#Segmen 5 – Hari Ketika Tidak Ada Perkara
Hari itu berbeda. Tidak ada nama yang tertera di papan perkara. Tidak ada jadwal sidang yang terpampang di layar. Ruang tunggu kosong, bangku-bangku panjang berjajar tanpa suara. Seolah-olah waktu berhenti sejenak, memberi jeda bagi gedung peradilan untuk bernapas.
Aku datang seperti biasa lebih awal dari jam kerja. Aku membuka pintu, menyalakan lampu, dan duduk di balik meja pelayanan dengan perasaan yang asing. Untuk pertama kalinya, tidak ada perkara yang menunggu.
Dalam sunyi itu, aku menyadari sesuatu yang jarang kupikirkan: kesibukan sering kali menjadi tameng bagi aparatur untuk menghindari perjumpaan dengan diri sendiri. Ketika perkara datang bertubi-tubi, tidak ada waktu untuk bertanya apakah kita bekerja dengan benar. Namun ketika tidak ada perkara, pertanyaan itu datang tanpa undangan.
Aku memandang ruang tunggu yang kosong. Biasanya tempat itu penuh dengan doa yang tak terdengar. Kini, ia hanya menyisakan gema langkah kakiku sendiri. Keheningan ini terasa jujur sejujur hati yang sedang diminta bicara.
Hari tanpa perkara bukan berarti hari tanpa amanah. Justru di sanalah amanah diuji dengan cara yang berbeda: apakah aku tetap menjaga integritas ketika tidak ada yang membutuhkan pelayanan? Apakah aku tetap menghargai waktu, meski tidak ada yang menuntut?
Allah mengingatkan:
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’: 36)
Ayat itu terasa sangat dekat pagi itu. Tidak ada pengunjung, tidak ada atasan yang mengawasi langsung. Hanya aku, waktu, dan kesadaran bahwa setiap detik tetap bernilai.
Aku teringat masa-masa awal bertugas. Saat aku mengira pengabdian hanya diukur dari banyaknya perkara yang diselesaikan. Kini aku memahami, pengabdian juga diuji dalam kesenyapan. Dalam kesiapan menjaga sikap, meski tidak ada sorot mata yang menilai.
Seorang rekan kerja datang dan duduk di seberang mejaku. Kami saling pandang, tersenyum kecil.
“Sepi hari ini,” katanya.
Aku mengangguk. “Mungkin ini waktu kita bercermin.”
Ia terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Tidak semua percakapan perlu panjang. Ada kalanya kebenaran cukup disepakati dalam diam.
Hari itu, aku memilih untuk menata ulang berkas lama, membaca kembali peraturan, dan merenungkan setiap prosedur yang selama ini kulakukan secara otomatis. Aku menyadari betapa mudahnya rutinitas mengikis kesungguhan. Padahal Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan.” (HR. Tirmidzi).
Hadis itu membuatku menunduk. Waktu kerja bukan sekadar jam absen. Ia adalah potongan hidup yang kelak dipertanggungjawabkan.
Ketika siang menjelang, matahari menyinari ruang tunggu yang kosong. Cahaya itu jatuh tepat di bangku paling depan. Bangku yang biasanya dipenuhi kecemasan, kini hanya dipeluk cahaya. Pemandangan itu sederhana, tetapi menenangkan.
Aku menyadari, hari tanpa perkara adalah pengingat halus bahwa keadilan bukan hanya hadir saat ada sengketa. Ia juga hidup dalam kesiapan aparatur menjaga amanah, meski tidak ada yang menunggu.
Sore hari, sebelum pulang, aku menatap meja pelayanan sekali lagi. Tidak ada berkas baru. Tidak ada catatan masuk. Namun hari itu tidak terasa hampa. Ia justru penuh dengan kesadaran.
Aku pulang dengan langkah yang lebih ringan, membawa satu pelajaran penting: kesetiaan pada amanah tidak diukur dari keramaian tugas, tetapi dari kesungguhan menjaga nilai baik saat sibuk maupun saat sunyi.
Karena pada akhirnya, hari ketika tidak ada perkara pun tetap dicatat. Bukan di buku register, melainkan di hadapan Yang Maha Mengetahui.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


