Apakah kematian itu akhir kehidupan atau awal kehidupan. Pertanyaan ini menyentuh 2 ranah besar, filsafat dan kepercayaan spiritual. Dari sudut pandang biologis kematian itu akhir dari kehidupan fisik, sedangkan dari sudut pandang agama dan spiritual; (1) dalam pandangan Islam, Kristen dan Yahudi, kematian adalah akhir kehidupan dunia dan awal kehidupan akherat, (2) dari sudut pandang agama Hindu dan Budha, kematian adalah trsansisi bukan akhir dan akan ada kelahiran baru (reinkarnasi), (3) dari sudut pandang kepercayaan spiritual modern kematian adalah perpindahan energi atau kesadaran ke bentuk lain, dan (4) dari sudut pandang atheis dan agnostik, kematian adalah akhir dari pengalaman sadar. Adapun dari sudut pandang filsafat, menurut Heidegger, kematian membuat hidup mendapat makna, justru karena hidup terbatas, kata Epicurus, kita tidak perlu takut mati, karena saat kita ada, kematian belum ada, saat kematian datang, kita sudah tidak ada, sedang menurut Stoikisme, kematian adalah bagian alami dari siklus alam.
Setiap yang bernyawa pasti mati (Q.S.Ali Imron:185, Q.S. al-Ankabut:57), adalah pengingat universal yang menegaskan bahwa kematian adalah keniscayaan bagi setiap makhluk hidup, tidak bisa dihindari dan merupakan awal dari kehidupan akhirat, mendorong manusia untuk mempersiapkam bekal amal shaleh dan tidak terlalu terpesona pada dunia fana. Banyak orang takut mati itu bukan karena takut matinya, akan tetapi karena enggan berpisah dengan kenikmatan. Hal ini terjadi karena kemelekatan ambisi duniawi sehingga menyebabkan kematian itu derita. Akan tetapi bagi orang-orang yang sholeh kematian itu adalah kenikmatan, karena setelah kematian akan dieksiskan pahala amal kebajikan yang telah diperjakan.
Apa itu mati dan apa pula hidup
Sulit dilukiskan hakekat keduanya, sekalipun oleh ilmuan, filosof dan agamawan. Ketika pada filosof membahas tentang hidup dan mati, mereka berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan keduanya. Agamawan pun demikian, Imam alGhazali mengemukakan bahwa hakekat kematian tidak dapat diketahui tanpa pemahaman atas hakekat hidup atau kehidupan diri manusia (ruh dan nafs). Hidup ditandai oleh oleh gerak, rasa dan tahu, begitu kata filosof, tetapi keterangan ini tidak menjelaskan hakekat hidup, hanya sekedar menjelaskan tanda-tanda kehidupan. Agamawan pun mempertanyakan tentang matian. Ada yang menjawab bahwa mati adalah terputusnya hubungan ruh dan jasad dan terjadinya pemisahan antara keduanya serta perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain. Pertanyaan selanjutnya, apakah ada wujud mati? Lagi-lagi para agamawan berbeda pendapat. Akan tetapi Imam al-Ghazali yang merupakan seorang filosof muslim memberikan statemen bahwa yang paling dekat dengan kita adalah kematian.
Hidup itu seperti main catur
Dalam hidup membutuhkan rencana. Kita perlu mempertimbangkan langkah-langkah yang akan diambil dan memikirkan dampak jangka panjangnya. Di catur, setiap langkah salah dapat mengubah permainan. Dalam hidup, keputusan kecil sekalipun bisa membawa hasil yang besar, baik positif maupun negatif. Di catur ada aturan dan batasan pada pergerakan bidak. Begitu juga dalam hidup, ada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan dan kita harus bekerja dalam batas-batas tertentu.Catur bukan soal cepat, tapi tepat. Hidup pun sering menuntut kita untuk sabar dan tidak gegabah. Setiap kekalahan di catur memberi pelajaran agar tidak mengulang kesalahan. Dalam hidup, kegagalan adalah bagian dari proses untuk menjadi lebih baik.
Point penting dalam pemaparan narasumber yang perlu disemayamkan dalam sanubari adalah, ketika kita berbicara tentang filsafat kematian, hakekatnya kita berbicara tentang hidup dan kualitas kehidupan.
Wallahu a’lam bishawab.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


