Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Dilmil II-06 Jakarta Tampil Juara I, Turnamen Bola Voli Badilmiltun Teguhkan Sinergitas dan Sportivitas

October 3, 2026

Integritas yang Membumi: Pelajaran Abadi dari Kisah Luqmanul Hakim Bagi Aparatur Peradilan

October 3, 2026

Dekonstruksi Hukum Anak Hasil Zina

October 2, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Etika dan Nilai Keadilan Dalam Teori Hukum Feminis Perspektif Perempuan Berhadapan dengan Hukum

Etika dan Nilai Keadilan Dalam Teori Hukum Feminis Perspektif Perempuan Berhadapan dengan Hukum

Pita PermatasariBy Pita PermatasariApril 5, 2026 · 12:31 WIB16 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Latar Belakang

Isu gender mulai mendapat perhatian di Indonesia sebelum terjadinya krisis moneter tahun 1997, dan hal ini menjadi pemicu bagi perempuan di wilayah pesisir untuk lebih aktif berpartisipasi dalam ruang publik, tidak lagi terbatas pada ranah domestik. Kehadiran wacana gender memberikan dorongan kepercayaan diri bagi perempuan untuk bersaing secara setara dengan laki-laki. Selain itu, konsep sibaliparri—sebuah nilai budaya masyarakat Mandar yang diangkat oleh perempuan—ikut memperkuat perjuangan menuju kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Secara konseptual, gender tidak hanya merujuk pada perbedaan biologis, tetapi juga mencakup konstruksi sosial mengenai karakter dan posisi yang dilekatkan pada laki-laki maupun perempuan. Ketimpangan gender dalam berbagai aspek kehidupan telah menempatkan perempuan dalam kondisi yang tidak manusiawi dan membatasi ruang gerak mereka. Perbedaan ini berdampak langsung pada distribusi hak dan kewajiban, yang mencerminkan bentuk diskriminasi sistemik. Seiring waktu, perempuan mulai menyadari ketidakadilan yang mereka alami, sehingga lahirlah berbagai gerakan yang menuntut kesetaraan gender. Gerakan-gerakan ini dikenal sebagai feminisme, yang meskipun memiliki pendekatan dan tuntutan yang beragam, tetap berpijak pada tujuan utama: mengangkat martabat perempuan sebagai manusia yang utuh dan setara. Berbagai aliran feminis tersebut adalah (2021):

  • Feminisme Liberal

    Gerakan untuk menuntut kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan mulai berkembang sejak abad ke-18. Meskipun pada masa itu belum dikenal istilah “kesetaraan gender,” nilai-nilai yang diperjuangkan telah mencerminkan semangat feminisme. Menurut pandangan feminis liberal, kesetaraan gender berarti memberikan hak dan peluang yang sama bagi laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang seperti pendidikan, politik, keluarga, sosial, budaya, dan ekonomi. Feminisme liberal tidak menuntut keseragaman mutlak antara laki-laki dan perempuan, karena secara biologis terdapat perbedaan yang tidak dapat diabaikan. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh dijadikan dasar untuk melakukan diskriminasi terhadap perempuan. Aliran ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara laki-laki dan perempuan demi tercapainya kesejahteraan bersama. Oleh karena pendekatannya yang moderat, feminisme liberal sering dianggap sebagai bentuk gerakan kesetaraan yang paling kompromis
  • Feminisme Radikal

    Feminisme radikal muncul pada era 1960-an sebagai respons terhadap berbagai bentuk kekerasan dan penindasan yang dialami perempuan, baik secara seksual, fisik, maupun mental, dalam lingkungan keluarga, budaya, dan masyarakat secara luas. Berbeda dengan feminisme liberal yang mendorong kerja sama lintas gender, feminisme radikal memandang laki-laki sebagai sumber utama penindasan terhadap perempuan. Gerakan ini menekankan bahwa untuk memperoleh kembali hak-haknya sebagai manusia yang utuh, perempuan harus melepaskan diri dari dominasi laki-laki. Hal ini diwujudkan melalui peningkatan kualitas diri, penolakan terhadap institusi pernikahan tradisional, penolakan terhadap peran reproduktif, dan penolakan terhadap kerja sama dengan laki-laki. Perempuan didorong untuk bersaing secara aktif dan bahkan mengungguli laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan.
  • Feminisme Marxis

