Sudah seminggu kami berpisah, kembali ke ranah pengabdian masing-masing, terhitung sejak hari terakhir giat “THAIL”. Potret kenangan yang menarik, seru, dan menyenangkan memenuhi album perjalanan kami. Bila Enid Blyton memiliki Lima Sekawan, kami merasa menjadi Sembilan Sekawan. Angka sembilan kerap dimaknai sebagai simbol keberuntungan karena dekat dengan nilai keabadian dan kekuatan. Dalam kisah perjalanan kami, angka istimewa ini terasa layak dimaknai dan diamini demikian. Sungguh sebuah keberuntungan kami dipertemukan dalam satu grup pelatihan.
Mungkin beberapa di antara kami sebelumnya tak saling mengenal, atau pernah berada dalam ruang dan waktu yang sama tanpa sempat bertegur sapa. Ada yang terasa familiar. Lupa nama, namun ingat rupa. Lalu segera tersadar, ia adalah sosok yang pernah wara-wiri di media berita dan sosial dalam suatu tema yang sangat menggema. Ada yang namanya sudah sering terdengar, namun baru mengetahui bahwa inilah sosoknya. Itulah kesan pertama di awal pertemuan kami bersembilan.
Semakin mengenal satu sama lain, semakin kami menyadari bahwa masing-masing memiliki kemampuan analitis, gaya komunikasi, bahkan selera humor, meski dalam nuansa dan perspektif yang berbeda. Di antara kami kerap beradu argumen dalam arena diskusi, sekaligus berbalas kelakar, dan pada akhirnya tertawa bersama. Perbedaan generasi dan usia di antara kami tak pernah menjadi soal. Yang lebih senior memperkaya diskusi dengan pengalaman dan kebijaksanaan yang teruji oleh tempaan waktu. Sebaliknya, generasi muda menghadirkan keberanian, kecepatan beradaptasi, dan kemampuan literasi yang tinggi. Dalam kolaborasi, perpaduan itu menjelma menjadi kerja tim yang kokoh dalam nilai, lincah dalam gerak.
Tanpa garis komando, tim ini bergerak dalam semangat kepemimpinan kolektif-kolegial. Setiap orang berinisiatif mengambil peran dan menuntaskannya. Seperti kebaikan yang menular, ketika satu orang mengerjakan laporan, yang lain sigap mengumpulkan data dan dokumentasi. Sebagian lainnya sibuk merumuskan pertanyaan dan gagasan yang akan dilontarkan dalam sesi materi di setiap ruang kelas.
Awalnya tak terbayang harus menyelesaikan program selama sepuluh hari. Namun karakter, pengalaman, dan pandangan yang beraneka justru menyatu menjadi rangkaian cerita bersambung. Sepuluh episode yang setiap harinya dinantikan dengan segala kejutannya. Kian hari kian mengenal, dan waktu pula yang menyingkap keyakinan bahwa kami memang dipertemukan untuk saling bekerja sama. Mustahil rasanya menjalani lebih dari sepekan tanpa kejenuhan, tetapi nyatanya yang hadir justru rasa Syukur dan bahagia.

Petualangan kami ditutup dengan acara perpisahan bersama delegasi dari negara lain. Sembilan Sekawan menampilkan tarian “Tabola Bale” sebagai representasi musik berlatar budaya Indonesia, sekaligus mengajak delegasi lain menari bersama dalam semangat persahabatan antarnegara. Latihan tiga malam berturut-turut berbuah penampilan penuh semangat, yaitu langkah kaki dan gerakan tangan yang kadang tak seragam arah, namun semangat kami tetap seirama dengan improvisasi gerak dan senyum khas Sembilan Sekawan.
Dari seluruh perjalanan ini kami menyadari bahwa batu bertuah dalam rupa sertifikat kelulusan bukanlah penanda utama. Justru pengalaman, kebersamaan dalam sepuluh hari perjalanan, serta niat untuk mengamalkan ilmu dan nilai yang diperoleh itulah hakikat sekaligus tujuan sesungguhnya. Sampai berjumpa kembali di petualangan berikutnya, wahai Kawan!
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


