Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tiga Pesan Penting Ketua PTA Palembang dalam Pelantikan Hakim Tinggi dan Panitera Pengganti

November 2, 2026

Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional

November 2, 2026

BSDK Buka Diklat SPPA Gelombang 2, Cetak Hakim Anak yang Humanis dan Berintegritas

November 2, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Paradoks Keadilan: Dilema Strafmacht dan Disparitas antara Restorative Justice serta Plea Bargain dalam KUHAP Baru

Paradoks Keadilan: Dilema Strafmacht dan Disparitas antara Restorative Justice serta Plea Bargain dalam KUHAP Baru

Muhammad Hanif RamadhanBy Muhammad Hanif RamadhanMarch 11, 2026 · 16:47 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

I. Pendahuluan: Paradigma Baru Hukum Acara Pidana Indonesia

Lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP Baru) menandai pergeseran fundamental dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Dari yang semula sangat kaku dan berorientasi pada kebenaran materiil yang mutlak, kini mulai mengadopsi prinsip efisiensi melalui mekanisme Plea Bargain (Pengakuan Bersalah/Jalur Khusus) dan keadilan restoratif (Restorative Justice/RJ).

Namun, di balik semangat modernisasi ini, muncul persoalan mengenai kepastian hukum dan disparitas keadilan. Terdapat “lubang” regulasi yang menyebabkan terdakwa yang memilih jalur pengakuan bersalah mendapatkan kepastian keringanan hukuman yang lebih jelas dibandingkan terdakwa yang memilih jalur perdamaian atau keadilan restoratif, namun perkaranya tetap dilanjutkan ke persidangan.

II. Mekanisme di Hadapan Hakim: Urutan Pasal 204, 205, dan 234

Berdasarkan KUHAP BARU, pemeriksaan di sidang pengadilan dimulai dengan kewajiban Hakim untuk menawarkan dua opsi utama kepada Terdakwa:

1. Tahap Perdamaian/Restorative Justice (Pasal 204) Hakim wajib menanyakan kepada Terdakwa mengenai upaya perdamaian dengan Korban untuk tindak pidana tertentu (ancaman < 5 tahun dan bukan tindak pidana khusus seperti korupsi, terorisme, dsb).

  • Syarat: Terdakwa baru pertama kali melakukan tindak pidana, terjadi pemulihan keadaan semula, dan tidak ada ketimpangan relasi kuasa.
  • Implikasi Hukum (Pasal 204 ayat 8): Kesepakatan perdamaian ini hanya menjadi “alasan yang meringankan hukuman” atau pertimbangan pidana pengawasan. Tidak ada batasan atau plafon maksimal pidana (cap) yang ditentukan secara kaku oleh undang-undang.

2. Tahap Pengakuan Dakwaan di Hadapan Hakim (Pasal 205) Jika perdamaian tidak tercapai (Pasal 205 ayat 1), Hakim menanyakan apakah Terdakwa mengakui dakwaan.

  • Prosedur: Jika Hakim yakin pengakuan tersebut bebas dari tekanan (memenuhi syarat Pasal 205 ayat 2), maka perkara diperiksa dengan Acara Pemeriksaan Singkat.
  • Implikasi Hukum: Masuknya perkara ke pemeriksaan singkat secara otomatis mengaktifkan batasan pidana maksimal 3 (tiga) tahun sesuai Pasal 257 ayat (5).

3. Tahap Jalur Khusus (Pasal 234) Mekanisme ini muncul saat Penuntut Umum membacakan surat dakwaan. Jika Terdakwa mengakui semua perbuatan dan mengaku bersalah (untuk ancaman < 7 tahun), perkara dilimpahkan ke sidang acara pemeriksaan singkat dengan insentif pidana maksimal 2/3 dari maksimum ancaman.

III. Kontradiksi Strafmacht: Pasal 234 vs Pasal 257

Persoalan pertama muncul dari teks norma itu sendiri. Dalam KUHAP Baru, terdapat ketidaksinkronan antara batasan penjatuhan pidana (strafmacht) dalam mekanisme Jalur Khusus dengan batas maksimal dalam Acara Pemeriksaan Singkat.

Analisis Pasal 234: Pasal 234 ayat (1) memberikan ruang bagi terdakwa yang mengakui semua perbuatannya untuk tindak pidana dengan ancaman maksimal tidak lebih dari 7 (tujuh) tahun. Sebagai “imbalan” atas pengakuan tersebut, Pasal 234 ayat (5) memberikan jaminan bahwa pidana yang dijatuhkan tidak boleh melebihi 2/3 (dua per tiga) dari maksimum pidana yang didakwakan. Secara matematis, jika seseorang didakwa dengan pasal yang mengancam pidana 7 tahun, maka maksimal hukuman yang ia terima adalah 4 tahun 8 bulan (sekitar 4,66 tahun).

