Di ujung dunia yang dikelilingi oleh lautan tak berujung, di antara gelombang yang berbisik rahasia dari zaman kuno, tinggallah sebuah pulau kecil bernama Mantara Laut. Di sana, di bawah pohon beringin yang berusia ribuan tahun, duduk seorang manusia dengan mata yang seolah-olah menatap dasar laut. Namun, jangan salah ia bukan manusia biasa. Ia adalah pewaris dari nenek moyang yang pernah hidup bersama paus, berbicara dengan ikan pari, dan diberkati oleh bintang laut bercahaya yang muncul setiap malam di atas air.
Konon, ia bukan manusia biasa. Leluhurnya pernah hidup bersama paus raksasa di palung terdalam, berunding dengan ikan pari tentang arus musim, dan menyelamatkan karang-karang tua dari keserakahan kapal besi. Pada suatu malam ribuan tahun silam, seekor bintang laut bercahaya turun dari langit dan menyentuh dahi moyangnya. Sejak itu, garis keturunannya diberi satu amanah yakni menjaga keseimbangan antara manusia dan laut.
Dahulu ketika dunia masih baru dan laut belum dipetakan oleh manusia, lautan bukan hanya sumber kehidupan, tapi juga tempat hukum dan keseimbangan. Di bawah laut, terdapat Wilayah Laut Kuno wilayah tak tersentuh oleh zaman yang dijaga oleh para Pembawa Hukum Laut, manusia-manusia yang dipilih karena hatinya bersih dan jiwa mereka penuh dengan rasa hormat terhadap alam.
Setiap malam, saat ombak mereda dan angin membawa aroma asin yang lembut, bintang laut bercahaya itu muncul kembali di permukaan air—seperti mata langit yang mengawasi. Dan setiap kali cahaya itu berpendar lebih terang dari biasanya, itu pertanda: ada ketidakadilan yang harus diadili.
Suatu senja, nelayan-nelayan Mantara Laut datang dengan wajah muram. Ikan-ikan menghilang dari perairan dangkal. Terumbu karang rusak. Air menjadi keruh seperti hati yang menyimpan dusta.
“Wahai Hakim Bintang Laut,” kata seorang nelayan tua dengan suara bergetar, “laut tidak lagi memberi kami kehidupan. Ada yang salah.”
Hakim Bintang Laut menutup mata. Ia meletakkan telapak tangannya di tanah, seakan mendengarkan denyut bumi. Dalam keheningan itu, terdengar bisikan samar – suara paus jauh di selatan, suara pari yang terluka, dan gemuruh kapal besar yang tak dikenal.
Ketika ia membuka mata, cahaya bintang laut di ufuk timur menyala merah kebiruan.
“Itu bukan murka laut,” ujarnya pelan. “Itu luka.”
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Hakim Bintang Laut berdiri meninggalkan beringin purba. Jubahnya berkibar tertiup angin asin. Di tangannya muncul tongkat kayu laut yang telah lama tersembunyi di akar-akar pohon. “Besok,” katanya, “kita akan mencari siapa yang menimbang keuntungan lebih berat daripada kehidupan.”
Dan ombak pun berhenti berbisik—seolah laut sendiri menahan napas, menunggu pengadilan dimulai.
5 Years Later ….
(di dalam Kalender Mantara Laut 1 Tahun terhitung 3,3 Tahun sesuai dengan siklus Komet Encke), yang hanya membutuhkan waktu sekitar 3,3 tahun untuk menyelesaikan satu kali orbit mengelilingi Matahari)
Suatu hari di sebuah desa Kecil seorang putra dari desa nelayan kecil bernama Kalaan, bernama Tara Wisok seorang anak yang terpilih tapi oleh Warga desa kalaan dia dainggap dikutuk . Saat ia berusia 12 tahun, saat ombak menariknya ke tengah laut dalam malam bulan purnama ia dipanggil oleh nenek moyang laut: “Kau bukan anak dari tanah, melainkan keturunan bintang. Karena itu, kau yang akan jadi Hakim Bintang Laut.”
Namun, ada satu rahasia yang hanya diketahui oleh Hakim Bintang Laut: Kristal di dadanya bukan miliknya. Ia adalah penjaga. Kristal itu sebenarnya adalah jiwa dari sang Bintang Laut Raja, hewan mistis yang berbentuk seperti gurita raksasa dengan bintang di punggungnya, yang telah meninggal dalam perang melawan kemunafikan manusia ribuan tahun lalu. Kini, jiwanya hidup kembali dalam bentuk cahaya, dan hanya bisa dikuasai oleh yang berhati tak bersalah. Dan jika suatu hari jika cahaya di dadanya meletup dan menyerah pada kemarahan, kebencian, atau rasa ingin dikuasai… maka cahaya itu akan padam dan seluruh laut akan kehilangan pengadilnya.
Sejak itu, ia membawa Cahaya Bintang Laut, sebuah kristal berwarna biru kehijauan yang tumbuh di dada seperti hati berdenyut. Kristal ini memberinya kekuatan untuk mendengar suara laut: ratapan ikan yang terluka, teriakan terumbu karang yang hampir mati, dan keluhan dari badai yang terus berubah karena manusia tak menghargai peraturan alam. Dan dia dianugerahi pengetahuan Luar biasa mengenai Hukum Laut yang tidak tertulis diantaranya
- Hakim Bintang Laut bukanlah seorang pengadil biasa. Ia tidak duduk di meja besar, tidak menggunakan pedang, tidak memakai mahkota. Ia memegang Kerang Hukum, sebuah kerang raksasa yang jika dibuka, akan menampilkan gambar-gambar dari semua keputusan yang pernah dikeluarkan oleh nenek moyangnya.
- Setiap kali alam terganggu — nelayan yang menangkap ikan dengan jaring raksasa, kapal yang mencemari laut, atau manusia yang membunuh hiu dengan tanpa alasan — Hakim Bintang Laut akan turun ke permukaan laut. Ia akan menyebarkan cahaya dari dadanya, dan dari cahaya itu, muncul bayangan dari peradilan laut: ikan-ikan berbicara, terumbu karang mengadili, dan ombak membacakan hukuman.
Jika manusia berbuat zalim, maka hukumannya bukan penjara, tapi kutukan laut. Misalnya:
- Nelayan yang berlebihan dalam menangkap ikan dan merusak Terumbu Karang akan berubah menjadi ikan kecil selama 7 tahun. Kapal pencemar akan tenggelam, namun tidak mati, ia terus mengapung di laut, membawa sampahnya sebagai hukuman abadi.
Akhir dari Bagian 1… Bersambung
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