    Feminisme Marxis berakar pada teori Karl Marx mengenai kepemilikan dan struktur kelas. Dalam perspektif ini, kepemilikan pribadi yang bersifat sepihak dianggap sebagai sumber ketimpangan, terutama dalam konteks keluarga. Kaum feminis Marxis menyoroti bagaimana sistem hukum dan budaya di Indonesia cenderung menempatkan perempuan, khususnya istri, dalam posisi subordinat sebagai pengurus rumah tangga tanpa pengakuan atas kontribusi ekonominya. Dalam pandangan ini, perempuan yang tidak berkarier dianggap tidak produktif, karena budaya kapitalis hanya mengakui hasil kerja yang bersifat material. Feminisme Marxis mengkritik sistem tersebut karena merugikan perempuan dan mengabaikan nilai kerja domestik yang dilakukan oleh perempuan dalam keluarga.
  • Feminisme Muslim dan Kesetaraan Gender

    Dalam tradisi Islam, nilai-nilai kesetaraan gender telah diperjuangkan sejak masa Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tercermin dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Sebelum Islam hadir, masyarakat Arab Jahiliyah dan banyak budaya lain menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat rendah: laki-laki bebas menikahi banyak perempuan, menceraikan sesuka hati, memperlakukan perempuan sebagai objek seksual, bahkan membunuh bayi perempuan. Perempuan tidak memiliki hak atas warisan dan dianggap lebih rendah dari budak laki-laki. Kehadiran Islam membawa perubahan besar. Rasulullah SAW memperjuangkan hak-hak perempuan secara bertahap, termasuk hak memilih pasangan, hak menolak lamaran, hak atas nafkah, hak mengajukan cerai, dan hak berpartisipasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan hukum. Konsep kesetaraan gender dalam Islam menekankan pentingnya relasi dan kerja sama antara laki-laki dan perempuan sebagai dua entitas yang saling membutuhkan dan saling melengkapi. Perbedaan biologis dan sosial tidak dijadikan alasan untuk diskriminasi, melainkan sebagai dasar untuk membangun hubungan yang seimbang dan saling menghargai.
  • Teori Hukum Feminis

    Feminist Jurisprudence mulai berkembang pada akhir dekade 1960-an, seiring dengan dinamika gerakan feminis di Amerika Serikat. Munculnya pendekatan ini mencerminkan meningkatnya perhatian kaum feminis terhadap bidang hukum, yang selama ini dianggap tidak merepresentasikan perspektif perempuan. Ketimpangan tersebut tampak dalam teori-teori hukum, sistem peradilan, dan penerapan hukum yang cenderung mengabaikan hak-hak perempuan. Sebagai instrumen negara yang memiliki kekuatan legal formal, hukum seharusnya menjadi perhatian utama dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender. Namun, karakter hukum yang maskulin dan patriarkis telah menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dan menghambat perkembangan mereka. Ketika legalitas hukum tidak mencakup perlindungan terhadap hak-hak perempuan, dampaknya tidak hanya merugikan secara struktural, tetapi juga memperkuat legitimasi ketidakadilan yang merendahkan martabat perempuan.

Deborah Rhode dalam artikelnya Feminist Critical Theories (1990) menjelaskan bahwa selain aliran feminisme yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat pula aliran feminisme lain yang banyak dipengaruhi oleh kajian hukum kritis. Rhode menamainya sebagai feminist critical theories, yaitu pendekatan yang menitikberatkan pada kesetaraan gender dengan keyakinan bahwa kesetaraan tersebut tidak mungkin tercapai hanya melalui lembaga atau struktur ideologi yang ada. Sejalan dengan studi hukum kritis, aliran ini berupaya meruntuhkan klaim-klaim “netralitas” dalam hukum, namun dengan menambahkan dimensi gender sebagai basis analisis. Pada mulanya feminisme hukum berkembang di bawah payung studi hukum kritis, tetapi dalam perkembangannya ia kemudian berdiri sendiri dan bahkan turut memberikan kritik terhadap studi hukum kritis itu sendiri (2023).

Zainal Arifin Mochtar dan Eddy  O.S. Hiariej dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Ilmu Hukum: Memahami Kaidah, Teori, Asas, dan Filsafat Hukum menempatkan Teori Hukum Feminis dalam Teori Hukum Kontemporer. Selain teori hukum feminis, teori lainnya dalam Teori Hukum Kontemporer adalah teori keadilan dari John Rawls, teori negara minimal Robert Nozick, teori hak Ronald Dworkin, teori hukum masyarakat prismatic, teori pendekatan ekonomi terhadap hukum, teori perilaku hukum Donald Black, dan teori pluralisme hukum.

