Megamendung, 24 Februari 2026 — Suasana hangat menyelimuti Aula BSDK Mahkamah Agung RI sore itu. Di tengah bulan suci Ramadan, keluarga besar Badan Strategi Kebijakan (BSDK) MA RI berkumpul dalam satu momentum yang istimewa: Buka Puasa Bersama yang bertepatan dengan hari ulang tahun ke-50 Kepala BSDK, Dr. Syamsul Arif.
Acara berlangsung sederhana, namun sarat makna. Di panggung utama, layar besar bertuliskan “Buka Puasa Bersama Keluarga Besar BSDK MA RI” menjadi latar refleksi dan kebersamaan.
Dalam sambutannya, Dr. Syamsul Arif tidak menempatkan usia sebagai selebrasi personal, melainkan sebagai ruang perenungan. Ia mengawali dengan refleksi tentang puasa sebagai tradisi panjang lintas zaman.
“Puasa adalah tradisi lama yang punya sejarah kuat. Bagi umat Islam hari ini, puasa bukan sekadar menahan lapar. Kita memilih lapar, agar ada makna substansial. Agar jiwa tertahan dari konsumerisme dan materialisme,” tuturnya tenang.
Kalimat itu mengalir bukan sebagai retorika, melainkan sebagai ajakan untuk memaknai Ramadan sebagai latihan pengendalian diri—termasuk dalam kehidupan birokrasi dan kerja kelembagaan. Dalam ruang strategis seperti BSDK, pengendalian diri bukan hanya spiritual, tetapi juga etik dan intelektual.
Memasuki usia setengah abad, Kabadan menyampaikan harapan yang bersahaja. “Semoga dengan bertambahnya umur, saya semakin sehat, lapang dada, dan penuh keinsafan,” ujarnya.
Sebuah doa yang terdengar personal, tetapi sesungguhnya memancarkan pesan kepemimpinan: kesehatan untuk mengabdi, kelapangan dada untuk menerima kritik, dan keinsafan untuk menjaga arah kebijakan tetap pada rel integritas.
Di tengah suasana hangat itu, ia juga menyelipkan canda khasnya. “Kalau ada yang mau setiap saat buka bersama, saya siap menemani,” katanya disambut senyum dan tawa hadirin. Kebersamaan, baginya, bukan seremoni musiman, tetapi kultur yang perlu dirawat.
Tausiah Ramadan disampaikan oleh Dr. Jarkasih. Ia menegaskan bahwa usia adalah amanah yang tak pernah lepas dari pertanggungjawaban. “Umur yang diberikan Allah penuh tanggung jawab. Semua aktivitas kita dicatat. Tidak ada yang luput,” ungkapnya.
Ia mengingatkan tiga pertanyaan besar yang kelak akan dimintai jawaban: dari mana harta diperoleh, ke mana dibelanjakan, dan untuk apa digunakan. Dalam setiap harta, terdapat hak orang lain—terutama mereka yang lemah.
Pertanyaan berikutnya, lanjutnya, adalah tentang ilmu. “Ilmu yang diberikan Allah, digunakan untuk apa?” Pesan ini terasa relevan bagi BSDK sebagai kawah candradimuka penguatan SDM peradilan. Pelatihan, kajian, dan pengembangan kapasitas bukan sekadar agenda administratif, melainkan ikhtiar mencerdaskan dan mencerahkan.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan pemotongan tumpeng sebagai simbol syukur. Bukan pesta yang berlebihan, melainkan perayaan yang menegaskan makna: usia adalah amanah, puasa adalah pengendalian, dan kebersamaan adalah energi.
Di usia 50 tahun, refleksi itu terasa sederhana namun dalam. Sebab pada akhirnya, bukan panjang umur yang terpenting, melainkan seberapa jujur umur itu dipertanggungjawabkan.
Karena usia hanyalah angka, tetapi makna adalah pilihan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


