Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Harmonisasi UU Peradilan Militer Dengan KUHAP Baru
Artikel Features

Harmonisasi UU Peradilan Militer Dengan KUHAP Baru

SudiyoSudiyo26 December 2025 • 23:05 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Hukum acara pada peradilan militer yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer (UU Peradilan Militer) disusun berdasarkan pendekatan kesisteman yang memadukan berbagai konsepsi hukum acara pidana nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP (KUHAP lama) dengan berbagai kekhususan acara yang bersumber dari asas dan ciri-ciri tata kehidupan militer. Berdasarkan pendekatan kesisteman tersebut, sepanjang tidak bertentangan dengan asas dan ciri-ciri tata kehidupan militer, berbagai konsepsi dan rumusan hukum acara pidana yang tertuang dalam KUHAP diakomodir ke dalam hukum acara pidana militer.

Tahapan proses penyelesaian perkara pidana di lingkungan peradilan militer mulai dari tahap penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan militer merupakan lex spsialis dari KUHAP lama, oleh karenanya dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP (KUHAP baru) dan dinyatakan tidak berlakunya KUHAP lama yang selama ini sebagai acuan sistem hukum acara dalam UU Peradilan Militer, maka UU Peradilan Militer perlu segera diharmonisasikan dan diselaraskan dengan KUHAP baru.

Harmonisasi antar peraturan perundangan adalah sebuah konsekuensi logis agar sebuah peraturan dan tata hukum yang dibentuk dapat berjalan selaras dan tidak tumpang tindih. Harmonisasi dalam hal ini adalah harmonisasi horizontal yaitu harmonisasi peraturan perundang-undangan yang dilakukan terhadap peraturan perundang-undangan yang berada dalam hierarki yang sama dan sederajat antara UU Peradilan Militer dengan KUHAP baru agar tidak terjadi pertentangan norma, asas, dan substansi hukum acara dalam setiap tahapan proses penyelesaian perkara pidana.

Analisis ini dimaksudkan untuk membantu menemukan substansi disharmoni yang berpotensi menimbulkan konflik norma, perbedaan tafsir dan dualisme penerapan hukum.  Analisis ini bersifat konseptual disusun secara sederhana dan sistematis untuk membangun kerangka pikir (conceptual framework) mengenai mengapa, apa, dan bagaimana harmonisasi perlu dilakukan, setidaknya memberikan pemahaman terhadap kondisi hukum yang ada, menentukan arah dan batas harmonisasi dan tujuan hukum yang ingin dicapai.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut dapat diidentifikasi permasalahan yaitu substansi atau materi apa saja dalam KUHAP baru yang berpotensi menimbulkan disharmonisasi dalam pelaksanaan UU Peradilan Militer?

Pembahasan

Untuk melakukan harmonisasi antara UU Peradilan Militer dengan KUHAP baru, perlu dilakukan perbandingan substansi UU Peradilan Militer dengan KUHAP baru, sehingga diperoleh data-data substansi atau materi apa saja yang berbeda yang dapat menimbulkan disharmoni. Untuk memudahkan pendataan disusun dalam tabel sebagai berikut:

