Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pusdiklat Teknis MA RI Adakan Pelatihan Teknis Yudisial bagi 105 Hakim dari Tiga Lingkungan Peradilan

2 March 2026 • 11:09 WIB

Dilema Noodweer dalam KUHP Nasional: Integrasi Doktrin Daf‘ al-Ṣa’il dan Reorientasi Legal Reasoning Hakim

2 March 2026 • 08:24 WIB

Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama

1 March 2026 • 21:32 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Omong Kosong Reformasi Birokrasi dan Warisan Budaya Organisasi Orde Lama
Artikel Features

Omong Kosong Reformasi Birokrasi dan Warisan Budaya Organisasi Orde Lama

Muhammad Adiguna BimasaktiMuhammad Adiguna Bimasakti20 December 2025 • 09:19 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Reformasi birokrasi sejak era pasca-Orde Baru kerap dipromosikan sebagai agenda besar untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang profesional, rasional, dan berorientasi pada pelayanan publik. Namun dalam praktiknya, reformasi tersebut sering berhenti pada perubahan administratif dan simbolik, tanpa menyentuh akar persoalan budaya organisasi yang telah mengendap puluhan tahun. Birokrasi Indonesia masih dibayangi pola pikir hierarkis, feodal, dan pseudo-militeristik yang diwariskan dari rezim lama. Fenomena ini memunculkan paradoks antara narasi reformasi yang progresif dengan realitas organisasi yang stagnan. Alih-alih membangun meritokrasi, birokrasi justru mempertahankan logika pangkat, simbol, dan kepatuhan struktural yang berlebihan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah reformasi birokrasi benar-benar diarahkan pada transformasi nilai, atau sekadar retorika politik untuk menjustifikasi keberlanjutan sistem lama dalam kemasan baru.

Salah satu indikator kuat warisan Orde Lama dalam birokrasi adalah obsesi terhadap pangkat dan simbol jabatan. Dalam banyak institusi sipil, pangkat masih diperlakukan sebagai ukuran legitimasi kepemimpinan, meskipun secara fungsional tidak selalu relevan. Logika ini mencerminkan mentalitas militeristik yang menempatkan hierarki formal di atas kapasitas substantif. Padahal, dalam organisasi sipil modern, kepemimpinan seharusnya ditentukan oleh kompetensi, pengalaman profesional, dan integritas, bukan semata-mata jenjang kepangkatan. Ketika birokrasi sipil mengadopsi pola militer tanpa konteks, maka yang lahir bukan disiplin profesional, melainkan ketaatan semu yang menghambat inovasi. Hal ini memperlihatkan bahwa reformasi birokrasi belum berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang budaya komando yang mengekang rasionalitas administratif.

Perbandingan antara lembaga peradilan dan institusi penegakan hukum lain memperlihatkan kontras yang signifikan dalam pembinaan sumber daya manusia. Di satu sisi, terdapat model yang menekankan masa jabatan, pengalaman yudisial, dan rekam jejak profesional sebagai dasar kepemimpinan. Di sisi lain, masih banyak institusi yang meniru struktur militer secara simbolik, mulai dari seragam hingga tanda pangkat. Peniruan ini tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan profesionalisme. Justru, simbol-simbol tersebut sering menjadi alat legitimasi kekuasaan internal yang tidak akuntabel. Budaya organisasi semacam ini menunjukkan kegagalan reformasi birokrasi dalam membedakan karakter lembaga sipil dan militer. Akibatnya, birokrasi kehilangan identitas sipilnya dan terjebak dalam ritual organisasi yang lebih mementingkan penampilan ketimbang substansi kinerja.

Penggunaan seragam dan atribut pangkat dalam birokrasi sipil patut dikritisi secara serius. Di banyak negara demokrasi, aparatur sipil negara tidak dibebani simbol-simbol hierarki visual yang kaku. Mereka bekerja sebagai profesional dengan identitas fungsional, bukan sebagai anggota korps bersenjata. Sebaliknya, di Indonesia, seragam justru menjadi alat homogenisasi dan kontrol sosial. Aparatur didorong untuk “tampak patuh” alih-alih berpikir kritis. Kondisi ini memperkuat budaya senioritas dan menumpulkan keberanian moral. Reformasi birokrasi yang sejati seharusnya membebaskan aparatur dari simbol-simbol yang mengekang kebebasan berpikir. Selama seragam dan pangkat masih dijadikan instrumen kekuasaan psikologis, maka birokrasi akan terus mereproduksi budaya Orde Lama dalam wajah yang tampak modern.

