Garut, 21 Oktober 2026 — Kemajuan sebuah lembaga tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa jauh ia telah melangkah, tetapi juga oleh kesediaannya untuk terus bergerak, mengevaluasi diri, dan memperbaiki arah. Semangat inilah yang mengemuka dalam pembukaan kegiatan Peningkatan Kompetensi dan Evaluasi Kinerja Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan (BSDK) Mahkamah Agung Republik Indonesia yang berlangsung di Cahaya Villa Hotel Garut, Jawa Barat, Rabu (21/10).
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung hingga 23 Oktober 2026 tersebut diikuti sekitar 350 peserta, terdiri atas jajaran pejabat eselon II, hakim, dan pegawai di lingkungan BSDK. Turut hadir sejumlah tamu undangan, di antaranya Hakim Agung Kamar Agama Mahkamah Agung, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Bandung, serta Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bandung.
Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Pelaksana Tugas Kepala BSDK Mahkamah Agung RI, Yang Mulia Dr. Syamsul Arief, S.H., M.H. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya evaluasi kinerja dan peningkatan pemahaman seluruh aparatur sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas kelembagaan BSDK.

Menurutnya, evaluasi tidak seharusnya dipahami sebatas kegiatan administratif untuk mengukur capaian pekerjaan. Lebih jauh, evaluasi merupakan kesempatan bagi sebuah organisasi untuk mengenali kekuatan, mengidentifikasi kekurangan, sekaligus memastikan bahwa setiap langkah kelembagaan tetap berada dalam arah yang tepat.
Hal tersebut menjadi semakin relevan mengingat kedudukan BSDK sebagai lembaga yang mengemban fungsi pendidikan, pelatihan, dan strategi kebijakan di lingkungan Mahkamah Agung. BSDK tidak hanya dituntut untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia peradilan, tetapi juga diharapkan mampu menjadi penggerak strategis bagi perkembangan institusi peradilan secara keseluruhan.
Movere: Filosofi Gerak dan Kemajuan Kelembagaan
Salah satu gagasan menarik dalam pengarahan Plt. Kepala BSDK adalah pemaknaan terhadap kata move, yang memiliki akar etimologis dari bahasa Latin movere, berarti bergerak atau menggerakkan.
Melalui pendekatan astronomis, beliau mengajak peserta merenungkan kenyataan bahwa manusia, sekalipun tampak berada dalam keadaan diam, sesungguhnya senantiasa bergerak bersama bumi dan sistem alam semesta. Gerak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan manusia.
Analogi tersebut menghadirkan pesan filosofis yang relevan bagi kehidupan organisasi. Sebuah lembaga tidak pernah benar-benar berada dalam keadaan statis. Perubahan lingkungan, perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, serta meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap lembaga peradilan menuntut organisasi untuk senantiasa menyesuaikan diri.
Namun, bergerak tidak selalu identik dengan kemajuan. Gerak baru memperoleh makna apabila memiliki arah, tujuan, dan kesadaran untuk terus memperbaiki diri. Dalam konteks inilah evaluasi kinerja dan peningkatan kompetensi menjadi dua unsur yang saling melengkapi. Evaluasi memastikan arah gerak organisasi, sedangkan peningkatan kompetensi memperkuat kemampuan aparatur untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Dengan filosofi movere, Plt. Kepala BSDK memproyeksikan BSDK sebagai institusi yang tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi juga mampu menggerakkan perubahan positif dalam lingkungan peradilan.
Semangat tersebut kemudian menemukan bentuknya dalam prinsip “Bergerak Serentak Demi Kemajuan”, sebuah pesan yang menempatkan kebersamaan, keselarasan langkah, dan orientasi terhadap kemajuan sebagai fondasi pengembangan kelembagaan.
Dari Peningkatan Kompetensi Menuju Penguatan Institusi
Peningkatan kompetensi dan evaluasi kinerja memiliki makna strategis dalam membangun organisasi yang adaptif dan berorientasi pada hasil. Bagi BSDK, kedua agenda tersebut berkaitan erat dengan kualitas pelaksanaan fungsi pendidikan dan pelatihan, pengembangan kapasitas aparatur, serta penyusunan strategi kebijakan yang mendukung kebutuhan lembaga peradilan.
Kualitas institusi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh struktur organisasi atau kelengkapan program kerja, tetapi juga oleh kemampuan sumber daya manusianya untuk memahami perubahan, mengembangkan pengetahuan, dan menerjemahkan kebijakan menjadi tindakan nyata.
Dalam perspektif tersebut, kegiatan yang mempertemukan berbagai unsur aparatur BSDK ini juga menjadi ruang untuk membangun kesamaan pemahaman mengenai tanggung jawab kelembagaan. Setiap unit kerja memiliki fungsi yang berbeda, tetapi seluruhnya berada dalam satu tujuan besar, yakni mendukung terwujudnya badan peradilan yang agung.
Semangat bergerak serentak tidak berarti menyeragamkan seluruh pemikiran atau menghilangkan kekhasan setiap unit kerja. Sebaliknya, kebersamaan justru dibangun melalui kemampuan menyelaraskan berbagai fungsi, keahlian, dan tanggung jawab ke dalam satu arah strategis.
Di sinilah pentingnya menempatkan evaluasi sebagai budaya organisasi, bukan semata agenda periodik. Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang tidak pernah menemukan kekurangan, melainkan organisasi yang memiliki keberanian untuk mengenali kekurangannya dan kapasitas untuk memperbaikinya.

Menjadikan Gerak sebagai Budaya Kelembagaan
Pembukaan kegiatan Peningkatan Kompetensi dan Evaluasi Kinerja BSDK tahun 2026 membawa pesan bahwa transformasi kelembagaan tidak cukup berhenti pada perubahan nomenklatur, struktur, ataupun program. Transformasi harus tercermin dalam cara berpikir, budaya kerja, serta kemampuan organisasi menghasilkan manfaat nyata bagi lembaga peradilan.
BSDK memiliki posisi penting dalam membangun jembatan antara pengembangan pengetahuan, peningkatan kompetensi, dan kebutuhan strategis Mahkamah Agung. Oleh karena itu, keberhasilannya tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas aparatur dan penguatan institusi peradilan.
Filosofi movere yang disampaikan Plt. Kepala BSDK mengingatkan bahwa gerak merupakan keniscayaan, tetapi kemajuan membutuhkan kesadaran dan arah. Setiap aparatur dapat menjadi bagian dari perubahan apabila memiliki kemauan untuk belajar, mengevaluasi diri, dan bekerja melampaui batas-batas rutinitas.
Pada akhirnya, “Bergerak Serentak Demi Kemajuan” bukan sekadar ungkapan penyemangat, melainkan sebuah orientasi kelembagaan. Bahwa kemajuan peradilan memerlukan gerak bersama, bahwa perubahan membutuhkan pengetahuan dan integritas, serta bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari transformasi besar.
Dari Garut, semangat itu diteguhkan: BSDK diharapkan tidak hanya bergerak mengikuti perjalanan zaman, tetapi juga menjadi motor yang menggerakkan kemajuan lembaga peradilan Indonesia.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


