemewahan, melainkan jalan pengabdian. Maka ketika hari ini muncul keluhan, kegelisahan, bahkan rasa teraniaya seolah-olah negara abai terhadap hakim, rasanya kita perlu berhenti sejenak, menarik napas, dan bercermin.

 Coba tengok sekeliling kita. Di luar tembok pengadilan, masih banyak rakyat yang berjuang untuk makan hari ini. Masih banyak orang tua yang bingung membayar sekolah anaknya. Masih banyak saudara kita yang sakit namun tak punya pilihan selain pasrah. Lalu, pantaskah kita, hakim yang bergaji layak, memperoleh tunjangan negara, dan dimuliakan oleh sistem hukum, terlalu lantang mengeluh?

Profesi hakim disebut officium nobile bukan tanpa alasan. Kita dipercaya memutus nasib orang, harta, bahkan masa depan, dan negara memberi kita kehormatan, kewenangan, dan perlindungan hukum. Tidak semua Aparatus Sipil Negara (ASN) mendapatkan hak seperti hakim. Kita dimuliakan bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat struktur yang jelas, yaitu gaji khusus, tunjangan khusus, kode etik khusus, dan mekanisme pengawasan khusus. Bahkan dalam kehidupan sosial, status hakim masih dipandang terhormat, seperti pepatah Minang yang berbunyi, “Ditinggikan seranting, didahulukan selangkah”. Maka menjadi aneh jika di tengah kemuliaan itu, kita memposisikan diri seolah-olah profesi paling menderita di republik ini.

Fasilitas, antara Realita dan Rasa Syukur

Mari kita jujur, masih banyak fasilitas publik di daerah memang belum ideal. Tapi siapa yang paling terdampak? … jawabannya adalah, rakyat setempat. Masyarakat asli daerah. ASN daerah. Mereka hidup puluhan tahun dengan kondisi seperti itu, bukan satu atau dua masa tugas. Hakim datang sebagai pendatang, menjalankan tugas negara, lalu mengeluh tentang kondisi yang sejatinya telah lama dialami rakyat setempat. Di titik ini, empati kita seharusnya bergerak keluar, bukan berpusat ke diri sendiri.

Kita sering mengeluh fasilitas kesehatan di daerah minim. Namun mari kita bertanya dengan jujur, seberapa sering kita benar-benar membutuhkan layanan rumah sakit? Alhamdulillah, sebagian besar dari kita masih diberi kesehatan. Kita berangkat kerja, pulang dengan selamat, bisa beraktivitas normal. Bukankah itu nikmat besar? Nikmat yang sering luput kita syukuri karena sibuk membayangkan skenario terburuk yang bahkan belum tentu terjadi.

Mengeluh adalah sifat manusiawi, tetapi tidak setiap sifat manusiawi layak dipelihara dalam setiap profesi. Terlebih dalam profesi hakim, keluh kesah yang diumbar, bukan sekadar ekspresi pribadi, melainkan cerminan sikap batin dan kedewasaan moral seorang penegak keadilan. Hakim yang arif dan bijaksana dituntut memiliki pengendalian diri yang tinggi. Ia dilatih untuk mendengar keluhan orang lain setiap hari di ruang sidang, namun tidak menjadikan keluhan sebagai cara utama merespons keadaan dirinya sendiri. Di situlah letak perbedaannya, hakim bukan sekadar pencari keadilan bagi orang lain, tetapi juga penjaga keseimbangan emosional dan rasional dalam dirinya sendiri.

Sering kali keluhan lahir bukan dari realitas yang sedang dihadapi, melainkan dari kemungkinan-kemungkinan yang dibayangkan. “Bagaimana jika sakit?” “Bagaimana jika fasilitas tidak ada?” “Bagaimana jika terjadi keadaan darurat?” Pertanyaan-pertanyaan ini sah secara logika, namun jika terus-menerus dijadikan dasar keluhan, maka ia perlahan menggerus ketenangan batin dan kejernihan berpikir.

Baca Juga  Usulan Sumpah Tambahan bagi Hakim: Suatu Telaah atas Kekeliruan Konseptual terhadap Makna Irah-Irah sebagai Landasan Motto dan Moralitas Kehakiman

Hakim yang bijak memahami bahwa hidup selalu mengandung ketidakpastian. Bahkan dalam kondisi fasilitas paling lengkap sekalipun, risiko tetap ada. Karena itu, membesarkan kemungkinan terburuk secara berlebihan justru menjauhkan kita dari sikap proporsional dan rasional yang seharusnya menjadi ciri seorang hakim. Lebih dari itu, kebiasaan mengeluh dapat membentuk mentalitas korban. Padahal, seorang hakim dituntut memiliki mentalitas pelayan publik yang tangguh, bukan mentalitas pihak yang merasa paling dirugikan. Ketika hakim terlalu sering mengeluh, wibawa moral perlahan terkikis, dan kepercayaan publik pun berpotensi ikut tergerus.