Aristoteles menghubungkan pemikiran hukumnya dengan dimensi sosial dan etis yang tumbuh dari pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Pandangan ini berbeda dari gagasan Socrates yang menekankan kesempurnaan moral sebagai bawaan kodrati, maupun dari perspektif Plato yang mengaitkan kualitas etis dengan golongan elite atau kaum aristokrat. Honeste vivere, alterum non laedere, suum Quique tribuere (Hidup secara terhormat, tidak mengganggu orang lain, dan memberi kepada tiap orang bagiannya). Prinsip keadilan ini merupakan patokan dari apa yang benar, baik, dan tepat dalam hidup, dan karenanya mengikat semua orang, baik masyarakat maupun penguasa.

Baca Juga  Urgensi Perubahan Panggilan Umum pada Perkara Perceraian

Hukum, yang dipandang sebagai refleksi dari keadilan, berfungsi sebagai instrumen paling efektif untuk mewujudkan kehidupan yang bermutu, berkeadilan, dan sejahtera. Namun menurut Aristoteles, cita-cita keadilan tertinggi dalam suatu negara tidak akan tercapai apabila warga negaranya tidak memiliki kecenderungan moral dan sosial yang baik. Bahkan jika negara dipimpin oleh individu bijak dan didukung oleh peraturan yang berkualitas, tanpa fondasi etis dalam masyarakat, keadilan tetap sulit diwujudkan (2013).

Kesetaraan gender selalu menjadi isu yang menarik bahkan Mahkamah Agung Republik Indonesia telah mengeluarkan peraturan mengenai Perempuan Berhadapan dengan Hukum sebagai bukti keseriusan akan perlindungan perempuan dalam ranah peradilan yang tertuang dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017. Indonesia telah mengesahkan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR) melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005. Pengesahan ini menegaskan komitmen negara terhadap prinsip kesetaraan di hadapan hukum, serta pelarangan segala bentuk diskriminasi. Undang-undang tersebut menjamin perlindungan hukum yang setara bagi seluruh warga negara tanpa memandang latar belakang, termasuk perbedaan jenis kelamin atau gender. Sebagai negara yang telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), Indonesia mengemban tanggung jawab untuk menjamin bahwa perempuan memperoleh akses yang setara terhadap keadilan serta terbebas dari segala bentuk diskriminasi dalam proses dan institusi peradilan.

Pembahasan

Etika Dan Nilai Keadilan Dalam Teori Hukum Feminis

Sebagai negara yang menganut sistem hukum positif, Indonesia memiliki struktur hukum yang kompleks dan terus mengalami perkembangan sejalan dengan dinamika masyarakat serta tuntutan zaman. Walaupun berbagai undang-undang dan regulasi telah dirancang untuk mengatur aspek sosial, ekonomi, dan politik secara menyeluruh, perhatian terhadap dimensi etis dalam proses pembentukan hukum tetap menjadi hal yang esensial. Etika hukum merupakan elemen krusial dalam sistem hukum yang berfungsi sebagai pedoman dalam proses perumusan, penafsiran, dan pelaksanaan norma hukum. Etika ini mencakup seperangkat nilai, prinsip moral, serta pertimbangan filosofis yang menjadi fondasi bagi keberlakuan hukum. Dalam konteks Indonesia, pemahaman yang komprehensif mengenai kontribusi filsafat hukum terhadap pembentukan etika hukum menjadi sangat penting. Hal ini tidak hanya memengaruhi cara hukum dijalankan dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai keadilan yang dijunjung oleh negara dan masyarakat Indonesia (2023).