Baca Juga  Tajuk Redaksi : KUHP dan KUHAP Baru: Menjaga Arah Pembaruan
AspekUU No. 31 Tahun 1997KUHAP BaruBentuk DisharmoniArah Harmonisasi
Pendahuluan: Konsideran menimbang dan mengingatBersifat umum dan aturan internal TNIBersifat umum dan landasan pembaharuan KUHAPDalam UU Peradmil blm memasukkan landasan KUHAP baruDlm konsideran menimbang dan mengingat perlu dimasukkan KUHAP baru sbg salah satu dasar
Ketentuan UmumBab I. Ketentuan Umum Bagian Pertama Pengertian Bagian Kedua Kedudukan Bagian Ketiga Pembinaan    Bab I. Ketentuan Umum Berisi pengertian-pengertian umum berkaiatan hukum acara disesusaikan dengan perkembangan hukumDalam UU Peradmil cakupannya kurang luas hanya berisi aturan internalDalam UU Peradmil perlu ditambahakan dgn mengadopsi KUHAP baru
Kelembagaan Pengadilan dan pejabat PeradilanBab II Susunan dan kekuasaan Pengadilan    BAB III Susunan Dan Kekuasaan OdituratTidak diatur dalam KUHAP baruKekhususan Peradilan MiliterKelembagaan Peradilan, Pejabat peradilan, kewenangan di lingkungan Peradmil diatur dalam UU Peradmil Seharusnya diatur dalam UU sendiri terpisah di luar UU Peradmil sebagai Hukum Acara Pidana Militer
Hukum AcaraBab IV. Hukum Acara Pidana Militer              BAB II Penyelidikan dan Penyidikan   BAB III Penuntutan   BAB IV Mekanisme Keadilan Restoratif Bagian Kesatu   BAB V Upaya Paksa   BAB VI Hak Tersangka Dan Terdakwa   BAB VII Hak Saksi, korban, Penyandang Disabilitas, Perempuan, Dan Orang Lanjut Usia.   BAB VIII Advokat dan Bantuan Hukum   BAB IX Berita Acara   BAB X Sumpah atau Janji   BAB XI Wewenang Pengadilan Untuk Mengadili Bagian Kesatu   BAB XII Koneksitas   BAB XIII Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan Kompensasi   BAB XIV Penggabungan Perkara Ganti Rugi   BAB XV Pemeriksaan di Sidang Pengadilan   BAB XVI Upaya Hukum Biasa   BAB XVIII Korporasi   BAB XIX Pelaksanaan Putusan Pengadilan   BAB XX Pengawasan Dan Pengamatan Pelaksanaan Putusan Pengadilan   BAB XXI Sistem Peradilan Pidana Berbasis Teknologi Informasi   BAB XXII Ketentuan Peralihan   BAB XXIII Ketentuan PenutupUU Peradmil tidak ada pejabat Penyelidik, kewenangan dan kegiatan Penyidik di lingkungan Mil terbatas. Dalam KUHAP baru terdapat beberapa kegiatan dan ketentuan-ketentuan lainnya sesuai dengan perkembangan hukum acaraDalam UU Peradmil perlu perluasan kegiatan Penyidik dan kegiatan-kegiatan lainnya serta ketentuan-ketentuan yang diatur dalam KUHAP baru  sesuai dengan perkembangan hukum acara.

Keterangan:

  1. Bagian pendahuluan konsideran dan mengingat serta ketentuan umum dalam UU Peradilan Militer, perlu ditambahkan dengan mengadopsi  hal-hal yang relevan dari KUHAP baru sebagai dasar dan landasan operasional UU Peradilan Militer;
  2. Bab II dan Bab III UU Peradilan Militer yang berisi Susunan dan kekuasaan Pengadilan, Nama, Tempat Kedudukan, dan Daerah Hukum Pengadillan Militer, Odituran Militer, kewenangan dan ketentuan Pejabat, merupakan kekhususan dalam peradilan militer sehingga tidak perlu harmonisasi dengan KUHAP baru.
Baca Juga  KUHP Nasional dan Tantangan Kebebasan Berekspresi: Tinjauan Multidimensi terhadap Reformasi Hukum Pidana Indonesia

Dalam rangka pembaruan hukum, pengaturan mengenai Pengadilan Militer (Bab II dan Bab III) seharusnya dituangkan dalam undang-undang tersendiri terpisah dari Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer yang berfungsi sebagai hukum acara.

