Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mahkamah Agung Tetapkan Jam Kerja Ramadhan 2026, Berlaku Nasional untuk Seluruh Satuan Kerja

18 February 2026 • 20:13 WIB

Pesona Sore Bonifacio Global City Di Mata Delegasi Sembilan Hakim Indonesia

18 February 2026 • 20:08 WIB

Dekan FH Universitas Islam As-Syafi’iyah Jajaki Kerjasama Mutualisme Dengan Pustrajak MA

18 February 2026 • 19:45 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Pengutamaan Pidana Denda dan Gagasan Day Fine System Menurut John Stuart Mill
Artikel

Pengutamaan Pidana Denda dan Gagasan Day Fine System Menurut John Stuart Mill

Muamar Azmar Mahmud FarigMuamar Azmar Mahmud Farig18 February 2026 • 08:55 WIB6 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Rasionalitas Penjatuhan Pidana Denda

KUHP Baru menghadirkan perubahan yang tidak sekadar normatif, tetapi paradigmatik. Jika dalam praktik lama pidana penjara kerap menjadi pusat gravitasi pemidanaan, kini pidana denda hadir hampir di seluruh kualifikasi tindak pidana sebagai opsi yang sistematis. Perubahan ini menuntut pembacaan filosofis. Apakah negara sedang menggeser fokus dari perampasan kebebasan menuju pembatasan yang lebih minimal namun efektif?

Dalam perspektif utilitarianisme John Stuart Mill sebagaimana dirumuskan dalam On Liberty, pembatasan kebebasan individu hanya dapat dibenarkan untuk mencegah kerugian terhadap orang lain (John Stuart Mill, 1859). Prinsip ini, yang dikenal sebagai harm principle, menempatkan hukuman sebagai instrumen perlindungan sosial, bukan pembalasan moral. Negara tidak berwenang menghukum demi ekspresi kemarahan kolektif, melainkan demi pencegahan kerugian nyata.

Dalam kerangka tersebut, pidana denda memiliki karakter yang berbeda dari pidana penjara. Denda membatasi kapasitas ekonomi tanpa mencabut kebebasan fisik secara total. Ia tidak serta merta merusak relasi keluarga, tidak menghilangkan produktivitas, dan tidak membebani negara dengan biaya pemasyarakatan yang besar. Jika tujuan pemidanaan adalah memaksimalkan kemanfaatan sosial dan meminimalkan penderitaan yang tidak perlu, maka perluasan denda dalam KUHP Baru dapat dibaca sebagai langkah menuju rasionalitas utilitarian. Namun perluasan jenis sanksi belum otomatis menjamin keadilan desainnya.

Day Fine System dan Formula Proporsionalitas

Persoalan mendasar muncul pada pertanyaan berikut: “Apakah nominal denda yang sama menghasilkan dampak yang sama bagi setiap terdakwa?” Jawaban empiris dan moralnya adalah tidak. Nilai utilitas uang berbeda bagi setiap orang. Denda dengan nominal seragam berpotensi jauh lebih berat bagi kelompok rentan dan terasa relatif ringan bagi kelompok mapan. Dalam perspektif utilitarian, kondisi ini justru mereduksi prinsip proporsionalitas (Andrew von Hirsch, 1993).

Asas proporsionalitas dalam hukum pidana menuntut keseimbangan antara beratnya tindak pidana dan beratnya pidana yang dijatuhkan. Proporsionalitas tidak hanya berarti tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu ringan, sehingga kehilangan daya korektifnya. Dalam konteks pidana denda, asas ini memiliki dua dimensi.

Dimensi pertama adalah proporsionalitas terhadap perbuatan. Di sinilah sistem kategori maksimal denda dalam KUHP Nasional bekerja. Pengkategorian tersebut menetapkan batas maksimum nominal denda berdasarkan tingkat ancaman pidana. Secara normatif, sistem ini menciptakan struktur dan kepastian. Hakim tidak menjatuhkan angka tanpa batas, melainkan bergerak dalam rentang yang telah ditentukan legislator. Namun sistem kategori maksimal hanya menjamin proporsionalitas vertikal terhadap jenis delik, belum otomatis menjamin proporsionalitas horizontal terhadap kondisi ekonomi pelaku. Di sinilah persoalan muncul.

Denda kategori yang sama dapat berdampak sangat berbeda pada dua terdakwa dengan kapasitas ekonomi yang berbeda. Dalam situasi demikian, kesamaan nominal justru berpotensi melahirkan ketimpangan substantif. Asas proporsionalitas tidak berhenti pada relasi antara delik dan ancaman pidana, tetapi juga menyangkut relasi antara pidana dan kemampuan nyata pelaku.

Baca Juga  Antinomi Kebebasan Berekspresi dalam KUHP Baru

Untuk menjawab hal tersebut, beberapa negara seperti Finlandia dan Swedia mengembangkan sistem day fine, yakni denda berbasis pendapatan harian (Jesper Ryberg, 2014). Model ini memisahkan dua variabel penting. Pertama, tingkat keseriusan tindak pidana. Kedua, kemampuan ekonomi pelaku.

