Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mentari Tagaytay dan Semangat Nasionalisme: Sembilan Hakim Indonesia Ikuti Advanced Courses 2026

16 February 2026 • 21:45 WIB

Kunjungan Bersejarah Delegasi Mahkamah Agung Republik Indonesia di Cavite: Memetik Pelajaran Hukum dari Revolusi Filipina

16 February 2026 • 19:29 WIB

Pembenahan Integritas: Perspektif Meritokrasi

16 February 2026 • 14:00 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Kunjungan Bersejarah Delegasi Mahkamah Agung Republik Indonesia di Cavite: Memetik Pelajaran Hukum dari Revolusi Filipina
Berita Seri Advanced Courses on the Role of International Law THAIL-PHILJA, Filipina 2026

Kunjungan Bersejarah Delegasi Mahkamah Agung Republik Indonesia di Cavite: Memetik Pelajaran Hukum dari Revolusi Filipina

Ghesa Agnanto HutomoGhesa Agnanto Hutomo16 February 2026 • 19:29 WIB6 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Mengambil jeda sejenak dari padatnya agenda akademik, sembilan delegasi Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA RI) menyambut dengan antusias undangan City Tour yang diselenggarakan oleh Philippine Judicial Academy (PHILJA). Rombongan yang membawa nama harum peradilan Indonesia ini terdiri dari empat Hakim Yustisial MA RI, yakni Aryaniek Andayani, Armansyah, Tri B.K. Abdul Gafur, dan Maria Fransiska Walintukan. Mereka didampingi oleh lima hakim tangguh yang bertugas di berbagai wilayah nusantara: Rangga Lukita Desnata dari Pengadilan Negeri Muara Enim, Abi Zaky Azizi dari Pengadilan Negeri Marabahan, Ghesa Agnanto Hutomo dari Pengadilan Negeri Namlea, Wanda Rara Farezha dari Pengadilan Negeri Sungai Penuh, dan Jatmiko Wirawan dari Pengadilan Negeri Sidikalang. Perjalanan menyusuri kawasan bersejarah di Cavite ini tidak hanya menjadi ajang rekreasi edukatif, tetapi juga momen di mana delegasi Indonesia berbaur hangat, bertukar pandangan, dan membangun jejaring persahabatan dengan para delegasi hukum dari negara-negara ASEAN lainnya.

Destinasi pertama yang memukau rombongan adalah The GBR Museum, sebuah institusi budaya yang dikelola dengan dedikasi tinggi oleh Geronimo Berenguer de los Reyes Jr. Foundation di General Trias, Cavite. Begitu melangkahkan kaki ke dalam bangunan museum yang dikelilingi taman rimbun nan tertata ini, para Hakim langsung disambut oleh galeri foto berskala besar yang berfungsi sebagai lorong waktu visual. Detail arsitektur bangunan yang elegan berpadu dengan pencahayaan museum yang temaram, memusatkan perhatian seluruh delegasi pada koleksi arsip langka yang menceritakan cikal bakal berdirinya negara Filipina.

Melalui pameran fotografi dari abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang sangat komprehensif, museum ini merekam jejak perkembangan infrastruktur dan transformasi sosial Filipina. Para delegasi ASEAN tampak terpukau mengamati potret-potret hitam putih yang mendokumentasikan perubahan Manila dari sebuah kota kolonial Spanyol yang klasik menjadi pusat aktivitas yang mulai merangkul modernitas. Terlihat jelas bagaimana masyarakat Filipina pada masa lampau mulai menata kota, menggerakkan roda ekonomi, dan merintis peradaban modern mereka di tengah bayang-bayang pergolakan penguasa asing. Lebih dari sekadar potret pembangunan, The GBR Museum juga menyuguhkan narasi perjuangan rakyat Filipina yang menggetarkan hati.

Salah satu paviliun secara khusus menampilkan dokumentasi masa-masa sulit saat transisi penjajahan berdarah dari tangan Spanyol ke Amerika Serikat. Wajah-wajah letih namun pantang menyerah dari para pejuang, realitas penderitaan rakyat jelata, hingga ketangguhan mereka dalam mempertahankan tanah air tergambar jelas dari balik lensa kamera masa lampau. Pameran ini memberikan perspektif visual yang mendalam bagi para penegak hukum tentang harga sebuah kebebasan.