Benturan dengan Pasal 257: Masalahnya, Pasal 234 ayat (1) menyatakan bahwa setelah pengakuan dilakukan, Penuntut Umum melimpahkan perkara ke “sidang acara pemeriksaan singkat”. Ketika perkara masuk ke ranah pemeriksaan singkat, maka berlakulah ketentuan dalam Bab Keenam, khususnya Pasal 257 ayat (5) yang menyatakan: “Pidana penjara yang dapat dijatuhkan terhadap Terdakwa paling lama 3 (tiga) tahun.”

Di sinilah letak kontradiksinya. Jika seorang terdakwa mengakui kesalahan untuk tindak pidana dengan ancaman 7 tahun, Pasal 234 (5) menjanjikan plafon maksimal pidana 4,6 tahun. Namun, karena prosedurnya menggunakan pemeriksaan singkat, Pasal 257 (5) memangkas plafon tersebut menjadi hanya 3 tahun.

Baca Juga  Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiil dalam Fungsi Negatif: Daya Guna Teoritis Tinggi, Daya Laku Praktis Rendah

Implikasi Yuridis: Secara hukum, hal ini menimbulkan  ketidakpastian hukum. Jika hakim menggunakan Pasal 234 (5) sebagai dasar (karena dianggap sebagai aturan khusus/insentif bagi pengakuan), maka hakim berisiko melanggar batas kewenangan prosedur pemeriksaan singkat di Pasal 257 (5). Sebaliknya, jika hakim patuh pada Pasal 257 (5), maka esensi insentif “2/3” dalam Pasal 234 (5) menjadi tidak relevan untuk tindak pidana yang memiliki ancaman di atas 4,5 tahun, karena hukumannya secara otomatis akan dipangkas menjadi maksimal 3 tahun. Ini menunjukkan adanya “aturan ganda” yang tidak terencana atau ketidaksinkronan legislasi yang berpotensi menimbulkan kebingungan bagi hakim dalam memutus perkara.

IV. Disparitas Keadilan: Nasib Restorative Justice (RJ) vs Plea Bargain

Persoalan kedua adalah mengenai ketidakadilan posisi tawar antara terdakwa yang menempuh jalur damai (RJ) namun tetap disidangkan, dengan terdakwa yang sekadar mengakui kesalahan (Plea Bargain).

Kasus Posisi dan Problematika: Mari kita bandingkan dua subjek hukum:

  1. Terdakwa A (Jalur RJ Parsial – Pasal 204 KUHAP): Ia telah meminta maaf, berdamai dengan korban, dan mengganti kerugian. Namun, perkaranya tetap maju ke pengadilan. Di persidangan, perdamaian ini hanya dipandang sebagai “hal yang meringankan” (Pasal 54 KUHP Baru). Tidak ada batasan atau plafon maksimal pidana yang dijamin undang-undang bagi Terdakwa A. Ia tetap terancam hukuman maksimal dari pasal yang didakwakan (misal 7 tahun), meski hakim mungkin akan meringankannya secara diskresioner.
  2. Terdakwa B (Jalur Jalur Khusus/Plea Bargain – Pasal 205 KUHAP): Ia mungkin tidak berdamai dengan korban dan tidak mengganti kerugian, namun ia mengakui semua perbuatannya di hadapan Penuntut Umum. Secara otomatis, ia mendapatkan hak “jalur khusus” dengan kepastian hukum bahwa ia tidak akan divonis lebih dari 3 tahun (berdasarkan Pasal 257 ayat 5).

Analisis Ketidakadilan: Terdapat ketimpangan substantif di sini. Terdakwa A yang telah melakukan upaya pemulihan keadaan (restorative) justru berada dalam ketidakpastian hukuman. Sedangkan Terdakwa B yang hanya melakukan pengakuan prosedural demi efisiensi peradilan justru mendapatkan “jaminan” hukuman ringan.

Sistem ini seolah-olah lebih menghargai “efisiensi birokrasi peradilan” (melalui pengakuan bersalah yang mempercepat sidang) daripada “pemulihan martabat korban dan pelaku” (melalui RJ). Terdakwa B mendapatkan cap hukuman yang pasti, sementara Terdakwa A bergantung sepenuhnya pada “kemurahan hati” atau diskresi hakim tanpa adanya batasan maksimal yang eksplisit seperti dalam jalur khusus.

V. Pengakuan Bersalah: Prosedural vs Substantif

Sebagaimana diulas dalam berbagai literatur dan opini hukum terkait KUHAP BARU, mekanisme pengakuan bersalah (Plea Bargain) dalam Pasal 205 bukanlah sekadar bukti kesalahan substantif, melainkan sebuah “kunci prosedural”.

Baca Juga  Pelatihan Teknis Yudisial Gelombang 6: YM Dr. Marsudin Nainggolan Paparkan Instrumen Kendali Mutu dan Hukum Acara Transisional

Dalam sistem Common Law, plea bargain adalah transaksi. Terdakwa memberikan pengakuan untuk membantu negara menghemat biaya dan waktu persidangan, dan sebagai gantinya negara memberikan pengurangan hukuman. Namun, dalam konteks hukum Indonesia, pengakuan ini harus dilakukan dengan hati-hati. Jika pengakuan bersalah hanya dilihat dari sisi efisiensi (seperti yang tercermin dalam Pasal 234 dan 257), maka kita sedang mengarah pada sistem peradilan yang transaksional.