  • Pada bagian Hukum Acara yang merupakan bagian krusial dalam konsep harmonisasi dapat dianalisis sebagai berikut:
  • Substansi dalam KUHAP baru yang belum diatur dalam UU Peradilan Militer yaitu:
  • Bab II Bagian Ketiga, Penyelidikan. Bagian Kelima Pelindungan Pelapor, Pengadu, Saksi, dan Korban, Bagian Keenam Bantuan Teknis Penyidikan;
  • BAB III Penuntutan, Bagian Ketiga Pengakuan Bersalah;
  • BAB IV Mekanisme Keadilan Restoratif, Bagian Kedua Mekanisme Keadilan Restoratif pada Tahap Penyelidikan dan Penyidikan. Bagian Ketiga Mekanisme Keadilan Restoratif pada Tahap Penuntutan. Bagian Keempat Mekanisme Keadilan Restoratif pada Tahap Pemeriksaan di Sidang Pengadilan. Bagian Ketujuh Penyadapan, Bagian Kesembilan Pemblokiran, Bagian Kesepuluh Larangan bagi Tersangka dan Terdakwa untuk Keluar Wilayah Indonesia.
  • BAB V Upaya Paksa, Bagian Kelima Penggeledahan khususnya huruf d. alat transportasi, e. Informasi Elektronik, f. Dokumen Elektronik; dan/atau g. benda lainnya. Bagian Ketujuh Penyadapan, Bagian Kesembilan Pemblokiran, Bagian Kesepuluh Larangan bagi Tersangka dan Terdakwa untuk Keluar Wilayah Indonesia.
  • BAB VI Hak Tersangka Dan Terdakwa.
  • BAB VII Hak Saksi, korban, Penyandang Disabilitas, Perempuan, Dan Orang Lanjut Usia.
  • BAB XIII Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan Kompensasi; pada Bagian Ketiga Restitusi, Bagian Kelima Dana Abadi.
  • BAB XV Pemeriksaan Di Sidang Pengadilan. Pasal 204 tentang perkara yang tidak dapat dilakukan Restoratif Justice, Pasal 205 tentang Pegakuan bersalah Terdakwa, Pasal 234 ayat (1) dan ayat (2) Pengakuan Terdakwa dituangkan dalam Berita Acara. Bagian Keempat Pembuktian Pasal 235, tentang jumlah alat bukti, a. Keterangan Saksi; b. Keterangan Ahli; c. surat; d. keterangan Terdakwa; e. barang bukti; f. bukti elektronik; g. pengamatan hakim; dan h. segala sesuatu yang dapat digunakan untuk kepentingan pembuktian pada pemeriksaan di sidang pengadilan sepanjang diperoleh secara tidak melawan hukum.

Pasal 244 ayat (1) ……sanksi berupa pidana atau tindakan. Pasal 246 ayat (1) Hakim dapat menjatuhkan putusan yang menyatakan Terdakwa terbukti bersalah, namun tidak menjatuhkan

pidana atau tindakan,…..dst, ayat (2) Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikategorikan sebagai jenis putusan tersendiri, yaitu Putusan Pemaafan Hakim. Pasal 262 Dalam acara pemeriksaan cepat Saksi tidak wajib mengucapkan sumpah atau janji, kecuali Hakim menganggap perlu. Pasal 265 Terdakwa dapat menunjuk seseorang dengan surat untuk mewakilinya dalam pemeriksaan di sidang pengadilan.

Bagian Kedelapan Tata Tertib Persidangan. Bagian Kedua Pemeriksaan Tingkat Kasasi Pasal 299 ayat (2) Pengajuan pemeriksaan Kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat diajukan terhadap: a. putusan bebas; b. putusan berupa pemaafan hakim; c. putusan berupa tindakan; d. putusan terhadap tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun atau pidana denda kategori V; dan e. putusan yang telah diperiksa dengan acara pemeriksaan singkat.

  • BAB XVIII Korporasi;
  • BAB XXI Sistem Peradilan Pidana Berbasis Teknologi Informasi.
  • Beberapa materi dalam KUHAP baru telah diatur dalam Undang-Undang Peradilan Militer namun masih tersebar dalam berbagai Bab terpisah.

Penutup

Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan terdapat beberapa substansi atau materi dalam KUHAP baru yang perlu diakomodir dalam UU Peradilan Militer namun tetap disesuaiakan dengan kekhususan penyelesaian perkara pidana di lingkungan militer agar terjadi harmonisasi dalam rangka penegakan hukum, sehingga diperoleh keadilan dalam proses dan keadilan substantif.

Upaya harmonisasi perlu dilakukan sesuai dengan tahapan dan prosedur dengan membuat kajian lebih mendalam untuk mendapatkan pengesahan pemerintah sehingga operasional UU Peradilan Militer yang mengacu pada KUHAP nasional dapat terlaksana secara efektif, konsisten dengan prinsip hukum nasional, serta menjamin keselaran dan kepastian hukum.

Sudiyo
Sudiyo
Wakil Kepala Pengadilan Militer I – 04 Palembang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

KUHAP Baru kuhp TNI
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB
Demo
Top Posts

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB
Don't Miss

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

By Muhammad Adiguna Bimasakti15 January 2026 • 08:06 WIB

Sistem peradilan di Indonesia pada awalnya dirancang sederhana, dengan seluruh jenis perkara ditangani oleh Pengadilan-Pengadilan…

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire SuaraBSDK Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Abdul Ghani
  • Abiandri Fikri Akbar
  • Agus Digdo Nugroho
  • Ahmad Junaedi
  • Anderson Peruzzi Simanjuntak
Lihat semua →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.