Baca Juga  Ketua Mahkamah Agung RI: Transformasi Digital Harus Menjaga Martabat Manusia dan Keadilan Konstitusional

Selain sejarah sosial-politik, museum ini juga mengejutkan para pengunjung dengan koleksi sejarah penerbangan dan miniatur maritim yang menunjukkan visi kemajuan Filipina di masa lalu. Pajangan model pesawat bersejarah menceritakan bagaimana Filipina berusaha mengejar ketertinggalan teknologi dan membuka jalur konektivitas di Asia Tenggara. Perkembangan pesat ini memantik diskusi yang renyah antara delegasi Indonesia dengan rekan-rekan delegasi dari Malaysia, Vietnam, Singapura dan Brunei Darusalam, membahas betapa miripnya pola modernisasi dan tantangan historis di antara negara-negara Asia Tenggara.

Menghabiskan waktu di The GBR Museum memberikan ruang kontemplasi bagi Delegasi dari Indonesia. Mengamati rekam jejak perjuangan dan keringat pembangunan masyarakat Filipina membuat mereka merenungkan kembali fondasi keadilan di negara masing-masing. Sembari berjalan menuju bus, para delegasi sepakat bahwa sejarah perjuangan bangsa seperti yang terekam di museum ini adalah elemen krusial yang membentuk sistem hukum dan konstitusi modern suatu negara yang berdaulat.

Perjalanan sejarah kemudian berlanjut ke The Emilio Aguinaldo Shrine, sebuah monumen nasional yang terletak di Kawit, Cavite. Menginjakkan kaki di pelataran rumah bersejarah yang megah ini, delegasi langsung disambut oleh aura patriotisme yang kental. Di sinilah, pada tanggal 12 Juni 1898, proklamasi kemerdekaan Filipina dikumandangkan untuk pertama kalinya, dan bendera nasional dibentangkan dari balkon ikoniknya yang dijuluki “Balkon Kemerdekaan”. Arsitektur rumah yang unik dengan menara menjulang dan detail ukiran kayu klasik seolah menjadi saksi bisu keberanian dan visi seorang pemimpin revolusi.

Memasuki bagian dalam mansion, para Hakim negara ASEAN diajak menyelami langsung pikiran dan taktik Jenderal Emilio Aguinaldo. Rumah ini dirancang bukan hanya sebagai tempat tinggal, melainkan juga sebagai markas militer yang sarat akan strategi pertahanan rahasia. Rombongan, yang membaur dengan delegasi ASEAN lainnya, berdecak kagum saat menyusuri berbagai lorong sempit rahasia, kompartemen persembunyian di balik lemari, dan desain lantai yang digunakan untuk menghindari sergapan musuh pada masa revolusi. Setiap sudut rumah adalah cerminan taktik gerilya dan kewaspadaan tingkat tinggi dari sang jenderal.

Koleksi memorabilia di dalam rumah tokoh proklamasi Aguinaldo ini semakin menghidupkan epik perjuangan Aguinaldo melawan pendudukan asing. Delegasi mengamati dengan saksama pajangan seragam militer, pedang, dan senjata peninggalan revolusi, hingga dokumen-dokumen penting yang merintis jalan menuju terbentuknya Republik Filipina Pertama. Bagi para penegak hukum yang hadir, melihat langsung artefak ini memberikan sentuhan emosional tentang bagaimana embrio konstitusi dan kedaulatan suatu bangsa diperjuangkan dengan darah dan air mata, mengingatkan kembali pada fondasi esensial dari hukum bernegara.

Baca Juga  PP IKAHI gelar Donor Darah dalam rangka HUT IKAHI ke -73

Di sela-sela mengamati artefak di shrine tersebut, para delegasi, khususnya kesembilan hakim dari Indonesia, terlarut dalam diskusi mendalam mengenai sisi kelam dan kompleksitas sejarah revolusi Filipina: irisan perjuangan antara Emilio Aguinaldo dan Andres Bonifacio. Sejarah mencatat keduanya sebagai arsitek kemerdekaan, namun dengan jalan dan taktik yang berbenturan. Jika Bonifacio, sang “Bapak Revolusi Filipina” sekaligus pendiri organisasi rahasia Katipunan, adalah letupan api pertama yang membakar semangat perlawanan rakyat jelata, maka Aguinaldo hadir sebagai sosok teknokrat dan ahli strategi militer dari faksi Magdalo yang sukses memenangkan berbagai pertempuran krusial di wilayah Cavite.

Para delegasi ASEAN saling bertukar pandangan ketika pemandu wisata menceritakan titik didih hubungan keduanya yang memuncak pada Konvensi Tejeros tahun 1897. Di mata para penegak hukum ini, momen tersebut bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan potret nyata dinamika politik dan hukum di masa krisis. Konvensi yang niat awalnya untuk menyatukan faksi-faksi revolusioner justru berujung pada terpilihnya Aguinaldo sebagai presiden secara in absentia, dan terpinggirkannya Bonifacio. Penolakan Bonifacio atas hasil konvensi yang dianggapnya penuh kecurangan berujung pada pembentukan pemerintahan tandingan.

