Tagaytay, Filipina. Udara sejuk dan gerimis tipis menyambut kedatangan rombongan delegasi Mahkamah Agung negara-negara ASEAN di Philippine Judicial Academy (PHILJA), pusat pendidikan dan pelatihan peradilan Filipina yang berlokasi di kota pegunungan Tagaytay, Provinsi Cavite. Sembilan hakim dari Indonesia (Dr. H. Armansyah, Lc., M.H., Aryaniek Andayani, S.H., M.H., Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur, S.H., Maria Fransiska Walintukan, S.H., M.H., Dr. Rangga Lukita Desnata, S.H., M.H., Abi Zaky Azizi, S.H., M.H., Ghesa Agnanto Hutomo, S.H., M.H., Wanda Rara Farezha, S.H., dan Jatmiko Wirawan, S.H.) turut ambil bagian dalam program peningkatan kapasitas yudisial kawasan ini, sebagai bagian penting dari upaya memperkuat kolaborasi hukum regional di tengah berkembangnya tantangan hukum internasional.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian Advanced Courses of The Hague Academy of International Law in Advancing ASEAN Judiciaries, sebuah program peningkatan kapasitas hakim dan aparat peradilan kawasan yang bekerja sama dengan The Hague Academy of International Law.
Rombongan bertolak dari Manila sekitar pukul 10.00 waktu setempat menggunakan bus milik Supreme Court of the Philippines. Dalam waktu kurang lebih satu setengah jam perjalanan darat, suasana kota metropolitan perlahan berganti menjadi lanskap hijau perbukitan.
Semakin mendekati Tagaytay, suhu terasa lebih dingin dibanding Manila. Kabut tipis turun perlahan, menghadirkan suasana yang lebih tenang, seolah menjadi pengantar alami menuju sebuah tempat belajar yang memang dirancang jauh dari hiruk-pikuk Metropolitan.
Rombongan tiba sekitar pukul 11.30 dan langsung disambut dengan jamuan makan siang di kompleks kampus PHILJA yang tertata rapi dan asri.
PIHLJA: Kampus di Tengah Alam
Dalam seremoni penyambutan, Dr. Romulo M. Abancio Jr., Kepala Bidang Pelatihan PHILJA, memperkenalkan lembaga PHILJA sebagai rumah pembelajaran berkelanjutan bagi para hakim dan aparatur peradilan.
PHILJA berdiri di atas lahan lebih dari tiga hektar, dirancang sebagai tempat pelatihan, dengan fasilitas yang lengkap, seperti ruang kelas modern, auditorium, perpustakaan, asrama representatif, hingga sarana olahraga seperti lapangan basket, kolam renang, dan ruang biliar. Bahkan tersedia mushalla untuk peserta Muslim, meski populasi muslim di Filipina terbilang minoritas. Hal ini sekaligus menunjukkan perhatian pada kebutuhan peserta internasional.
Dalam pemaparannya melalui video, dijelaskan bahwa sejak 2011 hingga 2025, PHILJA telah menyelenggarakan sekitar 750 program pendidikan dan pelatihan. Dalam dua tahun terakhir saja, tercatat 93 kegiatan diklat berskala nasional maupun internasional dilaksanakan di kampus ini. Angka ini mencerminkan peran PHILJA sebagai simpul penting pendidikan yudisial di kawasan ASEAN dan Pasifik.
Gagasan pembangunan PHILJA bermula pada visi modernisasi peradilan Filipina pada era Presiden Fidel V. Ramos. Saat itu, pemerintah menilai bahwa reformasi hukum tidak cukup hanya dengan memperbaiki sistem, tetapi juga harus dimulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dengan dukungan kerja sama internasional, termasuk bantuan pembangunan dari Pemerintah Jepang, PHILJA berkembang menjadi pusat pelatihan yang kini tidak hanya melayani kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi tuan rumah berbagai forum hukum regional.

Dalam sambutan berikutnya, Vice Chancellor PHILJA, Hakim Edgardo L. Delos Santos, memperkenalkan keunikan geografis lokasi kampus yang berada tidak jauh dari Taal Volcano, salah satu gunung berapi aktif paling terkenal di Filipina.
Kedekatan dengan alam tentu saja smmberikan suasana kondusif bagi pembelajaran. Di sini peserta tidak hanya berdiskusi tentang hukum, tetapi juga mendapatkan ruang untuk berpikir jernih, jauh dari tekanan rutinitas.
Sementara itu, Dean Sedfrey M. Candelaria memaparkan agenda akademik yang akan dijalani peserta, mulai dari diskusi hukum internasional, penguatan kapasitas peradilan regional, hingga pertukaran pengalaman antarnegara ASEAN dalam menghadapi tantangan hukum kontemporer.

Menanam Pohon, Simbol Kerja Sama dan Harapan
Sebagai simbol persahabatan dan keberlanjutan kerja sama, acara penyambutan ditutup dengan kegiatan penanaman pohon di lingkungan kampus. Setiap delegasi negara mendapat kesempatan menanam satu pohon sebagai tanda jejak kolaborasi.
Delegasi Indonesia memperoleh giliran menanam pohon sawo. Meski hujan gerimis masih turun, para peserta tetap antusias, bahkan suasana kebersamaan terasa semakin hangat.

Kegiatan sederhana itu mencerminkan komitmen kolektif antar sesama peradilan sesama kawasan ASEAN. Layaknya pohon yang ditanam, membutuhkan waktu, perawatan, dan komitmen bersama agar tumbuh kokoh dan memberi manfaat lintas generasi. Pelatihan di PHILJA diharapkan menjadi bagian dari upaya mempererat jejaring yudisial ASEAN di tengah dinamika hukum global yang semakin kompleks, mulai dari isu perdagangan internasional, kejahatan lintas negara, hingga transformasi digital dalam sistem peradilan.
Di kampus yang sunyi di dataran tinggi Tagaytay ini, para hakim dan praktisi hukum dari berbagai negara duduk bersama, berdiskusi, dan belajar satu sama lain—membangun kesamaan visi bahwa keadilan tidak lagi berdiri dalam batas negara, melainkan dalam semangat kolaborasi kawasan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


