Prolog: Oratur Ulung Bernama Ozymandias
Di atas podium yang wangi kayu cendana, Ozymandias berdiri dengan dagu terangkat—seolah-olah seluruh garis khatulistiwa adalah miliknya. Bibirnya yang basah oleh sisa anggur mahal semalam kini bergerak lincah, memuntahkan kata “Rakyat” dengan frekuensi yang melampaui detak jantungnya sendiri. Ia adalah sang orator ulung, seorang penyair palsu di panggung demokrasi, yang tangannya begitu fasih melukis surga di awan sementara kakinya sedang menginjak leher bumi hingga sesak napas.
Litani Dusta di Siang Bolong
“Demi kesejahteraan kalian!” teriaknya, sembari mengepalkan tangan ke udara. Di balik jas wol Italia yang menyembunyikan keringat dingin ketakutan akan audit, ia tampak seperti pahlawan dalam epos kuno. Namun, mari kita telisik lebih dalam ke balik kancing emas itu. Di sana, di balik saku dadanya, terselip akta pendirian perseroan terbatas dengan nama-nama samaran yang diambil dari kitab suci, seolah Tuhan merestui setiap inci ekskavator yang merobek perut hutan.
Ia berbicara tentang kedaulatan pangan, namun di laci mejanya, ia menandatangani konsesi tambang yang mengubah sawah menjadi lubang-lubang maut berwarna pirus beracun. Ia adalah seorang alkemis terbalik; ia tidak mengubah logam menjadi emas, melainkan mengubah hijaunya oksigen menjadi hitamnya batu bara, lalu mengubah hitamnya batu bara menjadi saldo rekening di Swiss yang tak tersentuh doa-doa orang miskin.
“Rakyat adalah tuan kami,” katanya dalam sebuah wawancara televisi. Tentu saja, tuan yang baik adalah tuan yang diam saat tanahnya dicaplok, rumahnya dirobohkan, dan rakyat yang paling ia cintai adalah rakyat yang cukup bodoh untuk percaya bahwa debu silika di paru-paru mereka adalah “bau kemajuan.”
Puisi di Balik Alat Berat
Ada semacam puitisitas yang mengerikan dalam caranya menghancurkan alam. Lihatlah bagaimana ia memandang peta konsesi. Baginya, itu bukan sekadar hamparan hutan lindung atau sumber mata air bagi ribuan penduduk desa. Bukan. Baginya, peta itu adalah selembar kulit perawan yang siap dirajah oleh mata bor. Setiap kontur tanah adalah lekuk tubuh yang menjanjikan keuntungan; setiap sungai adalah pembuluh darah yang siap ia sumbat dengan limbah tailing agar pundi-pundinya membengkak.
Ia mencintai keluarganya, tentu saja. Cinta itu mewujud dalam bentuk saham yang diatasnamakan istri, anak, hingga sepupu jauh yang bahkan tak tahu bedanya nikel dan kerikil. Baginya, nepotisme adalah bentuk tertinggi dari kasih sayang keluarga. Ia sedang membangun dinasti di atas tumpukan tanah yang dikeruk, menciptakan istana dari air mata para petani yang kehilangan tanah ulayatnya.
Betapa puitisnya, melihat seorang anak muda pewaris tahta politik berbicara tentang environmental sustainability di forum internasional, sementara perusahaan ayahnya baru saja meratakan satu bukit di Konoha untuk mengambil jantung hitamnya. Itu adalah ironi yang begitu tajam hingga bisa memotong nurani—jika saja mereka masih memilikinya.
Perjamuan di Atas Bangkai Bumi
Ozymandias adalah hibrida yang menakjubkan: di siang hari ia adalah pelayan publik yang santun, di malam hari ia adalah predator ekstraktif yang haus darah. Ia makan dari dua piring yang berbeda namun dengan sendok yang sama. Piring pertama adalah pajak rakyat yang ia kelola dengan penuh “ketelitian” (baca: potongan sana-sini), dan piring kedua adalah keuntungan dari eksploitasi alam yang tak pernah dilaporkan ke LHKPN secara jujur.
Mari kita bayangkan meja makannya. Di sana tersedia hidangan yang bumbunya berasal dari keringat buruh tambang yang dibayar murah. Air minumnya jernih, diambil dari mata air pegunungan yang ia pagari kawat berduri agar penduduk lokal tak bisa menyentuhnya. Ia mengunyah dengan perlahan, menikmati tekstur kekuasaan yang terasa manis di lidah, sementara di luar sana, langit berubah kelabu karena asap pembakaran lahan yang sengaja ia “kondisikan.”
Ozymandias tidak takut pada neraka, karena ia merasa telah membeli kavling di sana dengan harga diskon menggunakan izin usaha pertambangan (IUP) yang ia terbitkan sendiri. Baginya, Tuhan hanyalah kosmetik politik—sesuatu yang disebut dalam pidato penutup agar terlihat saleh, namun dilupakan total saat menghitung bagi hasil dengan investor asing di ruang remang-remang.
Epilog: Warisan Debu dan Air Mata
Pada akhirnya, Ozymandias akan pensiun dengan penuh kehormatan. Ia akan mendapat plakat penghargaan sebagai “Bapak Pembangunan,” sementara desanya tenggelam dalam banjir bandang karena hutan di hulu telah ia sulap menjadi lapangan golf dan tambang terbuka.
Ia akan mewariskan dunia yang rusak kepada cucu-cucunya, namun ia tak peduli. Mengapa? Karena ia telah membekali mereka dengan cukup uang untuk membeli pulau pribadi di belahan bumi lain yang masih hijau—pulau yang belum sempat ia hancurkan sendiri.
Inilah satir paling pahit dari negeri kita: kita dipimpin oleh para tukang gali yang menyamar sebagai arsitek. Mereka tidak sedang membangun bangsa; mereka sedang menggali liang lahat untuk masa depan kita, sambil meminta kita bertepuk tangan atas kecepatan mereka bekerja.
“Terima kasih atas dukungannya,” ucapnya sambil menjabat tangan rakyatnya yang kasar dan pecah-pecah. Ia segera mencuci tangannya dengan hand sanitizer mahal setelah itu, takut kalau-kalau kemiskinan adalah penyakit menular yang bisa merusak kenyamanannya.
Selamat datang di pesta para pengeruk. Silakan duduk, tapi jangan harap ada kursi untuk Anda, karena semua kayu hutannya sudah mereka ekspor menjadi furnitur mewah di apartemen simpanan mereka.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