Keadilan prosedural yang ditawarkan oleh Plea Bargain memberikan kepastian (maksimal 3 tahun), namun seringkali mengabaikan aspek keadilan bagi korban yang mungkin merasa hukuman 3 tahun tidak setimpal untuk kejahatan dengan ancaman 7 tahun. Di sisi lain, Restorative Justice yang lebih mengedepankan keadilan substantif justru “dianaktirikan” karena tidak memiliki kodifikasi insentif hukuman yang sejelas Jalur Khusus apabila perkara tersebut tetap harus masuk ke persidangan.

VI. Kesimpulan dan Rekomendasi

KUHAP BARU memerlukan harmonisasi lebih lanjut melalui Peraturan Pemerintah atau Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) untuk menjawab dua persoalan besar di atas:

  1. Harmonisasi Pasal 234 dan 257: Harus dipertegas apakah batasan 3 tahun di Pasal 257 (5) bersifat absolut ataukah terdapat pengecualian bagi perkara yang masuk melalui pintu Pasal 234 (Jalur Khusus). Tanpa ketegasan, hal tersebut justru akan menimbulkan ketidakpastian hukum dan disparitas penjatuhan putusan.
  2. Plafon Hukuman bagi RJ di Persidangan: Untuk menghindari disparitas, undang-undang atau pedoman pemidanaan perlu memberikan “insentif’ yang setara bagi pelaku yang telah menempuh jalur RJ namun perkaranya tetap disidangkan. Jika pengakuan bersalah saja diberi batas maksimal 2/3 (Pasal 234) atau 3 tahun (Pasal 257), maka sudah sepatutnya pelaku yang telah berdamai dan memulihkan kerugian korban mendapatkan “jaminan” batasan hukuman yang serupa atau bahkan lebih ringan.

Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh efisiensi. Jangan sampai sistem peradilan kita memberikan “hadiah” yang lebih besar kepada mereka yang pandai bertransaksi dengan prosedur (plea bargain) daripada mereka yang tulus memperbaiki kesalahan terhadap sesama manusia (restorative justice).

Daftar Pustaka

Buku & Dokumen Resmi:
  • Republik Indonesia. (2025). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Jakarta: Lembaran Negara RI.
  • Nelson, Febby Mutiara. (2025). Modul Memahami KUHAP BARU: Peran dan Kedudukan Hakim dalam KUHAP BARU.
  • Tim Sosialisasi UU KUHP & KUHAP. (2025). Bahan Tayang Konferensi Pers UU KUHP, KUHAP, dan Penyesuaian Pidana. Jakarta: Kementerian Hukum dan HAM.
Sumber Internet:
  • Suara BSDK. (2025). Plea Bargain dan Pengakuan terhadap Dakwaan dalam KUHAP BARU: Kunci Prosedural Bukan Bukti Kesalahan Substantif. Diakses dari https://suarabsdk.com
  • Hukumonline. (2025). Desain Pengakuan Bersalah dalam KUHAP Baru: Antara Efisiensi dan Keadilan Prosedural. Diakses dari https://www.hukumonline.com
  • Dandapala. (2025). Menelusuri Tiga Pintu Masuk Plea Bargain dalam KUHAP Baru. Diakses dari https://dandapala.com
  • Hukumonline. (2025). Pengakuan Bersalah dan Pengakuan Terdakwa dalam KUHAP Baru: Apa Bedanya?. Diakses dari https://www.hukumonline.com
Muhammad Hanif Ramadhan
Kontributor
Muhammad Hanif Ramadhan
Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Redeb

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Acara Pemeriksaan Singkat Acara Singkat artikel dilema Keadilan Restoratif paradoks pengakuan bersalah plea bargain Restorative Justice
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional

November 2, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Tiga Pesan Penting Ketua PTA Palembang dalam Pelantikan Hakim Tinggi dan Panitera Pengganti

By AmanNovember 2, 20260

PALEMBANG — Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Palembang Drs. Nur Khazim, SH, MH secara resmi…

Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional

November 2, 2026

BSDK Buka Diklat SPPA Gelombang 2, Cetak Hakim Anak yang Humanis dan Berintegritas

November 2, 2026

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

November 1, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Tiga Pesan Penting Ketua PTA Palembang dalam Pelantikan Hakim Tinggi dan Panitera Pengganti
  • Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional
  • BSDK Buka Diklat SPPA Gelombang 2, Cetak Hakim Anak yang Humanis dan Berintegritas
  • Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer
  • MOVE!

Recent Comments

  1. Abdul Mustopa on MOVE!
  2. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  3. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  4. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  5. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.