Nilai-nilai ini sejatinya telah ditegaskan secara eksplisit dalam Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH). Di dalam KEPPH, hakim dituntut untuk menjunjung tinggi integritas, kemandirian, kehormatan dan keluhuran martabat, serta kerendahan hati. Mengeluh secara berlebihan, apalagi dengan nada menyalahkan keadaan, jelas tidak sejalan dengan semangat nilai-nilai tersebut. KEPPH mengingatkan bahwa sikap dan perilaku hakim, baik di dalam maupun di luar kedinasan, harus senantiasa menjaga kepercayaan publik terhadap peradilan.

Meneguhkan Komitmen Awal

Komitmen adalah kata yang sering kita ucapkan, tetapi kerap kita ringankan maknanya. Dalam profesi hakim, komitmen bukan sekadar kalimat administratif yang ditandatangani di atas kertas, bukan pula formalitas untuk meloloskan diri dari tahapan seleksi. Komitmen adalah janji sadar antara individu dengan negara, antara nurani pribadi dengan kepentingan publik.

Sejak awal proses rekrutmen, bahkan jauh sebelum toga dikenakan, setiap calon hakim sudah dihadapkan pada satu pernyataan tegas: “Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Tidak ada tanda bintang, tidak ada klausul pengecualian. Kalimat itu berdiri utuh, jujur, dan apa adanya. Maka ketika kita mengucapkannya, sesungguhnya kita sedang mengukur diri sendiri, bukan mengukur negara. Komitmen tidak diuji ketika penempatan sesuai harapan, fasilitas memadai, dan lingkungan nyaman. Komitmen justru diuji ketika realitas tidak seindah bayangan: daerah terpencil, sarana terbatas, jauh dari keluarga besar, dan jauh dari pusat keramaian. Di titik itulah komitmen menemukan maknanya yang sejati.

Jika setiap kesulitan selalu kita jawab dengan keluhan, maka patut kita bertanya dengan jujur, Apakah sejak awal kita memahami makna pilihan ini?  Ataukah kita hanya siap mengabdi selama negara memenuhi seluruh standar kenyamanan versi pribadi kita?

Negara kita alangkah luas, majemuk, dan belum sepenuhnya merata. Dengan menerima profesi hakim, kita sekaligus menerima kenyataan tersebut. Kita dipanggil bukan hanya untuk mengadili perkara, tetapi juga untuk hadir sebagai simbol negara hukum di tempat-tempat yang justru paling membutuhkan kehadiran negara. Komitmen adalah soal konsistensi batin. Ia menuntut kedewasaan, kesabaran, dan kerelaan. Tidak semua ketidaknyamanan adalah ketidakadilan. Tidak semua keterbatasan adalah bentuk pengabaian. Sebagian adalah konsekuensi logis dari pilihan hidup yang kita ambil dengan sadar. Menyadari arti komitmen berarti berani berdamai dengan realitas, tanpa kehilangan daya kritis, tetapi juga tanpa kehilangan rasa syukur. Dari sanalah lahir hakim yang kokoh, tidak mudah goyah oleh keadaan, tidak mudah larut dalam keluhan, dan tetap tegak menjaga martabat profesinya di mana pun ia ditempatkan.

Dalam perspektif KEPPH, komitmen tersebut tercermin dalam nilai profesionalitas, disiplin, dan tanggung jawab. Hakim dituntut untuk melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, setia pada sumpah jabatan, serta siap mengemban amanah negara dalam kondisi apa pun. Kesediaan ditempatkan di seluruh wilayah NKRI bukan sekadar klausul administratif, melainkan perwujudan nyata dari nilai etik tersebut.

Kenaikan Tunjangan Hakim, Bentuk Perhatian Negara

Pemerintah telah menaikkan tunjangan hakim secara signifikan. Ini fakta, bukan opini. Perhatian Negara ini merupakan bentuk pengakuan atas peran strategis hakim dalam negara hukum. Namun jika setelah kenaikan itu kita masih terus mengeluh kurang ini, kurang itu, maka wajar jika publik bertanya, “Cukupnya di mana?” Jangan sampai rasa syukur kalah oleh rasa ingin lebih.

Baca Juga  Kompetensi Relatif yang Disepakati Dapat Dikesampingkan Secara Eksepsional

Pada titik ini, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan dengan jujur kepada diri sendiri, bukan kepada negara, bukan kepada publik, dan bukan pula kepada sesama rekan hakim, “Apa sebenarnya yang kita kehendaki dari profesi ini?”

