Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pulau Weh: Riwayat Tentang Ombak, Batu Karang, dan Para Pengembara

28 November 2025 • 20:01 WIB

Pray for Sumatera — Doa, Empati, dan Solidaritas untuk Saudara Kita yang Terdampak Bencana

28 November 2025 • 16:42 WIB

JEJAK API YANG TAK BISA BERBOHONG

27 November 2025 • 15:05 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Keshalehan Diri Pribadi dan Keadilan Sosial
Artikel

Keshalehan Diri Pribadi dan Keadilan Sosial

Prof. Dr. KH. Nazaruddin Umar, MA. (Menteri Agama Republik Indonesia)
23 November 2025 • 18:10 WIB4 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Di akhir Pelatihan Teknis Yustisial Filsafat Hukum untuk  Keadilan bagi Hakim Peradilan Umum Seluruh Indonesia,   materi Keshalehan Diri Pribadi dan Keadilan Sosial disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Nazaruddin Umar, MA., Menteri Agama Republik Indonesia Kabinet Merah Putih. Materi filsafat ini disampaikan oleh narasumber tidak seperti biasanya, yakni studi tentang hakikat segala sesuatu melalui pemikiran rasional, kritis dan sistematis, yang kadang memeras otak kita untuk berfikir, tetapi disampaikan  secara lugas, mudah difahami dan dengan penuh kelembutan, mengalir deras bagaikan air nan jernih menyurusi kedalaman relung-relung jiwa yang haus akan energi spiritual.

Narasumber membuka pemaparannya dengan sebuah pertanyaan, apakah kita sudah menjadi pribadi yang shaleh?. Pertanyaan ini penting, karena keshalehan pribadi adalah pondasi dan realitanya ketidakadilan selalu bermula dari kerusakan individu atau ketidaksholehan pribadi. Li Kulli Syai’in Miqdaarun (segala sesuatu itu ada takaran) dan takaran (barometer) untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus intropeksi diri untuk melihat kadar keimanan (keikhlasan, rasa syukur dan ketaatan) dalam diri.

Kadar Keikhlasan

Kadar keikhlasan dalam maqam (kedudukan spiritual) seseorang ada 2 macam: Pertama Mukhlis, yaitu orang yang mengikhlaskan dirinya atau orang yang berupaya membersihkan niat, dia berusaha sendiri untuk ikhlas kepada Allah. Ikhlasnya masih berada pada tahap usaha pribadi, bisa naik-turun. Konkritnya seseorang yang terus berusaha memperbaiki niat dalam ibadah disebut mukhlis. Kedua Mukhlas, yaitu orang yang telah dipilih atau dimurnikan oleh Allah untuk menjadi hamba yang sangat ikhlas. Ikhlasnya telah dimurnikan oleh Allah, sehingga kedudukannya lebih tinggi dari pada mukhlis,  seperti para nabi atau hamba yang sangat saleh. Ikhlas menjalani dinamika kehidupan, menerima tempat tugas meskipun terasa ada kesulitan jauh dari keluarga, menerima ketika mendapatkan musibah, itu namanya Mukhlas dan percayalah setelah Mukhlas akan ada keajaiban.

Baca Juga  Kelindannya Putusan, Struktur Cerita, dan Ongkos Mahal sebuah Kemudahan

Kadar Rasa Syukur

Syukur adalah tashorroful ‘abdi ‘ala ma an’amallahu li ajlih, artinya mengoptimalkan seorang hamba atas potensi dan karunia yang diberikan Allah, selanjutnya dipergunakan untuk kepentingan-Nya.  Jadi Syukur itu harus ada action. Namun jika seseorang mendapatkan karunia dia berhenti pada ungkapan  lisan alhamdulilllah, lantas tidak mau berbagi kepada orang lain, itu namanya tahmid belum syukur. Seseorang yang kadar rasa syukurnya pada maqam ini biasanya akan mengucapkan alhamdulillah ketika mendapatkan nikmat dan  Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ketika mendapatkan musibah.