Bagi para hakim, episode selanjutnya adalah sebuah kajian sejarah hukum yang tragis. Transisi kekuasaan ini bermuara pada penangkapan Bonifacio oleh pasukan Aguinaldo. Bonifacio kemudian dihadapkan pada Pengadilan Militer sebuah proses peradilan di tengah kecamuk perang yang keabsahan dan keadilannya masih terus diperdebatkan oleh para sejarawan—hingga akhirnya ia dieksekusi di pegunungan Maragondon atas tuduhan pengkhianatan. Membedah kisah ini di tanah kelahirannya langsung, para delegasi merenungkan bagaimana ambisi faksionalisme dan benturan kelas sosial seringkali menjadi sisi gelap dari transisi kedaulatan. Ini menjadi pelajaran mahal dan universal tentang bagaimana instrumen hukum dan peradilan kerap diuji secara luar biasa hebat di tengah pusaran revolusi sebuah negara.

Kunjungan ke Emilio Aguinaldo Shrine ditutup dengan momen refleksi yang tenang di taman makam sang jenderal yang asri di halaman belakang properti. Antusiasme delegasi MA RI dan rekan-rekan ASEAN sama sekali tak surut meski hari semakin sore. City tour persembahan PHILJA ini sukses membangkitkan kesadaran kolektif bahwa tata hukum yang tegak hari ini adalah buah dari heroisme masa lalu. Dengan wawasan historis yang baru terkalibrasi, sembilan hakim Indonesia ini bersiap untuk kembali ke kelas, membawa bekal inspirasi tentang pentingnya kedaulatan dan keadilan di kancah hukum internasional.

Ghesa Agnanto Hutomo
Kontributor
Ghesa Agnanto Hutomo
Hakim Pengadilan Negeri Namlea

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

berita
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Mentari Tagaytay dan Semangat Nasionalisme: Sembilan Hakim Indonesia Ikuti Advanced Courses 2026

16 February 2026 • 21:45 WIB

Saat Negara ASEAN Memerangi Kejahatan Berat, Brunei Justru Waspadai Kejahatan Ini

16 February 2026 • 08:29 WIB

Advanced Courses of The Hague Academy of International Law in Advancing ASEAN Judiciaries

14 February 2026 • 19:00 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Mentari Tagaytay dan Semangat Nasionalisme: Sembilan Hakim Indonesia Ikuti Advanced Courses 2026

16 February 2026 • 21:45 WIB

Kunjungan Bersejarah Delegasi Mahkamah Agung Republik Indonesia di Cavite: Memetik Pelajaran Hukum dari Revolusi Filipina

16 February 2026 • 19:29 WIB

Pembenahan Integritas: Perspektif Meritokrasi

16 February 2026 • 14:00 WIB

Integrasi Metodologi Jurimetri dalam Praktik Pembagian Aset Pasca-Perceraian: Menuju Standarisasi Keadilan Proporsional di Indonesia

16 February 2026 • 09:02 WIB
Don't Miss

Mentari Tagaytay dan Semangat Nasionalisme: Sembilan Hakim Indonesia Ikuti Advanced Courses 2026

By Wanda Rara Farezha,S.H.16 February 2026 • 21:45 WIB0

Tagaytay, 16 Februari 2026 – Matahari cerah di langit Tagaytay, menebarkan cahaya keemasan yang perlahan…

Kunjungan Bersejarah Delegasi Mahkamah Agung Republik Indonesia di Cavite: Memetik Pelajaran Hukum dari Revolusi Filipina

16 February 2026 • 19:29 WIB

Pembenahan Integritas: Perspektif Meritokrasi

16 February 2026 • 14:00 WIB

Integrasi Metodologi Jurimetri dalam Praktik Pembagian Aset Pasca-Perceraian: Menuju Standarisasi Keadilan Proporsional di Indonesia

16 February 2026 • 09:02 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Mentari Tagaytay dan Semangat Nasionalisme: Sembilan Hakim Indonesia Ikuti Advanced Courses 2026
  • Kunjungan Bersejarah Delegasi Mahkamah Agung Republik Indonesia di Cavite: Memetik Pelajaran Hukum dari Revolusi Filipina
  • Pembenahan Integritas: Perspektif Meritokrasi
  • Integrasi Metodologi Jurimetri dalam Praktik Pembagian Aset Pasca-Perceraian: Menuju Standarisasi Keadilan Proporsional di Indonesia
  • Saat Negara ASEAN Memerangi Kejahatan Berat, Brunei Justru Waspadai Kejahatan Ini

Recent Comments

No comments to show.
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com :  redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas, S.H., M.Kn.
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.