Time Flies
Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung akhir 2025. Rasanya baru kemarin memasuki tahun di mana terdapat 1451 Hakim baru dikukuhkan oleh YM Ketua Mahkamah Agung di hadapan Presiden. Itu lah waktu, bergerak pelan, berjalan lambat, merangkak perlahan tapi pasti. Waktu akan terus berlalu dan berganti, tanpa ada yang dapat menghentikannya, kecuali Sang Pencipta Waktu itu sendiri. Demikianlah ketetapan Allah, sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya.
Pada umumnya pergantian masa atau waktu ditandai dengan berbagai peristiwa yang khas. Pergantian jam ditandai dengan dentingan bunyi lonceng atau bel. Pergantian siang ke malam ditandai keluarnya kelelawar dari sarangnya. Sebaliknya, kehadiran pagi yang menggantikan malam ditandai dengan berkokoknya ayam jantan. Demikian seterusnya, sehingga tidak mengherankan bila di masyarakat berkembang tradisi untuk merayakan pergantian tahun dengan berbagai peristiwa dan aktivitas yang indah dan mengesankan sebagai tanda pergantian tahun.
Lantas bagaimana sikap kita yang tepat dalam menyambut tahun baru? Merayakan tahun baru dengan berbagai kegiatan yang meriah tidaklah salah, asalkan tidak melanggar syariat (aturan). Namun yang terpenting dari itu adalah bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari kehidupan di masa lalu sebagai pelajaran untuk memasuki tahun baru. Sebagaimana diingatkan oleh Al Qur’an Surat Al Hasyr [59] ayat 18: “Hendaklah setiap orang memperhatikan perbuatan yang ia lakukan untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui segala yang kamu lakukan.”
Introspeksi Diri
Perjalanan hidup manusia tidak ada yang dapat meramalkan. Bahkan sebuah Hadits Rasul mengingatkan kita, “bahwa seseorang yang di pagi hari masih berstatus beriman, tidak mustahil sore harinya menjadi kafir. Sebaliknya, ada yang di sore hari berpredikat beriman, tetapi pagi harinya telah menjadi kafir” (HR. Muslim). Itulah sebabnya, kita diperintahkan untuk muhasabah (introspeksi diri), menilai dan mengevaluasi aktivitas kita. Jangan sampai tergelincir pada keburukan atau kenistaan, sedang diri kita tidak menyadarinya.
Untuk itu, sudah semestinya kita membiasakan bercermin pada diri sendiri, sudahkah tepat sikap dan tingkah laku selama ini? Sudahkah kita menerapkan prinsip kejujuran, integritas dan akhlak mulia lainnya? Hasil muhasabah ini penting untuk mengatur dan merencanakan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Kesibukan sehari-hari tanpa sadar kadang mematikan hati. Kemarahan, kebencian, keangkuhan, kesombongan serta berbagai penyakit hati lainnya bila dibiarkan akan mendarah daging dan menjadi tabiat. Akibatnya kehidupan akan senantiasa diliputi oleh kesempitan dan kerupekan serta nihil dari ketenangan.
Banyak orang penting dan yang merasa sok penting di negeri ini ingin mengubah negara ini, tetapi mengubah anaknya sendiri tak kuasa. Mereka menginginkan negeri ini berubah, namun mengapa mengubah sikap bawahan atau bahkan suami/isteri sendiri saja tidak sanggup? Kenapa hal demikian bisa terjadi? Jawabnya barangkali adalah kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri.
Karenanya, kita perlu merenung, mungkin selama ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Terlalu banyak energi yang dikeluarkan untuk memikirkan selain diri kita, baik itu dalam bentuk kesalahan, keburukan, ataupun kelalaian orang lain. Namun ternyata sikap yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. Akibatnya usaha untuk melakukan perubahan yang dikehendakipun, hasilnya nihil sama sekali.
