Megamendung, 12 Februari 2026 — Udara pegunungan di kawasan Pusdiklat BSDK Mahkamah Agung pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena matahari, melainkan karena semangat kebersamaan keluarga besar Peradilan Tata Usaha Negara (PERATUN) yang berkumpul memperingati Hari Ulang Tahun ke-35.
Secara historis, hari lahir PERATUN ditetapkan setiap 14 Januari 1991. Dan sebagaimana tradisi yang terjaga dari tahun ke tahun, beberapa hari setelahnya seluruh warga PERATUN se-Indonesia berkumpul dalam satu ruang silaturahmi nasional—menguatkan soliditas melalui olahraga dan kreasi seni.
Tahun ini, rangkaian kegiatan dipusatkan di Gedung Pusdiklat BSDK Mahkamah Agung, Megamendung, Bogor. Upacara pembukaan dimulai pukul 07.00 WIB di lapangan tenis, diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Hymne Mahkamah Agung, pembacaan doa, laporan Ketua Panitia, hingga sambutan dan pembukaan resmi oleh Ketua Kamar Tata Usaha Negara Mahkamah Agung, Yulius.


Hadir dalam kegiatan tersebut para Hakim Agung Kamar TUN: Irfan Fachruddin, Lulik Tri Cahyaningrum, Yodi Martono Wahyunandi, dan Hari Sugiharto. Turut hadir pula Dirjen Badilmiltun, Yuwono Agung Nugroho.
Dalam sambutannya, Prof. Yulius menyampaikan rasa syukur atas perjalanan 35 tahun PERATUN yang secara nyata telah memberi kontribusi dalam pembangunan demokrasi dan penguatan tata kelola pemerintahan. Menurutnya, PERATUN bukan hanya lembaga penyelesai sengketa administratif, tetapi bagian penting dari arsitektur negara hukum.
“Warga PERATUN secara internal penting untuk membangun dan menjaga soliditas, persaudaraan, gotong royong, dan saling membantu,” ujarnya.
Beliau juga mengingatkan agar rasa syukur diwujudkan dengan menjaga integritas dan membuang sikap-sikap yang menunjukkan keserakahan. “Laksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, penuh profesional dan menjaga integritas,” tegasnya.
Pesan itu terasa kontekstual. Di tengah dinamika penegakan hukum administrasi negara yang semakin kompleks, integritas bukan sekadar slogan, melainkan fondasi eksistensial.
Sebanyak sebelas kontingen ambil bagian dalam kompetisi tahun ini: PT TUN Medan (Anak Medan), PT TUN Palembang (Pacak), PT TUN Surabaya (Bonek Gaspol), Panmud TUN (Squad Buster), PT TUN Banjarmasin (Cakra Borneo), PT TUN Mataram (Beta Bali Nusra), PT TUN Jakarta (Cikini Gondangdia), Pengadilan Pajak (Tax Court Satya Wira), Kamar TUN (The Tunners), PT TUN Manado (Torang Basudara), dan PT TUN Makassar (Ewako Yes).
Masing-masing hadir dengan seragam kebanggaan, membawa identitas daerah sekaligus semangat persaudaraan nasional. Cabang olahraga yang dipertandingkan meliputi tenis lapangan putra, bola voli putri, serta fun games. Suasana kompetisi berlangsung sportif dan penuh kegembiraan.
Untuk cabang Bola Voli Wanita, juara pertama diraih oleh PT TUN Jakarta, disusul PT TUN Manado di posisi kedua, dan Pengadilan Pajak di posisi ketiga. Sementara pada cabang Tenis Lapangan Putra, PT TUN Jakarta kembali tampil sebagai juara pertama, dengan Pengadilan Pajak sebagai runner-up.
Namun sesungguhnya, yang paling terasa bukanlah soal podium. Yang mengemuka adalah perjumpaan lintas generasi dan lintas wilayah. Para hakim dan aparatur yang sehari-hari bergelut dengan berkas perkara, pagi itu berdiri berdampingan di lapangan, menyatu dalam identitas yang sama: keluarga besar PERATUN.
Di satu sisi, kita berbicara tentang reformasi kelembagaan dan desain sistem peradilan. Di sisi lain, kita merawat solidaritas dan ikatan emosional institusi. Keduanya saling menguatkan.
Tiga puluh lima tahun adalah usia matang. Bukan lagi sekadar bertahan, tetapi bertumbuh dan mengokohkan diri. Megamendung hari ini menjadi saksi bahwa PERATUN bukan hanya ruang sidang dan putusan. Ia juga ruang persaudaraan, ruang pembelajaran, dan ruang penguatan integritas. Sebab pada akhirnya, peradilan tata usaha negara bukan hanya tentang menguji keputusan pejabat. Ia adalah penjaga batas antara kuasa dan keadilan. Dan integritas adalah napasnya.
Top of Form
Bottom of Form
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