Sistem ini sendiri jika diterapkan di Indonesia, tidak menggantikan kategori maksimal yang telah ditetapkan KUHP, tetapi mengoperasionalkannya secara lebih proporsional. Kategori maksimal tetap berfungsi sebagai batas atas absolut. Namun dalam rentang tersebut, hakim menentukan jumlah unit hari berdasarkan tingkat keseriusan delik. Inilah dimensi proporsionalitas terhadap perbuatan.

Setelah itu, nilai satu unit hari dihitung berdasarkan kemampuan ekonomi terdakwa. Inilah dimensi proporsionalitas terhadap pelaku. Formula yang dapat dirumuskan sebagai embrio pedoman adalah sebagai berikut:

Denda = Jumlah Unit Hari × Pendapatan Harian Bersih

Dengan :

Pendapatan Harian Bersih = (Pendapatan Bulanan Bersih – Kebutuhan Dasar Layak) dibagi 30.

Pendekatan ini menghasilkan struktur tiga lapis proporsionalitas. Pertama, proporsionalitas normatif melalui kategori maksimal yang ditetapkan KUHP. Kedua, proporsionalitas yudisial melalui penentuan jumlah unit hari berdasarkan kesalahan dan dampak sosial. Ketiga, proporsionalitas ekonomi melalui penghitungan kemampuan nyata pelaku.

Sebagai ilustrasi, jika suatu delik termasuk dalam kategori denda dengan maksimum satu miliar rupiah, hakim tetap tidak boleh melampaui batas tersebut. Namun dalam menentukan nominal konkret, hakim tidak sekadar memilih angka tertentu secara intuitif, melainkan menempuh dua langkah sistematis: menetapkan unit hari dan menghitung nilai hari berdasarkan kapasitas ekonomi.

Mekanisme penghitungannya, pada tahap pertama, hakim menentukan jumlah unit hari sebagai representasi beratnya delik, misalnya dalam rentang 10 sampai 300 unit hari, dengan mempertimbangkan kesalahan, dampak sosial, dan keadaan memberatkan atau meringankan. Tahap kedua, hakim menentukan nilai satu unit hari berdasarkan kemampuan ekonomi terdakwa.

Misalnya, Terdakwa dengan pendapatan bersih Rp12.000.000,- per bulan dan kebutuhan dasar Rp4.000.000,- memiliki kapasitas ekonomi Rp8.000.000,-. Dibagi 30 hari, nilai harian sekitar Rp266.000,-. Jika hakim menetapkan 60 unit hari, maka denda sekitar Rp15.900.000,-.

Sebaliknya, terdakwa dengan pendapatan bersih 3 juta rupiah dan kebutuhan dasar Rp2.500.000,- memiliki sisa Rp500.000,- per bulan atau sekitar Rp16.000,- per hari. Dengan 60 unit hari, dendanya sekitar Rp960.000,-.

Nominal berbeda, tetapi beban relatif setara. Yang disetarakan bukan angka absolut, melainkan dampak korektifnya. Inilah konsistensi dengan utilitarianisme Mill. Hukuman harus cukup untuk mencegah kerugian sosial, tetapi tidak melampaui batas yang diperlukan.

Secara teoritis, pendekatan ini juga sejalan dengan asas individualisasi pidana yang diakui dalam hukum pidana modern. Individualisasi menuntut agar pidana mempertimbangkan karakter dan kondisi pelaku, bukan semata abstraksi delik. Dalam konteks denda, individualisasi berarti mempertimbangkan kemampuan ekonomi secara terukur.

Baca Juga  Problematika Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Dan Pengaturan Pidana Adat Dalam Peraturan Daerah

Bagi hakim dan akademisi, pendekatan ini menawarkan sintesis antara tiga kepentingan utama, kepastian hukum melalui kategori maksimal, keadilan melalui proporsionalitas substantif, dan kemanfaatan sosial melalui efek korektif yang nyata.

Pertanyaan strategisnya menjadi lebih tajam. Jika KUHP Baru telah menyediakan struktur kategori denda sebagai batas normatif, apakah sistem peradilan akan membiarkannya bekerja secara nominal semata, atau mengembangkannya menjadi mekanisme yang benar-benar mencerminkan asas proporsionalitas dalam arti penuh?

Di titik ini, pedoman Mahkamah Agung dapat berfungsi sebagai jembatan antara teks undang-undang dan keadilan konkret. Tanpa pedoman operasional, kategori maksimal berisiko hanya menjadi angka administratif. Dengan pedoman berbasis prinsip proporsionalitas dan perhitungan terstruktur, pidana denda dapat benar benar berfungsi sebagai instrumen pemidanaan yang rasional, adil, dan konsisten dengan landasan utilitarian yang lebih luas.