Keadilan dalam sejarahnya diprakarsai oleh Aristoteles. Aristoteles membedakan secara tegas antara kesetaraan numerik dan kesetaraan proporsional. Kesetaraan numerik menganggap setiap individu sebagai satuan yang identik, sementara kesetaraan proporsional mempertimbangkan perbedaan kontribusi atau kapasitas individu dalam masyarakat. Berdasarkan pemikiran ini, Aristoteles mengklasifikasikan keadilan ke dalam dua jenis utama: keadilan distributif dan keadilan korektif. Keadilan distributif berlaku dalam ranah hukum publik, sedangkan keadilan korektif diterapkan dalam konteks hukum perdata dan pidana. Keadilan distributif berfungsi untuk memberikan hak atau bagian kepada setiap orang sesuai dengan jasa atau kontribusinya, berdasarkan prinsip keseimbangan sosial. Sebaliknya, keadilan korektif bertujuan untuk memperbaiki ketimpangan yang timbul akibat pelanggaran atau kesalahan, seperti pelanggaran kontrak atau tindak pidana, dengan memberikan kompensasi yang layak kepada pihak yang dirugikan atau menjatuhkan hukuman yang sesuai kepada pelaku. Kedua bentuk keadilan ini memiliki tantangan tersendiri dalam hal penerapan prinsip kesetaraan. Dalam keadilan distributif, penting untuk memastikan bahwa imbalan diberikan secara proporsional terhadap pencapaian atau kontribusi individu. Sementara dalam keadilan korektif, fokus utamanya adalah mengembalikan keseimbangan yang terganggu akibat tindakan yang tidak adil. Menurut Aristoteles, keadilan distributif mencakup pembagian kekayaan, kehormatan, dan sumber daya lainnya yang tersedia dalam masyarakat, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang diakui oleh komunitas. Distribusi yang adil bukan sekadar pembagian yang merata, melainkan pembagian yang sesuai dengan nilai dan manfaat sosial dari objek yang didistribusikan. Di sisi lain, keadilan korektif berfungsi sebagai mekanisme pemulihan atas pelanggaran, baik melalui kompensasi maupun sanksi, demi memulihkan kesetaraan yang telah terganggu. Dengan demikian, keadilan korektif lebih dekat dengan fungsi lembaga peradilan, sedangkan keadilan distributif menjadi tanggung jawab pemerintah dalam mengatur alokasi sumber daya. Pada akhirnya, nilai-nilai kebenaran dan keadilan dipandang sebagai prinsip luhur yang mencerminkan pancaran kemuliaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa (2023).

Menurut teori hukum feminis (Feminist Legal Theory/FLT), ketidakberpihakan hukum terhadap perempuan berakar pada sifatnya yang phallosentris—yakni berpusat pada perspektif dan pengalaman laki-laki. FLT memandang bahwa sistem hukum secara historis dirancang dan dibentuk oleh laki-laki, sehingga cenderung mengabaikan suara dan kepentingan perempuan. Struktur hukum yang demikian memperkuat relasi sosial-yuridis yang patriarkis, di mana norma, pengalaman, dan kekuasaan laki-laki menjadi acuan utama, sementara pengalaman perempuan tersisihkan. Pandangan tentang perempuan sebagai makhluk lemah telah lama dilestarikan dalam tradisi filsafat dan teologi, bahkan oleh tokoh-tokoh besar seperti Krisostomus—Uskup terkenal dari Konstantinopel—yang dikenal memiliki pandangan merendahkan terhadap perempuan. Pemikiran serupa juga ditemukan dalam karya Immanuel Kant dan Jean-Jacques Rousseau. Kant meragukan kemampuan perempuan untuk memahami prinsip-prinsip rasional, sementara Rousseau berpendapat bahwa hukum alam menempatkan perempuan dalam posisi tunduk terhadap laki-laki. Teori hukum feminis memperkenalkan “pendekatan hukum berperspektif perempuan”. Melalui pendekatan ini dapat dideteksi apakah keberadaan perempuan sebagai perempuan dengan pengalamannya dan nilai-nilai tipikal perempuan telah diperhitungkan dalam hukum.

Teori hukum feminis bertujuan untuk mengkritisi dan mendekonstruksi wacana hukum yang selama ini didominasi oleh perspektif laki-laki, baik dalam pemikiran maupun penulisan oleh para ahli hukum pria. Dominasi tersebut sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan alami, padahal mencerminkan konstruksi sosial yang patriarkis. Oleh karena itu, gerakan hukum feminis berupaya melakukan transformasi ideologis yang bertujuan untuk merombak struktur hukum dan politik yang bias gender. Penolakan terhadap paradigma hukum patriarkis disertai dengan usaha merumuskan teori hukum alternatif yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi perempuan, serta mengakui pentingnya membangun masyarakat yang memungkinkan setiap individu mengembangkan potensi kemanusiaannya secara utuh (2003).

