#Segemen 6 – Berkas Terakhir Menjelang Magrib
Waktu magrib selalu datang dengan cara yang sama, perlahan namun pasti. Sinar matahari meredup, bayangan bangunan memanjang, dan suara adzan dari masjid sekitar mulai bersahutan, menembus dinding-dinding kantor yang mulai lengang.
Hari itu hampir selesai. Meja pelayanan sudah bersih, sebagian rekan kerja telah berkemas. Aku menatap jam dinding, bersiap menutup komputer, ketika seorang petugas keamanan menghampiri.
“Pak, ada satu berkas lagi. Katanya mendesak.”
Aku menarik napas panjang. Berkas terakhir menjelang magrib ungkapan itu selalu membawa dilema yang sama. Antara kelelahan dan tanggung jawab. Antara waktu pribadi dan amanah jabatan.
Berkas itu sederhana di mata prosedur, tetapi rumit di mata waktu. Jam kerja hampir usai, sementara adzan magrib tinggal hitungan menit. Aku berdiri di persimpangan kecil yang sering kali diabaikan orang: memilih cepat selesai atau memilih benar-benar tuntas.
Allah mengingatkan:
“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisā’: 103).
Ayat itu mengetuk kesadaranku bahwa waktu bukan sekadar angka di jam dinding. Ia adalah amanah yang harus dijaga keseimbangannya antara hak Tuhan dan hak sesama manusia.
Aku membuka berkas itu perlahan. Di dalamnya ada wajah-wajah yang tidak hadir, tetapi terasa. Ada harapan yang diselipkan dalam lembaran kertas. Aku tahu, satu penundaan kecil bisa berarti kecemasan panjang bagi pemilik berkas.
Di luar, adzan magrib mulai berkumandang. Suaranya lembut, namun tegas. Seolah mengingatkan bahwa dunia tidak boleh membuatku lupa pada akhirat, dan sebaliknya.
Aku mengambil keputusan sederhana: menyelesaikan yang bisa diselesaikan tanpa melalaikan kewajiban. Aku memberi catatan yang jelas, memastikan tidak ada kesalahan, lalu menutup berkas itu dengan niat yang lurus melayani tanpa mengorbankan ibadah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik amal adalah yang dilakukan tepat pada waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis itu tidak hanya tentang shalat, tetapi tentang disiplin menjaga prioritas. Bahwa ketepatan waktu adalah bentuk kejujuran pada amanah.
Aku menutup komputer dan bergegas menuju tempat wudu. Dalam langkah itu, aku merasakan ketenangan yang jarang hadir saat pekerjaan dibiarkan menggantung. Aku tahu, aku telah berusaha menempatkan segala sesuatu pada porsinya.
Seusai magrib, aku kembali sejenak ke meja pelayanan. Ruangan kini benar-benar sunyi. Berkas terakhir itu tergeletak rapi, siap diproses esok hari tanpa meninggalkan tanda kelalaian.
Aku menyadari, ujian aparatur tidak selalu datang dalam bentuk besar. Ia sering hadir di sela-sela waktu menjelang magrib, menjelang pulang, menjelang lelah. Di sanalah integritas diuji dengan cara yang paling halus.
Sebelum melangkah keluar kantor, aku menatap langit yang mulai gelap. Aku berdo’a dalam hati agar setiap keputusanku, sekecil apa pun, tetap berada dalam ridha-Nya.
Karena berkas terakhir menjelang magrib bukan sekadar soal pekerjaan. Ia adalah tentang menjaga keseimbangan hidup antara tugas dan ibadah, antara dunia dan akhirat, antara manusia dan Tuhan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