Berani Mengakui Kesalahan
Kesalahan dan kekhilafan adalah suatu hal yang manusiawi. Tetapi entah kenapa tidak banyak orang yang secara lantang berani mengakui kesalahannya. Ketakutan mengakui kesalahan ini tidak jarang akan mendorong sikap kekerdilan. Ketika berbuat salah, melemparkan kesalahan pada orang lain. “Melempar sembunyi tangan”, demikian kata pepatah. Ujung-ujungnya ia akan melakukan segala cara untuk menutupi kesalahannya. Tindakan tersebut akan kontraproduktif, karena sepandai-pandai orang menyembunyikan bau busuk, akhirnya akan tercium juga. Kesalahan bukan untuk disembunyikan, tetapi untuk diubah, diperbaiki, dan disempurnakan.
Pemimpin besar manapun akan terhina manakala tidak mempunyai keberanian untuk mengubah dirinya. Orang sukses manapun akan ambruk kalau tidak memiliki keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian, Berani mengejek itu gambang, apalagi ngrumpiin di belakang. Berani menghujat itu gampang, apalagi kalau ramai-ramai. Yang langka adalah orang yang berani melihat kesalahan dan kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang sukses sejati.
Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain itu tidak istimewa. Sebab, itu bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya apa-apa sekalipun. Tetapi kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu ia membuat sistem untuk melihat dan memperbaiki kekurangan dirinya, inilah calon orang besar.
Jadi bolehlah kita banyak bicara, sah-sah saja kita mengkritik orang dan atasan. Bahkan kita diperintahkan untuk “meluruskan” kesalahan dan kekhilafan orang lain. Tetapi perlu diingat, itu mesti dilaksanakan dalam kerangka amar ma’ruf nahi mungkar. Disampaikan dengan penuh hikmah, atau melalui mauidloh hasanah, dan bila diperlukan perdebatan, maka mesti “billatii hiya ahsan” (dengan cara yang santun). Dan yang terpenting dari itu semua, sudahkan kita memiliki keberanian untuk melihat kekurangan dan keburukan diri sendiri? Sudahkan kita yakin berada pada jalan yang lurus? Jangan-jangan upaya kita untuk meluruskan orang lain itu dilaksanakan hanya untuk kepuasan diri atau malah bertujuan menyakiti orang tersebut. Jangan sampai terjadi kita ingin menyapu kotoran di lantai dengan menggunakan sapu yang kotor, maka bukan kebersihan yang akan kita hasilkan, tetapi sebaliknya, kita malah mengotori tempat lain.
Sampai di sini kita perlu merenungi puisi indah yang disadur oleh Komaruddin Hidayat (Penulis Buku Psikoloi KEmatian) yang dinukil dari puisi yang dipahat di sebuah makam di Westminster yang diberi judul “Hasrat untuk Berubah”:
Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
Maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk mengubah negeriku,
namun tampaknya, hasrat itupun tiada hasilnya.
Ketika usiaku telah semakin senja,
dengan semangat yang masih tersisa,
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.
Tetapi celakanya, merekapun tidak mau diubah.
Dan kini,
sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
tiba-tiba kusadari:
“Andaikata yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
mungkin akan bisa mengubah keluargaku.
Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi akupun mampu memperbaiki negeriku;
Kemudian siapa tahu,
aku bahkan bisa mengubah dunia”.
Keberanian untuk mengubah diri dengan sadar tidak hanya berbuah positif bagi diri sendiri, tetapi itu juga dapat mendorong perubahahan pada diri orang lain. Walau kita tidak mengucap sepatah katapun, untuk perubahan itu, perbuatan kita sudah menjadi ucapan yang sangat fasih (baca: berarti) bagi orang lain. Bahasa agamanya itu adalah dakwah bil haal. Dengan kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya. Semoga renungan ini bisa mengantarkan kita pada perubahan menuju kebaikan dan kesuksesan! Selamat tahun baru 2026! Salam CADAS!
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