Di atas syukur ada syakur. Syakur adalah semua yang terjadi, enak tidak enak, mendapat rizki atau musibah, berhasil atau tidak usahanya, dia bersyukur. Karena seseorang pada tingkatan ini mempunyai keyakinan bahwa musibah itu diibaratkan sebagai “surat cinta Tuhan”. Karena puncak kenikamatan itu adalah dekat dengan Tuhan, makanya ketika tertimpa musibah biasanya seseorang semakin mendekatkan diri kepada Allah, dari situlah mereka akan mendapatkan kenikmatan. Maka pastas seseorang yang kadar rasa syukurnya sudah sampai syakur akan mengucapkan alhamdulillah fi kulli hal (bersyukur dalam setiap keadaan).

Kadar Ketaatan

 Kadar ketaatan seseorang itu ada yang masih di level ahlutha’at dan ada yang sudah ahlullah. Ahluthaat adalah semua orang yang taat kepada Allah, sedangkan Ahlullah adalah orang pilihan Allah, utamanya para ahli Al-Qur’an dan orang yang sangat dekat dengan Allah. Setiap ahlullah pasti ahluthaat, tetapi tidak semua ahluthaat otomatis menjadi ahlullah. Perbedaannya dari sisi ruhani. Ahluthaat terkadang dalam ketaatannya ituada tendensius pribadi, seperti rajin shalat tahajud karena ingin hidupnya mulia, rajin shalat duha karena ingin bertambah rizki, rajin bantu orang lain, tetapi masih ada riya, ujub, takabbur dan sombong. Sedangkan Ahlullah dalam ketaatan goalnya hanya mencari ridha Allah Swt. Di akhir penyampaiannya narasumber menyampaikan pesan kepada para peserta agar menjadi Imamun ‘Adilun, hakim yang adil, karena hakim yang adil termasuk salah satu golongan yang disebutkan dalam hadits akan mendapatkan perlindungan dari Allah Swt. Jadilah hakim yang shaleh, karena keadilan sosial adalah buah dari kesolehan pribadi. Individu hakim yang sholeh akan menciptakan masyarakat yang adil dan masyarakat yang adil akan membantu warganya menjadi pribadi yang sholeh. Selanjutnya narasumber menutup seluruh kegiatan pelatihan dengan bermujazat dan doa.

Baca Juga  Fahruddin Faiz: Hakim adalah Insan Kamil Penyeimbang Akal dan Wahyu
Jarkasih
Jarkasih Hakim Tinggi Yustisial BSDK MA

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel filsafat
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Related Posts

Pulau Weh: Riwayat Tentang Ombak, Batu Karang, dan Para Pengembara

28 November 2025 • 20:01 WIB

Pray for Sumatera — Doa, Empati, dan Solidaritas untuk Saudara Kita yang Terdampak Bencana

28 November 2025 • 16:42 WIB

JEJAK API YANG TAK BISA BERBOHONG

27 November 2025 • 15:05 WIB
Demo
Top Posts

Pray for Sumatera — Doa, Empati, dan Solidaritas untuk Saudara Kita yang Terdampak Bencana

28 November 2025 • 16:42 WIB

Menjalin Jejak Kolaborasi Hijau: BSDK dan Departemen Kehakiman AS Bahas Kerja Sama Pelatihan Penegakan Hukum Satwa Liar

26 November 2025 • 19:14 WIB

Putusan yang Tak Bisa Dibacakan di Surga

26 November 2025 • 13:48 WIB

BSDK MA Gelar Pelatihan Filsafat Hukum untuk Hakim: Kelas Eksklusif Bagi Para Pencari Makna Keadilan

25 November 2025 • 12:16 WIB
Don't Miss

Pulau Weh: Riwayat Tentang Ombak, Batu Karang, dan Para Pengembara

By Redpel SuaraBSDK28 November 2025 • 20:01 WIB

Di ufuk utara Nusantara, Pulau Weh berdiri seperti batu karang agung yang sejak abad ke-16…

Pray for Sumatera — Doa, Empati, dan Solidaritas untuk Saudara Kita yang Terdampak Bencana

28 November 2025 • 16:42 WIB

JEJAK API YANG TAK BISA BERBOHONG

27 November 2025 • 15:05 WIB

Menjalin Jejak Kolaborasi Hijau: BSDK dan Departemen Kehakiman AS Bahas Kerja Sama Pelatihan Penegakan Hukum Satwa Liar

26 November 2025 • 19:14 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire SuaraBSDK Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.