#Segmen 7 – Doa Seorang Petugas Keamanan
Ia selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir. Seragamnya rapi, sepatu hitamnya mengilap meski telah lama dipakai. Namanya jarang disebut, wajahnya jarang diperhatikan. Namun hampir semua orang yang datang ke gedung itu pernah melewati hadapannya.
Petugas keamanan.
Aku sering melihatnya berdiri di dekat pintu masuk, menyapa setiap orang dengan senyum yang sama baik mereka datang dengan wajah marah, cemas, ataupun lelah. Ia tidak bertanya perkara apa yang dibawa. Ia hanya memastikan semua berjalan tertib, aman, dan manusiawi.
Suatu sore, setelah magrib, aku melihatnya duduk di bangku ruang tunggu yang kosong. Tangannya menengadah, bibirnya bergerak pelan. Ia berdoa.
Aku tidak berniat menguping. Namun keheningan membuat doa itu terdengar seperti bisikan yang jujur.
“Ya Allah,” katanya lirih, “Jika hari ini aku menjaga rumah keadilan ini, maka jagalah pula hatiku agar tetap lurus.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menghujam. Aku tersadar, pengabdian tidak selalu berdiri di balik meja atau di atas mimbar persidangan. Ada yang berdiri di pintu, menjaga agar keadilan bisa masuk dan keluar dengan selamat.
Ia pernah bercerita singkat kepadaku, tanpa keluhan. Tentang panas matahari saat apel pagi, tentang dinginnya malam ketika harus berjaga lembur, tentang wajah-wajah manusia yang datang dengan emosi tak menentu.
“Tugas saya cuma satu, Pak,” katanya suatu ketika. “Jangan sampai orang yang sudah berat bebannya, pulang dengan hati yang lebih luka.”
Aku terdiam. Kalimat itu mengandung kebijaksanaan yang tidak tercantum dalam SOP mana pun.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Petugas keamanan itu mungkin tidak menulis putusan, tidak memberi layanan administrasi, tidak pula berbicara tentang pasal. Namun manfaatnya nyata menenangkan, menjaga, dan memastikan keadilan tidak kehilangan wajah manusianya.
Pernah suatu hari, seorang pengunjung datang dengan suara tinggi dan langkah tergesa. Emosinya nyaris meledak. Ia berdiri di depan pintu, menuntut masuk. Petugas keamanan itu tidak meninggikan suara. Ia hanya berkata pelan, “Silakan duduk sebentar, Pak. Kita tarik napas dulu.”
Anehnya, kalimat itu bekerja. Lelaki itu duduk. Amarahnya mereda. Seolah ia diingatkan bahwa di tempat ini, keadilan tidak dibangun dengan teriakan.
Aku melihat kejadian itu dari jauh dan berpikir: beginilah seharusnya keadilan dijaga dengan ketenangan, bukan kekuasaan.
Di sela tugasnya, petugas keamanan itu menyimpan doa-doa kecil. Doa agar tidak terjadi keributan. Doa agar aparatur diberi kesabaran. Doa agar pencari keadilan pulang dengan harapan, bukan dendam.
Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang bersabar demi mencari keridaan Tuhan mereka…” (QS. Ar-Ra’d: 22)
Kesabaran itu tampak pada caranya berdiri berjam-jam tanpa mengeluh. Pada caranya menegur dengan santun. Pada caranya tetap tersenyum meski sering disalahpahami.
Suatu malam, sebelum pulang, aku melihatnya kembali berdo’a. Kali ini lebih lama. Setelah selesai, ia berdiri dan berkata padaku, “Saya cuma takut satu hal, Pak.”
“Apa itu?” tanyaku.
“Takut kalau saya menjaga gedung ini dengan baik, tapi lupa menjaga niat saya sendiri.”
Aku menunduk. Ketakutan itu bukan milik satu profesi. Ia adalah kegelisahan semua aparatur yang masih hidup nuraninya.
Doa seorang petugas keamanan mungkin tidak tercatat dalam laporan kinerja. Namun aku yakin, doa itu dicatat di tempat yang lebih tinggi. Ia menjadi penyangga sunyi bagi tegaknya keadilan.
Malam itu, saat lampu-lampu kantor dipadamkan satu per satu, aku menyadari: keadilan tidak hanya dijaga oleh mereka yang duduk di ruang sidang atau di balik meja pelayanan. Ia juga dijaga oleh mereka yang berdiri di pintu, dengan doa yang tidak pernah diumumkan.
Dan barangkali, doa-doa itulah yang paling jujur.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