Baca Juga  Salah Kaprah Penggunaan Keputusan Presiden Sebagai Dasar Pembentukan Pengadilan Baru

Budaya hierarkis dalam birokrasi juga tercermin dalam relasi komunikasi internal. Prosedur perizinan yang berlapis, rasa canggung dalam berinteraksi lintas jabatan, serta ketakutan berpendapat di hadapan atasan menunjukkan kuatnya mentalitas feodal. Dalam lingkungan akademik maupun birokrasi, komunikasi sering kali lebih didasarkan pada posisi struktural daripada kualitas argumen. Hal ini berlawanan dengan prinsip organisasi modern yang menekankan dialog rasional dan pertukaran gagasan. Reformasi birokrasi seharusnya menciptakan ruang deliberatif yang sehat, bukan mempertebal jarak sosial antarjabatan. Ketika setiap komunikasi harus “mohon izin” secara berlebihan, maka birokrasi berubah menjadi mesin kepatuhan, bukan institusi pelayanan publik yang adaptif dan responsif.

Fenomena militerisasi simbolik birokrasi tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang kekuasaan Orde Baru. Selama lebih dari tiga dekade, negara dikelola dengan pendekatan keamanan yang menempatkan militer sebagai aktor sentral. Warisan ini tidak serta-merta hilang pascareformasi. Ia menjelma dalam cara berpikir aparatur, desain organisasi, dan simbol-simbol institusional. Reformasi birokrasi yang tidak disertai dekonstruksi sejarah kekuasaan hanya akan melanggengkan pola lama. Oleh karena itu, kritik terhadap reformasi birokrasi harus diarahkan pada dimensi kultural, bukan sekadar struktural. Tanpa keberanian untuk memutus mata rantai budaya Orde Lama, birokrasi akan terus mengulang praktik-praktik usang dalam bingkai regulasi baru.

Aspek lain yang menunjukkan kegagalan reformasi birokrasi adalah penempatan pejabat strategis yang tidak selalu berbasis merit. Meskipun secara normatif sistem merit telah diadopsi, dalam praktiknya pertimbangan non-profesional masih dominan. Penempatan sering kali dipengaruhi oleh kedekatan struktural, senioritas formal, atau simbol prestise jabatan. Padahal, jabatan strategis membutuhkan figur dengan kapasitas pengendalian, visi institusional, dan keberanian etik. Ketika jabatan diperlakukan sebagai simbol status, bukan amanah profesional, maka birokrasi kehilangan daya korektifnya. Reformasi birokrasi yang gagal mengoreksi pola ini hanya akan menghasilkan elit administratif yang menjaga status quo, bukan agen perubahan.

Perbandingan dengan praktik birokrasi di negara lain memperkuat kritik terhadap kondisi Indonesia. Di banyak negara, aparatur sipil bekerja tanpa seragam khusus dan tanpa atribut pangkat yang mencolok. Identitas profesional dibangun melalui keahlian, bukan simbol. Penegak hukum pun diposisikan sebagai profesional hukum, bukan bagian dari struktur komando. Perbedaan ini menunjukkan bahwa profesionalisme tidak lahir dari atribut visual, melainkan dari sistem akuntabilitas dan budaya organisasi. Ketika Indonesia tetap mempertahankan simbol-simbol Orde Lama, reformasi birokrasi kehilangan relevansi globalnya. Birokrasi menjadi terisolasi dalam logika internal yang tidak kompatibel dengan praktik pemerintahan modern.

Keberadaan organisasi korps dalam birokrasi sipil juga layak dipersoalkan. Ketika aparatur negara diwajibkan mengenakan atribut organisasi tertentu, batas antara negara dan masyarakat menjadi kabur. Negara seharusnya bersifat netral dan inklusif, bukan terikat pada identitas korporatif yang menyerupai organisasi kemasyarakatan. Fenomena ini memperlihatkan inkonsistensi dalam memahami konsep aparatur sipil negara. Reformasi birokrasi yang tidak mengoreksi anomali ini justru memperkuat kebingungan institusional. Aparatur tidak lagi diposisikan sebagai pelayan publik, melainkan sebagai anggota korps yang loyal pada simbol, bukan pada nilai konstitusional.

Baca Juga  2026: Tahun Penuh Harap Bagi Para Hakim dan Momentum Menulis Ulang Sejarah Kehormatan Lembaga Peradilan

Militerisasi budaya birokrasi juga berdampak pada pola kepemimpinan. Kepemimpinan sering dipahami sebagai kemampuan memberi perintah, bukan mengelola pengetahuan dan sumber daya manusia. Model ini efektif dalam situasi darurat, tetapi tidak relevan untuk administrasi publik yang kompleks. Akibatnya, birokrasi menjadi kaku dan lamban merespons perubahan. Reformasi birokrasi yang gagal mentransformasi paradigma kepemimpinan hanya akan menghasilkan pimpinan administratif yang otoriter secara simbolik namun lemah secara substantif. Kondisi ini semakin menjauhkan birokrasi dari prinsip good governance.

