Melupakan sejenak palu sidang dan tumpukan berkas perkara, sembilan hakim dari Mahkamah Agung Republik Indonesia melangkahkan kaki ke Bonifacio Global City (BGC) dengan mata berbinar. Bagi mereka yang terbiasa dengan ritme ketat ruang sidang, sore di kawasan elite Manila ini menawarkan pelarian yang sempurna. BGC seolah mematahkan stereotip hiruk-pikuk ibu kota Filipina yang padat; menyambut rombongan dengan trotoar lebar yang mulus, jajaran gedung pencakar langit berlapis kaca, dan udara sore yang bersahabat. Tanpa balutan toga kebesaran, mereka membaur santai dalam pakaian kasual, layaknya pelancong biasa yang siap mengeksplorasi sudut-sudut modern kota.
Berjalan beriringan menyusuri Bonifacio High Street, suasana terasa begitu hidup namun luar biasa teratur. Area terbuka hijau yang membelah kompleks komersial ini dipenuhi oleh warga lokal yang santai membawa anjing peliharaan dan para ekspatriat yang berlari sore. Toko-toko butik dan kafe estetik berjajar rapi, menciptakan pemandangan yang mengundang siapa saja untuk sekadar duduk dan menikmati waktu berjalan lambat. Tawa sesekali pecah di antara para Hakim saat mereka bergantian mengambil foto berlatar instalasi seni publik yang instagramable, mendokumentasikan momen kebersamaan yang langka ini di tengah padatnya jadwal.
Namun, insting seorang penegak hukum rupanya sulit untuk benar-benar dimatikan meski sedang bersantai. Di persimpangan jalan, mata jeli mereka sibuk mengamati tingkat kepatuhan warga sekitar. Seorang Hakim senior tersenyum simpul dan menunjuk bagaimana deretan mobil berhenti dengan patuh di belakang garis zebra cross, memberikan hak penuh kepada pejalan kaki tanpa diiringi paduan suara klakson yang memekakkan telinga. Keteraturan lalu lintas dan kedisiplinan kota ini memicu diskusi ringan yang seru, menjadi refleksi nyata tentang bagaimana infrastruktur yang mumpuni mampu membentuk budaya taat hukum di tengah masyarakat.
Di sudut lain, beberapa Hakim muda dalam rombongan yang sehari-harinya bertugas di pengadilan negeri kepulauan yang indah di wilayah timur Indonesia, kemudian tiga Hakim Muda yang bertugas di Pengadilan di wilayah Sumatera dan satu Hakim Muda yang bertugas di Pengadilan Negeri di daerah Kalimantan Selatan tampak termenung kagum melihat tata kota BGC, masyarakat modern di kota BGC sangat tertata seperti tidak dapat merokok di sembarang tempat harus di tempat-tempat yang telah disediakan untuk merokok, dan tidak terdapat sampah sedikitpun di trotoar kota tersebut. Pikiran Para Hakim Muda ini melayang pada isu-isu hukum lingkungan internasional dan tata ruang yang kerap memikat perhatiannya. Baginya, melihat bagaimana sebuah kota metropolis bisa menjaga keseimbangan antara beton raksasa dan ruang terbuka hijau memunculkan inspirasi segar. Sebuah gagasan yang mungkin bisa dibawa pulang untuk memperkaya perspektifnya saat menangani sengketa tata usaha negara atau sekadar berdiskusi tentang kebijakan publik di tanah air.
Obrolan pun mengalir riang dari satu topik ke topik lain, dari tantangan sistem peradilan pidana anak hingga sekadar menebak-nebak di mana letak kedai kopi terbaik untuk singgah. Mereka saling menggoda tentang siapa yang paling lama menghabiskan waktu memutus perkara perdata atau siapa yang paling sering pusing menghadapi proses mediasi yang alot. Momen berjalan kaki di BGC ini menjadi perekat keakraban, menyatukan sembilan pemikir hukum yang biasanya sibuk dengan analisis yurisprudensi di meja kerja masing-masing.
Perlahan, matahari mulai terbenam di ufuk barat, menyepuh fasad gedung-gedung tinggi dengan pendaran keemasan yang menawan. Lampu-lampu kota mulai menyala serentak, mengubah wajah BGC menjadi panggung malam yang gemerlap dan modern. Angin malam Manila yang sejuk mengiringi langkah mereka mencari kedai kopi, tempat di mana mereka bisa menutup perjalanan kaki sore itu dengan segelas kopi.
Namun, kemegahan malam BGC nyatanya tak mampu mengalahkan percikan semangat di mata kesembilan delegasi ini. Di sela-sela denting sendok dan piring, topik pembicaraan mereka dengan cepat bergeser pada agenda utama esok hari. Ada rasa tidak sabar yang menggebu-gebu untuk segera duduk di ruang simposium, mendengarkan paparan brilian dari para pakar hukum internasional ternama. Bayangan akan perdebatan intelek yang dinamis, pertukaran pengalaman yurisdiksi yang kaya, serta tawa akrab saat berdiskusi ria dengan rekan-rekan hakim dari penjuru Asia Tenggara lainnya membuat malam itu terasa begitu menjanjikan. Petualangan intelektual sesungguhnya di Filipina, bagi mereka, baru akan dimulai besok pagi.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