Perempuan Berhadapan dengan Hukum dalam Peraturan Mahkamah Agung

Perempuan Berhadapan dengan Hukum didefinisikan dalam Pasal 1 angka 1 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum (Perma Perempuan Berhadapan dengan Hukum) yaitu perempuan yang berkonflik dengan hukum, perempuan sebagai korban, perempuan sebagai saksi atau perempuan sebagai pihak. Hakim dalam mengadili perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum berdasarkan asas:

  1. Penghargaan atas harkat dan martabat manusia:
  2. Non diskriminasi;
  3. Kesetaraan Gender;
  4. Persamaan di depan hukum;
  5. Keadilan;
  6. Kemanfaatan; dan
  7. Kepastian hukum.

Berdasarkan Perma Perempuan Berhadapan dengan Hukum bahwa dalam pemeriksaan perkara, hakim agar mempertimbangkan Kesetaraan Gender dan non-diskriminasi, dengan mengidentifikasi fakta persidangan:

  1. Ketidaksetaraan status sosial antara para pihak yang berperkara;
  2. Ketidaksetaraan perlindungan hukum yang berdampak pada akses keadilan;
  3. Diskriminasi;
  4. Dampak psikis yang dialami korban;
  5. Ketidakberdayaan fisik dan psikis korban;
  6. Relasi Kuasa yang mengakibatkan korban/saksi tidak berdaya; dan
  7. Riwayat kekerasan dari perlaku terhadap korban/saksi.
Baca Juga  “Hot Tubbing” Mekanisme Pembuktian Yang Efektif Dalam Perkara Lingkungan Hidup Di Tengah Kebimbangan Bukti Ilmiah Yang Saling Bertentangan

Prinsip keadilan berakar pada suatu keniscayaan, yakni bahwa setiap individu secara kodrati menginginkan hak hidup yang setara dengan orang lain. Keadilan merupakan syarat mutlak untuk mencapai kondisi yang lebih baik dan ideal. Oleh karena itu, keadilan harus diposisikan sebagai prioritas utama dalam kehidupan sosial, karena ia menjadi sarana untuk memperoleh kepuasan batin dan kesejahteraan pribadi. Keadilan hanya dapat tumbuh dan berfungsi secara optimal dalam kerangka negara, mengingat negara memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada individu serta memegang tujuan kolektif dalam seluruh aktivitasnya (2022).

Prinsip non-diskriminasi seharusnya menjamin bahwa setiap individu diperlakukan secara setara, dengan hak dan kedudukan yang sama dalam masyarakat. Prinsip ini melekat pada manusia sejak kelahirannya, sehingga menjadi salah satu elemen fundamental dalam konsep hak asasi manusia. Perma Perempuan Berhadapan dengan Hukum memberikan acuan bahwa dalam pemeriksaan perkara, hakim agar mempertimbangkan Kesetaraan Gender dan non-diskriminasi, dengan mengidentifikasi fakta persidangan:

  1. Ketidaksetaraan status sosial antara para pihak yang berperkara;
  2. Ketidaksetaraan perlindungan hukum yang berdampak pada akses keadilan;
  3. Diskriminasi;
  4. Dampak psikis yang dialami korban;
  5. Ketidakberdayaan fisik dan psikis korban;
  6. Relasi kuasa yang mengakibatkan korban/saksi tidak berdata; dan
  7. Riwayat kekerasan dari pelaku terhadap korban/saksi.

Perma Perempuan Berhadapan dengan Hukum memberikan landasan bahwa dalam pemeriksaan Perempuan Berhadapan dengan Hukum, hakim tidak boleh:

  1. Menunjukkan sikap atau mengeluarkan pernyataan yang merendahkan, menyalahkan dan/atau mengintimidasi Perempuan Berhadapan dengan Hukum;
  2. Membenarkan terjadinya Diskriminasi terhadap perempuan dengan menggunakan kebudayaan, aturan adat, dan praktik tradisional lainnya maupun menggunakan penafsiran ahli yang bias Gender;
  3. Mempertanyakan dan/atau mempertimbangkan mengenai pengalaman atau latar belakang seksualitas korban sebagai dasar untuk membebaskan pelaku atau meringankan hukuman pelaku; dan
  4. Mengeluarkan pernyataan atau pandangan yang mengandung Stereotip Gender.