Jika keluhan terus berulang adalah soal fasilitas, terutama fasilitas Kesehatan, maka kita tidak boleh melepaskan persoalan ini dari konteks yang lebih besar, yakni kondisi objektif keuangan negara. Negara tidak berdiri di ruang hampa. Anggaran negara disusun dengan mempertimbangkan banyak sektor strategis, seperti pendidikan, kesehatan masyarakat, infrastruktur, pertahanan, bantuan sosial, hingga kewajiban pembayaran utang. Setiap kebijakan tambahan berarti pilihan, dan setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi.

Realitasnya, mayoritas masyarakat Indonesia hari ini masih hidup dalam keterbatasan. Banyak keluarga yang penghasilannya pas-pasan, bekerja dari pagi hingga malam hanya untuk mencukupi kebutuhan dasar. Di tengah realitas sosial seperti ini, tuntutan berlebih dari profesi yang secara objektif sudah berada pada posisi relatif sejahtera tentu berisiko mencederai rasa keadilan publik. Maka menjadi sah untuk bertanya secara argumentatif, “Apabila fasilitas kesehatan dianggap lebih penting dan lebih mendesak dibandingkan peningkatan kesejahteraan finansial, apakah kita siap jika tunjangan hakim dikurangi dan dialihkan untuk pembiayaan fasilitas tersebut?” Apakah kita siap jika negara berkata, “Baik, tunjangan tidak kami naikkan, tetapi kami alihkan untuk skema fasilitas tertentu”? Atau jangan-jangan, yang kita kehendaki adalah keduanya sekaligus, tanpa mau menerima batasan objektif yang dihadapi negara?

Pertanyaan ini penting bukan untuk dijawab di ruang publik, melainkan untuk direnungkan secara jujur di ruang batin. Jangan sampai kita terjebak pada sikap ingin semuanya, tunjangan tinggi iya, fasilitas lengkap iya, penempatan ideal iya, tetapi tanpa kesiapan menerima keterbatasan yang secara objektif memang masih menjadi masalah nasional. Logika negara adalah logika pemerataan, bukan logika pemenuhan sempurna bagi satu profesi. Ketika hakim menuntut perlakuan yang terlalu eksklusif, maka secara tidak sadar kita sedang menarik garis pemisah dengan masyarakat yang setiap hari kita layani di ruang sidang. Padahal, kepercayaan publik terhadap peradilan justru tumbuh dari kesan bahwa hakim memahami denyut kehidupan rakyatnya, bukan berdiri di menara gading yang terpisah dari realitas sosial.

KEPPH menegaskan bahwa hakim wajib menjaga kehormatan dan keluhuran martabat, bersikap tidak berlebihan, serta mengedepankan kesederhanaan dan empati sosial. Nilai-nilai ini menuntut hakim untuk senantiasa sadar akan konteks masyarakat yang dilayaninya. Dengan menjadikan KEPPH sebagai kompas moral, praktik peradilan tidak hanya akan sah secara hukum, tetapi juga bermakna secara etik dan sosial. Nilai inilah yang seharusnya kita warisi dan terus kita hidupkan.

Kembali ke Jati Diri Hakim

Hakim yang ideal bukan hakim yang paling banyak menuntut, melainkan yang paling kuat memikul beban. Ksatria tidak mengeluh di tengah medan, patriot tidak meratap di depan rakyatnya. Menjadi hakim berarti siap berdiri tegak, bahkan saat kondisi tidak sempurna. Justru di situlah kehormatan itu diuji.

 Mari kita kembali ke niat awal. Ke alasan pertama kita memilih toga. Pada sumpah yang kita ucapkan. Bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, tetapi menempatkan diri secara proporsional. Menjadi hakim bukan tentang siapa yang paling menderita, melainkan siapa yang paling siap mengabdi. Menjadi hakim yang bersikap ksatria, tenang, teguh dan patriot bangsa.

raden heru sukaten
Raden Heru Wibowo Sukaten
Hakim Tinggi Badan Strajak Diklat Kumdil
Raden Heru Wibowo Sukaten
Kontributor
Raden Heru Wibowo Sukaten

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel hakim jati diri penempatan pengabdian satire
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menakar Etika dan Batas Pemanfaatan AI di Pengadilan: Hakim Dituntut Pahami Pembuktian Perkara Digital

October 30, 2026

Hakim, Ancaman Metafisik dan Keteguhan Spiritual

October 30, 2026

Kejahatan Siber: Hakim Harus Cermat Menguji Bukti

October 29, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

By Wilmar Ibni Rusydan and Daniel H. NapitupuluOctober 31, 20260

Kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Pemalang pada awal Oktober 2026 cukup menyita perhatian…

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime
  • Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI
  • 90 Warga di Gugat, Hakim PN Dataran Hunipopu Cek Langsung Objek Sengketa

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.