Budaya organisasi Orde Lama juga tercermin dalam cara birokrasi memandang kritik. Kritik sering dianggap sebagai pembangkangan, bukan sebagai masukan konstruktif. Pola ini memperlihatkan ketidakdewasaan institusional dan ketakutan terhadap perubahan. Reformasi birokrasi seharusnya menciptakan iklim organisasi yang toleran terhadap perbedaan pendapat. Tanpa itu, inovasi akan mati sebelum berkembang. Ketika aparatur lebih sibuk menjaga citra hierarki daripada memperbaiki kinerja, reformasi birokrasi kehilangan makna substantifnya.

Retorika reformasi birokrasi sering kali menekankan efisiensi dan transparansi, tetapi mengabaikan aspek emansipasi aparatur. Aparatur yang terbelenggu budaya feodal sulit diharapkan menjadi agen perubahan. Oleh karena itu, reformasi birokrasi harus dimulai dari pembongkaran relasi kuasa internal. Tanpa perubahan relasi ini, regulasi reformasi hanya menjadi dokumen administratif. Budaya organisasi yang sehat membutuhkan kesetaraan profesional, bukan kesetiaan simbolik.

Dalam konteks ini, reformasi birokrasi dapat disebut sebagai “omong kosong” apabila tidak menyentuh dimensi kultural. Istilah ini bukan sekadar provokasi, melainkan kritik terhadap ketimpangan antara narasi dan praktik. Reformasi yang sejati menuntut keberanian politik dan intelektual untuk mengakui kegagalan masa lalu. Tanpa refleksi kritis, birokrasi akan terus terjebak dalam romantisme stabilitas Orde Lama yang semu.

Membangun birokrasi modern memerlukan pemutusan simbolik dan praktis dari warisan Orde Lama. Hal ini mencakup penghapusan simbol-simbol militeristik, restrukturisasi sistem kepemimpinan, serta pembentukan budaya dialogis. Reformasi birokrasi harus dipahami sebagai proyek peradaban, bukan sekadar agenda administratif. Tanpa visi ini, birokrasi akan terus memproduksi kepatuhan tanpa kecerdasan.

Kesimpulannya, reformasi birokrasi di Indonesia masih menghadapi hambatan kultural yang serius. Warisan budaya organisasi Orde Lama tetap hidup dalam bentuk hierarki simbolik, militerisasi sipil, dan relasi feodal. Selama reformasi hanya menyentuh permukaan, birokrasi akan terus terjebak dalam kontradiksi antara slogan dan realitas. Oleh karena itu, diperlukan reformasi yang berani, kritis, dan berorientasi pada transformasi nilai. Tanpa itu, reformasi birokrasi akan tetap menjadi omong kosong dalam sejarah administrasi publik Indonesia.

Muhammad Adiguna Bimasakti
Kontributor
Muhammad Adiguna Bimasakti
Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Mataram

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel birokrasi budaya reformasi
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Dilema Noodweer dalam KUHP Nasional: Integrasi Doktrin Daf‘ al-Ṣa’il dan Reorientasi Legal Reasoning Hakim

2 March 2026 • 08:24 WIB

Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik

1 March 2026 • 20:00 WIB

Kerahasiaan Perkara Perceraian: Mengkaji Ulang Anonimisasi Putusan

1 March 2026 • 18:56 WIB
Demo
Top Posts

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB

Penerapan Asas Equality Of Arms dalam Pembuktian Kebocoran Data Pribadi

24 February 2026 • 09:05 WIB

Pertanggung Jawaban Pidana dan Kesadaran Moral Pelaku: Analisis Konseptual Mens Rea dalam Perspektif Fikih Jinayat

24 February 2026 • 08:31 WIB
Don't Miss

Pusdiklat Teknis MA RI Adakan Pelatihan Teknis Yudisial bagi 105 Hakim dari Tiga Lingkungan Peradilan

By Maria Fransiska Walintukan2 March 2026 • 11:09 WIB0

Seratus lima Hakim Tinggi dan Hakim Tingkat Pertama dari Peradilan Umum, Peradilan Agama, dan Peradilan…

Dilema Noodweer dalam KUHP Nasional: Integrasi Doktrin Daf‘ al-Ṣa’il dan Reorientasi Legal Reasoning Hakim

2 March 2026 • 08:24 WIB

Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama

1 March 2026 • 21:32 WIB

Menapak Batas di Suprau: Descente PTUN Jayapura di Pesisir Kota Sorong

1 March 2026 • 20:57 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Pusdiklat Teknis MA RI Adakan Pelatihan Teknis Yudisial bagi 105 Hakim dari Tiga Lingkungan Peradilan
  • Dilema Noodweer dalam KUHP Nasional: Integrasi Doktrin Daf‘ al-Ṣa’il dan Reorientasi Legal Reasoning Hakim
  • Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  • Menapak Batas di Suprau: Descente PTUN Jayapura di Pesisir Kota Sorong
  • Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik

Recent Comments

  1. hello world on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Mayor Laut (H) A. Junaedi, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas, S.H., M.Kn.
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Letkol Chk Dendi Sutiyoso, S.S., S.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.