Kemudian, hakim dalam mengadili perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum:

  1. Mempertimbangkan Kesetaraan Gender dan Stereotip Gender dalam peraturan perundang-undangan dan hukum tidak tertulis;
  2. Melakukan penafsiran peraturan perundang-undangan dan/atau hukum tidak tertulis yang dapat menjamin Keseteraan Gender;
  3. Menggali nilai-nilai hukum, kearifan lokal dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat guna menjamin Kesetraaan Gender, pelindungan yang setara dan non diskriminasi; dan
  4. Mempertimbangkan penerapan konvensi dan perjanjian-perjanjian internasional terkait Kesetaraan Gender yang telah diratifikasi.

Perempuan Berhadapan dengan Hukum tidak luput dari rasa keadilan itu sendiri. Baik pelaku tindak pidana perempuan maupun korban perempuan sudah seharusnya diberikan payung keadilan melalui Perma Perempuan Berhadapan dengan Hukum. Namun, dalam peraturan tersebut tidak memberikan acuan secara terperinci mengenai bagaimana pemeriksaan pengadilan dalam memproteksi perempuan yang berhadapan dengan hukum.

Keterkaitan antara hukum dan moralitas melahirkan suatu pemahaman bahwa hukum harus senantiasa berlandaskan pada gagasan keadilan dan nilai-nilai moral. Hal ini bertujuan agar hukum tidak berubah menjadi alat yang tiranik, tidak etis, atau bahkan menjauhkan manusia dari harkat dan martabat kemanusiaannya. Beberapa perkara dengan adanya perempuan berhadapan dengan hukum menunjukkan secara nyata bagaimana perempuan, baik sebagai pelaku maupun korban, dapat terjerat dalam situasi hukum yang kompleks dan sarat dengan ketimpangan struktural. Dalam perkara ini, eksploitasi seksual terhadap Anak Korban tidak hanya mencerminkan pelanggaran hukum pidana, tetapi juga memperlihatkan kegagalan sistem dalam memberikan perlindungan yang memadai terhadap perempuan dan anak yang rentan.

Keberadaan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) tentang Perempuan Berhadapan dengan Hukum menjadi langkah penting dalam mendorong sistem peradilan yang lebih adil dan sensitif gender. Namun, implementasi norma-norma tersebut masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal prosedur pemeriksaan yang belum sepenuhnya memberikan perlindungan konkret dan menyeluruh bagi perempuan yang terlibat dalam proses hukum. Oleh karena itu, penting bagi aparat penegak hukum, khususnya hakim, untuk tidak hanya berpegang pada teks hukum positif, tetapi juga menggali nilai-nilai moral, keadilan substantif, dan kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat. Penegakan hukum yang berlandaskan etika dan keadilan tidak hanya mencegah hukum menjadi instrumen yang tiranik, tetapi juga memastikan bahwa setiap individu, termasuk perempuan dan anak, diperlakukan dengan hormat, bermartabat, dan setara di hadapan hukum. Dengan demikian, perkara ini menjadi refleksi mendalam atas urgensi pembaruan paradigma hukum yang lebih manusiawi, adil, dan inklusif, serta menegaskan bahwa keadilan sejati hanya dapat dicapai ketika hukum berpihak pada kemanusiaan.

Penutup

Ketimpangan gender dalam sistem hukum Indonesia masih menjadi persoalan serius yang menuntut perhatian dan pembaruan struktural. Melalui pendekatan teori hukum feminis, dapat dipahami bahwa hukum tidaklah netral, melainkan sering kali mereproduksi relasi kuasa yang patriarkis. Oleh karena itu, penting bagi sistem hukum untuk mengadopsi nilai-nilai etika dan keadilan yang berpihak pada kemanusiaan, khususnya dalam menjamin hak-hak perempuan yang berhadapan dengan hukum.

Dalam beberapa perkara pidana yang melibatkan perempuan sebagai terdakwa menunjukkan bahwa perempuan berada dalam posisi yang rentan terhadap diskriminasi, baik dalam proses hukum maupun dalam substansi hukum itu sendiri. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 merupakan langkah progresif, namun masih memerlukan penguatan dalam implementasinya agar benar-benar mampu memberikan perlindungan yang setara dan adil.

Dengan demikian, hukum harus senantiasa dikembangkan sebagai instrumen yang tidak hanya mengatur, tetapi juga melindungi dan memberdayakan. Hukum yang berlandaskan pada nilai moral, keadilan substantif, dan kesetaraan gender akan mampu menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan bermartabat.

