Author: Tri Indroyono

Avatar photo

Panitera Pengadilan Negeri Garut

Garut – Pengadilan Negeri Garut kembali menunjukkan perannya sebagai garda terdepan pembaruan hukum pidana nasional melalui sebuah persidangan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Bapak Jusdi Purmawan, S.H., M.H., Wakil Ketua Pengadilan Negeri Garut didampingi anggotanya Haryanto Das`at, S.H., M.H dan Sandi Muhammad Alayubi, S.H., M.H. Majelis Hakim dalam perkara Nomor 412/Pid.B/2025/PN Grt telah menerapkan putusan pemaafan hakim (judicial pardon) yang menandai era baru dalam penegakan hukum pidana. Putusan tersebut patut dicatat sebagai tonggak penting penerapan Pasal 54 KUHP Baru di tingkat peradilan pertama, sekaligus penanda konkret hadirnya hukum pidana yang lebih berkeadilan dan berperikemanusiaan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023…

Read More

Di ruang-ruang pengadilan, keadilan tidak serta merta, tiba-tiba lahir dan diputuskan melalui palu sidang seorang Hakim. Ada proses panjang sebelum terbitnya sebuah putusan Hakim. Putusan lahir dari rangkaian proses administratif, ketelitian pencatatan, akurasi minutasi, kecepatan layanan perkara, hingga keterbukaan informasi yang dijaga oleh para panitera. Dalam sistem peradilan modern, panitera bukan sekadar pelaksana teknis administrasi, melainkan simpul strategis yang menentukan tertibnya proses hukum, keabsahan putusan, serta kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan. Namun, di balik peran strategis tersebut, terdapat persoalan klasik yang belum sepenuhnya terselesaikan: kesejahteraan panitera yang belum sebanding dengan beban tanggung jawab, kompleksitas pekerjaan, serta risiko etik dan hukum…

Read More

Prolog Buku ini lahir dari ruang-ruang sunyi yang jarang terdengar. Dari kursi Panitera Pengganti yang sering luput dari sorot, namun tak pernah absen dari tanggung jawab. Dari ketukan palu yang terdengar tegas, dan dari risalah sidang yang ditulis dalam senyap, tetapi menentukan arah keadilan. “Khayalan dan Pengalaman Seorang Panitera Pengganti” bukan sekadar kumpulan cerpen, melainkan serpihan perenungan seorang aparatur peradilan yang mencoba berdialog dengan dirinya sendiri. Antara aturan dan rasa, antara kewajiban dan keikhlasan, antara rutinitas dan makna pengabdian. Khayalan dalam buku ini bukanlah pelarian, melainkan cara untuk bertahan. Cara untuk menjaga nurani agar tidak tumpul oleh berkas, tidak lelah…

Read More

Sang SahabatAku mengenalnya sejak lama bukan sejak kami duduk sebangku, bukan pula sejak saling bertukar nomor telepon, melainkan sejak aku belajar memahami arti diam yang bekerja dan tindakan yang tidak ingin dipuji. Ia bukan siapa-siapa dalam daftar jabatan, bukan pula nama yang sering disebut dalam sambutan atau laporan tahunan. Tetapi entah mengapa, dalam banyak perkara kehidupan, justru dialah yang paling sering hadir tanpa undangan, tanpa pamrih. Kami memanggilnya Sang Sahabat. Ia tidak pernah keberatan dengan sebutan itu, meski aku tahu ia tidak terlalu suka kata yang terlalu besar. “Sahabat itu tugas berat,” katanya suatu hari. “Ia menuntut kejujuran, bahkan ketika…

Read More

Penegakan hukum merupakan inti dari penyelenggaraan negara hukum dan menjadi instrumen utama dalam mewujudkan keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan bagi masyarakat. Dalam praktik peradilan, penegakan hukum tidak dapat dipisahkan dari kebijakan publik yang dirumuskan oleh negara dan dilaksanakan oleh aparatur penegak hukum. Kebijakan peradilan diperlukan untuk menjamin keseragaman prosedur, efisiensi penyelenggaraan peradilan, serta akuntabilitas pelayanan hukum. Namun demikian, penegakan hukum juga dituntut untuk tetap menghadirkan keadilan substantif bagi para pencari keadilan. Dalam konteks peradilan umum, panitera pengadilan memiliki peran strategis dalam menjembatani kebijakan dan keadilan melalui pengelolaan administrasi perkara yang tertib, profesional, dan berintegritas. Artikel ini membahas penegakan hukum dari…

Read More

Realitas Kehidupan Di sebuah ruang kerja yang dindingnya penuh slogan motivasi Integritas, Profesionalisme, Akuntabilitas, hidup sekelompok manusia yang setiap pagi tampak sibuk, tetapi tak selalu bekerja. Mereka datang tepat waktu, duduk rapi, membuka komputer, lalu membuka jendela lain yang lebih penting dari pekerjaan: jendela untuk menilai orang lain. Tokoh utama kita sebut saja Aku bukan siapa-siapa. Sudah punya nama di kartu identitas, sudah punya muka di cermin, dan karena itu tak berniat mencari muka di hadapan siapa pun. Prinsipnya sederhana: bekerja secukupnya dengan sungguh-sungguh, bicara seperlunya dengan jujur, dan berharap hasil pada Allah SWT, bukan pada tepuk tangan manusia. Namun…

Read More