Implikasi Kebijakan Bagi Mahkamah Agung

Perluasan pidana denda dalam KUHP Baru membuka kebutuhan mendesak akan pedoman pemidanaan yang terstruktur. Tanpa pedoman yang jelas, disparitas antar putusan berpotensi meningkat dan rasionalitas utilitarian yang menjadi fondasi perluasan denda tidak tercapai secara optimal.

Mahkamah Agung dapat mempertimbangkan penyusunan pedoman yang memuat tiga komponen utama. Pertama, rentang unit hari berdasarkan kategori keseriusan delik yang ditautkan dengan ancaman pidana dalam KUHP. Kedua, parameter objektif penghitungan kemampuan ekonomi terdakwa beserta kewajiban pembuktian yang transparan. Ketiga, mekanisme verifikasi melalui dokumen resmi atau integrasi data administratif untuk menjamin akurasi.

Langkah ini tidak menghilangkan diskresi hakim, melainkan menstrukturkannya. Hakim tetap menentukan tingkat keseriusan melalui unit hari, sementara kapasitas ekonomi dihitung secara terukur. Dengan demikian, pidana denda benar-benar berfungsi sebagai instrumen koreksi sosial yang proporsional.

Penutup

Penguatan pidana denda dalam KUHP Baru dapat dipahami sebagai langkah menuju pemidanaan yang lebih rasional dan efisien. Dalam perspektif John Stuart Mill, pembatasan kebebasan yang minimal namun efektif lebih sah secara moral dibanding pembatasan yang eksesif dan tidak proporsional. Akan tetapi, legitimasi tersebut hanya terwujud apabila desainnya menjamin kesetaraan dampak.

Mahkamah Agung memiliki posisi strategis untuk memastikan bahwa perluasan denda tidak berhenti pada tataran normatif, melainkan diwujudkan melalui pedoman pemidanaan yang sensitif terhadap kemampuan ekonomi terdakwa. Reformasi pemidanaan pada akhirnya bukan soal jenis sanksi, melainkan tentang bagaimana negara menghukum secara rasional, proporsional, dan adil dalam makna substantif.

Referensi

  • Andrew von Hirsch, Censure and Sanctions, 1993.
  • Jeremy Bentham, An Introduction to the Principles of Morals and Legislation, 1789.
  • Jesper Ryberg, “Day Fines,” dalam The Oxford Handbook of Criminal Law, 2014.
  • John Stuart Mill, On Liberty, 1859.
Muamar Azmar Mahmud Farig
Kontributor
Muamar Azmar Mahmud Farig
Hakim Pengadilan Negeri Poso

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Day Fine System John Stuart Mill KUHP Baru Pemidanaan Pidana Denda
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Sistem Hukum Filipina dan Jejak Sejarah yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

18 February 2026 • 13:38 WIB

Dari Rutinitas ke Spritualitas Makna Ramadhan di Tengah Kesibukan

17 February 2026 • 13:19 WIB

Di Balik Sidang Isbat: Analisis Kedudukan Eksekutif dan Yudikatif

17 February 2026 • 11:20 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Pesona Sore Bonifacio Global City Di Mata Delegasi Sembilan Hakim Indonesia

18 February 2026 • 20:08 WIB

Dekan FH Universitas Islam As-Syafi’iyah Jajaki Kerjasama Mutualisme Dengan Pustrajak MA

18 February 2026 • 19:45 WIB

Sistem Hukum Filipina dan Jejak Sejarah yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

18 February 2026 • 13:38 WIB

Laporan Delegasi Hakim Indonesia dari Filipina: Pentingnya Koordinasi Global Lawan Korupsi!

17 February 2026 • 17:51 WIB
Don't Miss

Mahkamah Agung Tetapkan Jam Kerja Ramadhan 2026, Berlaku Nasional untuk Seluruh Satuan Kerja

By Teguh Setiyawan18 February 2026 • 20:13 WIB0

Bogor — Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, Mahkamah Agung Republik Indonesia menetapkan penyesuaian jam…

Pesona Sore Bonifacio Global City Di Mata Delegasi Sembilan Hakim Indonesia

18 February 2026 • 20:08 WIB

Dekan FH Universitas Islam As-Syafi’iyah Jajaki Kerjasama Mutualisme Dengan Pustrajak MA

18 February 2026 • 19:45 WIB

Sistem Hukum Filipina dan Jejak Sejarah yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

18 February 2026 • 13:38 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Mahkamah Agung Tetapkan Jam Kerja Ramadhan 2026, Berlaku Nasional untuk Seluruh Satuan Kerja
  • Pesona Sore Bonifacio Global City Di Mata Delegasi Sembilan Hakim Indonesia
  • Dekan FH Universitas Islam As-Syafi’iyah Jajaki Kerjasama Mutualisme Dengan Pustrajak MA
  • Sistem Hukum Filipina dan Jejak Sejarah yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
  • Pengutamaan Pidana Denda dan Gagasan Day Fine System Menurut John Stuart Mill

Recent Comments

No comments to show.
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com :  redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas, S.H., M.Kn.
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.