Daftar Pustaka

  • Alfarabi, Muhammadi dan Rumainur. Peran Filsafat Hukum dalam Membangun Rasa Keadiolan. Rampai Jurnal Hukum. Vol. 3 No. 1. 2023.
  • Arrasyid, Fauzan dan Abdul Aziz Harahap. Asas Putusan Hakim dalam Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum di Indonesia: Perspektif CEDAW. Jurnal HUNILA: Jurnal Ilmu Hukum dan Integrasi Peraidlan. Vol. 1 No. 1. 2022.
  • Azizah, Nur. Alliran Feminis dan Teori Kesetaraan Gender dalam Hukum, Spectrum: Journal of Gender and Children Studies. Vol. 1 No. 1. 2021..
  • Baharuddin, Rahmawati. Wanita dan Hukum Perspektif Feminis Terhadap Hukum, Jurnal “El-Harakah”. Vol. 5 No. 2. 2003.
  • Marzuki, Peter Mahmud. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana. Cet. Ke-6. 2010.
  • Mochtar, Zainal Arifin dan Eddy O.S Hiariej. Dasar-Dasar Ilmu Hukum: Memahami Kaidah, Teori, Asas, dan Filsafat Hukum. Depok: Rajawali Press. Cet. Ke-1. 2023.
  • Rannu, Delicia Anwar. Peran Filsafat Hukum dalam Membentuk Landasan Etika Hukum di Indonesia. Innovative: Journal of Social Science Research. Vol. 3 No. 5. 2023.
  • Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif, Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2006.
  • Tanya, Bernard L. dan kawan-kawan. Teori Hukum: Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Yogyakarta: Genta Publishing. Cet. Ke-4. 2013.
Pita Permatasari
Kontributor
Pita Permatasari
Hakim Pengadilan Negeri Blambangan Umpu

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel etika feminis hukum nilai perempuan
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Integritas yang Membumi: Pelajaran Abadi dari Kisah Luqmanul Hakim Bagi Aparatur Peradilan

October 3, 2026

Dekonstruksi Hukum Anak Hasil Zina

October 2, 2026

From Adversarial Litigation to Court-Led Problem Solving

October 2, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,508 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026
Don't Miss

Dilmil II-06 Jakarta Tampil Juara I, Turnamen Bola Voli Badilmiltun Teguhkan Sinergitas dan Sportivitas

By Ahmad JunaediOctober 3, 20260

Setelah berlangsung sejak pagi hingga malam hari dengan persaingan yang berlangsung sengit, Turnamen Bola Voli…

Integritas yang Membumi: Pelajaran Abadi dari Kisah Luqmanul Hakim Bagi Aparatur Peradilan

October 3, 2026

Dekonstruksi Hukum Anak Hasil Zina

October 2, 2026

PTUN Pekanbaru Gelar Diskusi “Dinamika Pengaturan Keuangan Negara dalam Pengelolaan BUMN”

October 2, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Dilmil II-06 Jakarta Tampil Juara I, Turnamen Bola Voli Badilmiltun Teguhkan Sinergitas dan Sportivitas
  • Integritas yang Membumi: Pelajaran Abadi dari Kisah Luqmanul Hakim Bagi Aparatur Peradilan
  • Dekonstruksi Hukum Anak Hasil Zina
  • PTUN Pekanbaru Gelar Diskusi “Dinamika Pengaturan Keuangan Negara dalam Pengelolaan BUMN”
  • Tiga Tahun Berkiprah, BPHPI Refleksikan Perjalanan dan Tantangan Hakim Perempuan di Era Digital

Recent Comments

  1. Anton Yikwa on Penganugerahan Lomba Layanan Pengadilan Tahun 2026: Membangun Budaya Kinerja dan Pelayanan Prima di Lingkungan Peradilan Militer dan Tata Usaha Negara
  2. Syihabuddin on Sebuah Ulasan atas Film ‘Ghost In The Cell’
  3. Tomas on Sebuah Ulasan atas Film ‘Ghost In The Cell’
  4. Nancy on “Spionase Bayangan” Mengupas dibalik Profiling Integritas dan Mystery Shopper Mahkamah Agung
  5. Yeheskel Haurissa on Ketika Pekerja Meninggal, Mengapa Ahli Waris Harus Menggugat?
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Wiwid Ariyanto
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Muhammad Yunus Tazryan
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.